ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Gelombang Pertama


Edward dan Kenneth terdiam. Jelas sudah apa maksud kedatangan Daga ke sini. Keduanya tidak menyangka bahwa Arya memiliki Rahasia yang jauh lebih besar.


"Tuan Daga. Apa kalian mengancam ku dengan sesuatu yang belum pasti?"


Lagi-lagi Daga menggeleng. "Dia memesan senjata dalam jumlah besar pada kalian untuk di hadiahkan pada kerajaan di Daratan Timur ini. Lalu, setelah itu tanpa sepengetahuan kalian dia meminta pertukaran dengan Darmuraji. Terlepas dari hilangnya senjata-senjata tersebut. Sejak awal pemuda itu berniat mempersenjatai dirinya sendiri." Tegas Daga.


Penjelasan Daga sungguh masuk akal. Entah apa yang membuat Arya lebih memilih Daratan ini daripada hal lainnya, itu sudah lain hal.


Akan tetapi, jika apa yang dikatakan Daga itu benar-benar terjadi. Tidak ada hanya Sekte Aliran Hitam yang terancam. Mungkin saja Arya punya rencana lain untuk menekan bahkan mengusir Oldenbar dari Daratan timur.


"Bukankah, seluruh cabang kalian terpaksa berhenti dan hanya fokus untuknya beberapa bulan ini? Aku yakin pemuda itu tidak hanya berempat. Pasti ada sebuah kelompok yang kini sedang bergerak dengan cara yang kita tidak ketahui.


Itu kenapa kami dari Sekte Tanah Hitam langsung mengambil tindakan. Terlepas senjata-senjata yang hilang dan kebenaran senjata terkuat itu benar-benar ada, kejadian-kejadian ini sudah sangat tidak wajar.


Ketenangan ini hanyalah sementara. Badai akan datang dan pertempuran tidak akan terelakkan. Saat itu terjadi, kalian berpihak pada siapa?!"


Penjelasan yang sangat panjang dan di akhirnya dengan pertanyaan langsung dari Daga itu, seperti membuka mata Edward dan Kenneth.


Munculnya Arya sangat tidak terduga. Segala tindak tanduknya juga sama tak terduganya.


"Jadi, itu kenapa kalian seluruh Sekte aliran hitam berkumpul di lembah Haru?"


Daga langsung mengangguk. "Kurasa, kalian sudah mengerti maksudku. Sekarang, dengan tambahan sepuluh ribu anggota itu, apa kalian pikir, kalian sanggup untuk menghadapi kami?"


Setelah mengatakan hal yang sedikit mengandung ancaman itu, Daga segera berdiri. "Kurasa, ini sudah cukup. Aku sebaiknya pergi dan kalian bisa memutuskan apa yang akan kalian lakukan. Kami akan menyerang Basaka dalam tiga hari."


Setelah itu Daga langsung berbalik dan berjalan pergi. Saat dia berjalan, Edward berseru padanya.


"Tuan Daga. Kau tidak perlu bersandiwara seolah kau sangat menghormati Kelang di depanku. Tidak sulit bagi kami untuk mengetahui siapa kau sebenarnya."


Daga menghentikan langkah kakinya dan menoleh sedikit kebelakang. Sebuah senyum lagi-lagi tersungging di wajahnya. "Jika begitu, seharusnya kalian sudah tau apa yang harus kalian lakukan." Daga kembali berjalan.


"Tuan Edward. Apa yang harus kita lakukan?"


Edward hanya tersenyum masam. "Sayang sekali memang, seorang Master Alchemist bisa di cari. Tapi, kita serikat Oldenbar. Kita bertindak bukan karena takut, tapi karena memiliki peluang. Kita akan bergerak. Untuk saat ini, kita ikuti permainan mereka. Saat mereka lengah, kita ambil Daratan ini."


Kenneth mengangguk mengerti. "Baiklah, jika begitu, aku akan menyuruh seluruh anggota bersiap."


Setelah Kenneth pergi, Edward menggenggam kedua kepalan tangannya. "Orang-orang bodoh itu, melupakan satu hal. Mereka pikir, dari siapa mereka mendapatkan kekuatan seperti itu. Huh!"


Ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar saat perang terjadi. Edward sangat mengetahui hal tersebut.


Biasanya serikat Oldenbar tidak akan terlibat dalam perang secara langsung. Akan tetapi, dia tau siapa Daga. Meski berusaha menyembunyikan kekuatannya.


Pendekar yang baru saja pergi itu adalah pendekar suci biasa. Berbeda dari pendekar-pendekar aliran hitam di Daratan ini. Daga cukup terkenal di Daratan Barat kerajaan ini. Tempat dimana seharusnya dirinya berada.


Sepak terjangnya dengan sekte nya dalam membuat terror di Daratan itu, sangat mengerikan. Namun tiba-tiba pendekar itu menghilang dan keberadaannya tidak diketahui beberapa tahun terakhir.


Bahkan Edward sampai terkejut dan sempat tidak percaya bahwa Kelang memiliki wakil yang sangat berbahaya seperti itu.


Sekarang, Edward yakin bahwa Kelang sekalipun, tidak mengetahui siapa Daga sebenarnya. Pendekar suci tingkat sembilan, tanpa bantuan Pil Zulu sama sekali. Seorang pembunuh yang tak pantas lagi di sebut manusia, Atau penduduk Daratan Barat memanggilnya dengan gelar, Daga si Setan Gila.


****


"Ketua Bai, ada apa kau mencari ku? Apakah sudah ada berita tentang Master Arya?"


Sore itu, Bai Fan meminta izin bertemu secara pribadi dengan Darmuraji. Mengingat bahwa Bai Fan cukup dekat dengan Arya, dia menyangka Bai Fan akan datang untuk menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut.


Bai Fan menggeleng. "Yang Mulia, bagaimana aku bisa mengetahuinya, sedangkan anda sendiri mengetahui bahwa ruang gerakku di negeri ini sangat terbatas. Dan aku tidak datang untuk membicarakan hal itu."


"Jadi, jika bukan itu, apa yang membuatmu datang menemui ku?"


Bai Fan mengernyit heran. "Yang Mulia, maaf sebelumnya. Bukan aku lancang, tapi apakah kau sudah melupakan alasan kenapa aku bisa berada di sini?"


"Oh itu ... "


Karena melihat kedekatan Arya dengan Bai Fan sebelumnya, Darmuraji berusaha memanfaatkan itu agar bisa membuatnya tetap menjalin hubungan baik dengan Arya. Bahkan, Darmuraji sampai mengesampingkan surat dari Kekaisaran Yang padanya.


"Ketua Bai, Sekali lagi maafkan aku. Tapi banyak kejadian beberapa bulan ini yang selalu menggangguku. Bahkan sejak kematian Aditya."


Bai Fan mengangguk mengerti. "Ya, Yang Mulia, aku mengerti hal tersebut. Itu kenapa aku tidak ingin mengganggumu. Tapi, sepertinya ini sudah terlalu lama sejak surat dari Kaisar Liu datang. Aku tidak membalas apapun karena tidak ingin bertindak gegabah dan mendahului mu."


Bai Fan menghela nafas panjang lalu melepaskannya perlahan. "Begini Yang Mulia, di sini sudah terlalu banyak masalah yang seharusnya aku tidak terlibat. Tapi, aku sudah menemukan Bahuraksa hanya saja seperti yang kau ketahui bahwa pedang itu, tidak sesederhana senjata lainnya. Jadi, bisakah kau menganggap bahwa pekerjaanku di sini sudah selesai?"


Darmuraji berfikir sejenak. Bagaimanapun seperti kata Bai Fan, patriark keluarga Bai itu memegang surat perintah dari Kekaisaran Yang untuk menyelidiki kemungkinan pemilik tubuh spasial masih hidup.


Prihal Bahuraksa itu hanyalah misi tambahan saja. Dan tentu saja tidak ada keharusan untuk Bai Fan menemukannya.


"Ketua Bai. Apakah kau berencana untuk kembali ke Kekaisaran Yang saat ini?"


"Yang Mulia. Bukankah, Sebaiknya begitu? Kaisar Liu pasti akan mengutus orang jika aku tidak memberi kabar lebuh lama lagi. Tapi, jika Yang Mulia masih membutuhkanku disini, maka aku akan tetap di sini. Hanya saja, Yang Mulia setidaknya harus membalas surat itu."


"Hmmm ... Aku mengerti. Lagipula, terlalu banyak hal yang telah terjadi. Lalu, bagaimana dengan cucumu? Sepertinya dia menikmati usaha barunya itu di sini."


"Soal itu, bisakah dia tetap di sini? Seperti yang Mulia katakan, dia memang menikmati kehidupan barunya itu."


"Ya. Tentu saja." Jawab Darmuraji cepat. "Aku akan menjamin keselamatannya. Tapi ... " Darmuraji sengaja mengantung kata-katanya.


"Tapi apa yang Mulia?"


"Ketua Bai. Bisakah kau merahasiakan tentang Bahuraksa dari siapapun?"


Darmuraji melihat kesempatan untuk menekan Bai Fan. Sebelumnya dia tidak ingin Bai Fan mengatakan prihal Bahuraksa pada siapapun. Tapi, dengan adanya Bai Hua di sini, seolah Bai Fan meninggalkan kelemahannya.


"Tentu saja Yang Mulia. Aku menyadari betapa bahayanya jika pedang itu di ketahui keberadaannya." Jawab Bai Fan cepat.


Darmuraji mengangguk puas. "Baiklah. Aku akan memberikanmu surat jalan. Dan sebagai ganti jasamu selama di sini, aku akan memberikan hadiah yang layak. Aku juga akan memastikan keselamatan cucumu, selama kau menjaga Rahasia itu. Bagaimana?"


"Aku mengerti Yang Mulia. Terimakasih atas kemurahan hati Yang Mulia."


"Baiklah, kapan kau akan berangkat?"


"Besok. Jika Yang Mulia tidak keberatan, aku ingin meninggalkan Daratan ini, esok hari."


"Baiklah. Aku akan meminta seseorang mengatur segalanya untukmu."


"Terimakasih Yang Mulia. Jika begitu, aku undur diri. Aku ingin menyampaikan kabar ini, pada Bai Hua, cucuku."


"Baiklah, silahkan pergi."


Setelah Bai Fan pergi, Rantoba muncul.


"Paduka, bukankah sebaiknya kita menahan Bai Fan sedikit lebih lama? Aku sedikit mencurigainya. Bagaimanapun, dia memiliki kedekatan dengan pemuda itu."


"Ya. Aku berniat begitu. Tapi, kita tidak bisa berurusan dengan Kekaisaran Yang sekarang. Lagi pula cucunya masih di sini. Hal ini tidak mengubah apapun."


Rantoba mengangguk mengerti. "Baiklah. Aku rasa itu cukup bijak."


Tidak ingin memikirkan Bai Fan lebih jauh. Darmuraji mengalihkan topik pembicaraan.


"Rantoba, ini sudah terlalu jauh melenceng dari rencana sebelumnya. Kita tidak tau apa yang difikirkan Kelang. Tapi, pemuda itu ada bersamanya."


"Paduka. Maaf telah mendahului mu. Tapi, aku telah memanggil mereka sejak beberapa hari yang lalu."


Mata Darmuraji melebar. "Kau memanggil siapa?"


"Keadaan sudah sangat memburuk. Beberapa tilik sandi melihat pergerakan banyak pendekar Sekte hitam menuju ke sini. Mengandalkan kekuatan prajurit Basaka sudah tidak mungkin. Jadi, aku memanggil mereka."


Darnuraji mengangguk. "Sepertinya kau benar. Cepat atau lambat, semua akan terbongkar. Namun, sebelum itu terjadi, kita harus memastikan Bahuraksa berada di tangan kita."


"Ya. Mereka akan tiba esok, saat malam hari. Aku sudah menyiapkan tempat bagi mereka semua."


"Ada berapa yang kau minta datang?"


"Demi memastikan semuanya berjalan dengan benar, aku meminta semua tetua itu datang kesini."


Mata Darmuraji melebar. "Kau meminta Lebih dari seratus pendekar suci datang ke Daratan ini?"


"Ya. Bahkan aku meminta Guruku agar turut serta."