ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Masa Depan Kota Arsa


Arya yang barusaja keluar dari kamarnya dan turun ke lobi penginapan Bulan Fajar, melihat semua orang sedang duduk berkumpul di sebuah meja besar.


Namun, saat dia dia menghampiri dan berniat bergabung, Arya baru menyadari bahwa semua orang membisu.


Menyadari tak ada satupun yang menjawabnya, Arya merasa itu sedikit aneh.


Semua orang terperanjat saat tiba-tiba mendengar suara salah satu bangku yang di tarik. "Apakah aku menggangu?"


Keterkejutan itu bertambah saat mereka menyadari orang yang baru saja duduk dan bergabung bersama mereka itu, ternyata adalah Arya.


"Kau?! ... Sejak kapan kau ada di sini?!" meski Ciel memiliki mata yang unik. Tetap saja dia tidak menyadari kedatangan Arya. Namun, daripada yang lainnya, Ciel adalah yang pertama mendapat ketenangannya.


"Barusaja" Jawab Arya, "Jadi, kenapa kalian semua terkejut?!" Sambungnya bertanya.


"Kami semua memikirkanmu. Sejak kembali dari desa Paganti, kau sama sekali tidak mau berbicara. Itu membuat kami di sini sedikit cemas"


Arya tersenyum canggung. "Ya! Maafkan aku." Ucap Arya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal . "Lalu, bagaimana? Apakah kalian sudah menyelesaikan semuanya?"


Semua orang di sana, menjadi heran melihat Arya yang kini berbicara seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.


"Tuan Arya. Kau tidak apa-apa? Ehmm... Maksudku. Kau sebelumnya tidak mau berbicara dan sekarang terlihat seperti tidak terjadi apapun."


Semua orang mengangguk menyetujui pertanyaan Sekar itu. Di kepala mereka, juga ingin menanyakan hal yang sama.


Arya tampak berfikir sejenak seperti sedang Mempertimbangkan sesuatu. "Aku tidak mengira akan melihat kejadian seperti itu ... dan itu sangat ... Sangat mengejutkan, Ku!" Ucap Arya.


Semua memahami perkataan Arya, bahkan mereka sekarang merasakan apa yang sedang Arya rasakan.


"Lalu, bagaimana dengan Nurmageda dan pendekar-pendekar asing itu?"


"Soal itu ... A-aku ..." Bai Hua langsung berdiri dan berlutut "Senior ... Aku sangat berterimaksih padamu!"


Hal yang sama hampir saja di lakukan olah Bai Fan. Namun, Arya langsung menahannya lalu melihat Bai Hua "Berdirilah Bai Hua. Apakah kau sudah menghukum mereka sesuai keinginanmu?"


"Ya. Aku sudah membunuh mereka semua."


Apa yang dilakukan pendekar-pendekar dari negerinya itu pada Bai Hua, tentu saja memberikan trauma yang hebat padanya. Tapi saat Bai Hua melihat keadaan orang-orang yang menodainya saat terakhir kali, traumanya langsung menghilang.


Entah apa yang diperbuat Arya pada mereka, hingga para pendekar itu benar-benar memohon pada Bai Hua untuk mengakhiri hidup mereka.


Bai Fan tidak menyangka Arya memikirkan semuanya sampai sejauh itu. Sebelumnya, dia merasa hidup cucunya benar-benar telah hancur. Tapi, saat semuanya selesai, Bai Hua tampak cukup puas setelah membalaskan dendamnya.


Itu membuat Bai Fan sangat lega. Sekarang patriark keluarga Bai dari Kekasisaran Yang itu, merasa berhutang sangat besar pada Arya.


"Sukurlah jika begitu. Sekarang bangunlah" pinta Arya pada Bai Hua.


"Soal Nurmageda. Aku rasa kita harus menghukumnya. Setidaknya kita berikan keputusan itu pada semua orang yang menjadi korbannya. Aku rasa, itu juga bisa meringankan sedikit beban mereka" Ucap Ki Jabara.


Semua orang menyetujui pendapatnya. Memang akan terasa sangat adil jika Nurmageda dihukum langsung boleh semua orang. Bagaimana caranya, itu akan diserahkan pada keputusan semua korban-korbannya.


Arya merasa puas dengan jawaban mereka. Sesuai dengan harapannya, orang-orang ini bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Bruk!"


Arya meletakkan dua puluh kantong siling di atas meja.


"Aku tidak tau apakah ini cukup. Tapi, aku berharap ini bisa sedikit mengubah keadaan." Arya menatap Sekar lalu Ki Jabara. "Bisakah kalian membantu mengembalikan kehidupan mereka?."


Semua mata kini menoleh pada kantong-kantong emas yang ada di atas meja di depan mereka. Meski tidak tahu pasti Jumlah seluruhnya, tapi mereka yakin bahwa itu cukup untuk membangun sebuah kota.


Sekar dan Ki Jabara sudah tidak terlalu terkejut dengan kekayaan Arya. Begitu juga dengan Bai Fan dan Bai Hua. Mereka memaklumi jika pendekar sehebat Arya tentu sudah menjalani banyak misi dan mengumpulkan banyak kekayaan.


Luna dan Ciel ternganga. Mata mereka melototi kantong-kantong yang berisi siling-siling emas itu. Mereka belum pernah melihat emas sebanyak itu sebelumnya.


"Kau?! ... Se-sekaya, ini?" Ciel menatap Arya seperti tak percaya. "Kau bisa mendirikan sebuah kota dengan semua ini"


"Tuan Arya. Apakah kau benar-benar akan memberikan semua ini?" Sekar juga bertanya seolah tak percaya.


"Ya. Dengan semua ini, seharusnya kau bisa mendirikan sebuah kota yang jauh kebih besar dari kota ini" Tambah Ki Jabara.


Arya tersenyum mendengar keduanya. "Jika begitu, aku percayakan pembangunan kota ini pada kalian berdua" putusnya.


Sekar dan Ki Jabara saling berpandangan. Mereka tidak memikirkan hal ini sebelumnya.


"Apa maksud Tuan Muda?" Ki Jabara tidak mengerti kenapa Arya mempercayakan semua pada dirinya dan Sekar.


Arya menghela nafas panjang, lalu melepaskannya. "Kota ini adalah awal perjalananku. Dalam beberapa hari ke depan, aku akan meninggalkan kota ini"


"Tuan Arya, Bukankah lebih baik jika kau tetap di sini dan memimpin kota ini? Aku yakin dengan kepemimpinanmu, maka kota ini akan sangat aman" Saran Sekar.


Semua orang tentu saja setuju dengan pendapat Sekar. Bagaimanapun kedepan, tentu akan terjadi masalah.


"Arya! Kita sudah membahas ini sebelumnya" Luna mengingatkan kembali "Orang yang berada di belakang Nurmageda di kota Basaka, akan menyadari semuanya. Dan tentu saja itu akan menjadi ancaman tersendiri bagi mereka." Luna menatap Ki Jabara dan Sekar.


Arya tersenyum mendengar itu. "Aku sudah memikirkannya" Kemudian dia berdiri dan menatap semua orang di sana "Karena itulah tujuanku berikutnya. Aku akan ke kota itu, dan meminta pertanggung jawaban mereka!"


Setelah mengatakan itu, Arya langsung berjalan ke arah pintu keluar Bulan Fajar. Meninggalkan mereka yang sedikit tercengang setelah mendengar perkataannya itu.


Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, "Oh Iya!" Arya berhenti dan berbalik ke belakang. "Lupakan saja kota Basaka itu. Sebaiknya kalian terus saja berbenah." Ucapnya.


"Apa maksudmu?!" Ciel bertanya heran, seolah Arya mengatakan bahwa kota Basaka bukan lagi masalah.


"Ya! Lupakan saja kota itu." Jawabnya, lalu "Saat adikku sudah mengambil alih Sekte Delapan Mata Angin, berlindunglah kalian di bawahnya"


"Adikmu?!"


Luna mendahului yang lainnya bertanya. Tentu saja pertanyaan itu dia lontarkan dengan nada sedikit histeris.


Siapa yang menduga pemuda yang sangat berbahaya ini memiliki seorang adik. Dan dia barusaja mengatakan bahwa adiknya itu, adalah calon pemimpin sektenya.


Dengan cepat semua orang di sana mencoba-coba membayangkan bagaimana adik Arya.


"Ya, Adikku! Mungkin dia masih muda. Tapi, aku yakinkan pada kalian, saat dia memutuskan mengambil alih Sekte dari kakek, jangan memilih memusuhinya. Atau, kalian akan benar-benar hancur" Arya mengingatkan.


"Tuan Muda" Ki Jabara tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya tentang kekuatan keluarga Tarim Saka sebenarnya. " Sekuat apa adik Tuan Muda itu?"


Tentu saja semua orang memiliki pemikiran yang sama. Seseorang yang akan mengambil alih kepemimpinan sebuah Sekte yang memiliki orang yang dengan kemampuan dan kekuatan tak biasa seperti Arya, tentu saja memiliki kekuatan yang tak biasa pula.


"Ya! Apakah dia lebih kuat darimu?!" Luna yang sudah menyaksikan kekuatan Arya tidak bisa mempercayai bahwa ada yang lebih kuat dari Arya di Sekte apalagi itu adiknya.


Arya mengangguk. "Ya, aku rasa dia akan jauh lebih kuat dariku" Jawabnya yakin.


"Kau rasa? ... Kau bercanda, kan?!" Ciel langsung protes "Bagaimana bisa kekuatan adikmu lebih kuat darimu?!"


Arya menatap ke atas, berpikir. "Hmm... Adikku itu... " Arya mencoba menimbang sesuatu. " Seperti yang kalian tau, aku tidak memiliki tenaga dalam. Sedangkan dia, adikku itu memilikinya dalam jumlah yang tak terbatas. " Arya menatap mereka dengan tatapan serius.


"Jika kalian tak percaya, cobalah membuatnya marah. Aku rasa jika dia mau, dia mampu menghancurkan seluruh Daratan ini, hanya dengan satu jurusnya."


Setelah mengatakan itu, Arya langsung berbalik lalu berjalan tanpa memikirkan apa dampak yang telah dia katakan pada semua orang di sana.


Hingga Arya menghilang di sebalik pintu, semua orang masih mematung. Mereka benar-benar tidak bisa membayangkan kekuatan adik dari Arya yang akan memimpin sektenya di masa depan itu.


Lama mereka terdiam karenanya, sampai akhirnya seseorang dari mereka bersuara.


"Sebaiknya kalian menanyakan padanya, siapa nama adiknya itu. Untuk berjaga-jaga. Bisa saja salah satu dari kalian di masa depan, dengan konyol membuat adiknya itu marah!"


Saran Bai Fan pada Ki Jabara dan Sekar yang masih diam dengan mulut ternganga.