
Sekarang, beberapa pendekar lain yang merupakan tetua-tetua sekte lain yang ada di sana, langsung merasa sangat tertekan. Bahkan petinggi Oldenbar sendiri, Kenneth dan Fyn juga merasakan hal yang tak jauh berbeda.
Saat itu, mereka langsung Berpikir bahwa Sapujagad akan langsung membunuh Daga jika salah menjawab. Namun, saat mereka menoleh pada Daga, mata mereka semua langsung melebar.
Alih-alih merasa tertekan atau takut, Mereka melihat Daga tersenyum. Bukan! Mereka melihat Daga sedang menyeringai.
"Kalian semua memang bodoh!"
Setelah mengatakan itu, Daga melepas Aura pembunuh yang jauh lebih kuat. Saking kuatnya, Kenneth dan Fyn langsung berlutut.
Tetua sekte lainnya merasakan sesak udara di sekitar mereka langsung menipis, dan tak lama mereka bertumbangan karena kehilangan kesadaran.
Sementara itu, seluruh ketua sekte termasuk Sapujagad sekalipun, tidak mampu bergerak dari tempat di mana mereka berdiri.
Aura pembunuh yang tadi dilepas Sapujagad seolah di lahap oleh Aura milik Daga. Suasana di dalam tenda yang tadi sempat memanas, kini menjadi mencekam.
Apalagi saat ini, Daga mulai menatap semua orang di sana. Bagi mereka yang sudah terbiasa tersesat di dalam dunia hitam, mengerti benar arti tatapan Daga itu.
Tatapan seorang yang memiliki niat membunuh yang sangat besar. Seringai dari pendekar yang haus darah. Yang membuat mereka terkejut adalah, aemua itu berasal dari Daga. Pendekar suci tingkat pertama yang beberapa saat lalu mereka anggap seseorang yang tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk pantas berbicara dan mengatur mereka.
Setiap dari mereka merasa akan sangat mudah membunuh Daga, terlebih lagi bagi Sapujagad. Namun, saat ini, di depan Daga, untuk menggerakan satu ruas jari saja, mereka tidak berani.
Sekarang, bahkan mereka tidak bisa mengukur kekuatan Daga sesungguhnya. Itu menandakan bahwa wakil Kelang ini setidaknya memiliki level kependekaran setidaknya dua atau tiga tingkat di atas mereka atau bisa saja lebih. Karena, mereka belum pernah bertemu dengan pendekar yang memiliki kekuatan yang jauh melebihi mereka sebelumnya.
Saat ini, mereka merasa Daga akan membunuh salah satu atau bahkan mereka semua. Dan firasat itu tidak begitu lama karena detik itu juga, Saga menghilang dari hadapan mereka.
Nyawa mereka terasa hilang setengah saat Daga kembali menunjukkan diri di tempat di mana tadi dia berada. Namun, saat ini di tangannya, pria sepuh itu memegang sebuah jantung.
Mata mereka langsung terbelalak karena hal sebelumnya Itu sudah sangat mengejutkan. Namun, saat ini Daga langsung menggigit jantung tersebut lalu mengunyahnya.
Tiga gigitan saja, jantung tersebut sudah habis tertelan ke dalam perutnya tak bersisa. Lidah Daga menjilati tapak tangan lalu pinggir bibirnya membersihkan bekas darah di sana.
Seolah memakan sebuah jantung, adalah hal biasa dan terlihat sangat nikmat baginya.
"Ja-jantung ... K-ku!"
Tiba-tiba Fyn bersuara terbata. Dan semua orang menoleh padanya. Petinggi Oldenbar yang berlututbtepatbdi sebelah Kenneth rekannya itu terlihat menunjuk pada Daga, lemah.
Sementara di dada kirinya terlihat sebuah lubang. Saat itu, mereka menyadari bahwa Daga baru saja memakan jantung Fyn di depan matanya.
"Bruuk!"
Tubuh Fyn pun tumbang. Bersamaan dengan itu, berlutut pula seluruh Ketua sekte Aliran hitam yang ada di sana. Mereka langsung mengerti, bisa saja beberapa saat lagi, mereka bernasib sama. Apalagi, saat ini mereka melihat Daga sama sekali tidak menunjukkan ekspresi puas hanya memakan satu jantung saja.
Seaakan belum cukup keterkejutan mereka, sekarang tenaga dalam Daga terasa bertambah sangat kuat. Karena aura pembunuh yang di lepas semakin kuat.
Sangat beruntung sekali saat itu, tiba-tiba saja Daga menarik kembali aura pembunuhnya dan merekapun bisa bernafas sedikit lega. Akan tetapi, itu tidak merubah fakta bahwa situasi sudah sangat berubah.
Setelah Daga menunjukkan kekuatan aslinya, seluruh orang yang ada di sana, sudah faham bahwa ke depan, struktur kekuatan sekte aliran hitam tidak akan lagi sama.
"Bukankah tadi kalian sangat penasaran dan menanyakan siapa aku sebenarnya?"
Dalam posisi masih berlutut, seluruh ketua sekte itu tak berani menjawab. Alih-alih mengeluarkan suara, kini mereka tertunduk. Bukan karena aura tapu rasa takut yang kini semakin menggerogoti tubuh mereka.
Melihat tidak ada yang berani menjawabnya, Daga kembali tersenyum kali ini dengan senyuman meremehkan.
"Baiklah. Aku rasa hal seperti ini tidak perlu penjelasan. Aku bertanya sekali, dan kalian harus menjawabnya dengan benar. Jika tidak, jantung kalian akan lebih berguna bagiku, untuk menambah kekuatanku. Kalian mengerti?"
Mereka langsung mengangguk, namun tidak ada satupun dari ketua-ketua sekte aliran hitam itu, yang berani mendongakkan kepala mereka.
"Mulai saat ini, kalian bukan ketua-ketua sekte lagi. Semua yang ada di sini, dan seluruh pasukan di luar sana, harus tunduk dan patuh padaku. Jika ada satu saja yang menentang, maka jantung kalian taruhannya. Bagaimana?"
"Kami mengerti ... !"
"Ya. Aku mengerti!"
Mereka cepat menjawab. Takut jika mereka terlambat sedetik saja sudah di anggap menentang oleh Daga dan harus kehilangan jantung mereka.
"Baguslah kalau begitu." Ucap Daga puas.
Daga menoleh pada Kenneth yang masih berlutut dan tertunduk ketakutan. Bahkan saat ini adalah saat yang paling menakutkan yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Bahkan, Edward pemimpinnya, belum pernah membuatnya merasakan apa yang kini dia rasakan.
"Kenneth!"
Kenneth langsung terperanjat saat dia mendengar Daga memanggilnya. Dia tau bahwa semua ini berawal darinya. Dia hanya berniat mengulur waktu sedikit lebih lama namun berakhir dengan kejadian yang sangat jauh dari apa yang dia harapkan.
"Ya. Tu-tuan ... Da-Daga!" Serunya cepat menjawab dengan terbata-bata.
"Aku tau kalian sangat licik dan ingin mengambil keuntungan sendiri dalam kondisi apapun. Tapi, kalian tentu juga sudah tau siapa aku. Jadi, apapun yang kau dan Edward rencanakan, maka hentikan. Jika tidak, bukan Basaka, tapi kalianlah target pertama pasukan ku. Apa keputusanmu?"
Sama seperti apa yang ketua-ketua sekte aliran hitam pikirkan sebelumnya, salah menjawab dan terlambat sedikit saja, maka, mati.
"Kami, akan bekerja sama dan akan bertempur bersama anda.!"
Setelah mengatakan itu, Kenneth baru bisa sedikit berfikir. Dan apa yang dia pikirkan saat itu, langsung menyimpulkan bahwa kematian Kelang sama sekali tidak berdampak pada kelompok sekte aliran hitam.
Bahkan sekarang mereka akan kompak di bawah satu perintah Daga sebagai pemimpin baru mereka. Berpihak pada mereka, tentu saja bukan pilihan buruk. Sekali lagi Kenneth mengangguk meyakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang paling tepat. Hal lainnya, bisa difikirkan setelah semua berakhir.
"Bagus. Aku minta semua sumber energi Kalian dan berikan pada seluruh pasukan. Besok kita akan menghancurkan aliansi sekte aliran putih itu dan Basaka."
Kenneth langsung menyanggupi permintaan bernada perintah dari Daga tersebut.
"Baiklah. Kami akan memperkuat pasukan ini dengan sumber daya energi serikat Oldenbar."
"Bagus. Jika begitu—"
Kalimat Daga terpotong karena ada suara dari luar yang meminta izin untuk masuk.
"Para ketua sekalian, izinkan aku masuk. aku datang membawa sebuah berita."
"Ya, masuklah!"
Saat pendekar itu masuk, matanya langsung terbelalak. Dia melihat ketuanya, Sapujagad dan ketua-ketua sekte lainnya tengah berlutut.
"Berita apa yang ingin kau katakan?"
Suara itu berasal dari Daga, satu-satunya orang yang berdiri di sana.
"Menurut pengintaian kami, pihak Kerajaan akan segera tiba di sini sebentar lagi, namun Ada utusan dari Basaka yang terlebih dahulu sampai di sini. Dia mengaku utusan Darmuraji." jelas pendekar itu.
"Bawa dia masuk."
Setelah Daga memerintahkan, pendekar itu menunduk sedikit lalu berbalik dan segera keluar. Tak lama, dia kembali dengan seorang yang mengaku menjadi utusan Darmuraji.
"Sudahi basa-basi mu. Katakan, apa yang Darmuraji inginkan?!"
Utusan itu menelan ludah sebelum akhirnya mengatakan pesan yang ingin di sampaikan Darmuraji pada kelompok sekte aliran hitam di sana.
"Paduka Raja, mengundang perwakilan dari kelompok ini, untuk mengadakan perundingan!"
Daga mengernyitkan keningnya. Diabtidak melihat keuntungan jika Darmuraji mengajaknya bicara. Ini lebih masuk akal jika Pihak Kerajaan menyatakan diri untuk menyerah.
"Kapan dan di mana?"
Tidak mau gegabah, Daga mencoba memastikan. Lagi pula, baginya saat ini tak ada ruginya jika Darmuraji mengajaknya bicara. Bisa saja semua hal menjurus seperti apa yang di harapkannya.
"Setelah Raja dan seluruh pasukannya tiba. Tempatnya, silahkan kalian yang tentukan sendiri. Paduka raja mengatakan, jika kalian takut, di sini juga tidak masalah."