
Citra Ayu tersentak dan matanya langsung melebar. Dia tidak menyangka bahwa akan di temukan oleh orang-orang yang mengejarnya.
"Celaka, orang-orang ini bisa mati." Batinnya.
Luna dan Ciel baru saja di lewati beberapa pendekar. Keduanya berfikir pasti gadis di depannya sudah melakukan hal yang sama pada para pendekar itu dan mereka hanya membiarkannya saja.
Citra Ayu langsung melemparkan kantung yang ada di tangannya pada para pendekar yang baru saja tiba itu.
"Apa ini?" Tanya Salah satu pendekar yang tiba-tiba berhenti setelah menangkap kantung tersebut.
"Ambilah, tapi ampuni nyawa mereka. Orang-orang ini tak kenal denganku."
Sang pendekar itu membuka sedikit kantung tersebut untuk mengintip isi di dalamnya. Tak lama senyumnya melebar dan matanya berbinar.
"Citra Ayu. Meski kau memberikan ini pada kami, Namun kau tetap tak bisa kami lepas. Sudah didepan kami dibayar untuk menangkapmu."
"Jika itu yang kalian katakan, Biarkanlah mereka pergi terlebih dahulu. Kita bicara kan itu di belakang."
Citra Ayu yang tidak bermaksud mencelakai empat orang ini. Tapi, pendekar-pendekar yang mengejarnya ini adalah pendekar kuat.
Tiga gadis asing ini hanya pendekar raja dan satu pendekar ahli. Sementara saat dia menoleh pada pemuda yang bersama ketiganya, Citra Ayu menatap iba.
'Tak kusangka, ada manusia selemah dia. Sungguh malang.' Batinnya.
Pendekar yang memegang kantung itu, tampak berfikir. Dia mengelus-elus janggutnya seolah mempertimbangkan sesuatu.
"Citra Ayu. Kantung emas ini sudah di tanganku, dan kau tidak dalam tempat yang bisa berunding. Tiga gadis ini sangat cantik dan pemuda itu terlihat kaya. Aku tak melihat masalah dimana kami harus mengikuti kata-kata mu."
Citra Ayu langsung tertegun saat mendengar tanggapan pendekar itu. Dia menyesali apa yamg baru saja dia lakukan. Seharusnya dia berbicara dulu baru memberikan emas-emas itu.
"Pendek sekali cara kau berfikir. Kau tak melihat pakaian lelaki ini. Dia adalah salah satu putra Sultan di Tanah ini. Kau tak mungkin bisa menghadapi keluarganya. Ambil itu dan lepaskan mereka."
Gadis itu hanya asal bicara. Namun, setelah dia mengatakan itu, barulah Citra Ayu berfikir bahwa apa yang dikatakannya mungkin saja ada benarnya.
"Hahahahaha! Itu menambah baik lagi. Biarkanlah kami berurusan dengannya nanti. Kau tak perlu membantu kami untuk berfikir. Sekarang, ikut kami dengan tenang atau kami akan memaksa. Jangan salah menyangka, kami tak berniat kasar."
Arya dan ketiga gadis lainnya, hanya menyimak pembicaraan itu. Mereka coba mempelajari situasi. Sepertinya, gadis yang sedang di incar oleh para pendekar ini, tidak seburuk yang mereka kira.
"Tuan pendekar. Yang kau pegang sekarang itu adalah milikku. Kami akan pergi jika kau mengembalikannya padaku. Jika tidak, jangan salah menyangka, kami tidak bermaksud kasar."
Citra Ayu tersentak saat tiba-tiba pemuda yang dia anggap lemah itu, sudah berdiri di sebelahnya tanpa dia sadari. Terlebih lagi, pemuda tersebut batu saja balik mengancam pendekar-pendekar yang mengincarnya.
Tiga gadis lainnya menahan tawa. Menurut mereka sangat lucu sekali saat tiba-tiba Arya berbicara dengan cara para pendekar itu berbicara.
"Hei, Tuan Muda. Ukur badanmu sesuai bayang. Kami tak memandang nama keluarga. Jika kau memberi harga, kami tak sungkan untuk membeli."
Arya melihat ke atas namun tak melihat matahari, di bawah pun dia tak melihat bayangnya. Dia kurang mengerti apa maksud perkataan pendekar itu, tapi tetap menjawabnya.
"Aku tidak memberi kalian harga apapun. Aku cuma mengatakan, kembalikan kantung emas ku, atau kalian akan, mati."
Citra Ayu memandang Arya sebentar lalu pada para pendekar itu, lalu kembali pada Arya dan kembali lagi pada pendekar tersebut. Itu dia lakukan beberapa kali. Seolah tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.
'Apa pemuda ini bodoh?' Batinnya.
Citra Ayu mengedarkan pandangan. Ada enam pendekar Raja dan dua pendekar suci. Dua gadis asing yang di belakang mereka, tentu bisa menghadapi dua.
Akan tetapi, dua pendekar suci tingkat pertama dan empat pendekar Raja tak akan mudah untuk di hadapi. Citra Ayu tampak sedang berfikir untuk menimbang segala kemungkinan. Namun, dia tidak menemukan solusi apapun.
"Sudah aku simpulkan. Kami akan mengikuti langkah. Jalan lah lebih dahulu. Kami menyerah."
Dengan kekuatannya, Citra Ayu tetap bisa kabur saat ini. Akan tetapi, dia tidak tega membiarkan empat orang ini dalam masalah. Karena sejak awal ini semua adalah karena ulahnya.
"Hahahaha, Cerdik! Kau tau dalam samudra. Tak salah kami mengira."
"Nona, apa maksudmu mengatakan kami menyerah." Protes Arya. Lalu, dia menatap pendekar-pendekar itu. "Jadi, tadi kalian berniat membunuhku?"
Pendekar itu mengernyit. "Sungguh bodoh kau punya kepala. Tak mengerti dengan kata. Mujur dan malang tak dapat dikira, kau kami ampuni karena dia."
Arya menatap Citra Ayu yang dibtunjuk pendekar itu. "Kau meminta ampun pada pendekar lemah ini?" Tanya Arya.
Mata Citra Ayu terbelalak. Habis sudah harapannya. Sangat pantang sekali bagi seorang pendekar dikatakan lemah. Apalagi yang mengatakan itu adalah orang yang sangat jauh lebih lemah.
"Citra Ayu, kau tau batas tapi dia melampauinya. Lelaki ini tak mengenal dunia."
Citra Ayu tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Segera dia mengambil kuda-kuda. Akan tetapi, beberapa saat selanjutnya Aura di tempat itu berubah. Tekanan udara tiba-tiba terasa sangat menyesakan.
"Langkah Seribu Bintang ... "
Sangat jelas bagi Citra Ayu merasakan seseorang baru saja melintasinya dengan kecepatan tinggi.
"Buk ... !"
"Buk ... !"
"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"
Lagi-lagi mata Citra Ayu terbelalak dan mulut nya ternganga lebar. Para pendekar yang berdiri di depannya itu, bertumbangan dengan kepala yang sudah terpisah.
Gadis asing yang tadi berdiri di sisi gang lainnya, sudah berdiri di antara dua gadis asing lainnya. Baru saja dia melihat gadis itu menyarungkan pedang.
"K-kau ... Sejak kapan ... "
Ilmu meringakan tubuh tingkat tinggi. Kecepatan yang bahkan pendekar suci sekalipun tak dapat melihatnya.
Citra Ayu tak bisa memilih kata yang tepat untuk menunjukkan keterkejutannya. Meski tekanan udara sudah seperti biasa, namun suasana tetap mencekam.
"Si-siapa ... Ka-kalian?!" Tanya Gadis itu, tergagap.
Arya mulai berjalan melewati tiga gadis lainnya. Lalu mereka pun mengikutinya dari belakang. Mereka tak mengabaikan pertanyaan Citra Ayu dan meninggalkannya begitu saja.
Sementara itu, Citra Ayu masih terdiam membatu di tempatnya berdiri, melihat keempatnya pergi. Baru kali ini dia melihat seorang gadis yang memiliki level pendekar ahli tingkat akhir, membunuh dua pendekar suci dan enam pendekar Raja begitu mudahnya.