
" Nyalakan semua penerangan di sini! "
Itulah perintah pertama Ki Jabara setelah tiba di dalam gedung besar yang diketahui sebagai pusat penelitian di kota Arsa itu.
Gedung yang juga dikenal sebagai gedung yang paling sulit untuk dimasuki di kota itu, sebelumnya memang sangat tertutup dan penuh misteri. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke sana dan itu harus dengan izin Nurmageda.
Darah Arya berdesir saat pintu ini di buka. Sekelebat bayangan masa lalu kembali memenuhi ingatannya. Ayah, ibu, kakak, dan adiknya juga Ki Cokro. Mereka semua terakhir kali Arya lihat di daerah ini.
Saat cahaya dari obor di sana menyala, setiap satu penerangan yang menyala maka setiap itu pula semua orang yang baru pertama kali memasuki gedung itu terkejut.
Jauh dari apa yang mereka bayangkan. Gedung yang besar ini ternyata memiliki banyak ruangan. Dan ruangan-ruangan itu seperti memiliki fungsi berbeda. Tidak banyak yang tau fungsi ruangan-ruangan itu. karena terlalu banyak benda-benda yang mereka tidak pernah lihat sebelumnya.
Saat semua penerangan menyala sempurna, setidaknya penerangan itu mampu membuat mereka bisa melihat semua benda dengan jelas, semua mata tertuju pada sebuah wilayah yang cukup besar di tengah-tengah gedung itu.
Jantung Arya berdegup. Arya yakin itu adalah tempat yang paling ingin dia datangi dan alasan pertama kenapa dia sekarang bisa berada di kota ini.
Mengabaikan yang lainnya, Arya langsung mendekati wilayah itu. Sementara yang lainnya bergegas ke ruangan dimana tawanan yang dikatakan oleh pengikut Ki Jabara sebelumnya berada.
Arya masih bisa melihat bekas pelindung yang dibuat oleh Ki Cokro untuk melindunginya dan keluarganya. Dia juga melihat bekas gundukan tanah tempat di mana terakhir Ayahnya berdiri, begitu juga dengan tempat terakhir dia melihat Ki Cokro.
Arya seolah bisa melihat bayangan mereka saat ini. Namun, ingatan itu kini terasa sangat menyakitkan baginya.
Tiba-tiba nafas Arya menjadi sesak. Tak lama kenudian, pandangannya menjadi kabur. Rasa sesal, sedih, dan marah, tiba-tiba memenuhi dirinya.
Melihat reaksi Arya itu, Rewanda dan Krama menjadi gelisah. Kedua iblis Langit itu kini menjadi cemas. Mereka bisa merasakan munculnya energi yang mengerikan di dalam tubuh raja mereka itu.
" Arya? "
" Hei. Ada apa? "
Ternyata Luna dan Ciel memilih untuk mengikuti Arya. Sejak masuk ke sini, keduanya bisa melihat ekspresi Arya berubah.
Mata Arya hanya tertuju pada wilayah ini. Saat Arya langsung berjalan ke tempat di mana mereka berdiri saat ini, kedua gadis itu memutuskan untuk mengikutinya.
Dan keputusan mereka itu, sangat tepat. Tanpa mereka sadari, keduanya mungkin sudah menyelamatkan nyawa orang yang ada di sana. Bahkan nyawa mereka sendiri. Panggilan keduanya ternyata mampu menyadarkan Arya.
Arya tersentak dan langsung menciba mengendalikan diri sebelum menoleh pada keduanya. " Ya? "
Seketika Rewanda dan Krama merasa lega. Tapi mereka tetap waspada. Keduanya tau betul apa yang membuat Arya seperti itu. Karena, di sini pula lah, tempat di mana pertama kali mereka melihat Arya.
Rewanda dan Krama juga bisa mengingat seperti apa kondisi tempat ini saat mereka dan Obskura tiba tak lama setelah ledakan terjadi.
Kedua gadis itu mengernyitkan matanya. Mereka seolah tidak mempercayai apa yang sedang mereka lihat.
" Kau, menangis?! " Tentu saja Ciel yang pertama kali menyadari itu. Jika hanya airmata Arya, dia masih bisa melihatnya walaupun tanpa bantuan cahaya.
" Oh ini? ... Aku hanya ... " Arya langsung mengusap matanya. " Ini ... " Arya tidak tau harus berkata apa untuk menjelaskan situasinya.
" Kau— "
" Tuan Arya! " Suara Sekar memutus pembicaraan mereka. Sekar terlihat berjalan sedikit tergesa mendekati mereka bertiga.
" Ada apa Nona Sekar? " Tanya Arya heran karena melihat Sekar datang dengan wajah sedikit cemas.
" Gadis itu sepertinya sudah sekarat. Sebaiknya kau melihatnya " Ucap Sekar.
" Baiklah "
Arya bersyukur Sekar memanggilnya. Dia tidak bisa berbohong dan juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Luna dan Ciel.
Saat mereka sampai di ruangan di mana gadis yang di tawan itu di temukan, Arya melihat seseorang kini terbaring tidak sadarkan diri.
Meski tak mengenalnya, Arya pernah melihat gadis ini sebelumnya.
Ciel dengan kekuatan matanya, langsung bjsa melihat apa yang terjadi pada tubuh gadis itu. Dia tidak pernah melihat tubuh seseorang di perlakukan seburuk ini sebelumnya.
Semua orang yangbada di sana sontak langsung menoleh padanya.
" Ciel, Ada apa? Apa yang kau lihat? " Luna yang bertanya pertama kali dan itu juga langsung mewakili pertanyaan semua orang yang ada di situ.
" Itu ... Itu! Ah ... Sulit mengatakannya! " Ciel tidak bisa menjelaskan pada mereka semua apa yang sedang di lihatnya.
Melihat Ciel yang bereaksi aneh, Ki Jabara buka suara " Nona, tolong Jangan membuat kami bingung. Apa yang sebenarnya kau lihat? "
Mengabaikan pertanyaan Ki Jabara, Ciel menoleh pada Arya yang juga tidak tau apa yang membuatnya seperti itu. " Arya! Kau bisa menolongnya? "
" Apa yang kau lihat? " Tanya Arya.
" Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi tubuh gadis ini benar-benar telah rusak. Bukan ... itu tidak hanya tubuhnya. Titik-titik cakranya juga. "
Hanya Luna yang tau kekuatan mata Ciel di sana. Jadi hanya dia yang tau kenapa Ciel bisa bereaksi seperti itu.
Luna yakin adiknya telah melihat sesuatu yang tidak bisa di lihat oleh semua orang di sana.
Dan melihat bagaimana adiknya itu bereaksi, sudah pasti apa yang di lihat Ciel saat ini adalah hal yang mengerikan.
" Arya! Ciel! " Luna memanggil keduanya " Ikut aku sebentar " Luna meninggalkan ruangan itu.
Keduanya salinga berpandangan kemudian meninggalkan ruangan itu mengikuti Luna. semua orang yang yangbada di sana, kini tampak keheranan.
" Apa yang mereka lakukan? " Ki Jabara tidak bisa menahan rasa herannya dan dia juga tidak bisa menahan kesabarannya. " Kau! Panggil dan bawa Tabib Kenar ke sini! " Ki Jabara memerintahkan seorang yang sering mendapatkan tugas sebagai tilik sandi yang ada di dekatnya.
" Sebentar! " Sekar langsung menghentikan tilik sandi itu lalu memandang Ki Jabara " Ki. Sebaiknya kita tunggu saja ketiga orang itu, sepertinya ada hal yang mereka ketahui tentang apa yang sedang di alami gadis yang terlihat sedang sekarat ini " Sekar menyarankan.
Ki Jabara menggeleng tidak setuju dengan apa yang disarankan oleh Sekar itu. " Sekar! Lihat gadis ini ... Selama kita menunggu, mungkin saja keadaannya semakin parah. Kita harus memanggil Tabib Kenar untuk menyelamatkannya! "
" Percaya padaku. Jika Tuan Arya tidak bisa menolong gadis ini, maka aku bisa memastikan Tabib Kenar juga tidak akan bisa berbuat apa-apa! " Tegas Sekar.
Sementara mereka berdebat, Arya dan kedua kakak adik itu telah kembali. Baik Ki Jabara dan Sekar kembali diam dan melihat mereka masuk.
" Buka seluruh pakaiannya! " kata Arya tiba-tiba.
" Hah! "
Semua orang di ruangan itu bereaksi sama. Kenapa pula pemuda ini menyuruh mereka menanggalkan pakaian gadis ini.
" Arya! " Ciel melotot pada Arya. " Ini kenapa tadi Luna mengajak kita bicara di luar, kau tidak mengerti? " Tanya Ciel kesal.
" Aku mengerti, kau bilang aku harus memeriksanya dan kita harus membuka semua pakaiannya untuk melihat lebih jelas. " Arya melirik Luna seolah meminta Luna membelanya.
Luna menggeleng, kali ini dia tidak menjawab Arya. Kakak Ciel itu berjalan mendekati Sekar dan berbisik padanya.
" Baiklah! Aku mengerti! Ucap Sekar setelah Luna selesai berbisik.
Sekar lalu mengatakan hal yang disampaikan Luna padanya tadi, pada Ki Jabara dengan berbisik pula.
Setelah Sekar selesai berbisik padanya, Ki Jabara langsung melangkah. " Kalian semua ikut aku! " Ki Jabara meminta semua orang mengikutinya keluar dari ruangan itu. Namun, Sekar tetap tinggal di dalam.
Arya sedikit keheranan dengan apa yang dilakukan ketiga orang tadi. Tapi dia memilih mengabaikannya lalu menoleh pada gadis yang terbaring itu.
" Arya! Kami akan membuka bajunya. Bersiaplah! " Luna mengingatkan.
Arya mengangguk. " Baiklah! "