
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!"
Drey yang lebih dahulu dapat mengendalikan diri dari keterkejutan itu, langsung bertanya histeris. Wajahnya benar-benar merah padam.
"Oh, ini?! Hmm... Anggap saja aku membantu serikat ini membersihkan sampah tak berguna. kalian bisa berterimakasih padaku, Sekarang!" Jawab Luna, acuh.
Mendengar jawaban Luna yang seolah sangat meremehkannya itu, Drey menggeram. Saat dia ingin melontarkan sesuatu, seorang gadis lainnya disana, kembali berbicara.
"Tuan Angus, aku fikir seseorang mengundang kami untuk makan siang di sini. Tapi, kelihatannya kau sudah memberi kami pekerjaan kotor. Kau harus membayarnya!"
"Soal itu, aku... "
Angus tidak tau harus berkata apa. Lelaki itu benar-benar tidak siap dengan keadaan seperti ini. Belum selesai keterkejutannya tentang pembunuhan yang mereka lakukan di istana Oldenbar ini, sekarang salah satu dari mereka menganggapnya sudah berhutang.
Angus mencoba mengalihkan pandangannya dan menatap pada Kenneth yang duduk di salah satu kursi yang ada di meja tersebut. Namun, Kenneth yang juga masih sama terkejutnya itu, belum bereaksi apapun.
"Bruu..k!!"
Tubuh pemuda yang dipenggal berdiri tadi, rubuh. Itu kembali mengejutkan semua orang.
"Yah! Aku fikir Oldenbar yang ada di Daratan ini hanya dipenuhi dengan orang-orang bodoh!"
"Nona! Jaga bicaramu!"
Teriak salah satu petinggi serikat Oldenbar pada Ciel dengan tatapan membunuh.
"Oh, begitu. Aku harus menjaga cara bicaraku, sementara kalian sama sekali tidak tau cara bersikap. Apakah itu adil?"
"Nona, kami tidak tau siapa kalian. Tapi, kami mengingatkan bahwa kalian sedang berada di dalam istana kami. Jadi, jangan salahkan kami jika kalian tidak bisa keluar dari sini, dengan membawa nyawa kalian."
Kenneth yang tadi terdiam, kini ikut bersuara. Meski nadanya lebih ramah dari yang lainnya. Namun tetap saja, kalimatnya mengandung ancaman.
Tapi, reaksi yang di berikan Ciel, sungguh jauh dari apa yang mereka harapkan.
"Huhuhu... Apakah itu sebuah ancaman?" Tanya Ciel setengah mengejek.
Drey benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Pria itu langsung berdiri dan memberi perintah.
"Kalian! Tunggu apa lagi? Bunuh mereka!"
Enam anggota Oldenbar yang sejak tadi sudah bersiap menyerang, langsung menghambur pada keempatnya.
"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"
"Bruk!" "Bruk!" "Bruk!" "Bruk!" "Bruk!" "Bruk!"
Sayang sekali. Mereka tidak sempat bereaksi saat baru saja melangkah. Kecepatan pisau yang dilempar Ciel, tidak bisa di antisipasi keenam anggota Oldenbar tersebut.
Mereka langsung jatuh menggelepar dengan masing-masing leher mereka sudah tertancap sebuah pisau kecil.
"Kalian juga harus membayar kami, untuk itu!"
Seorang gadis baru saja membunuh enam anggota Oldenbar tepat di jantung markasnya sendiri, disaksikan seluruh petinggi Oldrnbar itu sendiri tanpa berkedip sama sekali.
Jangankan takut. Gadis itu meminta bayaran pada mereka atas kejadian tersebut. Hal yang sama juga terjadi beberapa saat yang lalu. Saat keponakan salah seorang petinggi Oldenbar yang bernama Drey, di penggal tepat di depan matanya. Gadis itu juga meminta bayaran.
Hal ini tentu saja membuat mereka semua berfikir ulang dengan latar belakang keempat orang yang datang bersama Angus tersebut.
Akan tetapi, Drey benar-benar sudah tersulut emosi. Petinggi Oldenbar tersebut, tiba-tiba mengeluarkan sebuah senjata yang sejak tadi sudah tersampir di pinggangnya dan mengacungkannya pada Ciel.
"Huh! Kau fikir senjata sihir itu, cukup untuk menakut-nakuti, Kami? Lucu sekali!" Cibir, Ciel.
"Hentikan...!!"
Tepat saat Drey ingin menarik pemicu senjata sihir dengan laras yang pendek itu, seseorang berteriak menghentikannya.
Suara yang sangat dikenali oleh seluruh Anggota Oldenbar itu, sukses membuat Drey terkejut dan langsung menurunkan senjatanya.
Mata semua orang tertuju ke ujung tangga lantai dua, dimana seseorang berdiri menatap kebawah dengan tatapan dingin.
Begitu orang tersebut menginjakkan kaki di lantai Aula perjamuan tersebut, Seluruh Anggota Oldenbar tanpa terkecuali langsung membungkuk, dan berseru.
"Pemimpin...!!"
Tidak mengindahkan penghormatan seluruh anggotanya tersebut. Orang itu langsung berjalan menghampiri Arya yang sejak tadi hanya diam tak bersuara dan juga tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Tuan Muda. Maaf atas ketidak nyamanan anda. Aku... Edward."
"Aku, Arya." jawab Arya sambil menyambut uluran tangan Edward dan menjabatnya.
"Oh Arya. Hmm... Baiklah Tuan Muda Arya. Silahkan duduk!"
Edward menunjuk Kursi yang berada di salah satu ujung meja makan tersebut. Saat itu, seorang pelayan langsung menarik kursi tersebut, tanda mempersilahkan Arya duduk di sana.
Tanpa memperdulikan semua tatapan orang yang sedang terkejut melihat keramahan pemimpin Oldenbar yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, Arya berjalan dan langsung duduk di kursi tersebut.
"Akhirnya, seseorang yang memiliki pemahaman bagaimana cara menyambut tamu dengan sangat baik, muncul juga."
Ciel mengatakan hal itu sambil berjalan. Tak lama Bai Hua dan Luna menyusul. Kini, mereka berdiri di sebelah Arya.
Sementara itu, Edward baru saja meletakkan bokongnya dikursi persis di seberang Arya.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Para petinggi Oldenbar yang hendak ikut duduk, langsung terhenti saat Edward bertanya. Namun, belum sempat mereka mengatakan apapun, Bai Hua menimpali.
"Apa kalian berfikir, kalian sudah pantas untuk duduk satu meja dengan, Tuan Kami?!"
Kata-kata Bai Hua tersebut, langsung menjelaskan maksud dari pertanyaan Edward tadi. Hanya dia yang pantas duduk satu meja dengan pemuda itu, di ruangan ini.
"Aku tidak tau, bahwa di Daratan ini, Oldenbar menerima orang bodoh sebagai petinggi mereka. Dan membawa serta keluarganya dalam urusan bisnis.!"
"Aku rasa Oldenbar, Sudah mengembangkan bisnis mereka hingga jasa mengurus bayi cengeng!"
"Ya. Setauku, Oldenbar adalah serikat dagang dengan pebisnis paling hebat di Dunia. Apakah kita salah mengira. Mungkinkah ada Oldenbar lainnya?"
Ejekan demi ejekan di lontarkan oleh ketiga gadis yang bersama Arya itu terkait Oldenbar. Hampir semua orang di sana memiliki niat untuk membunuh mereka.
Namun, tidak bagi Edward. Menurutnya, apa yang dilakukan anggotanya memang sangat memalukan.
"Apa lagi yang Kalian tunggu! ... Bersihkan sampah-sampah itu!!"
Teriakan Edward penuh amarah itu, membuat jantung semua orang di sana berdegup kencang. Seketika, tujuh mayat yang tadi tergeletak di lantai Aula itu, langsung di bawa keluar dengan tergesa-gesa.
"Tuan Edward. Kami juga sudah membantumu membersihkan setidaknya empat puluh sampah yang sama tadi malam. Apakah kami akan mendapatkan kompensasi untuk itu?" Tanya Arya tiba-tiba.
Mata Edward melebar. Dia langsung menatap pada Kenneth yang sudah berdiri tidak jauh dari dirinya. Namun, petinggi itu sepertiya tidak mengetahui apapun tentang empat puluh anggota Oldenbar yang diyakini telah dihabisi oleh tamunya itu.
"Drey. Sebaiknya kau keluar! Cepat ...!!"
Edward benar-benar sudah kehilangan muka akibat tindakan Anggotanya itu. Tidak hanya mempermalukan Oldenbar tapi sekarang, Edward merasa pemuda yang kini ada di depannya itu, seolah mengangap Oldenbar hanya Serikat bisnis Amatir.
Apalagi sekarang dia mengetahui bahwa tamu yang di undangnya ini, tidak takut sama sekali, dan tetap datang kesini memenuhi undangannya, bahkan saat mereka sudah mengetahui Oldenbar sudah mencoba mencelakai mereka, malam sebelumnya.
Dari sudut pandang manapun, bahkan orang paling bodoh sekalipun tidak akan berani menganggap empat orang ini adalah tamu biasa.
"Kenapa hanya empat puluh? Bukankah kita sudah membersihkan ratusan sampah seperti itu di lembah tengkorak, beberapa waktu yang lalu?" Bai Hua bertanya, seolah yang lain telah melupakan sesuatu.
"Oh iya.. Aku melupakannya." Jawab Luna pura-pura terkejut. Dan menatap Edward. "Tuan Edward, aku rasa serikatmu ini, berhutang banyak pada kami!"
Edward kehabisan kata-kata. Ini sebenarnya sudah menjadi masalah internal Oldenbar. Namun, gadis-gadis ini membuat semuanya jelas. Itu kenapa dalam beberapa waktu ini, cabang tersebut tidak memberi laporan apapun.
Jika gadis-gadis itu mengungkit serikat Oldenbar yang berada di bukit tengkorak, sudah dipastikan bahwa merekalah yang sudah menghancurkan salah satu cabang Oldenbar yang ada di Daratan Timur ini.
"Maaf Tuan Edward. Jangan menatap kami seolah kami yang bersalah. Kami, hanya lewat dan mereka menggangu. Jadi, ya kami hanya membersihkan sampah dijalanan."
"Kalian ... hanya, Lewat?!"