ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Dua Hari


Di waktu yang bersamaan pula, Dengan kecepatan mereka saat ini, setidaknya hanya butuh tiga hari bagi Salendra dan pendekar yang ikut bersamanya menuju negeri Litapa, dimana Sultan Gonggo berada.


Namun begitu, lewat dihari kedua, mereka yang berencana berhati-hati saat melintasi kota Malka, langsung merasa heran.


Alih-alih sebuah pasukan besar yang siap untuk berperang, Salendra mendapati bahwa di kota itu, Tidak ada satupun kelompok prajurit yang melebihi sepuluh orang.


Saat itu juga Salendra mengetahui bahwa apa yang mereka perkirakan, berbeda dengan kenyataannya.


"Sial, sepertinya kami semua sudah perhitungan." Batinnya.


Sambil lewat, Salendra sengaja meminta pendekar-pendekar yang mengikutinya menyebar, untuk memastikan kecurigaannya.


Dan benar saja, saat semuanya kembali berkumpul, laporan dari setiap orang nyaris sama. Tidak ada pasukan sama. Sekali di Malka, bahkan di benteng Nippokure di kota itu, benar-benar telah kosong.


"Yang memiliki kecepatan melebihi yang lainnya, segera kembali. Katakan pada umbara agar langsung menuju negeri Sungai Sembilan."


Itulah perintah Salendra pada beberapa pendekar, sebelum kembali melanjutkan perjalannannya, menuju Litapa.


Sementara itu, meski juga sangat cepat, Rangkupala butuh satu hari lagi untuk bisa sampai di negeri sembilan. Itu karena letak negeri tersebut terbilang sedikit lebih jauh daripada kota Malka.


Beruntung, Lindu Ara dan Sedayu telah mendapat kabar bahwa Tengku Arif dari Negeri Serambar, telah tiba.


Hal ini cukup mengejutkan. Karena dengan jaraknya antra kedua negeri itu, seharusnya butuh dua hari lagi mereka tiba sejak surat yang dikirim oleh Lindu Ara, di terimanya.


"Tabik Sultan. Apakah kau datang berkenan dengan surat yang aku kirimkan?"


Meski murid dari Rangkupala, Tengku Atif tetaplah seorang Sultan sebuah negeri. Lindu Ara tentu saja menunjukkan adabnya saat berhadapan dengan laki-laki yang puluhan tahun yang lalu, menjadi murid dari Jemba si kebojalang itu.


Sambutan dengan sebuah kertanyaan dari pendekar wanita kekasih gurunya itu, mendapat anggukan dari Tengku Arif.


"Ya, seperti apa yang aku janjikan. Jika surat itu datang, dalam tidurpun aku berjalan."


Jawaban yang langsung mendapatkan senyuman tanda puas dari Lindu Ara.


"Tengku Arif, duduklah."


Tengku Arif lanhsung mengangguk, dan berjalan mendekat. Namun, saat dia ingin duduk, barulah dia menyadari siapa wanita yang sejak tadi duduk di sana, membelakanhinya.


"Tuah Badan, Satu Suktanah negeri bertuah. Sedayu, kenapa tak menyapa?"


Tengku Arif tidak asing dengan Sedayu. Jauh sebelum keduanya memikul tanggung jawab sebagai sultan, keduanya cukup sering bertemu.


Akan tetapi, tentu saja Tengku Arif heran karena satu-satunya sultan wanita di Daratan ini itu tak menyapanya.


Akan tetapi, tiba-tiba Tengku Arif merasakan tanda bahaya. Mengurungkan niatnya untuk duduk, ayah dari Sri Ratna Sari itu segera mundur dan mencabut pedangnya.


"Ting!"


Beruntung dia masih sempat menangkisnya. Jika sedetik saja terlambat, maka sebuah negeri akan kehilangan sultan mereka.


Itu karena Tepat tiga ruas jari lagi, pedang Sedayu sudah bisa di pastikan memenggal lehernya.


Tengku Arif tersenyum. Hal seperti ini tidak asing baginya. Bahkan, dalam perjalanan ke negeri ini, Tengku Arif sudah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi, jika keduanya benar-benar bertemu.


"Kasar, seperti biasanya ... "


Wajah Sedayu benar-benar murka. Meski sudah menahannya, Dia tetap tidak bisa melewatkan kesempatan untuk tidak memenggal kepala pria itu.


Dengan nafas memburu tanda amarah, Sedayu berkata, geram.


"Kau ... Kau ... menipuku!"


Tengku Arif merasa heran. Dia sama sekali tidak merasa pernah menipu wanita ini sebelumnya.


"Menipu?"


"Buk!"


"Argh!"


Sedayu yang melihat wajah keheranan yang seolah tak merasa bersalah Tengku Arif, menggunakan kesempatan itu untuk menginjak kakinya dengan keras.


"Rasakan, itu ... "


Jika itu injakan dari wanita biasa, tentu saja hal tersebut bukan apa-apa baginya. Tapi, Tengku Arif sangat mengetahui kekutan wanita yang beberapa tahun silam kerap bertarung dengannya itu.


"Sedayu, hentikan!"


Lindu Ara sempat terkejut dengan sikap kedua pemimpin negeri itu. Tapi, sebagai dua orang pemimpin sebuah negeri, kelakuan keduanya sangat tidak wajar.


Mendengar kata gurunya, Sedayu kembali duduk. Namun wajahnya masih terlihat sangat kesal.


Tengku Arif hanya bisa meringis, saat mendengar kata-kata dari Lindu Ara itu. Akan tetapi, apa yang di katakan wanita yang tersebut memang benar adanya.


"Maaf, bibi guru ... "


Setelah mengatakan perminta maafannya, Tengku Arif pun akhirnya duduk. Namun, dia masih dalam mode waspada.


Karena, dia sangat mengetahui watak wanita yang kini duduk berseberangan namun memalingkan wajah di depannya itu. Bukan tidak mungkin dia akan kembali di serang secara tiba-tiba.


Meski tidak tau apa masalah di antara keduanya, tapi Lindu Ara yakin bahwa Sedayu muridnya itu, memiliki perasaan berbeda pada sultan negeri Serambar itu.


Akan tetapi, seperti apa yang dia katakan sebelumnya, semua itu bisa menunggu. Karena saat ini ada sesuatu yang sangat penting dan berbahaya yang harus mereka hadapi dalam waktu dekat.


"Jika boleh memilih, aku sama sekali tidak ingin hari dimana janji yang kau ucapkan dulu itu, datang."


Tengku Arif langsung mengangguk. "Ya, aku juga begitu. Jika ada janji yang aku tidak ingin seseorang datang untuk menagihnya, tentu saja janji ini."


Selesai mengatakan hal itu, tiba-tiba bulu kuduk Tengku Arif berdiri. Karena sebuah siluet muncul dari belakangnya, lalu tiba-tiba saja duduk di meja dimana ketiganya kini berada.


Terkejut, Tengku Arif kembali berdiri, dengan kuda-kuda siaga.


"Siapa kau?"


Tengku Arif menyadari bahwa itu adalah seorang wanita. Namun, dengan tidak merasakan hawa keberadaannya sama sekali, tentu saja itu sangat mengejutkannya.


Tidak menjawabnya, wanita yang menggunakan cadar tersebut, menatap Sedayu, lalu berbalik menatapnya.


Lewat matanya, Tengku Arif sangat yakin bahwa wanita tersebut sedang tersenyum.


"Tengku Arif, perkenalkan ... Ini Nilam Sari, kakak dari Sedayu."


Mendengar itu, keterkejutan Tengku Arif bertambah. Hal itu tidak biasa bagi seorang Sultan, memiliki seorang kakak. Karena, jika masih ada saudara di atasnya, tentu saja dialah yang berhak memikul gelar.


"Kakak?! ... Tapi, Bagaimana bisa?"


Lindu Ara menggelengkan kepala. Lalu kembali berkata. "Kau akan mengetahuinya saat mendengar semuanya. Lagipula, kau dan Rangkupala, adalah bagian dari segelintir orang yang mengetahui rahasia sekte kami. Jadi, ini waktu yang tepat untuk membahas seluruh permasalahan ini."


"Guru ... Laki-laki ini, mengetahuinya?!" seru Sedayu, terkejut.


Jelas bagi Lindu Ara dan kakaknya Nilam Sari, saat ini Sedayu bertingkah seperti dirinya masih seorang gadis muda.


"Ya, Dia mengetabuinya. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Tengku Arif telah memiliki tanggung jawab yang sama denganmu, sejak aku dan Rangkupala memberi tahunya."


Tau bahwa masalah sidah sangat serius, Tengku Arif memilih untuk mengabaikan Sedayu.


"Bibi, Jika kau telah memutuskan untuk mengambil Inti Tanah, ini menandakan bahwa kau telah menemukan orang yang mampu mengurainya, bukan?"


Lindu Ara menarik Nafasnya dalam, lalu melepasnya. Dengan sedikit ragu, dia menjawabnya. "Kuharap, memang seperti itu ... "


"Maksudmu?"


Tau bahwa Tengku Arif belum mengetahui semuanya, Lindu Ara mulai menjelaskan dari awal.


Malam itu, mereka juga membahas tentang keberadaan pasukan Nippokure bersama kekuatan tempur dari Malka.


Sebenarnya, hal Itu sudah diduga oleh Tengku Arif. Hanya saja, dia sama terkejutnya dengan Sedayu, saat mengetahui bahwa Adiaksa membawa lebih dari seribu pendekar ranah bumi, dari Benua Timur, untuk menyerang Negeri Sungai Sembilan.


Sementara itu, di negeri bukit batu, Arya dan yang Lainnya tengah menyantap siluman paus raksasa yang mungkin belum pernah di makan oleh manusia manapun sebelumnya.


"Tuan Muda. Kenapa aku tidak bisa berhenti?"


Luna yang sama herannya, juga bertanya. "Arya, aku juga ... Ada apa dengan perutku ini?"


Arya mengernyit heran. Dia merasa telah menjelaskan semuanya pada mereka. Tapi, pada akhirnya mereka tetap menanyakan hal tersebut.


"Bukankah sudah aku katakan bahwa, Tubuh kalian saat ini, memiliki kebutuhan energi ratusan kali lipat dari manusia biasa?"


"Senior, jika begini, kami semua akan menjadi ... Gemuk."


Tanpa rasa bersalah, Arya bertanya. "Kenapa jika kalian gemuk? Bukankan itu bagus?"


Saat Arya mengatakan hal itu, barulah semua gadis-gadis tersebut kehilangan selera makan mereka saat itu juga.


Begi mereka, Arya benar-benar tidak mengerti wanita dan segala sesuatu tentangnya. Saat ini, Keempatnya melihat Arya dengan wajah putus asa.


Mendapat tatapan aneh seperti itu, Arya memundurkan kepalanya. Mencoba mencerna tatapan mereka, namun pada akhirnya, dia tetap tidak dapat menyimpulkan apapun.


Saat itu, juga Arya mengingat sesuatu. Sekali lagi tanpa rasa bersalah, Arya mengalihkan topik pembicaraannya.


"Citra Ayu, dengan tambahan energi ini, aku rasa sekarang kau sudah bisa menyerap Serbuk Bayam Tiga Jari ... "