
Semua tau bahwa mereka sekarang sedang dikejar-kejar waktu. Untuk itulah saat ini orang paling tepat untuk menyelesaikan pertarungan ini adalah Arya.
Akan tetapi, tidak hanya mengejutkan seluruh pendekar di sana, Bahkan Ciel sekalipun begitu takjubnya dengan gerakan Arya.
Saat ini, tidak ada yang bisa melihat Arya selain gadis itu. Hanya saja, Ciel tidak bisa memastikan dengan tepat, apakah Arya bergerak dengan kecepatan yang sangat-sangat mengerikan, atau pemuda itu baru saja mengeluarkan sebuah gelombang yang mampu memperlambat waktu di sekitarnya, dan dia bergerak di gelombang itu.
Hening. Itulah suasana yang dia rasakan, saat Ciel melihat Arya sedang bergerak ke sana kemari, mendatangi di mana seluruh pendekar Ranah Bumi itu berada.
Kepala pecah dan tubuh hancur karena hantaman tinjunya, seolah tak memiliki suara. Otak Ciel berusaha mencerna, bagaiman cara Arya bisa menemukan mereka, bahkan yang sedang bersembunyi sekalipun.
Sepengetahuan Ciel, Arya bisa merasakan keberadaan musuh, yang dia anggap bisa membahayakannya. Namun, melihat bagaimana kejadian saat ini, tentu saja mereka semua bagai semut bagi pemuda itu.
Ciel tersenyum saat melihat Arya berlari terbalik di bawah dahan kayu, saat melintasi musuh dan memecah kepalanya begitu saja. Dia pernah merasakan sensasi berlari seperti itu sebelumnya.
"Empat puluh empat ... "
Ciel hanya bisa bergumam dalam hati karena tidak secara sengaja menghitung korban pembantaian Arya. Namun, beberapa saat kemudian, dia baru menyadari bagai mana cara Arya menemukan seluruh pendekar-pendekar itu.
Arya bergerak sesuai dengan kemana arah matanya menandai pendekar terdekat dari yang terakhir. Ini benar-benar aneh. Karena, cara Ciel melihat berbeda dengan bagaimana manusia Normal melihat, yang hanya memiliki satu fokus saja. Sedangkan Ciel, dengan kekuatan matanya, dia bisa memiliki banyak fokus dalam satu tatapan saja.
"Enam puluh tujuh ... "
Lagi-lagi Ciel bergumam. Namun, dia masih memikirkan bagaimana cara Arya mengetahui apa yang kini menjadi fokusnya.
"Delapan Puluh ... "
Saat Arya bergerak sedikit lebih kesamping, Ciel bisa melihat Luna sedang bergerak sangat perlahan. Itu membuat semua jelas bahwa Arya memang sedang dalam kecepatan yang sangat luar biasa.
"Buk! ... !"
"Krraaak ... !"
"Bruuuk ... !"
Tak lama setelah itu, di mulai dari satu suara, dan di ikutin rentetan suara lainnya. tubuh-tubuh manusia mulai berjatuhan dari atas dahan pohon ke tanah.
Ciel menyadari bahwa Arya baru saja menghabisi seluruh pendekar ranah bumi itu, hanya dalam kurun waktu dua menit saja.
"Ciel, setelah ini sepertinya giliran kalian. "
"Sial, apa yang terjadi? ... "
Luna dua gadis lainnya, begitu terkejutnya selama dua menit terakhir melihat dan mendengar suara tubuh berjatuhan.
"Senior? Secepat apa dirimu saat ini?"
Tentu saja soal kecepatan, Bai Hua yang paling terkejut. Karena sampai beberapa saat yang lalu, dia merasa bahwa dialah yang tercepat diantara semuanya.
Akan tetapi, saat melihat bagaimana Arya menghilang dan menghabisi semua pendekar Bumi itu, dia berfikir kembali. Mungkin, Arya memang tidak memiliki batas kemampuan, dalam hal apapun.
"Kau masih jauh lebih cepat dariku, ini hanya karena aku melakukan hal yang sedikit, berbeda."
Jawaban Arya, tentu saja tidak memuaskan siapa saja yang mendengarnya. Namun, mereka tidak punya waktu untuk membahas semua itu.
"Kita harus segera sampai di tempat itu. jika tidak, maka semua akan semakin sulit beberapa waktu ke depan."
Saat Citra Ayu baru saja kembali naik keounggung Arya, gadis itu berkata dengan nada sedikit keheranan.
"Tuan Muda, aku sedikit penasaran, kenapa pendekar itu menyebut nama Adiaksa, bukannya Banjanang?"
Saat itu, kata-kata Citra Ayu langsung menarik perhatian Ciel dan Luna.
"Bukankah dia Rajanya?"
Meski dua pertanyaan yang serempak itu memiliki makna berbeda, namun Citra Ayu bisa menjawabnya, dengan kalimat yang sama.
"Meski Putra kedua sang maharaja kerajaan Swarna sekaligus Raja Malka, Adiaksa tidak terlihat seperti orang yang cerdas. Semua orang termasuk kami dari sekte Lubuk Bebuai, yakin bahwa semua kejadian ini sudah di atur oleh Banjanang, bukan Adiaksa, muridnya itu."
Menanggapi itu, Arya hanya bisa berkata. "Kita bahas ini di perjalanan. Sekarang, bersiaplah. Seperti kata Ciel, ada seratus pendekar Ranah bumi lagi di depan sana."
Mereka kembali memacu langkahnya, menuju pada Arah dimana pendekar-pendekar yang tadi di lihat Ciel itu berada.
Namun, bru saja menambah kecepatan, Ciel sudah bersuara. "Sepertinya mereka semua telah pergi."
Yang lainnya langsung mengangguk mengerti. Karena saat itu juga mereka memikirkan hal yang sama.
Arya dan yang lainnya berpendapat seratus pendekar itu berfikir bahwa saat ini, seratus pendekar yang sudah yang mengepung mereka tadi, sudah dioastikan bksa menyelesaikan misinya.
Jadi, semua memilih menjauh dan menjaga di tempat lainnya.
"Citra Ayu, ceritakan tentang Adiaksa ini. sepertinya, kita tidak tau siapa yang benar-benar memiliki oeranan penting di Daratan Barat ini."
Tentu saja Luna menjadi penasaran. Apalagi, para pendekar yang baru saja di habisi Arya, bukanlah pendekar yang berasal dari kekaisaran Yang. Bai Hua sudah memastikannya dengan satu anggukan saja.
"Adiaksa, tidak tertarik dengan apapun selain kekuatan dan kekuasaan. Hanya saja, sebagai putra maharaja, dia tidak memiliki otak yang cukup cerdik untuk menggantikan ayahnya. Itu kenapa, Setelah Pangeran Aditya mati sekalipun, gelar putra mahkota tidak jatuh padanya ... "
Mulailah Citra Ayu menceritakan, bagaimana buruknya hubungan Adiaksa dan sang Maharaja kerajaan ini. Namun begitu, Banjanang sebagai guru, terus mendukung Adiaksa agar kelak bisa memimpin kerajaan ini.
Itu kenapa, saat Adiaksa di tunjuk sebagai Raja Malka, dia tak pernah lagi kembali ke Daratan Utara selain hanya sibuk berlatih dan terus berlatih agar semakin kuat setiap harinya.
Sebagai gantinya, Banjananglah yang menjalankan seluruh roda pemerintahan di Daratan ini. Lagi pula, priantua itu terkenal sangat licik. Bahkan, Ayahnya saja sangat tidak menyukai pria tersebut.
"Sebentar ... Apa kalian sedang berfikir sama dengan apa yang aku pikirkan saat ini?"
Saat Bai Hua menanyakan hal tersebut, semua krang mengangguk kecuali Arya dan Ciel.
Menyadari itu, Bai Hua bertanya. "Senior, apa kau memikirkan hal lainnya?"
Saat itu, Arya menggelengkan kepala. Lalu bertanya. "Bai Hua, aku tidak tau apa yang kau pikirkan. Tapi, aku sedang memikirkan mungkin saja Banjanang ini berniat menguasai kerajaan ini dengan memanfaatkan Adiaksa."
Saat itu Luna, Citra Ayu dan Bai Hua sendiri, hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala mereka. Karena, memang itulah yang kini sedang mereka pikirkan.
Akan tetapi, Ciel masih seperti tadi. Gadis itu terlihat sangat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ciel, apa kau memiliki kesimpulan lainnya?"
Ciel menggeleng dan bergerak mendekat pada Arya.
"Arya, kenapa kita tidak membagi tugas saja?"
"Membagi tugas? ... Apa maksudmu?"
Ciel hanya bisa menggelengkan kepala saat Luna kakaknya, bertanya. Namun dia kembali berbicara untuk menjelaskannya.
"Arya ... Apa kau tetap akan membiarkan Daratan Timur di serang Oldenbar? ... Jumlah mereka sangat banyak. Mereka ... "
Ciel tidak bisa meneruskan kata-katanya. Bagaimanapun, dia menyadari bahwa sama sepertinya saat ini, Bai Hua dan Luna pasti juga mencemaskan keselamatan orang-orang di Daratan dimana Arya di daulat menjadi Raja tersebut.
Namun Arya sendiri selalu memberi jawaban yang sama.
"Kita tidak mungkin bisa menyelamatkan mereka yang jauh di sana, jika kita gagal menyelamatkan yang ada di sini."