ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Permainan Usai saatnya menghancurkan


"Nona, tolong lepaskan aku. Aku ingin hidup ... "


"Argh ... "


"Bukankah kalian ingin bermain dengan kami? ... Lalu, kenapa ingin berhenti?"


Ini sudah prajurit ketiga yang meregang nyawa. Aturan permainan yang mereka tetapkan sangat sederhana. Bersuara, maka mati.


Sembilan prajurit perwira kekaisaran Nippokure terikat di dinding sebuah bangunan. Tempat itu adalah markas yang seharusnya mereka tempati.


Namun, saat ini tempat itu sepi karena sebagian besar prajurit dan pemimpin mereka, sedang tidak berada di kota ini.


Berniat mencari hiburan di luar, siapa yang menyangka mereka malah membawa wanita-wanita kejam ini pulang ke markas mereka.


Bermula dari seorang prajurit meletakkan tangannya di tempat yang salah, saat itu juga Citra Ayu yang dalam keadaan marah langsung memutusnya dan permainan pun di mulai sejak saat itu.


"Citra Ayu, pertama. Arya membelah bagian tubuhmu di sini, Seperti ini. "


"Sreeet ... "


Luna mempraktekkan apa yang dilakukan terjadi pada tubuh Citra Ayu dua hari yang lalu.


"Kakak, itu kurang panjang."


"Oh maaf, aku rasa segini."


"Ya, segitu. Tapi, itu terlalu dalam."


"Hah? ... Tapi aku rasa tidak apa-apa bukan?"


"Yah, terserah."


"Luna, apakah saat aku dirawat, tubuhku juga di sayat?" Tanya Bai Hua.


Luna menggeleng. "Tidak, tapi tubuhmu dalam kondisi yang lebih mengerikan."


Ciel mengangguk. "Itu kenapa Arya membuat orang-orang yang menodaimu itu, seperti itu."


Bai Hua juga mengangguk. "Baiklah, aku mengerti."


"Sebentar! ... " Citra Ayu sedikit melihat kebawah dan kembali menoleh pada mereka. "Jika apa yang Nona katakan benar, kenapa tidak ada bekas sama sekali. Bukan, bahkan aku tidak merasakan luka."


"Arghhh ... "


"Arggghh ... "


Bai Hua yang berada di dekat dua prajurit yang baru saja meregang nyawa itu, protes. "Ciel kenapa kau menghabisi mereka berdua?"


"Mereka ikut melihat saat Citra Ayu menoleh ke bawah tadi." Jawab Ciel enteng.


"Oh, Yasudah."


"Yah, lagi pula masih ada empat lagi."


"Terimakasih Nona Ciel."


"Tidak perlu sungkan. Ayo lanjutkan"


Luna mengangguk. "Citra Ayu, kau tentu melihat luka-luka kami bertiga saat setelah bertempur dengan pasukan dari Kota Barus itu, bukan? Aku rasa, itu sudah menjelaskan."


Citra Ayu kembali mengangguk. "Tapi, tetap saja, aku malu di depannya."


Ketiganya langsung menggeleng.


"Tidak perlu. Arya bukan laki-laki seperti itu. Jadi, biasakan saja dirimu."


Ketiganya, merasa Citra Ayu terlihat Canggung di depan Arya, sejak saat segel ditubuhnya di buka paksa.


"Lagipula, kau belum berterimakasih padanya. Kau sudah rasakan sendiri, perbedaan kekuatanmu sekarang, bukan?"


"Ya, Nona Bai Hua. Aku akan berterimakasih pada Tuan Muda saat kembali nanti."


"Nah, begitu. Itu akan jauh lebih mudah."


"Ya, kau bisa mempercayai Arya, melebihi dirimu sendiri. Seperti itulah kami bertiga mempercayainya."


Kata-kata Luna dan Bai Hua itu, membuat pikiran Citra Ayu lebih lega.


"Baiklah, sekarang, bagaimana kalian bisa membuka ini dan membuatku lebih kuat?"


"Arghhh ... "


"Arggghh ... "


"Ciel, apa mereka menoleh dan melihat lagi?"


Ciel menggeleng. "Tidak ... hanya saja, aku tidak menyukai wajah, mereka."


Ketiga gadis lainnya mengangguk bersamaan, seolah itu bukan apa-apa.


"Citra Ayu, soal itu, hanya Arya yang bisa menjelaskannya padamu. Sekarang, kami hanya ingin kau mengerti. Dalam pertarungan sesungguhnya. Kau harus fokus, kita dalam misi besar dan kau harus terbiasa dengan apa dan bagaimana cara Arya berpikir. Mengerti? "


Citra Ayu mengangguk. Sebuah senyum terukir di wajahnya. "Baiklah, aku mengerti dan aku sangat berterimakasih pada kalian semua."


Saat itu mereka semua tersenyum dan ...


"Arghhh ... "


"Ciel, sisakan satu!" Seru Luna.


"Oh iya, itu yang terakhir, tidak sengaja. Sejak awal, aku ingin membunuhnya, karena telah berani meletakkan tangannya yang kotor itu, di bahumu, kak."


"Baiklah, itu tidak apa-apa." kata Luna.


Saat itu, mereka berempat mendekat pada satu prajurit tersisa.


"Sekarang, hanya tinggal dirimu. Jika kau menjawab semua pertanyaan kami, maka kami akan mempertimbangkan untuk membiarkan kau hidup, bagaimana?"


Prajurit itu mengangguk cepat. "Baiklah, tanyakan saja semuanya yang kalian ingin ketahui, dan aku akan menjawab semuanya."


"Baiklah, kalau begitu katakan kenapa serikat Oldenbar hanya menaruh satu kantor di sini dan dimana sisa prajurit kalian yang lainnya?"


****


"Salendra jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuatmu, memilih untuk dipenjara?"


Saat ini, mereka sudah berada di dalam penginapan. Setelah memarahi anaknya, barulah Salendra meladeni Arya dan Rangkupala, sahabatnya berbicara.


Salendra menarik nafas dalam dan melepasnya lalu mukai bicara. "Jemba, akan lebih mudah jika kau datang dengan banyak pasukan. Jika tidak, maka ini akan berbahaya."


"Kami, memiliki pasukan, jadi jelaskan dulu keadaannya." desak Rangkupala.


"Baiklah, kota ini memang aman. Tapi, tidak dengan desa-desa yangbada di dekat sini ... "


Mulailah Salendra menjelaskan bahwa pasukan Nippokure mengumpulkan banyak anak-anak laki-laki untuk di latih menjadi prajurit perang.


Masalahnya tidak itu saja. Mereka bahkan membawa anak laki-laki yang baru bisa berjalan juga. Dan semuanya akan di latih oleh mereka.


Awalnya, Salendra merasa itu tidak masalah. Karena, mungkin itu akan sangat bagus jika anak-anak di daratan ini mendapatkan latihan untuk menjadi prajurit.


Namun, tahun berlalu tapi anak-anak itu, tak pernah kembali lagi ke rumah walau cuma sekali. Pernah beberapa kali keluarga mereka bertanya, namun tidak mendapat jawaban.


Mereka semua di bawa ke sebuah benteng yang didirikan oleh pasukan itu beberapa tahun yang lalu. Jika saja semua dari mereka dikumpulkan di sana, maka benteng itu seharusnya sudah penuh sesak hingga berjalan saja pasti sudah tidak bisa.


Setahun terakhir, inilah yang membuat Salendra kembali mengangkat pedang. Prajurit-prajurit itu tidak hanya membawa anak-anak laki-laki.


Mereka juga sudah membawa anak-anak gadis bahkan wanita bersuami. Saat Salendra mendatangi, ternyata apa yang di saksikan Salendra membuat amarahnya.


Wanita-wanita itu, di bawa ke sebuah tempat sebagai pemuas nafsu prajurit-prajurit Nippokure itu.


Sejak saat itu, Salendra mengumpulkan banyak pendekar untuk menyelamatkan mereka. Malangnya lagi, Sultan Jakasona tidak bisa membantu banyak.


Selain sudah sangat tua, Sultan itu dibawah tekanan serikat Oldenbar, Barus, bahkan Malka. Jadi, dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.


Salendra tidak bisa diam, akhirnya mengumpulkan lebih banyak orang dan menyerang semua tempat yang di duga menjadi tempat di mana wanita-wanita itu di tawan.


Hingga akhirnya, pasukan Nippokure itu membantai sendiri wanita-wanita itu dan membakar beberapa desa. Mereka mengatakan bahwa, mereka hanya akan berhenti jika Salendra menyerahkan diri.


Itulah alasan kenapa Salendra menyerah, dan berakhir di penjara. Bahkan, Salendra sendiri, saat ini sedikit heran kenapa pemimpin pasukan Nippokure, membiarkannya tetap hidup.


Mereka masih mendengar informasi lainnya dari Salendra. Namun, tiba-tiba pintu terbuka dan empat orang gadis langsung masuk ke sana.


Tanpa permisi, Luna langsung berseru pada Arya, sedikit histeris.


"Arya, Sepertinya, kita harus menghancurkan sebuah benteng, Segera! "


"Ya, tentu saja."


Arya menatap Salendra, "Tuan, Dimana benteng itu, berada?"