
Mata Bai Hua langsung melebar saat mendengar Arya menanyakan nama itu. Sebab, bagi keluarga Bai, nama itu sangat tabu untuk dikatakan pada siapapun. " Bagaimana Senior bisa tau nama itu? " Bai Hua sedikit Histeris saat bertanya.
Melihat reaksi Bai Hua, semua orang di sana yakin tebakan Arya benar. Masalahnya, sama dengan Bai Hua. Mereka juga terkejut bagaimana Arya bisa mengetahuinya.
" Aku pernah membaca nama itu di sebuah Kitab "
" Tidak mungkin! " Bai Hua menutup mulutnya saking terkejutnya " Senior! Siapa senior sebenarnya?! " Bai Hua bingung hendak bereaksi seperti apa.
Luna dan Ciel langsung mengingat bahwa mereka pernah merasakan apa yang kini tengah dirasakan oleh Bai Hua itu.
Saat itu Arya mengatakan bisa membaca simbol keluarga mereka. Dan saat itu Arya juga mengaku jika dia pernah melihat huruf yang sama di sebuah Kitab.
" Arya! Aku baru saja mengingatnya. Kau juga mengatakan hal yang hampir sama pada kami beberapa waktu yang lalu. "
Arya mengangguk. " Ya. Aku membicarakan Kitab yang sama! "
Sekar dan Tabib Kenar, hanya kebingunan saat melihat bagaimana orang-orang di depan mereka ini bereaksi. Seolah orang-orang itu saling terikat dan ikatan itu sangat kebetulan sekali juga terhubung dengan Daerah ini.
Bagaimana bisa mereka tidak tahu apapun tentang ini. Padahal mereka adalah penduduk asli daerah itu.
" Sebentar! Bai Hua, kenapa kau memanggil Arya dengan sebutan, Senior? " Ciel juga sudah merasa heran dengan cara Bai Hua memanggil Arya.
Bai Hua menatap Ciel " Itu Karena dia menyembuhkanku dengan teknik yang hanya di lakukan kultivator tingkat tinggi di negaraku! Aku menebak senior Ini pernah ke negaraku, atau belajar dari salah satu kultivator hebat di negaraku! "
Bai Hua jadi kebingunan, itu adalah alasan kenapa tadi dia berlutut di depan Arya. Dia merasa Arya adalah Kultivator yang memiliki level tinggi dalam bidang Al kemis atau pengobatan. Dia sedikit merasa bersalah karema sudah tidak sopan padanya.
Akan tetapi, kondisinya mengharuskan Bai Hua untuk tetap diam sampai dia benar-benar mengerti situasinya. Sekarang, Bai Hua jadi tambah bingung Karena Arya juga mengetahui hal yang belum tentu kultivator tingkat tinggi di negaranya sekalipun tau nama Arangga.
Sebab, Jika kultivator tingkat tinggi mengetahui rahasia itu. Maka, saat kuktivator itu mendapatkan senjata pusaka Arangga, bisa dipastikan dia memiliki kesempatan terbesar untuk menjadi yang terkuat di dunia. Bahkan, kekuatannya dipercayai bisa menghancurkan sebuah benua.
Itu kenapa, keluarga Bai bersumpah untuk tidak pernah menyebut nama itu pada siapapun. Dan baru saja Arya menanyakan hal tersebut seolah itu adalah hal biasa.
" Senior! Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau sebenarnya? " Bai Hua sangat merasa cemas.
Bai Hua baru saja mengatakan seluruh rahasia keluarganya. Kini dia tersadar bahwa mungkin saja dia sudah melakukan kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh seseorang sepanjang sejarah keluarganya.
" Aku, Arya ... Arya Mahesa! "
Ketiganya tidak puas dengan jawaban Arya. Mereka tau Arya bukan orang biasa. Tapi melihat kebelakang, mereka mengingat Arya selalu melakukan hal-hal yang terlalu luar biasa bagi sebagian orang. Dan mereka termasuk bagian dari orang-orang itu.
" Maksudku— "
Kata-kata Bai Hua langsung dipotong Arya. " Nanti saat semua ini selesai, aku akan menjelaskannya. Tapi, sekarang bukan waktunya. "
" Apa maksudmu sekarang bukan waktunya?! " Protes Ciel.
" Kita di sini untuk meminta penjelasan Bai Hua, tentang keadaan Desa Paganti sebenarnya. Kita harus kesana untuk membantu Ki Jabara " Arya mengingatkan.
Semuanya kembali teringat dengan maksud pembicaraan awal mereka. Sekarang Ki Jabara sudah lebih dahulu ke sana. Bisa saja jika menunggu lebih lama, Ki Jabara dan pendekar-pendekar akan menghadapi bahaya.
Semua orang mengangguk menyetujui Arya. Sekarang memang bukan saat yang tepat membahas itu.
" Bai Hua, Sekarang jelaskan apa yang kau ketahui tentang Desa Paganti " Luna kembali pada fokusnya.
Sekar tidak bisa menahan diri saat Bai Hua mengatakan itu. Sepertinya Ki Jabara memang dalam bahaya. Bagaimanapun dia dan Ki Jabara sudah berjuang bersama cukup lama untuk bisa sampai pada tahap ini.
" Bai Hua! ... Aku tidak perduli dengan senjata yang kau sebutkan. Tapi, nyawa teman kami mungkin sedang dalam bahaya. Jika kau memang tidak ada yang mau dikatakan lagi, kami tetap akan pergi "
Tabib Kenar mencoba dengan cara yang lebih lembut. " Nona. Katakan saja yang kau ketahui, orang-orang ini sangat mencemaskan teman-teman mereka "
" Senior. Aku tidak tahu kekuatan senior seperti apa. Aku melihat senior punya trik untuk menyembuhkanku. Tapi, aku tidak melihat tenaga dalam pada diri senior. " Kata Bai Hua.
" Dan di sana, sekarang ada beberapa pendekar dari negeriku, yang sudah berada di level Raja dan mereka juga bisa mengendalikan elemen. Selain itu, ada puluhan yang memiliki level ahli beberapa dari mereka juga merupakan pengendali elemen. Sangat tidak mungkin mengalahkan mereka meski Senior sudah berada di level yang sama atau sedikit berada di atas mereka! "
Luna dan Ciel terkejut saat Bai Hua mengatakan itu. Level Raja adalah pendekar-pendekar yang sudah memiliki kekuatan yang luar biasa. Tidak banyak pendekar yang bisa sampai ke level itu apalagi di kerajaan Swarna ini.
Ditambah jika memang mereka bisa mengendalikan elemen, maka itu akan jadi sangat mengerikan. Kedua gadis itu percaya karena yang mengatakannya Bai Hua.
Sepengetahuan keduanya, Benua Timur memang memiliki banyak pendekar-pendekar yang memiliki level yang tinggi dan teknik pengendalian elemen yang menakjubkan.
Jika jumlah mereka memang sebanyak itu. Luna dan Ciel kini juga meragukan Arya bisa mengalahkan mereka. Karena mereka tau, mereka berdua tidak mampu mengalahkan satu saja pendekar level Raja walaupun menghadapinya berdua.
" Aku tidak tau aku sekuat apa. Dan aku memang tidak memiliki tenaga dalam. Tapi, aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. "
Arya mengatakan hal sejujurnya, dia benar-benar tidak tau sekuat apa dirinya saat ini. Dia bahkan baru memperlajari beberapa jurus untuk bisa di katakan seorang pendekar.
Melihat perubahan wajah Luna dan Ciel, membuat Arya sedikit mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh Bai Hua, mungkin memang bisa membahayakan dirinya.
Arya tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Dan semua orang di sana dapat melihat itu.
Sekar memahami kebimbangan Arya dan berusaha bersikap bijak. Bagaimanapun Arya sudah berbuat terlalu banyak untuk mereka. Kini dia sedikit menyesali kecerobohan Ki Jabara yang bertindak tanpa pikir panjang itu.
" Tuan Arya. Sebaiknya kita memikirkan ini dengan matang. Kita bisa mengejar Ki Jabara sekarang, dan berusaha menghentikannya. Kita tidak harus melawan Nurmageda dan pendekar-pendekar itu. Setidaknya untuk saat ini "
Ada banyak alasan yang bisa digunakan Arya. Tapi melihat bagaimana semua ini dimulai, Arya yakin, bahwa dirinya lah penyebab semua ini. Dia tidak mungkin membiarkan hal ini terjadi lebih jauh lagi.
Arya menggelengkan kepalanya " Nona Sekar. Aku tidak akan membiarkan Ki Jabara dalam bahaya. Terlebih lagi, aku tidak akan membiarkan Nurmageda itu begitu saja setelah apa yang dia lakukan pada kalian dan semua orang di daerah ini "
" Arya, jangan bertindak gegabah! " Luna merasakan Arya tetap berkeinginan pergi ke desa Paganti " Aku tau kau sangat kuat. Dan aku juga tau kau tidak akan menghadapinya sendiri. " Saat mengatakan itu, Luna teringat dengan Rewanda dan Krama
" Tapi, aku juga pernah melihat pendekar dari Benua Timur, mereka memang berbeda! " Luna mencoba menjelaskan apa yang dia tahu pada Arya, berharap Arya mengubah keputusannya.
Arya mengangguk dan tersenyum canggung " Aku tidak tau mereka sekuat apa. Aku tetap akan pergi. Dan kalian ... Kalian tetaplah disini. Kali ini kalian harus mendengarkan aku! "
Setelah itu Arya berjalan meninggalkan mereka. Namun saat sampai di pintu, Arya berhenti
" Aku tidak tau Benua yang kalian katakan sehingga membuat mereka bisa menjadi sekuat yang kalian bicarakan. "
Arya kembali berfikir kemudian menoleh dan tersenyum pada mereka.
" Suatu saat jika kalian tertarik, aku akan membawa kalian ke tempat aku tumbuh. Tempat di mana aku pernah hampir mati sebanyak ribuan kali "
Setelah mengatakan itu, Arya berbalik dan berjalan lalu menghilang di balik pintu.