ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Mata


Lindu Ara sangat hebat dalam membaca situasi. Kehilangan jejak keberadaan Adiaksa saja, sudah bisa membuatnya mengetahui apa yang harus di lakukan, saat itu juga.


Meski belum mengetahui dengan pasti, dugaannya itu ternyata benar. Banjanang memang berniat datang ke negeri Sungai Sembilan.


Hanya saja, dia juga tidak mengetahui bahwa bantuan yang dia minta pada Tengku Arif Sultan Negeri Serambar, akan berpontesi membuat sebuah negeri kehilangan Sultan.


"Nilam Sari, pergilah sekali lagi ke Malka. Lihat, apakah Nippokure juga akan bergerak."


Mendengar perintah Lindu Ara pada Kakaknya, Sedayu ikut bersuara.


"Guru, bukankah kita harus memastikan keadaan Sebenarny tuan Rangkupala?"


Lindu Ara menggelengkan kepala. "Tidak perlu, ada alasan kenapa orang itu di kenal sebagai legenda. Nippokure tidak akan mampu mengalahkannya. Tapi, sekarang ini masalahnya adalah waktu."


Di Daratan Barat ini, sekarang Ada empat kelompok yang sudah bergerak. Namun, masing-masing kelompok tidak mengetahui pergerakan kelompok yang Lainnya.


Sekarang yang menjadi perhatian oleh Lindu Ara adalah Nippokure. Karena, arah pergerakan mereka benar-benar akan berpengaruh pada rencana pertahanan negeri Sungai Sembilan. Khususnya, Sekte Lubuk bebuai.


Jika Nippokure memilih untuk membantu Malka, maka Lindu Ara berharap Rangkupala dan yang lainnya juga sudah tiba saat perang benar-benar terjadi. Jika tidak, maka semua akan benar-benar sulit.


Di Jampa, Jakasona langsung mengerahkan seluruh pasukannya di bawah perintah Salendra dan Putranya Umbara.


Dengan seluruh pendekar mereka, seharusnya sekarang bisa dikatakan bahwa Negeri Jampa lah yang paling siap untuk berperang.


Hal itu karena secara kebetulan, pendekar-pendekar terkuat Jampa sudah terlebih dahulu berkumpul di Benteng Nippokure setelah berhadapan dengan pasukan Nippokure yang di pimpin Daisuke.


Dengan adanya Rangkupala di sana, Pasukan Jampa semakin percaya diri dalam menghadapi segala situasinya.


Mereka terpaksa meninggalkan Arya, Bai Hua dan Citra yang dalam keadaan tak sadarkan diri dengan dua gadis lainnya di benteng Nippokure di kota Pinang Merah.


Seperti apa yang sudah mereka putuskan sebelumnya bersama. Apapun yang terjadi, mereka tidak bisa menunda apapun apalagi mengurungkan niat menyerang Malka.


"Salendra, karena kau dan Umbara yang memimpin pasukan ini, bagaimana jika aku dan beberapa orang pendekar, bergerak terlebih dahulu?"


Sekarang, mereka sudah dalam perjalanan menuju Malka. Dengan kecepatan Mereka, setidaknya butuh waktu satu minggu untuk sampai pada pusat pemerintahan kerajaan Swarna di Daratan Barat itu.


"Jemba, jika kau bergerak terlebih dahulu, Arah mana yang akan engkau tuju?"


"Aku akan memutar, sebaiknya aku memastikan kesiapan Negeri Sungai Sembilan."


Bukan tidak ada alasan kuat bagi Rangkupala kenapa dia ingin memastikan kesiapan Lindu Ara dan Sektenya. Karena, dia dan hanya segelintir orang lainnya, Tau apa yang harus di lindungi sekte tersebut.


"Tuan Rangku ... Aku setuju. Tapi, bawalah beberapa orangku. Mereka bisa kau perintahkan mengirim pesan dengan cepat jika di depan terjadi sesuatu."


Salendra langsung mengangguk setuju. "Ya, aku rasa kau benar. Kita benar-benar tidak tau apa yang terjadi di depan sana. Aku rasa, aku juga sebaiknya jalan terlebih dahulu."


Sekarang, Umbara dan Rangkupala mengerutkan kening mereka. Mereka tidak mengerti kenapa Salendra ingin bergerak terlebih dahulu.


"Salendra, aku rasa tidak masalah. Tapi, karena tujuanmu ke Malka, jadi apa bedanya jika terus jalan bersama?"


Saat itu, Wajah Salendra berubah. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Dia menatap Umbara, lalu beralih pada Rangkupala.


"Jemba, ingatkah kau isi surat Sultan Gonggo dari Negeri Litapa?"


Rangkupala menganggukkan kepala."Ya, tentu saja aku ingat. Untuk mengatasi itu, aku rasa Tengku Arif dari serambar akan membantunya."


Salendra menarik nafas dalam, lalu melepasnya. Kepalanya menggeleng namun wajahnya tersenyum.


"Jemba, sudah berapa tahun kita saling mengenal? ...  Tiga puluh tahun? ... Empat puluh? ... Lebih?"


Sekali lagi Salendra menggelengkan kepala. "Jemba, aku tak tau kenapa kau merahasiakan Tengku Arif sebagai muridmu. Akan tetapi, aku tau pasti kenapa akhirnya kau memutuskan untuk keluar dan kembali ke dunia kependekaran ini. Nippokure dan Serikat Oldenbar sudah bertahun-tahun di sini, dan itu tak membuatmu keluar. Sekarang kau pasti punya alasan yang lebih kuat, bukan?"


Saat itu juga, Rangkupala tertegun. Apa yang dikatakan Salendra memang benar adanya. Salah satu alasan terbesarnya keluar adalah kabar dari Citra Ayu, bahwa Lindu Ara sekarang memegang sebuah pusaka yang bernama Inti Tanah.


"Salendra, maaf tapi ini tetap harus aku rahasiakan darimu, meski kau adalah temanku."


"Hahahahha ... Aku tidak menyalahkanmu. Dan ini tidak ada hubungannya dengan itu, meskipun ini mungkin saja sebabnya aku masih memikirkan Sultan Gonggo dari negeri Litapa."


Lama Rangkupala berfikir, namun dia tetap tidak bisa menemukan maksud dari temannya ini.


Melihat Rangkupala tidak juga mengerti apa yang di maksud olehnya, Salendra langsung bicara ke intinya.


"Jemba, jika Lindu Ara terlebih dahulu yang meminta bantuan Tengku Arif, apa yang akan terjadi? Masihkah dia akan membantu Gonggo di Litapa?"


"Tidak, tidak ... Tengku Arif tetap harus lebih mendahulukan untuk membantu Sekte Lubuk Bebuai." Jawab Rangkupala, cepat.


"Dan dengan keadaan sudah seperti ini, apa menurutmu Lindu Ara belum memerlukan bantuannya?"


Selesai Salendra mengatakan itu, mata Rangkupala seketika melebar. Dia langsung mengerti maksud temannya itu.


Rangkupala menelan ludah, lalu menoleh pada Umbara yang terlihat kebingungan karena tidak satupun dari pembicaraan kedua legenda itu, yang di mengertinya.


"Umbara, kelak kau akan memimpin negeri Jampa. Sekarang, dengan keadaan yang sudah terlanjur seperti ini, seorang Sultan di Daratan ini, sedang memerlukan bantuan, apa yang akan kau lakukan?"


Umbara langsung menatap Salendra pamannya yang sepertinya, juga menunggu jawabannya.


"Aku akan membantunya, apapun resikonya ... Paman, katakan berapa orang yang kau perlukan?"


Mendengar Jawaban Umbara, Salendra dan Rangkupala langsung merasa lega.


"Aku hanya butuh seratus pendekar suci di atas tingkat lima ... "


Tidak butuh lama, Rangkupala dan Salendra akhirnya memisahkan diri mereka dari pasukan negeri Jampa yang di pimpin oleh Umbara. Untuk bergerak lebih dahulu, namun dengan tujuan yang berbeda.


Sementara itu, paling cepat dua hari di belakang mereka, barulah Harupanrama dan Karpatandanu bisa berangkat membawa pasukan mereka dari negeri masing-masing menyusul ke Malka.


Akan tetapi, sama seperti yang lainnya, pasukan Negeri Jampa, Ambang dan Pasir Putih, juga tidak tau pergerakan Banjanang dan Adiaksa.


Sehari setelah Adiaksa keluar dari latihan tertutupnya. Raja Malka itu membawa seratus ribu pasukan, langsung menuju negeri Sungai Sembilan.


Empat hari berselang, di benteng Nippokure, di salah satu bangunan di sana, di dalam sebuah ruangan, tubuh Arya yang terbaring tak sadarkan diri, tiba-tiba mengeluarkan pijar.


Luna dan Ciel yang berada di dalam ruangan itu, sempat merasa heran. Kaeena, Cahaya itu bukan berwarna biru seperti cahaya cakra Arya biasanya.


"Arya ... !"


Luna berseru saat Arya membuka matanya. Namun saat itu juga, Ciel langsung menghentikan langkahnya saat ingin mendekat pada pemuda itu.


"Kakak, berhenti ... !"


Saat Luna ingin bertanya, Ciel kembali bersuara. "Lihat matanya ... !"


Saat itu juga mata Luna melebar. Saat menyadari mata Arya berubah. Tidak seperti mata manusia, namun matanya saat ini, sama persis dengan mata milik makhluk yang mereka lihat di dalam alam sadar Arya.


Bola mata berwarna kuning menyala dengan pupil pipih berdiri tajam berwarna hitam.


Keduanya, tidak akan mungkin lupa tatapan mata itu, karena itu adalah mata mahkluk yang selama ini bersemayam di tubuh Arya.


Zolka Sang Malapetaka.