
"Ciel gunakan kekuatan matamu dan lihat siapa orang-orang itu" Luna meminta adiknya untuk memastikan.
Tanpa diminta kakaknya itu pun, Ciel sudah melakukannya. Dia bisa melihat orang-orang datang ke arah mereka dalam jumlah yang sangat banyak.
"Sepertinya mereka tidak mengetahui keberadaan kita. Tapi... "
Ciel tidak melanjutkan kata-katanya, dan langsung menoleh pada Arya. "Arya. Sebaiknya kita mengatakan pada mereka"
Mereka menatap pada Bai Hua dan kakeknya yang masih berada dalam posisi duduk menyelesaikan kultivasi mereka. Keduanya masih terlihat sedang menyerap energi yang mereka dapat dari Tersius tadi.
"Tidak perlu, sepertinya mereka akan selesai sebentar lagi." Arya dapat merasakan keduanya sudah hampir menyelesaikan kultivasi mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?" Luna sudah memegang senjatanya.
Arya tampak berpikir, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Aku pikir, sebaiknya kita menunggu mereka sampai ke sini"
Setelah memastikan jarak mereka, Ciel mengangguk "Ya, sebaiknya begitu. Kita tidak tahu apa yang mereka inginkan. lagipula sepertinya akan merepotkan jika harus menhadapinorang sebanyak itu dan lari juga bukan pilihan bagus saat ini."
mereka tidak bisa menggunakan keretabkuda mereka saat malam hari terlalu beresiko. sedangkan mereka juga belum bksa memastikan apakah orang-orang itu akan menjadi masalah atau tidak.
Saat Bai Fan membuka matanya, dia dapat merasakan derap langkah orang-orang dalam jumlah besar semakin mendekat.
Saat menyadari Bai Fan sudah berdiri, Luna langsung mendekatinya. "Ketua Bai, apakah Bai Hua masih lama?"
Bai Fan menoleh pada cucunya yang masih duduk bersila dengan mata yang masih terpejam. "Hmm... Tidak. Sebentar lagi, dia akan selesai"
Ketiganya mengangguk mengerti.
Ciel mendekat pada Arya. Meski mengatakan orang-orang tersebut tidak membawa senjata, gadis itu kini sudah berdiri dengan pedang besarnya. Di belakangnya juga sudah tersampir tas yang berisi anak-anak panah berserta busurnya.
"Beberapa dari mereka sedang mendekat" Ucap Ciel.
Arya mengerti apa yang dimaksud oleh Ciel. "Aku juga merasakannya"
"Bagaimana dengan Krama dan Rewanda?"
"Tidak perlu mencemaskan mereka. Sebaiknya kemasi saja barang-barang kalian untuk berjaga-jaga" jawab Arya.
Bai Fan mulai mengemasi barang-barangnya. Tak lama, Bai Hua juga sudah menyelesaikan kultivasinya. Gadis itu langsung membantu Bai Fan karena sudah menyadari situasi mereka saat ini.
"Ketua Bai." Luna kembali mendekati orang tua itu "Di sini, sepertinya hanya kau yang lebih berpengalaman. Sebaiknya, Ketua Bai saja yang coba berbicara pada mereka!" Saran Luna.
Bai Fan langsung mengangguk. "Baiklah. Jika kalian mempercayakan itu padaku, maka aku akan melakukannya"
"Tidak perlu bersembunyi. Kami sudah mengetahui kehadiran kalian!" Tiba-tiba saja Ciel bersuara. Seolah sedang berbicara dengan beberapa orang.
"Buk!"
"Buk!"
"Buk!" "Buk!"
"Buk!" "Buk!"
"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"
Sepuluh orang baru saja melompat dari atas pohon dan mendarat di tanah tepat di hadapan mereka.
Orang-orang itu menggunakan jubah berwarna hitam, dengan wajah tertutup topeng.
Seluruhnya menggunakan topeng berwarna putih, Kecuali satu orang. Orang itu kini berdiri di depan yang lainnya. Dari gelagatnya, bisa di tebak bahwa dia adalah pemimpin orang-orang di belakangnya itu.
Orang itu menggerakan kepalanya menyapu pandangan, seolah memeriksa sesuatu. Pemilik topeng berwarna merah itu, kini menatap semua orang di hadapannya. "Sungguh berani sekali kalian memasuki hutan ini. Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Saat mendengar topeng merah mengatakan itu, semuanya langsung bersiaga. Tapi, Arya tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Maaf Tuan jika Kami memasuki daerah kalian tanpa izin. Sebenarnya kami sedang dalam perjalanan dan Kami hanya ingin beristirahat di sini" Bai Fan mencoba membangun komunikasi yang baik.
Pria bertopeng itu menatap Bai Fan lama. "Cih! Orang asing" lalu dia menatap yang lainnya. "Pantas saja kalian tidak mengetahui bahwa daerah ini terlarang untuk di masuki!"
Pria bertopeng itu melipat tangan di dadanya." Kau!" Kini dia menoleh pada Arya. "Kenapa kau mau bekerja pada mereka?"
"Ck! Ck! Ck! Ck!" Pria bertopeng merah menggelengkan kepala. "Jadi, kau yang membawa mereka kesini? Dasar Pengkhianat!"
Bai Fan merasa ada sedikit ke anehan dari tudingan pria bertopeng itu pada Arya "Maaf tuan. Sepertinya anda salah mengira. Tidak ada yang membawa kami ke sini. Tapi, memang kami yang ingin mengikuti Tuan Muda ini" jelas Bai Fan.
"Hahahaha! Itu kenapa aku mengatakan bahwa dia pengkhianat" Pria bertooeng merah menatap Bai Fan tajam." Seharusnya, dia tidak berjalan bersama orang-orang seperti kalian di Daratan ini" Katanya sinis.
"Wuush!"
"Ngeeeeeeekkk!"
Luna sudah mengayunkan godam besarnya dan mengacungkannya pada pria bertopeng merah. "Jaga ucapannmu!"
"Kami sudah berusaha berbicara baik-baik. Tapi, sepertinya kalian memiliki maksud lain" Ciel juga sudah menarik busur dengan tiga anak panah terarah pada orang-orang berjubah hitam itu.
"Memang seperti itulah kalian. Dengan mudahnya mengacungkan senjata pada kami, seolah kalian paling berkuasa di sini" Ucap Pria bertopeng itu tanpa rasa takut sedikitpun.
"Tuan. Dengarkan aku. Kami hanya berusaha membela diri, Karna kata-kata Tuan sepertinya sedikit keterlaluan dan tidak memikirkan perasaan kami" Bai Fan mencoba meyakinkannya sekali lagi.
"Aku tidak mempercayai kata-kata orang asing" pria itu kembali menoleh pada Arya "Apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini?"
"Kami hanya ingin beristirahat. Dan kami tidak berniat tinggal lama di hutan ini! Jika memamg hutan ini terlarang bagi kami, maka biarkan saja kami pergi" Ucap Arya menjelaskan.
"Hhmm ... Baiklah! Kau boleh pergi!" Pria bertopeng itu menatap yang lainnya "Tapi, mereka tidak!" Tegasnya.
"Tuan. Maaf untuk mengatakan ini. Tapi, Demi kebaikan anda, sebaiknya jaga ucapan anda!" Nada bicara Bai Fan kini sedikit mulai meninggi.
Sepertinya, dia dan Bai Hua juga sudah tersinggung dengan kata-kata pria bertopeng merah itu.
"Kau mengancamku?"
"Mereka mengatakan yang sebenarnya. Dan Kau ... sepertinya kau memang sudah membenci mereka sejak awal" Jawab Arya.
"Tentu saja aku membenci orang asing seperti mereka" Topeng merah kembali menatap semuanya" Sepertinya kalian cukup kuat. Tapi, kami sama sekali tidak takut pada kalian."
Setelah mengatakan itu, dia kembali menoleh pada Arya. "Hanya orang lemah dan penakut seperti mu saja yang mau berurusan dengan orang asing!" Tambahnya dengan nada yang sangat meremehkan.
Baik Bai Fan, Bai Hua, Ciel maupun Luna benar-benar sudah dibuat kesal oleh pria di depan mereka ini.
"Tuan! kau terlalu percaya diri!" Bai Hua juga sudah ikut bersuara.
Si topeng merah menggeleng tak setuju. "Tugasku hanya menahan kalian sedikit lebih lama. Tapi sepertinya, sekarang kalian sudah tidak akan bisa kemana-mana lagi."
Mereka menyadari beberapa orang lainnya semakin dekat. Dan tak lama muncul lima orang dengan jubah hitam yang sama. Namun kali ini, mereka menggunakan topeng berwarna hitam.
Keempatnya bisa merasakan bahwa orang-oranh menggunakan topeng hitam yang baru saja tiba ini, jauh lebih kuat dari yang lainnya.
Orang-orang bertopeng hitam itu langsung melepaskan aura pembunuh. Mencoba mengintimidasi orang-orang yang di hadapannya.
"Apakah kalian ingin membunuh, Kami?!"
Arya memang tidak bisa merasakan tenaga dalam seseorang. Tapi, dia bisa merakan jika seseorang ingin berniat buruk. Berbeda dengan pria bertopeng merahnyang muncul pertama kali, orang-orang bertopeng hitam ini memang berniat menyerang.
"Huh! Orang sepertimu, adalah orang yang paling ku benci!" Ucap salah satu dari lima orang yang bertopeng hitam itu pada Arya."Apakah kau juga mengemis pil terkutuk itu pada mereka? Kau sangat menyedihkan!" tambahnya.
Sepertinya, Bai Fan dan yang lainnya sudah mulai mengerti arah pembicaraan orang-orang bertopeng di hadapan mereka. Meski tidak tau pastinya bagaimana, mereka sadar bahwa ini jelas adalah salah faham.
Bai Fan kembali mencoba mengendalikan emosinya yang tadi sempat tersulut dan berusaha untuk tenang. "Tuan! Dengarkan Aku. Sepertinya kalian salah Faham. Kami bukan orang seperti yang kalian maksud."
Orang bertopeng merah tadi, salah menanggapi perkataan Bai Fan. Menurutnya, pria tua itu menjadi lebih lembut, karena ketakutan dengan aura pembunuh yang dilepaskan topeng hitam.
"Hahaha!" Kalian sangat tidak beruntung. Kalian sekarang sedang berhadapan dengan orang-orang kuat dari Sekte Lembah Hantu!"
"Aku akan memulai dari dirimu." orang bertopeng hitam yang tadi berbicara kini menatap Arya "Pengkhianat!"
Secepat kilat dia langsung melompat hendak memberikan pukulan mematikan pada Arya.
"Buk!"
Pria bertopeng itu terkejut saat tiba-tiba saja serangannya terhenti. Di balik topengnya, jelas terlihat keterkejutannya.
"Kau?!"