ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Hutang Nyawa


"Tuan, benarkah kau ingin bermain bersama kami."


Citra Ayu dan Rangkupala tersentak. Keduanya tak menyangka Ciel akan menjawab dua prajurit asing tersebut, dengan cara seperti itu.


Dua prajurit asing itu, awalnya juga terlihat sedikit terkejut. Namun, keduanya langsung tersenyum.


"Tentu saja Nona. Meski begini, aku tidak bercanda. Bukankah begitu, teman?"


Prajurit satunya, langsung mengangguk. "Tentu saja. Jika kalian mau, kalian bisa langsung ikut ke meja kami, bagaimana?"


Saat itu, Luna langsung berdiri. Dan berbalik menatap meja yang dimaksud salah seorang prajurit asing tersebut. Saat itu, dia langsung menggeleng.


"Tuan, aku rasa, kalian tidak cukup kuat untuk bermain-main dengan kami. Apakah kalian pernah dengar bahwa, lelaki lemah jika bermain dengan wanita?"


Keduanya langsung bertatapan dan langsung tersenyum lebar. setelah itu, salah satu dari mereka kembali bicara seolah ingin meyakinkan Luna.


"Nona, jangan risaukan itu. Kau tidak tau sebelum mencobanya. Bukankah begitu?"


Luna tampak berfikir seolah mempertimbangkan sesuatu, lalu kembali berbalik.


"Sebentar ... " Tiba-tiba Bai Hua menyela.


Ada apa Nona, dua temanmu tidak keberatan. Tentu saja kau dan Nona itu, juga bisa ikut.


"Ya, tentu saja aku akan ikut, Tapi ... "


Bai Hua menggantungkan kata-kata


nya. Hal itu langsung membuatnya penasaran.


"Tapi apa?"


Bai Hua tersenyum semanis yang dia bisa. Satu matanya mengedip yang langsung membuat jantung kedua pendekar itu meleleh.


"Tentunya Kalian tau, aku jauh-jauh kesini, bukan untuk bermain dengan prajurit rendahan, bukan? Setidaknya aku ingin mengenal orang yang sedikit berwawasan. Kami, baru saja tiba, dan tidak tau apa-apa tentang kota ini."


Saat mendengar kata-kata Bai Hua itu, Keduanya langsung tersenyum semakin lebar.


"Nona, kami bukan prajurit Rendahan. Kau lihat? Ini tanda bahwa kami adalah perwira. Kami berbeda dengan yang lainnya. Kau bisa bertanya apa saja. Jangankan kota ini, bahkan apa yang terjadi di negeri ini, kami akan menceritakan padamu nanti." Jawabnya, bangga.


Bai Hua langsung berdiri dan menepuk tangan sekali.


"Puk!"


"Baiklah, aku ikut!" jawabnya cepat


Kedua prajurit asing itu, langsung menatap ke meja tempat teman-teman mereka berada. Keduanya mengangguk serentak dan semua yang di sana tersenyum lebar.


"Nona, Bagiamana denganmu?"


Saat salah satunya bertanya pada Citra Ayu, Bai Hua menyela. "Tuan, apakah kau benar-benar ingin membawanya? Dia belum pernah bermain sebelumnya. Aku takut dia akan mengasari kalian." Ucap Bai Hua, dengan nada cemas yang di buat-buat.


"Hahahahaha!"


"Hahahahahha!"


Keduanya tertawa lantang sambil memegang perut mereka, berhadapan.


"Kami, suka yang sedikit kasar. Itu semakin menantang."


Mendengar itu, tiga gadis lainnya tersenyum. Namun, Citra Ayu menatap ketiganya dengan mata melebar.


Luna menggelengkan kepala dengan senyum masih melekat di wajahnya.


"Baiklah, tapi kami kesini dengan dua pria ini. Apa yang harus kami lakukan?"


Saat itu, Arya tampak tak peduli. Sedangkan Rangkupala, beberapa kali meliriknya berharap Arya lebih dahulu bereaksi. Namun, karena Arya diam saja, pria tua itu mulai mengerti situasinya.


"Heh, Pak tua! ... apakah kau keberatan jika mereka ikut dengan kami?"


Rangkupala menggeleng. "Aku hanya memeringatkan saja, mereka sangat kuat. Aku tidak bisa melawan bahakan salah satunya."


"Hahahahaha! ... Itunkarna kau sudah tua."


"Ya, hahahahah! ... tapi aku liat kau tidak keberatan, bukan?"


"Anak muda. Kami kesini hanya ingin makan. Tapi jika kalian ingin mengajak mereka bermain, itu terserah pada mereka. Jangan salahkan aku, karena aku sudah mengingatkan."


"Terimakasih, kau cukup pengertian."


Arya hanya mengangkat bahu tak peduli. "Aku tidak ikut campur. Seperti kata Tuan ini, kami hanya ingin makan disini."


"Baiklah, jika begitu ... Nona-nona sekalian, ayo ikut kami."


Keduanya bersemangat membawa gadis-gadis itu bersama mereka. Hanya Citra Ayu yang sedikit kesal melihat Arya dan Rangkupala. Namun, dia tetap mengikuti ketiga gadis lainnya.


Setelah semuanya pergi, Arya langsung menanyakan sesuatu pada Rangkupala.


"Tuan Rangku, siapa Salendra?"


"Dia temanku, kami sama-sama bertualang sebagai pendekar lepas saat muda. Namun, dia mendapatkan seorang istri. Karena istrinya bukan pendekar, dia memutuskan untuk menarik diri jauh sebelum aku dan membuka rumah makan ini."


Arya mengangguk "Dan akhirnya, kau juga menarik diri, dan membuka usaha yang sama?"


"Tepatnya, aku belajar terlebih dahulu di sini, lalu membuka penginapan Kebojalang dan kota Palas, atas bantuannya."


"Baiklah, aku mengerti."


Saat itu, pesanan mereka datang, di antarkan beberapa pelayan. Salah satunya, lelayan yang tadi.


Akan tetapi, Rangkupala melihat di bawah salah satu piring di sana, pelayan tersebut menyelipkan sebuah surat. Tak lengah, Rangkupala langsung menyambar dan menyimpannya.


Saat mereka makan, keduanya melihat empat gadis itu pergi bersama prajurit-prajurit itu. Hanya Citra Ayu yang menoleh dan sempat di lihat oleh Rangkupala.


"Aku tak percaya bahkan orang asing, bisa sebodoh itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah mereka saat menyadari telah membawa malaikat pencabut nyawa ketempat mereka." Gumam, Rangkupala.


Sehabis makan, Rangkupala membaca surat yang di tinggalkan pelayan itu. Di sana, mereka di minta untuk memesan kamar di penginapan tersebut, dan dia akan mendatangi mereka.


Benar saja. Saat malam tiba, pelayan itu mengetuk kamar Rangkupala. Di sana, ada Arya yang juga ikut menunggunya.


"Tuan, apakah engkau, Jemba Si Kebojalang?"


Mata Rangkupala melebar. Dia terkejut saat pelayan itu mengenalnya langsung.


"Kau ... Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?"


Saat mendengar bahwa Rangkupala tidak mengelak, pelayan laki-laki itu langsung bersujud.


"Sukurlah, akhirnya engkau datang." Ucapnya, lebih terdengar seperti ratapan.


"Hei, apa yang kau lakukan? Berdirilah. Siapa kau dan bagaimana kau bisa mengenaliku?" Tanya Rangkupala.


Laki-laki itu, membuka tutup yang mengikat kepalanya, lalu balik bertanya. "Paman, apa kau sudah lupa dengan aku?"


Kening Rangkupala langsung berkerut. Namun, matanya langsung menajam. Saat itu, dia menatap wajah laki-laki yang kini ada di hadapannya itu, mencoba mengingatnya.


Namun, taknlama kemuadian, matanya melebar "Kau? ... Kau pasti genta, bukan?"


Laki-laki itu mengangguk. "Ya paman, ini aku Genta."


Perasaan Rangkupala langsung berubah, dan langsung bertanya. "Genta, apa yang terjadi. Di mana Salendra ayahmu?"


"Malang Nasib badan, lebih malang Nasib Ayah. Berat mata yang melihat, pasti lebih berat bahu yang memikul."


Jawaban Genta itu hanya punya satu makna. Saat ini, Salendra pasti sedang menderita.


"Genta, katakan padaku. Dimana Sahabatku itu!" Mata Rangkupala langsung memerah.


"Paman, demi menyelamatkan orang-orang di kota, Ayahanda rela dipenjara oleh prajurit asing itu."


"Dimana dia dipenjara?!"


"Balaikota, Tangan dirantai kepala dipasung. Aku nan lemah sungguh tak beruntung." Jawab, Genta sambil tergugu.


Rangkupala langsung berbalik menatap Arya.


"Tuan Muda, aku hanya pernah sekali berhutang, dan hanya pada satu orang. Dan hutang itu, adalah hutang nyawa."


Arya mengangguk dan langsung berdiri. "Baiklah, sepertinya, ini saat yang tepat membayar hutangmu itu."


Rangkupala mengangguk dan kembali menatap anak sahabatnya itu.


"Genta, tunjukkan jalan, bawa kami ke sana."


"Baik, paman!"