ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Sama, Luar Biasanya


Saat itu, Rangkupala dan Salendra berniat menyusul mereka. Namun, saat dari kejauhan keduanya melihat gadis-gadis itu sedang berbicara dengan para penjaga, mereka mengurungkan niat dan menunda.


Akan tetapi itu tak lama. Mulut Salendra terbuka sangat lebar, saat melihat gadis-gadis itu membiarkan para penjaga membuka celana di depan mereka.


Tiga detik kemudian, Matanya yang hampir melompat keluar saat melihat apa yang dilakukan salah satu gadis pada para penjaga tersebut.


Tidak hanya Salendra saja. Bahkan Rangkupala sama terkejutnya. Keduanya sontak memegang mahkota kelaki-lakian mereka saat itu juga.


"Jemba, gadis-gadis itu, dimana kau bertemu dengan mereka?" Gumam Salendra bertanya.


"Salendra, temanku. Dunia benar-benar sudah berubah. Sebaiknya, kau persiapkan dirimu. Aku takut, apa yang akan kita lihat di dalam sana, akan mengguncang jiwamu. Aku tak mau kau menjadi gila, padahal kita baru saja bertemu."


Peringatan Rangkupala di balas dengan anggukan oleh Salendra. Meski tidak begitu mengerti apa maksudnya. Gerakan salah satu gadis itu tadi, sudah membuatnya sedikit mengerti apa yang dikatakan si Kebojalang padanya.


"Baiklah, Ayo kita susul mereka."


Di benteng, Arya dan yang lainnya, melewati terowongan. Mengira akan ada banyak bangunan seperti layaknya kita, namun mereka salah.


Di sana, mereka menemukan halaman yang sangat luas dengan hanya beberapa bangunan besar seperti barak dan satu bangunan seperti rumah dengan tiga lantai.


Di halaman yang kuas itu, mereka melihat sekitar tiga ribu lebih pemuda yang tampak sedang berlatih. Di antara pemuda-pemuda itu ada prajurit-prajurit Nippokure yang terlihat sedang memberi pengarahan.


Melihat bagaimana cara mereka melatih, tampak pemuda-pemuda itu sangat tersiksa. Sekali lihat saja, semua orang tau tubuh mereka sangat kurus.


Bahkan saat ini, Arya dan yang lainnya melihat beberapa dari pemuda itu sudah jatuh bertumbangan. Beberapa orang menarik mereka ke tepi dan membiarkan mereka di sana.


"Ciel ... "


Panggilan Arya itu mendapat anggukan dari Ciel, gadis itu sudah mengerti apa yang di inginkan Arya.


"Di lapangan itu, ada seratus dua prajurit Nippokure yang melatih. Di atas tembok aku melihat ada tujuh puluh delapan."


Mereka semua mengangguk mengerti, kecuali Citra Ayu. Gadis itu belum mengetahui sepenuhnya kekuatan mata Ciel.


Ciel mengalihkan pandangan ke bangunan-bangunan itu. Lalu kembali berkata. "Di dalam dua bangunan besar itu, ada tiga ratus orang lebih di. Melihat tingkat tenaga dalam mereka yang hampir sama, aku yakin mereka semua prajurit Nippokure."


Lalu, gadis itu mengalihkan pandangannya pada satu bangunan besar lainnya. Saat itu, Mata Ciel melebar, dan jantungnya berdetak lebih kencang.


"Bai Hua, di sana para wanita berada. Dan ... " Ciel tak sanggup meneruskan kata-katanya. "Bunuh semua para bedebah itu!" Serunya.


Bai Hua langsung mengangguk mengerti. Lalu mengambil kuda-kuda. Saat itu, wajah Bai Hua semakin memerah.


Matanya semakin menajam. Bahkan Ciel bisa merasakan peningkatan tenaga dalam Bai Hua yang kini sudah meluap-luap terlihat seperti air yang mendidih.


"Arya, sepertinya yang terkuat ada di bangunan itu. Ada sekitar lima belas orang yang aku yakin memiliki kekuatan setara dengan Moro di Daratan timur. Dan sekitar lima orang yang lebih kuat lagu. Dan ... "


Arya langsung mengangguk mengerti. "Ya, aku bisa merasakan bahaya dari dua orang itu. Aku yang akan mengurusnya." Jawab Arya.


Kata-kata Arya itu, sontak membuat Citra Ayu terperangah. Baru saja, pemuda itu mengatakan bahwa dialah yang akan melawan yang terkuat.


Sempat terfikir olehnya, bahwa akan menunggu Rangkupala dan Salendra, tapi saat ini bahkan semua orang yang bersamanya ini, seolah melupakan dua pendekar tua yang sejak tadi sibuk berdebat itu.


Tidak mengajukan pertanyaan apapun, Citra Ayu memutuskan untuk menyimak. Saat ini, gadis itu mempercayakan semuanya mereka.


Lagipula, dia merasa sangat kuat saat ini. Jadi, mungkin saatnya tiba, mereka semua akan menuju bangunan utama, dan mengalahkan para pemimpin itu bersama-sama pula.


"Baiklah, kita bisa bergerak dan menyerang langsung. Jadi sekarang, bagaimana?" Tanya Bai Hua, tidak sabar.


"Ciel, kau urus yang di atas tembok dan tetap di sana. Bantu kami memisahkan prajurit itu dari barisan di lapangan. "


Citra Ayu mengangguk. "Aku mengerti. Lalu, apalagi?"


"Arya akan membantu, namun setelah itu hanya ada kita. Kau dan aku, akan menghabisi semua yang ada di lapangan itu. Kau bertahan, dan aku yang akan menyerang."


Lagi-lagi Citra Ayu mengangguk. Lalu, tak berapa lama dia memikirkan sesuatu.


"Nona Luna, bagaimana dengan dua bangunan itu. Bukankah di sana lebih banyak dari mereka?"


"Oh, soal itu, ... Biarkan saja, apapun yang terjadi, jangan masuk ke sana. Dua tempat itu, sudah ada yang akan mengurusnya."


"Hah? ... Maksudmu?"


Tidak mengindahkan pertanyaan terakhir Citra Ayu, Luna hanya menjawabnya dengan senyuman. "Bukankah kau mendengar berita bahwa ada enam, Iblis pelindung Daratan timur?"


Tidak sempat kembali bertanya, tibak tiba-tiba Bai Hua berseru.


"Baiklah, Semua sudah mengerti tugasnya. Ayo kita lakukan."


"Jangan biarkan satupun nyawa lagi, yang akan terkorban saat kita sudah ada di sini, kalian mengerti?"


Detik itu, Citra Ayu tertegun. Saat itu di melihat Arya sudah mulai melangkah. Tidak seperti biasanya, sekarang dari pemuda itu dia bisa merasakan Aura.


Sebuah Aura yang memberi rasa aman, keberanian serta meningkatkan rasa kepercayaan dirinya, hanya dengan merasakannya saja.


Sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan perasaan seperti ini, tidak dia rasakan saat gadis itu bertempur dengan gurunya.


"Raja ... " Gumamnya.


Saat itu, Cutra Ayu kembali mendengar oemuda itu berkata.


"Luna, Ciel, Bai Hua, Citra Ayu ... Apapun yang terjadi, Aku tak mengizinkan kalian mati ... "


Semua tidak menjawab, tapi mengangguk paham. Lalu detik berikutnya, semua benar-benar di mulai.


"Bahuraksa ... Bangunlah!"


Mereka Melihat sebuah Pedang besar keluar dari udara dalam keadaan menyala dan melayang di udara.


"KOSHA ... !"


"JURUS PERTAMA ... GERBANG CAKRA!"


Citra Ayu tidak lagi terkejut saat mendengar Arya dan dua gadis lainnya berteriak dan tubuh mereka menyala dengan tiga warna berbeda.


"LANGKAH SERIBU BINTANG"


Bahkan gadis itu hanya tersenyum saat Arya juga berteriak bersamaan dengan Bai Hua, dan langsung menghilang dari hadapan ketiganya.


Saat ini, hanya rasa bahagia terukir di wajah gadis itu, Citra Ayu sangat bersukur terlahir ke dunia ini. dia merasakan sedang berjuang dengan orang-orang luar Biasa.


Baginya, saat ini tidak ada lagi alasan untuk terkejut. karena Citra Ayu saat ini juga merasa sama, luar biasanya.


Memejamkan mata dan menarik nafas dalam. memusatkan tenaga dalam pada pusat energi yang batu saja di aktifkan Arya, Citra Ayu merentangkan kedua tangannya, lalu berteriak lantang.


"ZIRAH ... BHARATA!"