
Rangkupala dan pendekar-pendekar level Ranah Bumi yang memimpin tiap-tiap kelompok pasukan mereka langsung datang menerjang musuh.
Taktik ini dipikirkan oleh Salendra saat menyadari maksud Luna. Jika, mereka mengahadapi musuh di tempat terbuka, memang sangat beresiko.
Akan tetapi, akan beda cerita jika yang berdiri paling di depan adalah pendekar -pendekar yang terkuat diantara semuanya.
Saat ini, Rangkupala menghabisi musuh sebanyak mungkin sambil memilih lawan terkuat di sana. Dia akan meninggalkan yang lemah untuk di habisi oleh yang berada di belakangnya.
Hal ini juga di lakukan oleh Salendra, Karpatandanu, Umbara dan pendekar-pendekar negeri Jampa lainnya, yang memimpin tiga puluh kelompok tersebut.
Kelompok mereka tidak memiliki jumlah yang sama. Akan tetapi, mereka memiliki kekuatan yang hampir sama kuatnya.
Hal itu karena, semakin banyak yang lemah, maka kelompok tersebut semakin banyak banyak dan begitu juga sebaliknya.
Umbara, langsung mencari musuh yang sesuai dengan kekuatannya.
"Cih, kau hanya jadi pangeran karena lahir dari istana jampa ini. Tapi, dimataku, kau hanya pendekar bodoh sama seperti pendekar-pendekar daratan Barat yang lainnya."
Umbara tau bahwa pemimpin pasukan garis depan pasukan Nippokure yang kini di hadapinya ini, mencoba memprovokasinya.
Namun, saat Umbara memulai peperangan ini, dia berniat tetap fokus. Karena, tujuannya tidak hanya membunuh pemimpin pasukan rendah ini. Akan tetapi, orang yang berani membentak ayahnya, di istana Jampa.
Sejak kehadiran pasukan asing ini di negerinya. Jakasona, seolah kehilangan harga dirinya. Tidak seharipun sejak saat itu, Umbara bisa tidur dengan nyenyak.
Namun, siapa sangka kunjungannya ke kota palas membuatnya menemukan harapan untuk negerinya. Saat itu, hatinya benar-benar senang.
Bahkan saat itu, dia tidak beristirahat barang sebentar saat melangkah pulang. Saat itu, dia benar-benar ingin secepatnya Jakasona ayahnya tau bahwa, hari ini akan tiba.
Hari dimana dia dan pendekar-pendekar Jampa, membebaskan dan merebut kembali apa yang menjadi hak mereka.
"Teruslah bicara, bahkan saat ini selesai, aku tidak akan membiarkan jasad kalian terkubur di daratan ini."
Meski menghadapi Umbara, Pemimpin ini sedikit beruntung. Karena, ada tiga pemimpin yang lain mendapati lawan yang sangat mengerikan.
Karpatandanu bertempur dengan Alasannya sendiri. Tekadnya untuk memenangkan pertempuran ini sangat jelas karena apa. Nyawa Citra Ayu putrinya, bisa saja menjadi bertambah terancam jika mereka gagal.
Salendra tak kalah semangatnya. Bahkan demi melindungi penduduk negeri ini sebelumnya, dia rela dipenjara. Memiliki kesempatan untuk bertarung dengan pasukan-pasukan yang sangat dia benci ini, membuat tandem Jemba si Kebojalang itu seolah mendapatkan kembali kondisi terkuatnya saat masih muda.
Malang bagi yang menjadi lawannya. Satu tamparan Salendra, benar-benar mampu meremukkan dada dan menghancurkan kepala.
Yang paling tidak beruntung, tentu saja yang berhadapan dengan Rangkupala. Gelar legenda bukan hanya panggilan belaka. Butuh lima pemimpin pasukan Nippokure hanya untuk menahan serangannya.
Layaknya Salendra, ini kesempatannya bertempur. Karena Arya dan yang lainnya, tak memberikan dia dan Salendra kesempatan sama sekali sebelumnya.
"Jemba, aku sudah menghabisi beberapa tapi kau hanya terus berhadapan dengan dengan yang itu-itu saja."
Rangkupala hanya balas mencibir sebelum berkata. "Kau hanya memilih lawan yang lemah. Jika kau begitu malasnya, kenapa tak berdiri paling belakang saja."
Dua percakapan pendekar tua ini, membuyarkan konsentrasi musuh-musuh mereka. Jelas saat ini, keduanya sedang meremehkan mereka.
"Komandan, beri perintah ... Biarkan kami maju melawan mereka."
Ada delapan pemimpin pasukan yang berada di bawah perintah langsung Daisuke. Kekuatan mereka dia tas pemimpin-pemimpin pasukan garis depan yang kini sedang bertempur.
"Tenang, kita tidak bisa gegabah lagi ... Tapi, bersiaplah. Si kebojalang, serahkan padaku."
"Baik."
Daisuke melihat pertempuran terasa berat sebelah. Dimana awalnya dia merasa di untungkan, namun dia benar-benar salah.
Ternyata, musuh tidak sebodoh yang dia pikirkan. Bahkan, saat ini, dia baru saja merasa di permalukan. Karena, strateginya sama sekali tidak berguna.
"Kalian, bertarunglah dengan segenap kemampuan. Aku merasa tiga orang itu, bukan pendekar biasa."
Saat ini, Daisuke baru menyadari kenapa ada perintah langsung untuk tidak mengusik Rangkupala. Sempat berfikir karena pendekar itu adalah saudara Maharaja kerajaan Swarna, namun saat ini dia tau dugaannya salah. Rangkupala benar-benar pendekar yang berbahaya.
Memang, peperangan ini terlihat seimbang atau cendrung condong pada kekuatan negeri Jampa.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu. Mereka mulai menyadari bahwa, pasukan Nippokure tidak bisa di kalahkan dengan mudah.
Ada rasa sesal bagi Rangkupala dan yang lainnya menyisakan terlalu banyak pasukan Nippokure di belakang untuk di hadapi oleh yang lainnya.
Mereka lupa bahwa selain ahli dalam berperang, pasukan-pasukan ini sangat lihai menggunakan jurus pedang.
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Pertukaran serangan dalam semua pertarungan sudah melukai kedua belah pihak. Suara teriakan kesakitan sudah terdengar dari segala penjuru.
Akan tetapi, dalam pengamatan Rangkupala sambil menghadapi musuhnya, pasukan-pasukan yang menjadi lawan pendekar-pendekar pembela Jampa, tidak terlalu memberikan serangan berarti.
Hanya saja, saat itu pasukan-pasukan Nippokure terlihat berbaris melengkung mengurung musuh mereka.
Hal itu tentu saja sangat mengherankan. Saat itu, Rangkupala tidak bisa berpikir terlalu jauh karena musuh yang dia hadapi semakin banyak.
Sepertinya, komandan pasukan Nippokure, Daisuke itu sudah tau harus fokus menumbangkan atau membuat sibuk siapa terlebih dahulu, sebelum bertidak lebih lanjut setelahnya.
Akan tetapi, Karpatandanu menyadarinya. Sultan negeri Pasir Putih itu, tau apa yang tengah direncanakan pasukan musuh.
"Jangan mundur ... Mereka mencoba mendesak kita pada jarak serang senjata-senjata itu ... "
Saat itu juga, semua orang sadar. Formasi yang berbentuk mata sabit itu, digunakan untuk mendesak mereka kebelakang.
Itulah guna pengalaman. Meski tak sehebat apa yang dilakukan pasukan Nippokure, Namun, Karpatandanu mampu berfikir cepat untuk mengantisipasinya.
"Yang terkuat di depan. Bentuk seperti anak panah, dan terobos mereka."
Tidak hanya meneriakkan saja. Karpatandanu langsung mencontohkannya. Saat itu juga, pendekar-pendekar yang berada di belakangnya berdiri dan bergerak sesuai perintahnya.
Dengan Formasi anak panah itu, mereka melawan formasi milik pasukan Nippokure itu.
Semua yang melihat kelompok Karpatandanu kembali maju menyonsong pasukan musuh, langsung melakukan hal serupa. Hasilnya, mereka berhasil maju selangkah demi selangkah.
"Sial, ... Karpatandanu itu benar-benar menyulitkan ... "
Saat itu, kepanikan mulai melanda Daisuke. Meski tau bahwa pasukannya tidak akan bisa dikalahkan dengan mudah, Namun, menang dengan sedikit korban, tentu sudah tidak mungkin saat ini.
Komandan pasukan itu Berfikir sebentar sebelum akhirnya, memberi perintah jelas.
"Lapisan kedua ... Serang!"
Saat itu juga, mata semua pendekar-pendekar pembela Jampa, melebar. Di belakang Daisuke, baru saja muncul lagi ribuan pasukan yang kini langsung datang ke arah mereka.
Umbara yang saat itu melihatnya, langsung mengumpat, kesal.
"Bedebah itu ... Akan benar-benar aku hancurkan."