
Darius termangu saat melihat apa yang terbentang di depannya saat ini. Empat puluh tahun berpetualang dan telah menginjakkan kaki ke tiga benua besar di Dunia.
Tentu saja sudah banyak hal yang dilaluinya. Saat awal-awal dahulu memulai, pertarungan demi pertarungan silih berganti. Ketakutan akan kehilangan nyawa hingga candu bertarung demi melihat setinggi apa peningkatan kekuatan yang telah dia miliki.
Bertemu dengan orang-orang kuat. Baik sebagai lawan maupun kawan. Hari-hari yang dilalui terasa sangat hebat saat itu.
Namun, semakin lama dia berjalan, Semakin banyak pula tempat yang ia kunjungi. Sungguh banyak kejadian aneh, menakjubkan bahkan mengerikan yang pernah ia lihat.
Kekejaman manusia yang sudah melewati batas. Pemerintah korup, kerajaan tiran hingga peperangan saudara sudah menjadi hal biasa baginya.
Akhirnya, seiring waktu berlalu, Darius tak menyadari bahwa dia sudah berjalan jauh diluar jalurnya. Niat menjadi petualang yang hebat, berakhir menjadi pekerja yang mengambil misi untuk mendapatkan upah sebesar mungkin tanpa memikirkan lagi benar atau salah. Yang dia tau hanyalah saat misi selesai bayaran yang besar datang dan menghabiskannya begitu saja.
Empat puluh tahun yang panjang membawa Darius berakhir di sini. Daratan Paling Timur Dunia. Daratan di mana pendekar sekelas dirinya di junjung sangat tinggi.
Hingga beberapa hari yang lalu, Darius sudah merasa dipuncak kejayaannya. Bergabung dengan serikat petualang hingga menjadi petinggi di sana.
Darius tidak peduli lagi dengan Dunia. Menurutnya, Dunia hanya akan berpihak pada yang kuat bukan yang benar. Meski hati kecilnya selalu berontak, tapi Darius yakin tidak ada satupun orang yang sanggup mengubah dunia yang sudah sangat kacau ini.
Sebuah tragedi yang mengejutkan yang membuat Darius merakan kegagalan terbesar di hidupnya, mengantarkan dia untuk mengenal lebih dekat seseorang.
Orang yang mampu menunjukkan bahwa Dunia masih bisa berubah. Seseorang yang berniat mengubahnya tidak hanya dengan kata-kata. Tapi juga dengan tekad dan kekuatannya.
Dan sekarang di depan matanya, dia melihat sendiri bahwa apa yang dulu dia percayai adalah hal yang sangat mustahil, kini, bisa saja terjadi. Walau hanya ada setitik tapi kemungkinan itu sangat nyata.
"Tuan Darius, apakah kita salah? Seharusnya di depan kita adalah lembah di mana Sekte Tanah Hitam bermukim, bukan? Jika tidak salah, orang-orang menyebutnya sebagai Lembah Tonda."
Darius masih menatap ke arah yang sama. "Kita tidak salah. Kita sudah berada di tempat yang benar. Hanya saja, sudah tidak ada lagi lembah Tonda."
Petualang yang baru saja menghampirinya menatapnya heran. "Maksud anda?"
"Yah, seperti yang kau lihat. Sekarang tempat ini bernama, Danau Tonda!"
Tepat di depan mereka saat ini, terbentang hamparan air yang sangat luas. Cukup luas untuk di sebut sebuah danau.
"Tapi, bagaimana bisa. Bahkan saat kita kesini tidak ada hujan sama sekali. Lagipula tidak ada sungai di daerah ini, dan lembah ini juga terkenal sedikit, gersang."
Tepat seperti apa yang dikatakan petualang di sebelahnya itu. Butuh aliran sungai yang besar dan hujan yang sangat lebat dalam kurun waktu panjang untuk memenuhi seluruh lembah dengan air.
Kejadian ini sangat tidak mungkin terjadi jika memikirkannya dengan cara seperti itu. Tapi, hal inilah yang membuat Darius semakin yakin bahwa Arya benar-benar mampu melakukan apa yang dipercayai seluruh orang di dunia ini, sebagai hal yang mustahil.
Apalagi, saat Arya mengatakan bahwa kekuatannya saat ini, masih sangat jauh dibawah Sarka, leluhurnya yang sekaligus manusia pertama yang mendirikan serikat petualang. Hingga Sarka juga di sebut sebagai leluhur para petualang itu sendiri.
Sebagai petualang, Darius merasa ada kedekatan emosional dengan Arya. Karena Arya adalah keturunan langsung leluhur para petualang. Dan misi nya kali ini terasa sangat berbeda bagi Darius. Seolah, dia sedang menjalankan misi yang diberikan langsung oleh Sarka, pahlawan masa kecilnya itu.
Sebuah senyum puas dan bangga terukir di wajahnya. "Hari ini, aku benar-benar merasa seperti petualang sesungguhnya."
Gumaman Darius itu di dengar oleh beberapa orang di sana. Tentu saja mereka merasa heran. Apalagi Darius adalah pemimpin serikat petualang di Daratan Timur ini. Kalimat itu terasa sangat ganjil bagi mereka.
"Hei, kami menemukan mereka!"
"Ya. Semua tawanan itu ada di sebalik bukit ini ... "
Dua sahutan dari kejauhan itu, membuyarkan suasana. Mereka langsung menoleh ke arah dua orang yang berteriak itu.
"Baiklah, mari kita selesaikan misi pertama ini." Ajak Darius pada yang lainnya.
Lagi-lagi Darius membuatnya keheranan. "Tuan Darius, ada yang berbeda dengan anda hari ini. Apa terjadi sesuatu?"
Darius menoleh pada petualang itu. "Nick, kau pernah mendengar cerita tentang sang leluhur petualang?"
"Tentu saja aku pernah mendengarnya. Cerita itulah yamg membuatku menjadi seorang petualang."
"Bagaimana jika kukatakan bahwa misi kali ini di berikan langsung oleh keturunan Satria Adamantine itu. Apakah kau akan mempercayainya? ... "
Tanpa mereka sadari, Mereka adalah orang-orang pertama yang menjadi saksi atas hancurnya sekte aliran hitam terbesar di Daratan Timur ini.
****
Diujung Daratan Timur, di pegunungan Obskura. Tepatnya, jauh berada di bawahnya.
"Amia ... Kenapa kau terus memandangi air terjun itu sejak tadi?"
Amia berbalik dan melayang di sekitar Darya yang tampak sudah sangat keletihan. hari-hari Darya di sini, dihabiskan hanya untuk berlatih semua jurus yang ada di kitab yang kini ada di depannya. juga berlatih mengendalikan kekuatannya yang sangat besar.
"Kau tidak merasakannya?"
"Merasakan? ... Merasakan, apa?"
Amia kembali melayang dan berputar-putar di depan Darya. Hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tentu saja itu membuat Darya menjadi heran. Roh air itu terlihat sangat senang.
"Aku pernah mengatakan bahwa Arya memiliki Berkah Air, apakah kau mengingatnya?"
Darya mengangguk. "Tentu saja aku mengingatnya. Bukankah dia juga mendapatkan Berkah Air itu di sini?"
Amia terus melayang dan berputar lebih terlihat seperti sedang menari-nari.
"Sebelumnya aku berfikir bahwa kakakmu itu, sangat beruntung bahwa berkah air memilihnya. Tapi, ternyata semua tidak seperti itu dan ini menjelaskan semuanya."
Darya semakin semakin penasaran. Arya adalah topik yang sangat membuatnya bersemangat.
"Ceritakan padaku, apakah itu berarti kakakku itu sangat hebat? Eh tidak!"
Darya seolah mengatakan sesuatu yang salah. "Kakakku tentu saja sangat hebat. Tapi, apa yang membuatmu sangat bahagia?"
"Arya tidak hanya hebat. Tapi dia luar biasa." Amia mendekat pada Darya. Kini wajah mereka berjarak tidak sampai satu jengkal. "Setelah Ratusan ribu tahun menunggu, Berkah Air telah menemukan Tuan yang sebenarnya."
Setelah mengatakan itu, Amia kembali melayang-layang dengan girang. "Pantas saja dua iblis langit itu begitu memujanya. Bahkan jika sama-sama dalam puncak kekuatannya, makhluk yang ada di tubuhnya itu, tidak akan bisa berkutik di depannya."
"Makhluk? ... Makhluk apa?"
Darya tau siapa dua iblis yang di katakan Amia sebelumnya. Tapi soal makhluk ini, Darya baru mendengarnya.
"Darya. Kau harus berlatih lebih kuat. Kau harus membuktikan pada dunia, jika kau pantas menjadi saudarinya."
Mendengar kata-kata Amia, tubuh Darya mulai bergetar. Dia tau bahwa roh air ini tidak pernah berbohong padanya.
"Jika kekuatanmu bisa menghancurkan sebuah negara, maka kakak mu itu, di masa depan, memiliki segala sesuatu yang mampu memporak porandakan seluruh isi dunia ini."
Amia lagi-lagi mendekatkan wajahnya pada Darya. "Hari ini, dia telah telah membangkitkan salah satu kekuatan terbesarnya."
"Maksudmu kekuatan Berkah Air?"
Meski tubuhnya saat ini tembus pandang, Darya bisa melihat Amia mengangguk.
"Kakak mu akan pergi sangat jauh. Dan kau ... Kau harus menjaga Seluruh Daratan ini." Amia kembali mundur tapi tidak menari seperti tadi. "Itulah yang berkah air katakan padaku saat aku berada di sana tadi."
Kata-kata Amia itu seolah bahwa Arya sedang mengirimkan pesan padanya. Darya langsung berdiri.
"Katakan, berapa lama kakakku baru bisa menembus air terjun itu?" Darya menunjuk air terjun terbalik yang dulu pernah ditembus Arya.
"Ehm ... Soal itu, sebenarnya ... aku berbohong padanya. Seharusnya Dia bisa menembusnya hanya seminggu setelah berlatih. Karena kebodohannya, dia membuatku kesal. jadi, sebagai balasan, aku baru memberi tahu caranya setelah satu tahun."
Mendengar itu, Darah Darya langsung mendidih. Bukan karena marah. Tapi karena terbakar oleh semangat.
"Jika begitu, aku juga akan menembusnya satu minggu mulai dari sekarang!"