ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Ulang! Rencana Sebenarnya


"Arya, Kenapa kau ingin menyembuhkan Edward itu? Bukankah kita kesini untuk membunuhnya dan menghancurkan Oldenbar?"


Arya menolak untuk tinggal di istana seperti permintaan Edward Sebelumnya. Akan tetapi, dia menyetujui saat pemimpin Oldenbar itu menawarkan mereka untuk tinggal di sebuah paviliun yang cukup besar yang masih berada di kompleks istana tersebut.


Edward memahami permintaan Arya itu. Karena menurutnya sebagai Master pengobatan, tentu saja ada rahasia lain yang ingin di simpannya.


Edward benar-benar sudah tidak menaruh curiga apapun pada keempatnya. Baginya sekarang, apapun akan dia lakukan untuk Arya. Setidaknya sampai pemuda itu memperbaiki seluruh titik cakra dan mengembalikan kekuatannya.


Selagi mereka di sana, Arya mengingatkan pada Edward untuk tidak memperbolehkan anak buahnya masuk tanpa izin mereka. Tapi, Arya tidak membatasi jika Edward ingin datang berkunjung kapan saja.


Hal itu semakin menguatkan kesimpulan Edward bahwa Arya dan yang lainnya, hanya ingin menjalin hubungan dengan Oldenbar. Dan tentu saja, Edward menganggap itu sebuah berkah.


Dan di sinilah mereka berempat sekarang.


"Aku hanya mengikuti kata-kata Luna untuk membangun kepercayaan mereka. Bukankah itu jalan terbaik?"


Luna membesarkan matanya. "Kata-kataku? Apakah aku pernah bilang begitu?"


"Ya! kau bilang, Jika ingin menghancurkan Oldenbar maka kita harus mendapat kepercayaannya dan menghancurkannya dari dalam. Apakah kau lupa?"


"Ya...  Aku bilang begitu... Tapi... "


Luna tergagap. Dia memamg mengatakan hal tersebut. Tapi, siapa yang menyangka Arya akan berbuat sejauh itu demi mendapatkan kepercayaan Edward, sebagai pemimpin tertinggi serikat Oldenbar di Daratan Timur ini.


"Senior. Coba kita mulai kembali dari awal. Sebenarnya Serikat Oldenbar mana yang ingin kau hancurkan?"


Luna dan Ciel menatap Bai Hua. Keduanya heran kenapa gadis dari kekaisaran Yang itu, menanyakan hal tersebut pada Arya. Namun, semua itu langsung terjawab.


"Pertama yang ada di Daratan ini. Lalu di seluruh kerajaan Swarna." Arya tampak berfikir sejenak, kemudian melanjutkan. "Aku ingin Oldenbar di seluruh Dunia, Hancur!"


"Dunia?! ... Kau bercanda?!"


Arya mengangguk. "Ya! Aku ingin melakukan itu, dan beberapa hal lainnya, juga!"


"Arya! Aku fikir itu terlalu gila. Dan ya. Sangat Gila. Seperti dirimu. Gila!!" Ciel tidak bisa menyusun kata-katanya dengan benar saking terkejutnya.


Luna mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menggelengkan kepala.


"Arya, aku pernah katakan padamu bahwa Oldenbar sanggup menghancurkan sebuah negara, bukan?"


"Ya. Negaramu."


"Baiklah!  Ehemm... Kau... Ingin menghancurkan sebuah serikat yang sanggup mengambil alih sebuah negara. Apakah aku benar?" Tanya Luna hati-hati.


Arya mengangguk lagi. Dan sedikit keheranan. "Kenapa hari ini aku harus mengulang-ulang kata-kataku?"


Tanpa Arya ulangi sekalipun, semuanya sudah mengerti bahwa pemuda ini memang serius dengan kata-katanya.


Mengingat bagaimana negara mereka bisa hancur, itu membuat kedunya tidak bisa mempercayai hal gila yamg sedang direncakan Arya. Ironisnya, Luna dan Ciel sudah memutuskan untuk ikut berpetualang dengan pemuda berbahaya ini.


"Senior! Bisa kau ceritakan pada kami sebenarnya apa tujuan perjalananmu ini?  Kau bahkan menolak menjadi ketua Sekte Singa Emas. Aku menduga, kau pasti juga sudah pernah menolak menjadi ketua Sekte Delapan Mata Angin yang akan di ambil alih adikmu itu, bukan?"


Luna dan Ciel memgangguk bersamaan.


"Arya! Meski kita sudah bersama beberapa waktu. Kami bertiga sama sekali tidak tau darimana dan kemana dan apa tujuanmu sebenarnya."


Luna langsung memgangguk setuju. "Aku dan Ciel, sudah memutuskan untuk ikut denganmu, kemanapun itu. Tapi, setidaknya beritahu kami sesuatu agar kami tidak lagi menduga-duga apa yang akan kau lakukan!"


Arya tempak berfikir, mencoba mempertimbangkan sesuatu. Lalu menatap ketiganya, tajam.


"Jika aku memberitahu kalian, aku rasa kedepan hidup kalian tidak akan lagi sama. Maksudku, apapun yang kalian ketahui tentangku, mungkin saja akan membahayakan nyawa kalian."


Arya melihat ketiganya menelan ludah saat mendengar peringatannya itu. Namun, sepertinya mereka tetap ingin mendengarnya.


"Kalian sudah tau siapa leluhurku, bukan?"


Ketiganya mengangguk.


"Ya. Sepertinya saat kau menghilang di reruntuhan kuno saat itu, pasti sangat berhubungan dengannya, bukan?"


"APA...!!"


"Tidak mungkin!"


Ketiganya cepat menutup mulut mereka yang tanpa sadar sudah meneriakkan keterkejutan mereka.


"Senior! Kau benar-benar bertemu dengan, Arangga?"


"Bukankah Arangga adalah pahlawan terkuat umat manusia? Dan dia adalah pemilik senjata pusaka yang lebih kuat dari sembilan senjata pusaka dunia itu?"


Sebelumnya mereka sudah pernah membahas siapa Arangga saat pertama kali Arya menyebutnya sesaat setelah Bai Hua sadar di Kota Arsa, beberapa waktu yang lalu.


Saat Arya berhasil membangunkan Bahuraksa, saat itulah mereka sudah bisa menebak Arya adalah pewaris Arangga.


"Ya. Sepertinya dia memang sedang menungguku dan segala sesuatu tentang itu, sudah seperti takdir. Aku rasa, kalian bertiga juga terkait dengan takdir tersebut."


"Kami, bertiga?"


Arya kembali mengangguk. "Kakek Bai dan yang lainnya, Juga."


"Ini sungguh sulit di percaya. Tapi, kami benar-benar melihat kau tiba-tiba menghilang dari sana. Tentu saja, itu sudah sangat sulit dipercaya."


Meski begitu sulit, sekarang ini tidak ada alasan bagi ketiganya untuk tidak mempercayai Arya lagi. Bagi mereka segala sesuatu tentang Arya, sejak awal memang sudah tidak ada yang normal.


"Senior. Jika memang takdir sudah menuntunmu bertemu dengannya, pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padamu. Bolehkah kami mengetahuinya?"


"Ya. Dia memintaku, untuk melakukan sesuatu."


"Apa itu?!"


"Ya. Apakah dia memintamu untuk mengambil harta karun atau benda pusaka lain miliknya?!"


Mendengar pertanyaan itu, Luna dan Ciel menatap Bai hua.


"Kenapa kalian berdua menatapku, begitu?" Tanya-nya, heran. "Bukankah di banyak dongeng, ceritanya seperti itu?" tambahnya.


"Dia memintaku untuk menghancurkan, Dunia ini!"


"Oh. Begitu." Ketiganya mengangguk.


Saat Arya mengatakan itu, mereka bertiga tidak menyadarinya. Hal itu berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya mereka bisa mencerna kata-kata Arya.


"APA.....??!!"


Ketiganya benar-benar terkejut saat baru saja bisa mencerna kata-kata Arya.


"Tidak mungkin, bukankah Arangga Pahlawan... "


"Ya. Dia membunuh sembilan dewa untuk mempertahakan Dunia ini...!!"


"Bagaimana mungkin, orang yang melindungi Dunia, berbalik ingin menghancurkannya? Itu sangat tidak masuk akal!."


Mereka bertiga tidak bisa mempercayai hal itu. Bukan! Baik Luna, Ciel, maupun Bai Hua secara naluri tidak bisa menerima itu dan menolak mempercayainya.


Arya membiarkan mereka bertiga tenang sebelum dia kembali bersuara. "Kalian pasti sangat penasaran dengan kondisi tubuhku yang sedikit, berbeda. Dan ternyata ini ada hubungannya dengan itu."


"Maksudmu?"


"Aku belum sepenuhnya tau seperti apa tubuhku. Tapi, Arangga mengatakan padaku, saat aku mencapai kekuatan tertinggiku. Dengan tubuh ini, aku bisa mengahancurkan, Dunia!"


Saat Arya menyelesaikan penjelasannya, ketiganya langsung membeku.


Mereka kehabisan kata-kata. Sebelumnya, siapa saja yang sudah cukup mengenal Arya, apalagi sudah pernah bertarung bersamanya, pasti sudah mengetahui bahwa pemuda di depan mereka ini benar-benar sangat berbahaya. Dengan kata lain, Pemuda ini merupakan mimpi terburuk bagi siapa saja yang memusuhinya.


Akan tetapi, di mimpi terliar mereka sekalipun, tidak ada satupun dari ketiganya yang pernah membayangkan bahwa, selama ini mereka sedang berada di dekat manusia yang berpotensi untuk menghancurkan, Dunia!.