
Siapa yang menyangka bahwa Arangga yang sudah di anggap sebagai pahlawan terbesar Umat manusia itu, meminta Arya untuk menghancurkan hal yang paling dia lindungi sebelumnya.
Bahkan Kulkan sekalipun sangat terkejut dengan permintaan Arangga tersebut. Akan tetapi, saat Arya menjelaskan apa yang terjadi setelah perang berakhir, membuat Arya dan Kulkan terdiam.
"Jadi, Mahesa! Begitulah tubuhmu. Kau akan merasakan sakit melebihi orang lain. Tubuhmu itu tidak seperti manusia lainnya saat ini atau di masa depan. Bukan! saat ini, hanya dirimulah manusia yang sebenar-benarnya manusia!"
Itu adalah salah satu penjelasan Arangga tentang tubuh Arya. Dimana, Apapun teknik kultivasi yang akan digunakannya ataupun obat yang akan ditelannya. Arya tidak akan pernah bisa meningkatkan kualitas otot maupun tulangnya.
Arya seperti manusia normal jauh sebelum manusia yang sekarang ini mengenal teknik kultivasi di benua timur atau peningkatan kelas kekuatan di Benua barat.
Setelah Arangga memahami kitab dunia, dia menyadari bahwa saat manusia mulai menggunakan ilmu yang ada di dalamnya, tubuh mereka tak lagi sama.
Peningkatan kekuatan pada tubuh manusia, membutuhkan energi yang sangat besar. Lebih dari apa yang bisa di sediakan oleh alam.
Dampaknya, tentu saja itu akan membuat dunia menjadi sangat kacau. Dengan sifat ambisi yang dimiliki oleh manusia, dunia ini akan berjalan dengan dikuasai oleh siapa yang memiliki kekuatan terbesar. Dengan kata lain, siapa yang terkuat maka akan bertindak sebagai hukum tertinggi.
Selain itu semua, Secara tidak sadar, manusia sudah mengeser fungsi energi alam tempat mereka hidup. Ilmu kultivasi atau teknik peningkatan kelas tubuh dan sebagainya itu, membuat cakra manusia semakin lama semakin membesar. Setiap perkembangan titik cakra, akan menyebabkan kebutuhan tenaga dalam yang lebih besar pula.
Sementara, energi alam yang terbatas tersebut seharusnya dibagi untuk semua makhkuk hidup agar keberlangsungan segala sesuatunya bisa berjalan dengan stabil. Namun, saat konsumsi energi manusia melebihi seharusnya dan melewati jauh garis kewajaran, maka keseimbangan dunia akan terganggu.
Sudah sangat terlambat lebih dari sepuluh ribu tahun, saat Arangga menyadari itu semua. Bahkan tubuh yang dimiliki oleh Arangga adalah tubuh manusia yang sudah berevolusi.
Tubuh Spasial yang di milikinya, adalah pelahap energi alam yang paling buas. Arangga berpotensi untuk menjadi satu-satunya manusia yang tersisa saat dia masih hidup, jika dia memutuskan untuk menghancurkan dunia.
Namun, ternyata segala sesuatu tidak semudah itu. Manusia ternyata hanyalah sumber energi dari makhluk lainnya.
Kemunculan Kulkan sebagai pemangsa Aura kehidupan dan mengambil kekuatan setiap kehidupan yang di serapnya, membuat Arangga berfikir bahwa pasti ada makhluk lainnya yang memiliki kemampuan di atas Kulkan atau bahkan lebih buruk lagi.
Hal itu terbukti. Karena beberapa tahun sejak Arangga keluar dari dimensi kematian tempat dimana dia mengurung Kulkan sebelumnya, muncul makhluk yang memiliki kekuatan seperti itu.
Meski tidak memiliki bentuk maupun tujuan yang sama dengan Kulkan, makhluk-makhluk itu seperti sengaja di utus untuk menyerap semua energi yang ada di dunia ini.
Bagaimanapun, menurut Arangga, Alam akan hancur dengan sendirinya meski tidak ada yang berusaha menghancurkannya. Namun, pada prosesnya yang panjang, manusia akan sangat menderita sebelum semua itu terjadi.
Arya menyimak semua ingatan yangndikatakan Arangga. Namun, semua penjelasan itu tampak sedikit berbeda dengan apa yang dikatakan Arangga.
"Kakek! Menurutmu, Berapa lama waktu yang sebelum dunia ini hancur dengan sendirinya?"
"Seribu tahun ... Aku rasa seribu tahun atau bahkan kurang!" jawab Arangga.
Mendengar kata-kata Arangga itu, Arya menjadi semakin heran. Sepertinya ada sesuatu yang telah dilewatkan oleh Arangga.
"Apakah kau tau bahwa sekarang sudah lebih dari tiga ribu tahun sejak perang dua dunia yang kau ceritakan itu berakhir?"
Arangga langsung terperangah. Seolah tidak percaya. "Apa katamu?!"
"Ya! Sudah lebih dari tiga ribu tahun sejak kau mengurung Kulkan. Dan jujur saja, di dunia ini, aku rasa tidak banyak lagi yang mengingat Arangga, Namamu!"
Ini benar-benar jauh dari apa yang telah diperhitungkan Arangga. Jika selama seribu tahun semua yang ditakutkannya tidak terjadi, lalu kemana makhluk-makhluk itu pergi.
"Tidak ada makhluk yang seperti kau ceritakan itu, di dunia ini!"
"Jika begitu, pasti telah terjadi sesuatu."
Dengan pemikiran yang terbatas, Arangga berusaha mencari apa yang salah jika semuanyang dia perkirakan sebelumnya itu, tidak terjadi.
"Bukankah, jika makhluk itu memang ada, maka, hal yang paling diinginkan mereka bukanlah kekuatan manusia?"
Meski mengerti apa yang dimaksud oleh Arya, Arangga masih tidak merespon. Melihat itu Arya menjadi yakin kenapa hal yang ditakutkan oleh Arangga belum terjadi.
"Bukankah seharusnya itu membuatmu senang?" Tanya Arya pada Kulkan yang berdiri jauh dari mereka dengan wajah yang jauh dari kata senang.
"Bocah! Apa maksudmu?!" tanya-nya, kesal.
"Bukankah kau rela meminjamkan kekuatanmu padaku, jika aku mau menghancurkan dunia ini?" Tanya Arya lagi.
Hal itu membuat Kulkan berfikir. Dan tak lama matanya melebar. "Jadi, maksudmu... " Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena seketika dia sudah membayangkan sesuatu.
"Ya! Jika mereka memang ada, sebenarnya mereka mengincar kekuatanmu!" pungkas Arya, membenarkan apa yang di fikirkan oleh Kulkan.
"Siapa dia?"
Ini sudah kesekian kalinya Arangga menanyakan tentang siapa orang yang tadi menjadi lawannya itu. Namun, setiap Arya mengatakannya, Arangga tidak bisa merespon.
"Sesuatu yang tak bisa kau ingat!"
Akhirnya Arya menemukan cara agar Arangga mengerti siapa Kulkan. Hal itu ditandai bahwa kali ini lelaki yang sudah sangat sepuh itu menganggukkan kepalanya. Tentu dia tau, sesuatu yang tak bisa lagi diingatnya, berarti sesuatu yang penting yang sudah tersegel di ingatannya.
"Mahesa! Karena kau sudah sampai di sini, berarti kau sudah berhasil membuka kitab Kosha. Aku tidak tau setelah gerbang terakhir masih ada gerbang berikutnya. Tapi, saat kau sampai ke tahap tersebut, sebagai penguasa Matra, kau akan jauh lebih kuat dariku!"
Hal yang dijelaskan Arangga sangat penting. Tapi, sangat jauh melompat dari apa yang dia bahas sebelumnya.
"Kakek Arangga! Apakah kau masih memintaku, untuk menghancurkan dunia?"
Arangga mengagguk "Ya!"
Arangga tidak tau lagi apa yang bisa dikatakannya. Karena segala sesuatu yang tersegel diingatannya, tidak bisa di katakan lagi setelah dia mengatakan itu sebelumnya.
"Kakek Arangga! Semua yang kau katakan Itu tidak menjelaskan kenapa tubuhku yang tidak bisa berkultivas atau meningkatkan kelasnya ini, memiliki energi yang sama dengan Kosha ataupun energi yang ada di bangunan ini?"
Saat menanyakan itu, Arya benar-benar berharap Arangga akan menjawabnya, namun, lagi-lagi Arya sedikit kecewa. Sepertinya, Arangga memang membuat segala sesuatu terbatas saat membuat segel ingatan tersebut. Atau, Arangga hanya bisa membuat beberapa segel ingatan, hingga dia hanya menyimpan hal-hal yang dia anggap paling penting saja.
"Tza-Mamna!" Jawab Arangga.
"Siapa itu, Tza-Mamna?"