ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kota Pinang Merah


Pagi hari saat Citra Ayu sadar, di melihat Bai Hua dan dua gadis lainnya sedang berada di dekatnya.


Gadis itu menatap ketiganya heran. "Nona sekalian, apa yang terjadi dengan diriku?"


"Nona Citra Ayu, Kau baru saja selamat dari kematian. Untuk itu, maafkan aku. Karena aku tidak tau bahwa tubuhmu tidak sanggup menahan energi dari siluman dan masakanku."


Meski Bai Hua sudah bisa memastikan bahwa kondisi Citra Ayu sudah membaik, bahkan saat ini bisa dikatakan jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi dia tetap merasa berhutang permintaan maaf pada gadis itu.


"Oh, tidak apa-apa. Tapi, aku rasa sekarang aku sangat ... Sangat ... " Citra Ayu tidak bisa menemukan kata yang cocok dengan kondisinya.


"Kuat? ... Kau merasa tubuhmu saat ini sangat kuat, bukan?" Tebak Luna.


"Ya! ... " Seru gadis itu, dan keningnya mengernyit, heran. "Tapi, Bagaimana bisa?"


"Apa kau tidak menyadarinya? Kau sama sekali tidak sadar apa yang terjadi pada tubuhmu?"


Saat Ciel mengatakan itu, Citra Ayu mencoba mengingat-ingat. Di kepalanya saat ini, terbayang saat-saat tubuhnya mulai memanas saat mencoba menyerap energi dari apa yang di makannya.


Lalu, sepertinya saat itu dia tidak mampu menyerapnya dengan benar sehingga merasakan tubuhnya memanas. Dia mengingat Luna dan dua gadis lainnya masuk dan mengajaknya bercerita.


Tapi, tubuhnya semakin memanas hingga akhirnya dia mulai kehilangan kesadaran. Dan ingatan terakhirnya adalah.


"Aku bermimpi tenggelam di dalam air tapi nafasku tidak terasa sesak dan rasanya nyaman sekali." Gumamnya.


"Kau tidak bermimpi. Dan itu benar-benar terjadi." Ucap Ciel.


"Hah?! ... Benarkah?"


Ketiga gadis itu kini yakin bahwa Citra Ayu memang tidak dalam keadaan sadar saat Arya dan dua gadis lainnya, membuka paksa teknik penyegelan pusat energi di tubuhnya.


Luna dan Ciel hanya menanggapi pertanyaan Citra Ayu dengan senyuman dan keluar dari ruangan itu, meninggalkannya dengan Bai Hua.


"Nona, kau harus berterima kasih pada Luna dan Ciel, juga senior atas semuanya."


Citra Ayu menoleh pada Bai Hua dan ingin menanyakan maksudnya. Namun, Bai Hua langsung menyela.


"Aku tidak bisa memakaikan bajumu, sekarang pakailah dulu. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi padamu tadi malam."


Saat itu, Citra Ayu baru sadar bahwa saat ini, dia sedang tidak memakai apapun. Sontak dia langsung mengangkat kembali, kain panjang yang tadi menyelimutinya.


Bai Hua hanya melihat kepanikan gadis itu dengan tersenyum dan mulai menceritakan semua saat gadis itu mulai memakai bajunya kembali.


Di luar, mereka telah ditunggu dengan yang lainnya. Namun, karena Bai Hua sudah menceritakan semuanya. Wajah Citra Ayu memerah saat melihat Arya.


Akan tetapi, pemuda itu terlihat biasa saja. Hal itu membuatnya bertambah merah. Gadis itu kebingungan harus bersikap seperti apa di depan pemuda ini, mulai dari sekarang.


"Nona, ini makanlah. Kau sudah cukup kuat tapi perutmu tetap harus di isi. Kita akan melanjutkan perjalanan setelah ini."


Saat Bai Hua memberinya makanan, mata Citra Ayu langsung melebar. Gadis itu terlihat Trauma dengan apa yang dia alami setelah memakan masakan Bai Hua terakhir kali.


"Ini, berbeda. Ini tidak akan membuatmu mengalami kejadian seperti tadi malam." Ucap Bai Hua meyakinkan.


Sempat ragu sejenak, Namun Citra Ayu memang merasakan lapar yang sedikit luar biasa saat itu.


Akhirnya, saat dia menyendok sup bening yang dibuat Bai Hua, gadis itu tidak bisa berhenti lagi. Mereka pun mukai mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju Kota Pinang.


Saat mereka makan, Arya melihat Wajah Citra Ayu masih memerah saat sekali-sekali mencuri pandang padanya. Hal itu, membuat Arya sedikit tidak nyaman.


Arya yang tidak suka dengan suasana seperti ini, tiba-tiba berkata.


"Nona, aku tidak melihat apapun tadi malam. Aku hanya memegangnya. Kau bisa tanyakan pada mereka."


Saat itu juga semua orang menyemburkan makanan yang ada dimulutnya.


"ARYA ... !"


"SENIOR ... !"


"ARYA ... !"


"Apa?! ... kenapa kalian melihatku seperti itu? ... Bukankah kalian melihatnya? Aku menutup mataku saat meme— emmmpp"


Ciel yang berada di dekatnya, langsung membekap mulut pemuda konyol itu sekuat tenaga. Sementara itu, Wajah Citra Ayu benar-benar memerah. Panas dan Malu.


"Indahnya masa-masa Muda" Gumam Rangkupala sambil terus menghabiskan makanannya.


****


Setelah itu, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Berbeda dari sebelumnya, kini kecepatan mereka bertambah.


Citra Ayu sebenarnya juga sangat terkejut dengan perubahan dirinya. Saat ini, dia benar-benar bisa mengimbangi kecepatan lima lainnya, tanpa merasa lelah atau kehabisan tenaga dalam sama sekali.


Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua hari lagi itu, terlewati dengan lebih cepat. Sore hari berikutnya, mereka sudah sampai di batas kota.


Saat senja menjelang malam, akhirnya mereka sampai pada kota pertama di Negeri Jampa. Kota Pinang Merah.


"Kota ini, sedikit terasa asing." Ucap Luna.


Saat itu, Mereka baru saja melewati gerbang kota. Setelah memberi keterangan dan membayar pajak biaya masuk. Mereka berjalan dan melihat Kota Pinang Merah dari dalam.


Kota itu cukup besar. Di kelilingi tembok dengan penjagaan yang lumayan ketat. Namun, Masalahnya bukan itu. Yang menarik perhatian Luna adalah yang menjaga kota.


Saat masuk tadi, penjaga gerbang bukanlah pendekar atau prajurit yang berasal dari Daratan ini. Dari wajah dan postur mereka, jelas bahwa mereka adalah orang asing.


Itu membuat kecurigaan mereka terasa semakin nyata. Untuk memastikan yang terjadi, mereka memilih untuk menginap di penginapan yang paling besar.


Akan tetapi, sebelum menyewa kamar, mereka terlebih dahulu masuk ke restoran yang ada di sana. Seperti biasanya, di tempat manapun di belahan dunia, saat itu restoran merupakan tempat yang tepat untuk mencari informasi.


Karena, hampir semua kalangan akan berkumpul di sana. Dengan sedikit biaya dan keberuntungan. Mereka berharap menemukan orang yang bisa menjelaskan situasi kota Pinang Merah ini, pada mereka.


"Tuan Rangku, sepertinya kau sedikit gelisah, ada apa?"


Ciel menyadari gerak-gerik Rangkupala seperti sedang memperhatikan segala penjuru. Namun, pria tua itu tidak mengatakan apapun.


"Tidak, bukan begitu. Seharusnya, aku mengenal pemilik Restoran dan penginapan ini." Jawabnya.


Kelimanya mengangguk, mengerti.


"Baiklah, jika begitu kita bisa menanyakan pada pelayan ini."


Saat itu, seorang pelayan baru saja mendatangi untuk menanyakan pesanan mereka. Namun, karena semua orang di sana langsung menatap padanya, dia terlihat sedikit gugup.


"Pelayan, bukankah tempat ini dimiliki oleh Tuan Salendra?"


Mata pelayan langsung melebar dan mengedarkan pandangannya ke sekitar, seolah takut jika ada yang mendengar nama yang di ucapkan Rangkupala itu.


Melihat reaksi pelayan itu, mereka semua langsung mengerti. Pasti ada yang telah terjadi, menyangkut nama Salendra tersebut.


"Tuan datang dari jauh, pesanlah dulu beberapa. Jika nanti tuan bertanya, cari hamba setelahnya."


Mereka semua mengerti maksud perkataan pelayan itu.


"Baiklah, bawakan kami makanan terbaik kalian. Kata Rangkupala."


Pelayan itu mengangguk dan langsung berbalik pergi.


Namun, beberapa saat kemudian, beberapa orang datang menghampiri mereka.


"Nona-Nona, kenapa kalian duduk dengan seorang pendekar tua dan pemuda lemah ini? Lebih baik menemani kami dan sedikit bermain-main."


Saat itu mereka melihat dua orang asing, yang salah satu dari mereka sedang meletakkan tangannya di bahu Luna.


Rangkupala langsung menutup wajahnya dan menggelengkan kepala, seolah tak percaya.


"Ah sial, ... Bahkan, kita belum makan apa-apa." Umpatnya.