ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 2


Mata Lamo dan Salu melotot saat melihat kecepatan Bai Fan. Tidak hanya kecepatan itu saja yang membuat keduanya terperangah, tapi juga cara Bai Fan menghabisi musuh-musuhnya dengan pedang yang ada di tangannya.


Ketua Sekte Lembah Hantu dan Telaga Keramat itu juga menyadari perubahan besar yang langsung terjadi ketika Bai Fan dan Luna juga Rewanda yang tidak lagi melindungi anggota Sekte keduanya.


"Lamo, kita harus segera masuk kedalam benteng dan memperkuatnya!"


Salu langsung mengerti kenapa Bai Fan menyuruh mereka pergi. Karena, Krama yang sejak tadi melindungi keduanya dan sesepuh yang bersama mereka itu, sudah menghadang banyak sekali tembakan.


"Ya! Aku rasa juga begitu!"


Mereka semua langsung beranjak berlari dan segera melompat masuk bergabung dengan yang lainnya di dalam benteng.


Tak lama setelah keduanya dan sesepuh Sekte itu masuk, Benteng yang tadi hanya terbuat dari elemen tanah tersebut, seketika berubah menjadi batu.


Subu dan dua ketua Sekte lainnya sempat terlihat panik saat melihat benteng yang dibangun oleh Lamo, Salu, dan pengikutnya. Namun, seketika tampak senyum meremehkan mengulas di wajahnya.


Hal itu cepat disadari oleh Bai Fan. Patriark Keluarga Bai dari kekaisaran Yang itu, segera mendekati Luna.


"Nona Luna. Sepertinya masih ada yang belum mereka tunjukkan pada kita"


Masih sambil meladeni musuh-musuhnya, keduanya memperhatikan keadaan di sekeliling mereka, mencari sesuatu yang mencurigakan.


Sementara.tidak jauh dari sana, Rewanda dan Krama setidaknya sudah melumpuhkan lebih dari tiga ratus orang.


Keduanya bergerak leluasa meski tubuh mereka terus di hujani tembakan-tembakan dari senjata sihir. Sebagian pendekar dari tiga sekte mulai kehilangan keberanian menghadapi dua Iblis langit yang kini mengganas itu.


Beberapa dari mereka bahkan tidak bisa bergerak saat salah satu dari keduanya mendekat, saking takutnya.


Hal itu membuat pertahanan Subu dan yang lainnya semakin melemah. Tinggal hitungan detik saja sebelum keduanya sampai pada ketiganya.


"Subu! Bagaimana dengan bantuan yang kau katakan sebelumnya?!"


Tungka berteriak pada Subu dengan wajah yang sudah sangat cemas. Karena sebelumnya, Ketua Sekte dari Rawa Angker itu, sudah merasakan pukulan langsung dari Rewanda.


Jika tidak segera menggunakan sebagian besar dari tenaga dalamnya saat menerima pukulan Rewanda itu, Saat ini Tungka sudah tidak lagi bernyawa.


Kemunculan Rewanda yang tiba-tiba di depan dan langsung menghantamnya beberapa waktu yang lalu. Benar-bernar mengejutkan semua orang yang ada di sana.


Belum lagi Krama yang langsung menyapu setidaknya seratus pendekar saat memasuki arena pertempuran. Itu benar-benar di luar apa yang mereka perkirakan.


Beruntung Subu sudah mempersiapkan Senjata sihir dan langsung menyerang Rewanda yang awalnya mereka kira hanya siluman biasa.


Melihat kedua Iblis langit itu tidak bisa di lukai oleh senjata mereka, Subu dan Gayatri yang melihat Lamo serta Salu sedang lengah, langsung menembakkan senjata sihir mereka pada keduanya.


Itu kenapa sejak dimulai, Lamo dan Salu sama sekali tidak bisa terlibat apapun dalam pertempuran ini. Bisa di katakan, jika.tidak ada Bai Fan, Luna dan dua Iblis langit, mereka sudah habis dibantai dengan sangat mudah oleh musuhnya.


"BOOOOOMMM!"


"BOOOOOMMM!"


Tak lama, apa yang mereka curigai pun, terjadi.


Hampir saja ketiga ketua Sekte itu meregang nyawa oleh keduannya, jika tembakan itu tidak mengenai keduanya dengan telak. Rewanda dan Krama terpukul mundur beberapa langkah.


Lebih dari seratus orang dengan pakaian yang berbeda dari tiga sekte muncul dari berbagai arah.


Mereka membawa Senjata sihir yang jauh lebih kuat daripada yang digunakan oleh Subu dan yang lainnya.


Senjata sihir kali ini memiliki laras yang sangat besar. Elemen yang di tembakkan dari senjata itu juga jauh lebih kuat.


Dua tembakan awal langsung menghujam Krama dan Rewanda. Setelah itu, beberapa tembakan dari yang lainnya segera menyusul.


Dua Iblis langit sedikit kewalahan menangkis banyaknya serangan yang menghantam mereka dalam waktu yang hampir bersaamaan tersebut.


"Sial! Itu Serikat Oldenbar!" Umpat Luna.


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


Benteng pertahanan itupun mulai terkikis. Tidak lama lagi mereka.yang ada di dalamnya akan berada dalam keadaan berbahaya. Bai Fan langsung menyadari hal tersebut.


"Kita harus menolong mereka!"


"Boom!"


"Arrrgghhh"


Luna menghempaskan Godamnya untuk terakhir kali dan meremukkan beberapa musuh sebelum akhirnya mengikuti Bai Fan untuk menghadang Anggota Serikat Oldenbar yang berusaha meruntuhkan Benteng.


"Kita habisi dua makhluk ini terlebih dahulu!


Teriak salah satu Anggota Oldenbar memberikan perintah pada rekan-rekannya.


"Siap!"


Sekitar lima puluh orang terus menembak Rewanda dan Krama dengan Senjata sihir.


Tau bahwa senjata yang ada di tangan mereka tidak akan begitu berguna untuk menghadapi Rewanda dan Krama, Subu dan yang lainnya bergerak untuk menyerang Luna dan Bai Fan yang kini tampak sudah mulai kesulitan.


Bai Fan menyadari Luna sudah mulai kehabisan tenaga dalamnya. "Masuklah kedalam!"


Bagaimanapun, menghadapi ratusan orang dengan senjata sebesar yang digunakannya sambil terus menghindar dari tembakan menggunakan teknik meringankan tubuh, menguras tenaga dalam dengan sangat cepat.


Bahkan, Bai Fan sendiri sudah merasa sedikit kelelahan. Hanya saja, itu belum memperngaruhi daya tempurnya.


Dengan pedang mati yang ada di tangannya, Bai Fan masih terlihat sangat mudah dalam menyerang musuh walaupun di saat bersamaan, dia juga menggunakan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi.


"Salu! Kita.tidak bisa membiarkan orang-orang itu bertempur hanya untuk melindungi kita. Jika ada yang harus mati hari ini, itu bukan mereka. Kau mengerti?"


Lamo sudah mengetahui keadaan di luar benteng sudah kembali berbalik. Dengan hancurnya satu sisi benteng, mereka melihat keempatnya dalam keadaan terdesak.


Salu mengangguk. "Aku mengerti!" Setelah mengatakan itu, dia berteriak pada semuanya "Kalian! Teruslah berlindung di belakang benteng ini. Kami harus keluar untuk membantu mereka!"


Kedua Ketua Sekte itupun melompat keluar benteng. Mereka langsung menyerang siapa saja musuh yang berada di dekat mereka.


"Ini Gila! Kedua makhluk ini bukan Siluman!"


Para anggota Serikat Oldenbar baru menyadari, meski mereka berhasil membuat Rewanda dan Krama terdesak. Tapi, dampak tembakan mereka sepertinya tidak bisa melukai kedua makhluk itu dengan serius.


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Argh!" "Argh!"


"Boom!" "Argh!" "Boom!" "Argh!" "Boom!"


"Argh!"


Krama dan Rewanda terus menghempas pukulan di saat ada kesempatan pada musuh-musuh di depannya. Serangan keduanya masih bisa menumbangkan setidaknya seratus orang dari mereka.


"Bodoh! Kalian sama sekali tidak berguna!"


Umpat seorang anggota Oldenbar pada pendekar-pendekar dari tiga sekte yang sama. Sekali tidak berhasil memberikan serangan kuat pada Rewanda dan Krama.


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"