ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Penyelamatan III


"Salendra ... Tidak ada gunanya kita di sini, Sebaiknya kita menuju gedung itu. Aku mendengar pertarungan di sana."


Sadar bahwa kehadiran mereka tidak diperlukan di lapangan, Rangkupala mencoba mencari musuh lainnnya.


Saat itu, dia mendengar suara pertarungan di salah satu gedung di sana.


"Ya, sebaiknya kita membatu di sana ... "


Keduanya segera berlari dan mendekat pada gedung tersebut. Saat sampai di pintu, Mereka melihat beberapa prajurit Nippokure sedang menggelepar seperti ikan di lantai bangunan itu.


Anehnya lima orang prajurit itu memegang mahkota kelaki-lakiannya. Namun, meski terdapat banyak sayatan pedang, seluruh tubuh mereka kini menghitam.


"Dia di sini ... "


"Tidak ... Aku merasakannya. Dia pasti di sini ... !"


"Aaaaaaa ... "


"Aaaaaa ... "


Suara-suara wanita terkejut saat melihat laki-laki yang sudah berniat meruda paksa mereka, berdiri tampa ekor lagi di kedua selah pahanya.


Tidak hanya itu, setiap lima atau sepuluh detik, tubuh laki-laki itu mendapatkan satu atau dua sabetan pedang. Dan itu terus bertambah terus menerus.


Saat Bai Hua masuk kesini, amarahnya semakin memuncah. Dia melihat ratusan wanita di kurung di dalam kerangkeng. Banyak dari mereka tidak berpakaian dengan benar. Malah, sebagiannya tidak berpakaian sama sekali.


"Pedang ... Halilintar!"


"Boom ... !"


"Boom ... !"


"Dia di sini ... "


"Aaaarggggghhhh ... "


Tempat ini benar-benar mimpi buruk bagi wanita mana saja yang melihatnya. Mereka ditempatkan di penjara, dan akan ditarik paksa keluar untuk melayani semua prajurit yang ada di benteng itu.


Tentubsaja bagi yang nerasakannya, ini tidak hanya mimpi buruk. Tapi ini terasa jauh lebih buruk dari itu. Tempat ini benar-benar neraka.


Sedikitpun sejak masuk kesini, Bai Hua tidak mengurangi kecepatannya. Gadis itu melibaskan pedan pada setiap prajurit yang di lewatinya.


Tidak berniat membunuh begitu saja. Bai Hua menyiksa mereka. Apa yang di lihat Rangkupala dan Salendra di depan pintu bukanlah penjaga.


Prajurit-prajurit itu mencoba melarikan diri, namun jurus pedang halilintar Bai Hua menyambar mereka.


Mungkin ada sekitar tiga puluh prajurit di sana. Namun, karena tempat ini digunakan khusus untuk mereka melepas dahaga, tidak ada senjata di tangan mereka selain ekor yang berdiri saja.


Namun, sejak kehadiran sosok yang mereka yakini seorang wanita karena suara teriakannya itu, ekor-ekor mereka berubah lebih mirip seperti ulat bulu. Namun begitu, Bai Hua tetap mengincarnya.


Tau apa yang menjadi target, mereka menutupnya dengan tangan. Namun, Bai Hua mengincar bagian tubuh mereka lainnya.


Gadis itu bisa saja membunuh mereka, tapi itu bukan rencananya. Menurut gadis yang sudah terbakar amarah itu, Mati bahkan tidak cukup untuk membalas mereka. Setidaknya, mereka harus benar-benar tersiksa dan memohon untuk seseorang membunuhnya.


"Dimana pedangku ... "


"Hei aku butuh pedang di sini ... "


"Gunakan apa saja. Kita harus menghentikannya."


Sekarang, para prajurit yang ada di sana berkumpul. Di tangan mereka memegang apapun yang bisa mereka pakai untuk menggantikan senjata.


Para wanita yang ada di sana bertumbangan saking terkejutnya dengan apa yang terjadi.


Namun, beberapa dari mereka tetap sadar dan terus melihat penyiksaan itu. hati mereka menikmati setiap luka yang didapat para prajurit tersebut.


Tau bahwa musuh-musuh nya telah berkumpul untuk menghentikannya. Bai Hua pun berhenti.


"Itu dia ... !"


Mereka akhirnya melihat sosok gadis itu. Bai Hua menatap mereka dengan tatapan datar. Hati nya benar-benar terbakar.


"Gerakannya terlalu cepat ... Aku bahkan tak b sa melihatnya ... !"


"Bagaimana ini ... ?!"


"Jangan ada yang kabur, kita akan mati jika kita berpisah. ... Gunakan apapun untuk menangkapnya ... Bersama, kita pasti bisa."


Seserorang mulai menarik beberapa kain yang menutupi tempat tidur dan yang lain mulai mengikutinya.


Mereka membuatnya berlapis-lapis agar sanggup menahan Bai Hua, setidaknya untuk memperlambat gerakannya.


Rencana mereka sangat bagus, jika hanya itu yang Bai Hua punya.


Mereka baru saja akan bergerak, namun tiba-tiba berhenti. Saat itu, mata mereka terbelalak. Karena, Bai Hua batu saja melepas segel Prananya.


"Pet-pet pet ... Tirrr ... " Gumam, salah satu dari Prajurit-prajurit bug1l itu


Rangkupala menutup pintu bangunan itu, dan segera berbalik.


"Salendra ... Kita juga akan ikut mati, jika berada di sana ... "


"Ya, sebaiknya kita kedua gedung itu saja. Aku rasa di sana juga ada musuh."


Salendra menunju dua gedung yang berdiri bersisian di seberang lapangan, yang mereka kira pasti ada prajurit Nippokure di sana.


Saat melewati lapangan, keduanya kembali melihat Luna dan Citra Ayu bertarung. Hingga saat ini, mereka tidak menemukan cara membantu. Malah, sekarang terlihat kedua gadis itu sedang bermain-main saja.


Sepertinya, gadis-gadis itu belum berniat membunuh lawan-lawannya.


"Jemba, apakah diperbolehkan bertarung seperti itu?"


"Jujur saja Sahabatku. ... Aku rasa, itu sah-sah saja asal berada di posisi mereka. Masalahnya, siapa yang mampu bertarung seperti mereka?"


Salendra mengangguk mengerti. Saat ini, keduanya sudah dekat dengan kedua bangunan besar itu.


"Salendra kau yang itu, dan aku yang ini ... Bagaimana?"


"Baiklah, kalau begitu ... "


Keduanya langsung membuka pintu bangunan itu serentak. Namun, secepat apa mereka membukanya, secepat itu pula mereka kembali menutupnya.


Kali ini mereka bertatapan. Dan menggelengkan kepala serentak. Lalu berbalik, dan mulai berjalan cepat akhirnya lari mentiting.


"Makhluk apa itu? ... " Teriak Salendra.


"Kau juga melihatnya? ... "


"Tentu saja. kau fikir kenapa aku ikut berlari? ... "


Mereka terus berlari hingga akhirnya berhenti didepan sebuah gedung. Kedua pendekar tua itu, menarik nafas sebelum akhirnya Salendra kembali bicara.


"Tampar aku ... "


"Hah?! ... "


"TAMPAR AKUUU ... !" Teriaknya.


"PLAAAKKK ... !!"


"SIAL, ... SAKIIIT ... " Teriaknya lebih keras.


"Kau menyruhku menamparmu, sekarang kenapa kau berteriak keras sekali?"


Salendra menggeleng. "Tidak ... Tidak apa-apa ... " Dia terdiam sebentar. Lalu kembali bicara. "Tamparanmu terasa seperti nyata, berati ini bukan mimpi ... "


"Tentu saja ini bukan mimpi. Aku sudah peringatkan agar kau menyiapkan diri. Sekarang lihat ... Sepertinya, Jiwamu benar-benar sudah terguncang ... !"


Salendra menelan ludah. "Lalu kenapa kau juga terkejut?"


"Jujur saja, ini jauh dari yang aku bayangkan. Jadi, tentu saja aku terkejut."


Keduanya termenung. Padahal, di depan mereka Luna, Ciel dan Citra Ayu, masih bertarung. Namun, mereka sudah tidak peduli.


"Sekarang, bagaimana?"


Saat itu, mereka berdua mendengar beberapa orang berteriak. Keduanya langsung menoleh pada pintu gedung yang ada di dekat mereka.


Saat ini mereka yakin bahwa di sini sedang terjadi pertarungan sesungguhnya.


"Jemba, aku rasa di sini, kita bisa bertarung ... Jika tidak, sejak awal untuk apa kita di sin?"


Rangkuoala mengangguk. "Ya, kau benar. Ayo. Aku rasa Tuan Arya sedang melawan pemimpin mereka. Kita bantu habisi bawahannya."


"Pemuda itu? ... Kau tidak salah, kenapa dia yang harus melawan pemimpinnya?"


Saat mereka sudah di depan pintu, Rangkupala berhenti. "Kau masih bertanya? ... Kalai begitu, kau akan segera melihatnya."


Saat itu, keduanya masuk kedalam Loby bangunan itu. Keduanya langsung tersentak saat mendengar beberapa orang bersuara serak berbicara dengan mereka. Dengan kata-kata yang hampir sama.


"Tuaaaaan ... Aku mohooon ... Tolong bunuh ... Aku ... !"


Melihat itu, keduanya langsung balik arah dan meninggalkan lima belas orang yang meronta-ronta memohon untuk dibunuh itu, begitu saja.


Saat ini, keduanya duduk di meja yang ada di teras bangunan itu. Di depan mereka Luna dan Citra Ayu masih bertarung. Tapi, keduanya sudah tidak perduli.


"Jemba, bagaimana bisnis penginapanmu?"


"Hmm ... Sepertinya, setelah ini, aku akan membuka beberapa cabang. "


"Ya, itu bagus. Kita sudah terlalu tua. Dunia pendekar sudah jauh berubah. Sebaiknya, kau cari cara untuk menikahi Lindu Ara, Saja."


"Ya, aku rasa gagasan mu sangat bagus ... "