ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Gelombang Kedua


Seribu kereta kuda berisikan senjata pelontar datang dan memasuki kota Basaka. Banyaknya jumlah kereta tersebut, membuat seluruh penduduk kota bertanya-tanya isi di dalam kereta-kereta itu.


Damuraji sampai keluar istana ingin memastikan kebenarannya. Saat dia melihat barisan kereta-kereta itu telah terparkir rapi di kawasan istana, beberapa prajurit memeriksa isi nya.


Benar saja. Itu memang senjata pelontar yang di ceritakan Arya sebelumnya. Hanya saja, itu masih belum berbentuk dan seharusnya ini menjadi tugas serikat Oldenbar untuk menyelesaikannya.


"Paduka, ini sangat tidak di duga. Edward menepati janjinya. Tapi, seperti kata tilik sandi, Daga dari Sekte Tanah Hitam sempat berbicara dengannya di hari Master Arya di bawa Kelang."


"Untuk menggunakannya, perlu sedikit waktu. Ini menandakan bahwa mereka melihat barang-barang itu sekarang hanya sebagai barang dagangan."


Keduanya berdiri di depan istana saat seseorang datang menghampiri mereka.


"Yang Mulia."


Keduanya berbalik dan mendapati orang yang beberapa waktu yang lalu Darmuraji perintahkan untuk menghadap.


"Oh, kau sudah di sini, Wisanggeni."


"Ya. Yang Mukia. Ada apa Yang Mulia memanggilku?"


Darmuraji berjalan melewati Wisanggeni dan masuk kedalam istana. "Ikuti Aku!" Titahnya pada orang yang pernah menjadi walikota kota Basaka itu.


Sementara itu di lembah Haru, tempat dimana lebih dari lima puluh Sekte beraliran hitam sedang berkumpul. Sebelas sekte Besar, dua puluh lebih sekte menengah dan sisanya sekte-sekte kecil.


Banyaknya jumlah pendekar yang ada di sana, membuat Kenneth dan dua petinggi serikat Oldenbar yang memimpin tidak kurang dari sepuluh ribu anggota Oldenbar yang sudah terlatih, sangat terkejut.


Pasalnya, sangat sulit membuat mamusia-manusia yang memiliki niat serta tujuan berbeda untuk berkumpul. Tapi, di depan mereka saat ini, tidak kurang dari seratus ribu pendekar sedang bermukim.


Jika memang benar, ini adalah sehari sebelum kumpulan Sekte-sekte itu berniat menyerang Basaka dan mengambil alih seluruh Daratan Timur ini.


"Fyn, ini terlihat sangat tidak baik. Pengaruh Daga dalam menyatukan mereka semua, sangat luar biasa. Cepat kirim seseorang ke Basaka."


Kenneth meminta seseorang untuk mengirim utusan ke Basaka. Saat itu, dia melihat para tetu Sekte sudah melihat kedatangan mereka.


"Hahahahaha ... Serikat Oldenbar memang luar biasa. Aku baru saja tiba beberapa waktu yang lalu, dan sekarang kalian audah di sini."


Daga menyambut Kenneth dan orang-orangnya. Meski sudah dalam perhitungannya, tapi melihat Oldenbar memang benar-benar datang apalagi Kenneth yang merupakan tangan kanan Edward sendiri yang memimpin, ini sudah lebih dari cukup. Daratan Timur ini pasti akan mereka taklukkan sebentar lagi.


"Tuan Daga. Aku membawa pasukan hanya untuk berjaga-jaga. Tapi melihat bagaimana persiapan kalian, kurasa pemimpin kami sudah memilih keputusan yang tepat."


"Ya ... Ya ... Ya ... " Daga mengangguk-angguk. "Kalau begitu, mari ke tendaku, di sana seluruh ketua sekte sudah menunggu. Kita harus membicarakan rencana ini secepatnya."


Di dalam tenda yang besar itu, mereka ditunggu oleh seluruh pemimlin Sekte aliran hitam. Tapi, wajah mereka sedikit tampak gelisah.


Daga yang merasakan sambutan kurang menyenangkan itu, langsung bertanya. "Ada apa dengan kalian? Aku sudah membawa serikat Oldenbar seperti yang aku janjikan."


Kenneth langsung maju. "Tuan-tuan, perkenalkan. Aku Kenneth dari serikat Oldenbar!"


Salah satu ketua tersebut berdiri, mengabaikan Kenneth dan langsung menyampaikan apa yang menjadi beban pikiran mereka. "Ki Daga, sudah dua hari tapi Kelang belum juga datang. Begitu juga dengan wakil-wakil kami. Kau yakin semuanya berjalan dengan lancar?"


Meski di abaikan, Kenneth tidak terlalu memperdulikannya. Namun, Kata-kata salah satu ketua sekte itu membuatnya heran. Sepertinya ada sesuatu yang salah.


Daga menatap Kenneth sebentar lalu menggeleng kemudian dia berjalan ke meja di mana semua ketua-ketua Sekte itu duduk.


"Kalian semua, Tak perlu mengkhawatirkan itu. Terlepas Keterlambatan mereka, kita tetap akan bergerak sesuai rencana."


"Praaa...k!"


Salah satu dari mereka menggebrak meja. "Tidak perlu mengkhawatirkan katamu? Hei, Daga! Aku ingatkan sekali lagi, kami bisa berada di sini karena satu hal. Jadi, sebaiknya pastikan Kelang berada di sini. Lagi pula, kenapa dia melakukan semua itu di Lembah Tonda dan tidak langsung ke sini."


Daga masih terlihat tenang. Namun, sebenarnya dia juga merasa ada sesuatu yang salah. Seharusnya, menurut perhitungan Kelang dan yang lainnya juga sudah berada di sini. Itu kenapa mereka merencanakan untuk menyerang Basaka, esok hari.


"Ki Sapu Jagad. Tenangkan dirimu." Daga mengedarkan pandangannya pada semua orang. Lalu melanjutkan. "Saat kalian dalam perjalan ke sini. Kami, Sekte Tanah Hitam, membawa salah satu orang penting dari Basaka. Kami tidak sempat memberitahu kalian karena semuanya diputuskan dalam waktu singkat. Lagipula, bukankah seluruh wakil yang kalian kirim adalah pendekar-pendekar suci yang kuat. Lalu, apa yang kalian risaukan?"


"Kata-kata mu masuk akal. Tapi, siapa orang itu, sehingga Kelang berani membuat kami menunggu dan menunda pertemuan ini?"


"Nyai Anjaran. Pil-pil yang kakian terima dari kami itu, adalah buatan orang tersebut. Jadi, Kelang menculik dan membawanya ke Lembah Tonda. Sementara itu, aku ke pegunungan Singa Emas untuk berbicara dengan serikat Oldenbar."


Mata mereka semua melebar mendengar keterangan Daga. Memang, mereka mendapat pasokan banyak Pil dengan kualitas tinggi. Itu kenapa mereka tertarik untuk ikut dalam rencana ini. Sumber daya yang kini di miliki oleh Sekte Tanah Hitam sangat besar.


"Jadi, Pil-pil tersebut, bukan berasal dari luar daratan ini?" Salah satu ketua lainnya bertanya untuk memastikan.


Pil yang mereka dapatkan memiliki kualitas yang sangat tinggi. Tidak pernah satupun dari mereka menjumpai pil dengan kualitas yang sama sebelumnya. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa semua itu berasal dari luar Daratan ini. Ditambah lagi, Seperti yamg mereka ketahui Sekte Tanah Hitam mendapatkan itu dari Darmuraji.


Akan tetapi, jika memang orang yang sedang di tawan oleh Kelang adalah orang yang membuat pil yang sama, tentu saja itu akan sangat menguntungkan mereka. Dengan kata lain, jika Kelang berhasil meyakinkan orang itu, maka secara tidak langsung seluruh bagian dari kelompok ini akan mendapatkan sumber daya energi yang sangat besar.


"Seperti yang aku katakan. Kelang tidak akan begitu saja terlambat. Mungkin ada sedikit negosiasi di sana. Mungkin, Tuan Kenneth bisa menjelaskan bagaimana orang tersebut. Lagipula, serikat Oldenbar-lah yang pertama kali berhubungan dengan orang itu."


Kenneth terperangah. Dia tidak menyangka Daga akan melemparkan tanggung jawab untuk memberi penjelasan tentang ini, padanya.


Tapi, di sisi lain, Kenneth melihat bahwa Daga memberi kesempatan padanya agar semua ketua sekte itu mau mendengar suaranya.


"Baiklah, mungkin kalian belum terbiasa dengan istilah ini. Karena bagaimanapun, Pil dan segala sesuatu yang membantu meningkatkan tenaga diluar latihan keras, termasuk hal baru di Daratan ini."


Kenneth memulai penjelasannya dengan sangat baik. Sekarang mereka semua memandang dan mendengarnya dengan seksama.


"Pil-pil itu hanya bisa di buat oleh orang yang mendalami ilmu yang di sebut Alchemia. Dan paraktisi ilmu tersebut disebut sebagai Alchemist. Akan tetapi seorang Alchemist membuat Pil dan hal lainnya sesuai dengan tingkat ilmu mereka. Itu kenapa kalian sebelumnya mendapatkan Pil-pil dengan kualitas berbeda-beda. Karena di buat oleh orang yang berbeda-beda pula."


Mereka semua mengangguk-anggukka kepala saat mendengar penjelasan Kenneth itu.


"Seperti yang kalian rasakan sendiri, pil yang di dapat Darmuraji beberapa waktu terakhir memiliki kualitas yang jauh lebih tinggi. Itu menandakan bahwa pembuatnya bukan praktisi biasa. Dengan kualitas yang hampir sempurna itu, tidak di ragukan lagi bahwa lemuda itu sudah berada di puncak pengetahuan ilmu tersebut. Karena itu, kami maulun Darmuraji memanggilnya sebagai Master. Itu sebutan untuk orang yang dengan ilmunya mampu mengubah kekuatan sebuah negara. Bahkan gelar itu sendiri setara dengan gelar Raja."


"Sebentar! Pemuda? ... Maksudmu, orang itu masih muda?"


Daga dan Kenneth bertatapan dan tersenyum.


"Ya. Aku rasa, bahkan umurnya belum genap berusia dua puluh tahun!"


Kenneth mengakhiri penjelasannya.