ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kemungkinan Terburuk


Berita tentang Daratan Timur benar-benar simpang siur. Sebagian benar, sebagian besar tidak.


Beberapa pantas dipercayai dan banyak hal yang mustahil bagi siapapun untuk mempercayainya.


Inilah dampak buruk dari mendengar kabar dengan sumber yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.


Arya sendiri sudah mengatakan apa yang sebenarnya, tapi Rangkupala dan Rentangjala mengambil kesimpulan berdasarkan kabar angin yang mereka dengar sebelumnya.


Saat ini, keduanya mengambil kesimpulan bahwa Daratan Timur akan mengambil langkah besar dan memulai perang saudara.


Rentangjala sebagai patih dari negeri Ambang, dimana wilayah negerinya juga negeri Pasir Putih, merupakan daerah yang paling dekat dengan Daratan Timur, akan mendapatkan dampak terbesar jika perang benar-benar terjadi.


Saat itu juga, dia berfikir untuk mempertemukan dua Sultan dari dua negeri pesisir timur Daratan Barat itu, dengan Arya.


Citra Ayu yang sejak tadi mendengar mereka berbicara, seolah menjadi patung bisu. Dia masih sulit mempercayai apa yang terjadi dua hari yang lalu. Sekarang, dia di hadapkan dengan situasi dimana orang-orang yang tidak sengaja dikenalnya ini,  memiliki potensi menghancurkan negeri Ayahnya dengan mudah.


Meski tugas yang dia emban dari sektenya sangat penting. Tapi, keselamatan jutaan manusia jauh lebih penting lagi. Citra Ayu dilema dan tidak tau harus mendahulukan yang mana.


Tujuan Arya dan tiga gadis lainnya sekarang ini sudah pasti kota Malka. Sudah bukan rahasia lagi, jika Putra kedua yang seharusnya menjadi putra Mahkota setelah kematian Pangeran Aditya, memiliki hubungan yang buruk dengan Ayahnya Maharaja Swarna.


Terkadang perang bukan perkara benar dan salah. Semua pihak menuntut kemenangan.


Sektenya jelas akan menolak bekerja sama dengan istana Malka. Sementara, untuk selamat, negeri Pasir Putih yang dipimpin Ayahnya harus bergabung dengan Malka atau Daratan Timur.


Saat perang benar-benar terjadi Citra Ayu tidak tau harus berpihak pada kubu yang mana. Gadis itu benar-benar terdiam.


Rangkupala tak kalah pusingnya. Siapa yang menyangka kemunculannya disambut dengan kekacauan yang sangat teramat besar.


Dia tidak begitu mengenal keponakannya yang kini menjadi Raja Malka, tapi dia sangat tau pasti betapa kerasa kepalanya Maharaja Swarna, kakaknya.


Pertanggung jawaban yang akan di layangkan Arya, sudah bisa dipastikan memicu perang. Tak ada keraguannya tentang itu.


Di sisi lain, dia juga dari segelintir orang, yang tau apa itu inti tanah yang menjadi masalah sebelumnya.


Meski dia dapat mengerti kenapa Sekte Terkuat Daratan ini, Lubuk Bebuai berani mengambil tidakan untuk mencuri Inti Tanah, tapi ternyata sekarang bukanlah waktu yang mereka anggap tepat.


Saat Perang terjadi, maka akan ada kekacauan di seluruh penjuru negeri. Dalam kekacauan itu, Inti tanah bisa saja jatuh ke tangan orang yang salah.


"Tuan Muda. Aku mengerti bahwa Daratan Timur tidak mendapatkan perlakuan adil. Bahkan saat aku masih di istana, aku mencoba menyuarakannya. Sudah sepantasnya kalian meminta pertanggung jawaban. Akan tetapi, jika perang terjadi, maka kerajaan ini akan hancur. Sekarang, di Daratan Barat dan Utara, tidak hanya ada kita rakyat Swarna. Tapi juga ada kekuatan negeri asing. Aku curiga mereka akan memanfaatkan ini, dan menunggu saat yang tepat untuk mengambil alih."


Penjelasan, Rangkupala tentu saja masuk akal. Serikat Oldenbar di dua Daratan sangat besar.  Meski tidak begitu mengikuti perkembangannya, sejak awal Rangkupala tidak menyukai kedatangan serikat dagang itu di kerajaan ini.


Akan tetapi, karena dia sudah meninggalkan istana dan menarik diri dari dunia kependekaran, Rangkupla tidak bisa berbuat apa-apa.


Siapa menyangka bahwa hanya dalam beberapa tahun saja, Serikat itu benar-benar melebarkan sayapnya. Rangkupala sendiri masih di beri sedikit wajah. Itu kenapa tidak ada serikat Oldenbar di negeri Ambang juga Pasir Putih.


"Kami mengetahuinya dan itu juga rencana kami. Kami akan meminta kerajaan untuk mengusir serikat itu dari seluruh daratan. Jika kerajaan ini benar-benar tidak mau mendengar. Maka, kau sudah tau apa selanjutnya."


Rangkupala adalah anak Maharaja kerajaan Swarna sebelumnya. Dia tau benar aura seorang penguasa.


Tapi, saat ini dia merasakan Arya juga memilikinya. Hanya saja, tidak seperti Ayahnya. Aura yang dipancarkan Arya, membawa ancaman di setiap suku kata yang diucapkannnya.


Firasatnya tiba-tiba bekerja. Rangkupala mulai mencurigai bahwa Arya adalah orang yang kini menjadi Raja di Timur Dunia. Namun, dia tidak mungkin menanyakan hal tersebut.


Rentangjala merasakan hal yang sama. Dia jugabtudak yakin Arya hanya utusan biasa. Jika tidak menjadi penasehat istana. Maka Aryalah Raja baru itu.


Seorang patih tidak hanya harus kuat dan berani. Tapi juga dituntut untuk sangat bijak. Terutama di saat-saat seperti ini.


"Tuan, kau bebas bicara dan tidak memerlukan izinku. Silahkan."


Rentangjala mengangguk lega. "Disini ada aku dan Citra Ayu. Jika tuan berkenan, sudikah Tuan muda bertemu dua Sultan?"


Rangkuoala dan Citra Ayu langsung mengangguk. Keduanya bersukur saat ini ada Rentangjala disini. Bagaimanapun, pendekar ini sudah biasa memikirkan gagasan untuk keselamatan banyak orang.


Gagasan untuk mempertemukan dua Sultan terlebih dahulu tentu akan membawa perbedaan.


"Selama kita bicara, waktu terus berjalan. Entah apa yang lebih dahulu terjadi keduanya pasti memiliki dampak buruk. Bukankah, saat ini Malka bersiap menyerang Sekte Lubuk Bebuai?"


Sesuai dugaan mereka. Arya adalah jenis orang yang memikirkan semuanya. Bahkan, dia juga memikirkan inti Tanah.


"kita bisa meminta dua Sultan mengirim surat hendak bertemu. Sang Raja pasti akan menunda serangan."


"Ya. Aku juga bisa mengirim surat pada pemimpin sekte, agar menahan diri." Tambah Citra Ayu.


Tak ada silat lidah di antara mereka. Ini menandakan bahwa kondisi sangat sudah berbahaya. Namun, kata-kata terakhir Citra Ayu ini membuat Arya memikirkan sesuatu.


Menurut Arya, Sekte Lubuk Bebuai sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Tidak ada alasan bagi mereka bertahan. Mereka bisa saja pergi dan menghikang kayaknya apa yang dilakukan Darsapati pada Sekte Singa Emas.


Saat itu juga Arya sudah bisa menebak. Inti tanah bukan Pusaka seperti apa yang di ketahui oleh banyak orang. Tapi, itu adalah kunci.


Oleh karena itu, jika ada kunci maka pasti ada pintu. Pintu itu pasti berada di sebuah tempat di wilayah Sekte Lubuk Bebuai.


Arya mengangguk. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Kalian tidak bisa menunda begitu lama, karena tidak akan ada untungnya bagi siapapun."


"Satu bulan! ... Ya, paling lama, satu bulan." Seru Rentangjala.


Patih negeri Ambang itu, sudah memperkirakan waktu dan jarak tempuh dan segala kemungkinan yang terjadi. Jadi, satu bulan dia rasa cukup masuk akal.


"Baiklah. Aku rasa itu tidak apa-apa."


Mereka semua mengangguk menyepakati apa yang mereka bicarakan. Setelah itu, Arya meninggalkan mereka di ruangan itu.


Saat tiba di kamar, Arya sudah ditunggu oleh tiga gadis dan dua iblis langit yang selalu mengikutinya.


"Arya. Apakah semua seperti yang kita perkirakan?" Luna menyambut Arya langsung dengan pertanyaan.


"Ya. Tapi, sedikit lebih buruk. ... Kerajaan ini, sepertinya sudah dikuasai pihak lain."


"Serikat Oldenbar?!" Seru mereka bersama.


Arya menggeleng. "Mungkin begitu, Tapi, kita belum bisa memastikannya."


Arya sedikit banyaknya sudah mengetahui cara kerja serikat Oldenbar. Tapi, ini sedikit berbeda. Bisa saja ini seperti apa yang di katakan Darmuraji padanya.


Saat ini, Arya mencurigai bahwa Kerajaan Swarna, sudah di kuasai salah satu negara dengan Pemimpin yang memegang Senjata Pusaka Dunia.