
Sekali lagi Arya memberikan jawaban yang sama. Namun, saat Ciel berfikir untuk mencari kata-kata yang Tepat untuk menjelaskan idenya, Arya kembali bersuara.
"Ciel ... Aku baru kembali memasuki dunia manusia, setelah tumbuh bertahun-tahun di hutan bersama Rewanda dan Krama. Sekarang aku menyadarinya, dengan kekuatanku saat ini, aku belum bisa melakukan apapun untuk menyelesaikan semua, tanpa mengorbankan siapapun."
Saat itu juga Ciel merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskannya. Namun, dia kembali harus mengurungkan niatnya saat Arya kembali, berbicara.
"Aku mempercayai mereka semua yang ada di sana. Jadi aku rasa, sebaiknya kalian mempercayai mereka juga."
Saat itu, mereka langsung sadar. Apa yang dikatakan Arya benar adanya. Mereka telah maju dengan kepercayaan bahwa Daratan itu akan bisa menjaga dirinya.
Saat ini, di depan mereka, di tanah yang kini mereka injak, semua orang juga sedang menghadapi masalah yang sama sulitnya.
"Baiklah, aku mengerti ... "
Sekali lagi Arya menganggukkan kepala, kemudian bertanya pada Citra Ayu.
"Dengan kecepatan ini, berapa lama lagi kita akan sampai di tempat yang dikatakan oleh Tungkeh Aji itu?"
Citra Ayu tampak sedang berfikir sebentar. "Saat Hari sedikit sudah gelap."
Mereka semua mengangguk mengerti. Karena, itu tidak jauh berbeda dari perkiraan waktu yang mereka pertimbangkan.
Setidaknya, mereka memiliki waktu beristirahat sampai esok hari. Luna sudah memperhitungkan segala kemungkinan saat akan berangkat.
Mulai dari perkiraan pergerakan Orang-orang Malka, Pasukan Umbara hingga kemungkinan di mana akan tercetusnya perang.
Meski tidak bisa dipastikan apa yang dia perkirakan begitu akurat, namun itu adalah hal yang paling tepat yang bisa dia simpulkan.
Saat ini, hanya dirinyalah yang benar-benar sudah pulih. Ciel masih bisa menggunakan seluruh kekuatannya seperti saat sebelum mereka melakukan pergantian salah satu unsur darah.
Akan tetapi, tidak bagi Bai Hua. Gadis itu, perlu waktu untuk mengendalikan kekuatan barunya akibat perubahan unsur darahnya. Sedangkan Citra Ayu sendiri, sebenarnya sudah cukup kuat. Akan tetapi, saat ini gadis itu tidak akan mampu mengimbangi kecepatan yang lainnya.
Terang menjelang senja. Saat ini mereka yakin sudah keluar dari negeri Jampa dan memasuki negeri Bukit Batu.
Sesuai dengan Namanya, hutan di negeri ini, tidak serimbun hutan yang ada di negeri Jampa. Karena tanah yang ada di negeri ini sangat padat, serta sebagian besarnya di penuhi dengan bebatuan.
Beberapa bukit yang mendominasi sepanjang mata mereka memandang, hanya terdiri dari bebatuan dengan sedikit pepohonan. Jika Ciel mau, gadis itu bisa menghitung jumlah pohon yang ada di masing-masing bukit tersebut.
Namun sejak mendengar penjelasan Tungkeh Aji, Nama Bukit Batu memiliki makna berbeda bagi mereka semua saat ini.
"Arya, apa kita benar-benar akan beristirahat?"
Sambil terus melesat, Arya mengangguk. "Ya, sebaiknya begitu. Tidak ada yang bisa kita lakukan saat hari sudah gelap."
Mendengar kata-kata Arya, Ciel mengumpulkan tenaga dalam lebih banyak dikakinya, sebelum melesat lebih cepat. "Jika begitu Aku akan bergerak terlebih dahulu."
Saat hari benar-benar telah gelap, Akhirnya mereka menemukan tempat untuk beristirahat.
"Buft!"
"Buft!"
"Buft!" "Buft!" "Buft!"
"Buft!" "Buft!" "Buft!"
Seperti yang di harapkan dari Citra Ayu, gadis itu bisa langsung membuat rumah tanah. Kali ini, ukurannya cukup besar. Meski saat ini, dia harus menyentuh tanah agak bisa mengendalikan elemen itu.
Namun begitu, bentuk rumah yang dibuatnya saat ini, jauh lebih bagus dari pada apa yang pernah dibuat Rangkupala dan, tingkat kepadatan tanahnya sudah sekeras batu koral.
Luna seperti akan beranjak pergi, sebelum Arya memanggilnya untuk bertanya. "Luna, kau mau kemana?"
"Tentu saja berburu. Kita tidak memakan apapun beberapa hari ini, bukan?"
"Buuuuuuuuuuufffffftttt ... "
Arya tudak menunggu yang kainnya bertanya, karena saat itu juga dia mengeluarkan sesuatu yang membuat Luna, Bai Hua, dan Citra Ayu membelalakkan mata mereka.
"Huh, sekarang saatnya aku balas dendam ... " Gumam Ciel, saat melihat Siluman Paus Biru yang hampir saja menelan keduanya hidup-hidup di tengah lautan, beberapa minggu yang lalu itu.
"Makhluk apa ini? ... Bagaimana cara kalian menangkapnya."
Bai Hua langsung tidak bisa berkata-kata saat melihatnya. Namun, hal berbeda terjadi pada Citra Ayu. Saat yang lainnya mengatakan makanan, entah kenapa dia merasa ketakutan.
Saat melihat Makhluk sebesar itu muncul dihadapannya dan Arya baru saja dengan jelas mengatakan bahwa itu adalah makanan mereka selanjutnya, gadis itu menelan ludah.
"Tuan Muda, pernah kah kau berfikir barang sedikit untuk menjadikan sesuatu untuk dimakan? ... Belum sembuh rasa badan, sungguh aku tak mau mati sebab makanan."
Arya hanya tersenyum lalu menggeleng saat mendengarnya. Namun, saat itu juga dia berkata.
"Aku rasa kalian akan terkejut saat mengetahui bagaimana cara tubuh kalian yang saat ini, menyerap energi dari makanan ... "
Saat itu juga, mata keempat gadis itu menatap Arya curiga.
"Arya, apa maksudmu?"
Arya hanya menggelengkan kepala sekali lagi sebelum kembali berkata untuk mengingatkan.
"Kalian bukan lagi manusia biasa. Makanan yang biasa kalian makan sebelumnya, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan energi tubuh kalian. Kalian merasa begitu kuat bukan? ... "
Mereka semua mengangguk serentak sebelum Akhirnya Arya melanjutkan kata-katanya.
"Menurutku, Sekarang Kalian masih berada di titik terendah kekuatan kalian yang Sebenarnya ... "
Sementara itu di waktu bersamaan, di unjung Wilayah Malka yang berbatasan denga negeri Sungai Sembilan, Pasukan Nippokure baru saja tiba dan bergabung dengan Pasukan Adiaksa.
"Tuan Yuto ... Apa yang membuatmu merubah keputusan dan akhirnya bergabung dengan kami?"
Di dalam tenda yang sangat besar, Banjanang menyambut Yuto dengan sebuah pertanyaan.
Sebelum masuk, saat di luar tadi Yuto sudah melihat banyak pendekar dari Benua Timur. Namun saat masuk di dalam tenda, Yuto melihat beberapa lagi pendekar dari daerah yang sama.
Bedanya, level kependekaran mereka sangat tinggi. Meski saling beradu tatapan, tidak tampak dari Yuto ataupun mereka berniat hanya sekedar mengangguk untuk saling sapa.
"Aku tidak merubah keputusan apapun. Namun begitu, sepertinya kita memiliki musuh yang sama."
Adiaksa yang duduk di sebuah Kursi yang sengaja di persiapkan untuknya, menatap kedatangan Yuto dengan teliti.
Raja Malka itu, seperti sedang mempelajari gerak gerik orang yang memiliki pangkat hanya satu tingkat di bawah Toshi Mamura, Jenderal Armada besar Kekaisaran Nippokure yang kini sedang berada di Kota Barus, ibukota kerajaan Swarna.
Saat itu, Yuto terlihat tidak terlalu menghargai Banjanang gurunya. Buktinya, Yuto langsung berjalan mendekat padanya dan langsung menyapa.
"Tuan Adiaksa ... Sepertinya kekuatanmu sudah meningkat sangat pesat. Melihat semua ini, aku jadi berfikir bahwa rumor itu benar."
Cara Yuto memperlakukannya saja, sudah membuat Banjanang Kesal. Itu kenapa pria tua itu memutuskan menjawab pertanyaan Yuto yang dialamatkan pada muridnya itu.
"Yuto ... Rumor seperti apa yang kau dengar, huh?"
Yuto melirik sebentar pada Banjanang lalu kembali berbalik menatap Adiaksa.
"Apakah kau benar-benar sedang menyiapkan segala sesuatu, untuk melakukan kudeta?"
Adiaksa tidak menjawabnya bahkan bersuarapun, tidak. Namun, wajah Raja Malka itu, sudah menjelaskan semuanya.
"Jendral Bowler dari Serikat Oldenbar, telah menceritakan semua padaku, bagaimana situasi kerajaan Swarna saat ini. Pria itu, juga menitip sebuah pesan untukmu ... "