ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Lembah Tonda


Darmuraji dan Rantoba keluar dari Restoran tanpa sempat mengecap masakan yang tawarkan oleh Bai Hua sebelumnya.


Jangankan untuk makan, bahkan bernafas pun, kini mereka merasa sangat kesulitan. Kesempatan besar di depan mata kini seolah akan menghilang begitu saja karena ulah satu orang.


"Apakah semua akan berjalan sesuai dengan apa yang dikatakan senior?"


Saat keduanya pergi, empat orang itu masih berada di restoran. Meski sekarang secara garis besar tidak ada yang tidak sesuai dari apa yang mereka rencanakan, Namun, saat Arya memutuskan untuk ikut dengan Kelang, saat itu, mereka menyadari inilah yang dikatakan Arya sebelumnya saat mengingatkan mereka bahwa, Rencana mereka berubah.


"Aku tidak tau tepatnya. Tapi, jika Arya memutuskan untuk mengikuti Kelang itu. Kita hanya bisa menunggunya. Lagipula, kalian juga tau bahwa, Arya tidak mungkin bertindak jika tidak ada sesuatu yang menyebabkannya."


"Aku fikir, apa yang di katakan Nona Ciel benar. Arya tidak akan melakukan hal yang sia-sia. Sebaiknya kita terus melakukan hal lain, sesuai rencana."


Mereka mengangguk. Menyetujui kata Bai Fan, namun tiba-tiba Luna berseru.


"Sebentar! Kalian mungkin tidak menyadari ini. Tapi, jika kalian bisa mengingatnya, TuanĀ  Rewanda dan Tuan Krama memang belum membunuh manusia sebelumnya. Mungkin, ada yang mati tapi keduanya jelas tidak menyerang untuk membunuh mereka, bukan?"


Mereka mengangguk bersamaan. Lalu tiba-tiba Bai Hua berseru sedikit histeris.


"Dimana mereka?!"


Keempatnya baru menyadari bahwa dua Iblis langit tidak lagi ada di sana. Mereka langsung memastikan bahwa keduanya sudah pasti mengikuti Arya.


"Aku tidak tau apa yang diperbuat Kelang ataupun Sektenya Sebelumnya. Tapi, aku rasa, apapun itu, Sebentar lagi, mereka akan merasakan akibatnya."


****


Butuh setidaknya dua hari bagi kereta kuda untuk sampai dari kota Basaka di tempat di mana Arya kini melangkah.


Lembah Tonda. Tempat dimana Pusat Sekte Tanah Hitam berada. Sesuai dengan namanya, tempat itu memang memiliki Tanah yang berwarna Hitam dan dipenuhi bebatuan yang berwarna hitam pula. Tebing-tebing tinggi melingkari nyaris mengepung keseluruhan lembah.


Meski begitu, lembah yang sangat besar ini, ternyata memiliki penduduk yang cukup banyak.


Berbeda dengan Sekte-sekte besar lainnya yang memiliki pusat keramaian, lembah ini hanya di isi oleh para pendekar. Baik itu pria, maupun wanita.


Hanya saja, dari tatapan mereka pada Arya. Terlihat jelas bahwa mereka sama sekali tidak peduli bahkan terkesan meremehkannya.


"Hahahahha! ... Master?! Entah, siapapun namamu, aku tidak peduli. Sekarang kau berada di wilayah kekuasaanku. Bagaimanapun, cukup mengejutkan saat kau bersedia begitu saja, untuk ikut dengan kami tanpa perlawanan."


Kelang sangat senang saat mengetahui bahwa Arya mau mengikutinya begitu saja. Butuh dua hari persiapan saat ingin mengepung pusat kota. Namun, ternyata hal yang di anggap mungkin sangat sulit baginya itu, ternyata berakhir dengan cukup mudah.


"Seandainya aku tidak mau ikut denganmu, apakah kau akan membiarkanku begitu saja?"


"Tentu tidak. Hahahahaha! ... Seperti kata orang-orang itu, Kau memang cukup pintar. Hahahahahaha!"


Mereka baru saja turun dari kereta beberapa saat yang lalu. Dan Saat ini, Arya berjalan mengikuti Kelang menyelusuri lembah tersebut. Mungkin jika memakai kekuatan Ciel, Arya bisa dengan pasti menghitung berapa jumlah pendekar yang ada di sana.


Akan tetapi, tidak akan sulit menebak dengan memperkirakan. Menurut Arya, di sana saat ini, tidak kurang dari sepuluh ribu pendekar yang sepertinya sudah terbiasa dengan pertarungan.


Belum lagi jika di hitung dengan pendekar yang saat ini baru saja tiba di sana. Namun, dengan banyaknya bangunan, seharusnya jumlah pendekar disana bisa jauh lebih banyak.


Berbeda dengan Oldenbar dan Basaka, sepertinya Sekte Tanah Hitam yang di ketuai oleh Kelang ini, memang sudah sangat kuat.


Arya dapat merasakan betapa suramnya tempat ini. Dengan tidak adanya usaha di sini. Sudah bisa dipastikan apapun harta yang mereka miliki, didapatkan dengan cara yang tidak wajar.


"Ketua ... Anda sudah ditunggu dengan sesepuh dan wakil-wakil dari sekte lainnya. Apakah anda akan langsung datang? Atau ... "


Pendekar yang baru saja menghampiri mereka itu, mengangguk sebentar lalu kembali berbalik dan segera berlari untuk memberi tahu prihal itu pada yang lainnya.


Kelang sadar, dengan apa yang telah dilakukannya ini. Secara tidak langsung dia telah menabuh genderang perang pada pihak kerajaan. Tapi, ini sebenarnya sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya.


Sejak beberapa bulan yang lalu, Jumlah pendekar yang bergabung dengan sektenya kini meningkat sangat tajam. Beberapa sekte-sekte lainnya mulai mengakui kekuatannya dan memilih untuk mengikutinya.


Ada agenda tersendiri bagi Kelang, beberapa waktu setelah Darmuraji memberikan sumber daya dalam jumlah yang sangat banyak. Tlyangbmembuat diri dan sektenya semakin kuat.


Selain itu, Kelang juga memperkuat Sektenya dengan segala cara. Bahkan secara diam-diam, untuk mendapatkan senjata dan Pil-pil lainnya, Sekte mereka juga bekerja sama dengan serikat Oldenbar tanpa sepengetahuan Darmuraji dan Rantoba.


Tak lama mereka berjalan, Arya melihat sebuah goa besar yang ada di salah satu sisi tebing.


Dengan adanya semacam tangga dan banyaknya penjaga di sana, Arya bisa menduga bahwa goa itu adalah kediaman atau setidaknya tempat Kelang mengandakan pertemuan.


Kelang sedikit melirik kebelakang. Meski terasa cukup mudah, sebenarnya Kelang sedikit terganggu dengan hal tersebut. Sampai saat ini, pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam dan sedang berjalan selangkah di belakangnya ini, terlihat tidak memiliki rasa takut sedikitpun.


"Hei! Aku lihat, kau sepertinya tidak memiliki rasa takut sedikitpun. Apa kau tidak pernah mendengar nama Sekte Tanah Hitam sebelumnya?"


Saat itu, mereka baru saja sampai di mulut goa. Tanpa melirik Kelang, Arya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru.


"Tentu saja aku pernah mendengarnya. Hanya saja, apakah ini sudah semua kekuatan Sekte Tanah Hitam?"


Kelang tersenyum miring. "Ternyata kau memang sangat jeli. Tentu saja ini belum semuanya. Bahkan, ini tidak sampai sepertiganya. "


Setelah mengatakan hal tersebut, Kelang kembali berjalan. Dan Arya pun mengikutinya dari belakang.


Goa tersebut cukup mendapat penerangan. Hingga tidak sulit memperhatikan seluruh sudut yang ada di sana. Tepat seperti dugaan Arya, memang di sinilah mereka akan mengadakan pertemuan itu.


Di sebuah meja batu bundar yang besar. Di sekelilingnya telah duduk setidaknya dua puluh pendekar. Arya bisa memperkirakan bahwa, setiap satu dari mereka memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripada Bai Fan.


"Apakah mereka merupakan, ketua-ketua sekte?"


"Hahahaha! Mungkin kaunsudah merasakan kekuatan mereka. Tapi, mereka hanya perwakilan dari sekte-sekte aluran hitam yang lainnya saja. ... !"


Saat kedatangannya, semua orang-orang di sana menyambut Kelang dengan antusias. Sekarang mereka berdiri dan langsung sedikit membungkuk seraya berseru bersamaan.


"Ketua... !"


"Hahahahahha!" Kelang tertawa lantang.


Dengan bergabungnya semua perwakilan sekte-sekte yang ada di sana, audah dipastikan bahwa apa yang direncanakannya berjalan sangat lancar.


"Hahahahaha!" sekali lagi Kelang tertawa. "Aku sangat senang. Akhirnya kalian memutuskan untuk memilih hal yang benar. Hahahahaha!"


Seorang yang terlihat sama senangnya dengan Kelang di ruangan itu, langsung berujar.


"Tentu saja kami akan dengan senang hati bergabung dengan sekte yang di ketuai oleh seseorang yang akan segera mengambil alih kekuasaan di Daratan ini."


"Hahahahaha ... !"


"Hahahahahaha ... !"


Mereka semua tertawa. Seolah apa yang baru saja di sebutkan oleh lelaki tua itu, akan segera terjadi.