ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Gagak Dan Elang


Sejak mengetahui kedatangan Hattala bersama orang-orang itu, seluruh penduduk kota sudah masuk kedalam kediaman mereka masing-masing. Melihat Hattala melewati seluruh kota dengan cara seperti itu, tentu saja mereka semua berusaha bersembunyi untuk menyelamatkan diri, Berharap kejadian buruk apapun tidak akan terjadi pada mereka.


Hattala memerintahkan semua orang untuk berhenti. Sama dengan semua yang berjalan bersamanya, Hattala juga sedikit heran saat melihat Arya yang tiba-tiba keluar dari toko Smith dan mendekat pada rombongan mereka seperti tidak terjadi apapun.


Mencoba memperhatikan Arya dari ujung kaki hingga ujung kepala, Hattala tidak melihat ada bekas luka atau semacamnya di tubuh Arya selain bajunya yang saat hari sudah mulai gelap ini terlihat kotor.


" Tuan Muda, Kau tidak apa-apa? " tanya Hattala sambil melirik sekeliling Arya mencari keberadaan Luna dan Ciel "Di mana mereka? " lanjutnya bertanya karena tidak melihat keberadaan kedua gadis itu.


Arya menatap tajam pada Hattala " Apakah ini sudah semuanya? "


" Apa maksudmu? " Tanya Hattala heran " Ya. Demi menyelamatkanmu, aku membawa seluruh kekuatan kota ini bersamaku. " kata Hattala dengan bangga.


" Baiklah! " Arya mengangguk " Jadi, orang-orang ini yang akan kau bawa untuk menghancurkan sekteku? "


Arya sedang berdiri beberapa meter di depan Hattala. Di belakang Hattala, Arya bisa melihat ratusan orang yang seolah sudah siap untuk bertempur.


Tidak jauh darinya tampak Krama dan Rewanda masih dalam wujud kera dan anjing biasa. Tapi tatapan mereka pada Hattala dan semua orang yang bersamanya, sudah seperti predator yang memandang mangsa.


" Bagaimana bisa kau bisa mengatakan itu? " Hattala berpura-pura tidak terima dengan tuduhan Arya " Lihatlah! Aku membawa mereka semua untuk menyelamatkanmu " jelas Hattal mencoba meyakinkan Arya.


Arya menggeleng " Kau dan Bajra yang ada di sampingmu itu, sengaja menunda dan mengatakan padaku bahwa kau hanya bisa membawaku masuk kepusat ledakan setelah Nurmageda meninggalkan kota. Padahal, kau ingin menunda dan saatnya tiba, kau akan menggunakan orang-orang yang kini bersamamu dan memanfaatkanku untuk menghancurkan sekteku, bukan? "


Mendengar perkataan Arya itu langsung membuat Hattala jengkel " Siapa yang mengatakan itu padamu? " Hattala menyadari bahwa di antara pasukannya, pasti ada yang sudah menghianatinya.


" Tidak penting siapa yang mengatakannya padaku bukan? " Arya tersenyum " Kau tetap tidak akan bisa menemukannya setelah semua ini selesai "


" Hahahhaha! Aku pikir kau cukup pintar. Tapi, ternyata kau sangat bodoh! " Ejek Hattala " Setelah menghabisimu, Aku akan menemukan orang itu. Lagipula, untuk mengabisi sekte kecilmu itu, Aku tidak butuh pasukan sebanyak ini. Hahahhaha! "


Hattala yakin bisa menghancurkan Sekte Awan Senja dengan mudah. Karena menurut Bajra dan beberapa orang yang mengetahui sejarah dan keberadaan Sekte Awan Senja, Sekte itu terkenal sangat lemah.


" Rewanda! Krama! Bersiaplah! " Perintah Arya pada keduanya.


Setelah mendengar perintah dari Arya itu, Rewanda dan Krama langsung pergi dari sana.


" Hahahaha! Aku lihat bahkan kera dan anjingmu cukup pintar. Mereka tau kapan harus meninggalkan tuannya. Haahahaha! "


" Ya. Walaupun kau memuji mereka, itu tetap tidak akan bisa menyelamatkanmu! "


Hattala menghentikan tawanya dan langsung berkata " Tadinya aku mempertimbangkan untuk membiarkan kau hidup. Tapi, sepertinya kau memang sudah tidak berguna lagi bagiku. Lagipula, aku punya dendam dengan kedua orang yang berada di belakangmu itu "


" Arya. Kami tau kau mungkin meremehkan kami. Tapi, kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan mereka sendiri. " Luna sudah berdiri disebelah Kanan Arya dengan Godam besarnya.


Ciel menancapkan pedang yang juga sangat besarnya ketanah, lalu bersandar pada oedang yang kini lebih tinggi darinya itu. " Aku dan Luna akan berusaha menghadapi yang lainnya. Sementara itu, Kau fokus saja pada orang yang berdiri di sebelah Ketua Serikat itu "


" Ah! kalian keluar juga? " Arya sedikit kecewa saat keduanya memilih untuk tidak mendengarkannya dan keluar saat Rewanda dan Krama sudah tidak lagi di dekatnya.


Ciel yang mendengar perkataan Arya menjadi sedikit kesal " Kenapa? Apakah kau begitu ingin memperlihatkan kekuatanmu dengan mengalahkan mereka sendiri? Itu sangat ceroboh sekali! " katanya ketus.


" Ya! Aku juga sangat ingin menghabis Hattala itu. Sepertinya kami memiliki urusan yang harus diselesaikan " Luna juga tidak bisa menerima sikap Arya yang kini berbalik meremehkan mereka.


Kedua kakak adik ini sedikit memiliki kepercayaan bahwa, jika mereka menghadapi semuanya bertiga maka peluang untuk keluar dari semua ini semakin besar.


Apalagi setelah mendengar percakapan antara Arya dan Hattala yang tampak tidak mengarah ke pada hal yang baik. Lebih parah lagi, alih-alih berdamai, keduanya kini terlihat sangat ingin saling menghabisi.


" Baiklah! Aku pikir tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang ini. Apapun yang terjadi, aku minta kalian tidak panik "


" Arya. Cukup! Jika kau masih kesal, kita bicarakan lagi ini nanti. Sekarang kita hadapi semua ini dulu. " Sekarang, Luna yang sudah mulai habis kesabarannya dengan kata-kata Arya.


" Ya! Kita akan membicarakan ini lagi nanti. Saat ini di mulai, Aku akan memberi tanda saat jalan sudah terbuka. Saat itu kita kabur bersama " Jelas Ciel yang yakin dengan kekuatan matanya, akan bisa menemukan celah untuk kabur dari kekacauan yang sebentar lagi akan terjadi.


Ciel semakin kesal " Errrggghhh ... Jangan bilang kau benar-benar ingin mengabisi mereka semua? " tanya Ciel geram.


" Ya! Itulah yang aku rencanakan. "


" Jika kalian ingin berbincang, kalian sudah memilih waktu yang salah. Jadi, di antara kalian berdua, siapa yang ingin lebih dahulu melihat neraka? "


Tiba-tiba pendekar yang tadi berdiri di sebelah ketua serikat yang bernama Barnes itu, Sudah maju dan menantang Luna dan Ciel tanpa memperdulikan keberadaan Arya.


Luna dan Ciel berpandangan kebingungan. Bukannya mereka takut. Tapi, sepertinya pendekar itu tidak tau siapa sebenarnya yang harus dihadapi nya.


" Hmm ... Jika kalian ragu, kalian bisa langsung maju bersama. Aku tidak keberatan " tambah pendekar itu dengan nada meremehkan keduanya.


Mendengar itu, timbul niat licik Ciel dan ingin mengerjai pendekar itu untuk membalas perkataannya. " Oh maaf, tapi aku rasa kau terlalu lemah untuk melawan salah satu dari kami. " jawab Ciel dengan nada mengejek.


Luna yang sempat sedikit heran dengan perkataan Ciel, langsung menoleh. tapi saat memperhatikan gerak gerik adiknya itu, dia bisa langsung mengerti apa yang sedang direncanakan Ciel. Luna memutuskan untuk mengikutinya.


" Seperti kata adikku. Kau bisa mencoba dengan menghadapi pemuda ini terlebih dahulu. Jika kau berhasil mengalahkannya, maka mungkin kami akan bermain sedikit denganmu " sambung Luna dengan ada ejekan yang sama.


Keduanya tersenyum menahan tawa. mereka tidak menyangka akan bisa bercanda di saat-saat genting seperti ini.


" jika orang ini selemah yang kalian katakan, Kenapa kalian menyuruhnya menghadapiku? Aku rasa aku jauh lebih kuat daripada kalian berdua " Arya protes saat mendengar keduanya mengatakan seolah dirinya lebih lemah dibanding mereka berdua.


Arya yang tidak memiliki tenaga dalam, tidak bisa membedakan tingkat kekuatan tenaga dalam seseorang. Dia hanya memakai nalurinya saja.


Jika naluri bertahan hidupnya mengatakan sesuatu itu berbahaya, maka dia akan waspada. Tapi orang yang berdiri di depannya saat ini, sama sekali tidak memperngaruhinya. Jadi saat Ciel mengatakan orang itu terlalu lemah, tentu saja Arya langsung percaya.


Bahkan sekarang, Arya jadi sedikit tidak tega untuk menghabisi pria paruh baya malang yang kini terlihat memerah karena marah itu.


" Anak muda. Sepertinya temanmu ingin mencelakaimu. Tapi, kau bisa bangga karena akan mati ditanganku. Meski kau lemah, kau pasti mengetahui namaku. " kata pendekar itu angkuh.


Tepat seperti yang perkirakan kedua kakak adik itu. Pendekar level Ahli tingkat tiga bahkan mungkin sudah tingkat akhir itu termakan umpan mereka.


Arya yang semula sempat merasa kasihan, sekarang tampak kesal karena mendengar pendekar itu berniat membunuhnya. " Tidak! Aku sama sekali tidak tau namamu " jawab Arya dengan nada sedikit ketus.


" Hahaha ... Sayang sekali kau harus berhadapan denganku. Akulah yang sering dipanggil orang-orang pendekar Gagak Merah. Sekarang bersiaplah untuk menyongsong ajalmu! "


Setelah mengatakan itu, Pendekar Gagak Merah langsung mengambil kuda-kuda.


" Jurus Cakar Elang Be... "


Pendekar itu tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba Arya sudah mencengkram mulutnya dengan kuat.


" Kau mau membodohiku? Aku hidup di hutan selama delapan tahun. Tidak ada Gagak yang berwarna merah.


" Mmmpp ... "


" Satu lagi, jika kau memang gagak, seharusnya kau menggunakan jurus gagak, bukan malah elang "


Setekah mengatakan itu, Arya mengangkatnya sedikit dan langsung menghempaskan Pendekar yang mengaku sebagai Gagak Merah itu ketanah dengan sangat kuat.


" Buuummmm! "


Tanah jalanan yang sudah mengeras kini menjadi cekung sedalam setengah meter dengan tubuh Gagak Merah terlentang merengang nyawa di dalamnya.


Semua prajurit dan pendekar termasuk Hattala, Bajra, apalagi Barnes si ketua Serikat melihat itu dengan mulut ternganga. Gagak Merah adalah yang terkuat yang mereka punya saat ini. Tapi, pemuda tanpa tenaga dalam itu baru saja mengantarnya ke neraka tanpa masalah.