
Meski rasa penasaran mereka selama ini tentang bagaimana cara Arya menyimpan semua barang-barangnya sudah terjawab. Tapi, sekarang ketiganya tidak tau harus memilih terkejut untuk yang mana.
Harta yang mereka lihat di dalam sana sungguh tidak bisa dipercaya. Karena sangat luar biasa banyaknya. Tapi, hal lain yang tak kalah mengejutkannya adalah, lingkaran yang di buat Arya di udara itu.
Pemuda di depan mereka ini, seolah selalu membawa sebuah dunia lain bersamanya. Selain jumlah harta yang akhirnya membuat Ciel sendiri pasti akan menyerah untuk menghitungnya, ruangan yang ada di sana sangat luas.
Mereka bisa memastikan bahwa Arya bisa memasukan benda dengan ukurang yang sama dengan besar Daratan Timur ini, ke dalam ruangan tersebut.
Meski Arya sudah menutupnya beberapa detik yang lalu, Namun mata mereka masih mempelototi udara seolah lingkaran itu masih ada di sana.
Kali ini, Arya tersenyum puas. Entah kenapa baginya saat ini dia berhasil membalas ejekan ketiganya dengan sempurna.
Saat melihat ekspresi tiga gadis itu, dia teringat kembali saat pertama kali melihat Obskura melakukan hal tersebut di depannya. Saat itu, barulah Arya mempercayai bahwa Obskura benar-benar seorang Dewa.
"Apakah kalian sekarang sudah percaya?"
Kata-kata Arya sukses membuat lamunan mereka buyar. Namun, saat itu mereka tidak menjawabnya. Ketiganya saling berpandangan dengan nanar. Seolah sedang bermimpi.
Arya masih membiarkan ketiganya membiasakan diri mereka. Beruntung, karna saat ini mereka tidak langsung berlutut dan berfikir Arya adalah seorang Dewa.
Namun, Harapannya tidak terjadi. Karena bagitu dia baru saja selesai memikirkannya, Luna langsung bersuara.
"Arya. Jujurlah! Apakah kau sebenarnya seorang Dewa?"
Bukan tanpa alasan Luna menanyakannya. Jika Arya adalah seorang Dewa, maka sekarang semuanya terlihat lebih masuk akal baginya.
"Ya! Aku rasa, dengan sepak terjang seorang Arangga, dia sudah pasti menjadi seorang Dewa. Dan kau adalah keturunannya. Jadi, kau juga pasti seorang Dewa." Ciel menambahkan keyakinan kakaknya.
Arya menggeleng. "Tidak! Arangga tidak pernah menjadi seorang Dewa dan tentu saja aku juga bukan seorang dewa. Sebenarnya, masih samar bagiku tentang kepastian asal usulku. Tapi, aku pastikan bahwa aku bukan seorang dewa. Justru Arangga mengatakan bahwa aku sekarang, adalah manusia yang benar-benar, manusia!"
Meskipun keduanya yakin bahwa Arya mengatakan yang sebenanya, tapi tetap saja itu tidak membuat keduanya puas.
Hal yang mereka lihat, terlalu luar biasa untuk di saksikan tanpa aba-aba.
Namun, Tidak seperti Luna dan Ciel, Arya mendapati Bai Hua juga sama terkejut tapi tidak seterkejut keduanya. Gadis itu kini melirik pada jari-jari Arya seperti sedang mencari sesuatu.
"Apakah kau mencari sebuah cincin?" Tanya Arya pada Bai Hua.
"Ya!" Jawab Bai Hua cepat. Sejak tadi dia memikirkan sesuatu namun tidak tau apa itu. Saat Arya menyebut kata cincin, barulah dia ingat apa yang sedang di carinya.
"Bukankah seharusnya Senior memilikinya? Meski aku tidak pernah melihat langsung sebelumnya, aku pernah mendengar bahwa beberapa kultivator tingkat tinggi di Benua Timur memilikinya."
Arya mengangguk. "Guruku juga pernah mengatakan bahwa di Benua Kalian memang ada benda seperti itu. Jika tidak salah, cincin itu di sebut sebagai cincin samudra atau cincin ruang, bukan?"
Bai Hua mengangguk membenarkan. "Ya. Kakek pernah menceritakan itu padaku. Mereka menyebutnya seperti itu. Kenapa kau tidak memerlukan cincin untuk membuka ruangan itu?"
"Aku tidak memerlukannya. Lagipula, ruangan ini milikku sendiri. Berbeda dengan cincin ruang itu."
"Ya. Meski cara kerjanya hampir sama, tapi milikku lebih, aman. Sedangkan cincin itu... "
Mulailah Arya menjelaskan pada mereka cara kerja cincin yang dimaksud Bai Hua. Cincin ruang yang ada di Benua Timur itu, di buat menggunakan sebuah batu dengan konsentrasi energi yang besar yang sudah terpadatkan.
Dengan menanamkan sebuah segel terbalik, Batu tersebut bisa membuka sebuah ruang yang berada di dimensi lain. Namun, karena dibuat dengan batu dan teknik lyang sama, maka sebenarnya ruang tersebut berada di dimensi yang sama pula.
Itu tentu saja sangat tidak aman. Jika ada seseorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat besar, maka dia bisa mengumpulkan seluruh barang yang ada di dimensi tersebut. Itu bisa menyebabkan seluruh pemilik cincin ruang lainnya, kehilangan barang-barang mereka.
Berbeda dengan milik Arya. Lingkar ruang yang di buat Arya, murni dengan energinya sendiri. Jadi, dia tidak memerlukan media apapun untuk membuka ataupun menutupnya. Karena dari awal dimensi itu sebenarnya adalah bagian dari energi yang ada di tubuhnya, dan dia bisa mengaturnya sesuai keingingannya.
Itu sangat aman. Karena tidak ada yang bisa membuka energi tersebut selain dirinya. Atau mungkin seseorang yang memiliki tekanan dan gelombang energi yang sama dengan dirinya.
Begitulah penjelasan Arya secara garis besar tentang perbedaan lingkar ruang yang dia miliki dengan cincin ruang yang ada di Benua Timur yang Bai Hua tanyakan itu.
Ketiganya memahami apa yang dikatakan Arya. Tapi, tetap saja membuat sebuah dimensi lain dengan menggunakan energi, bukan hal yang mudah dimengerti.
Intinya merekanmengerti apa itu lingkar dan cincin ruang, tapi mereka tidak mengerti bagaimana cara kerja dan cara membuatnya.
"Arya, jika kita menemukan batu yang biasa di gunakan sebagai bahan untuk cincin ruang itu, apakah itu berarti kita bisa membuatnya?" Tanya Luna.
"Ya tentu saja. Tapi seperti yang aku katakan tadi. Itu tidak aman. Apalagi jika kita menggunakan itu untuk menyimpan benda-benda yang sangat berharga."
Kata-kata Arya seolah sudah mematahkan semangat ketiganya. Sebelumnya, mereka berfikir akan memiliki ruangan penyimpanan mereka sendiri.
Namun, jika memang seperti itu, maka Luna tentu saja tidak akan mau menaruh kitab peninggalan keluarganya, di dalam sana. Takut, jika seseorang yang sangat kuat bisa mengambilnya.
Bagaimanapun, mereka bertiga adalah wanita. Jika memiliki cincin ruang sendiri, tentu saja itu akan sangat menakjubkan.
Karena, beberapa saat yang lalu saja, ketiganya sudah sempat membayangkan banyak barang yang akan mereka simpan di sana untuk perjalanan mereka bersama Arya.
"Senior! Bisakah aku menitipkan barang-barangku di dalam lingkar ruangmu itu?"
Saat Bai Hua menanyakan hal itu, Luna dan Ciel tersenyum lebar. Karna saat itu, mereka juga berfikiran sama dengan Bai Hua.
"Ya. Seharusnya kami juga bisa menaruh barang-barang kami, di situ!" tuntut Ciel yang di sertai anggukan cepat oleh Luna.
"Kenapa kalian ingin menaruh barang-barang kalian di lingkar ruangku?" Tanya Arya heran.
"Aish. Kenaoa kau jadi sangat perhitungan. Kami melihat ruangan itu sangat besar sekali. Bahkan kau bisa memasukan seluruh daratan ini ke dalam sana!" Jawab Ciel ketus.
"Bukan. Aku sama sekali tidak keberatan jika kalian ingin menaruh barang-barang kalian di sana. Tapi, bukannya kalian seharusnya belajar membuat lingkar ruang untuk diri kalian sendiri? Dan ini, cukup mudah! "
Mereka kembali terdiam sebentar dan saling berpandangan. Beberapa saat berikutnya wajah mereka langsung berubah cerah. Mereka bertiga menghamburkan diri pada Arya, dan memeluk pemuda itu.
"Guru! Tolong Ajarkan murid-muridmu ini membuat Lingkar Ruang, seperti milikmu itu!"