
Bai Hua langsung menghampiri Luna yang berdiri tidak jauh dari Kaungsaji.
"Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Jika mereka mengkonsumsi itu hanya untuk mengalahkan kita, maka ini akan benar-benar buruk.
Mereka langsung menjelaskan apa itu pil Zulu pada Kaungsaji. Meski awalnya pendekar suci tingkat pertama itu tidak mengetahui hal tersebut, namun saat dijelaskan bahwa pil tersebut dapat menambah tenaga dalam seseorang melebih batas tubuh normalnya, mta kaungsaji seketika melebar.
Ciel yang sangat mengetahui seperti apa keadaan yang sebenarnya saat ini, hanya bisa mengandalkan pengalaman Bai Fan.
"Kakek Bai. Apa yang harus kita lakukan?"
Saat Bai Fan hendak berbicara, Kaungsaji dan yang lainnya datang menghampiri.
"Aku tidak terlalu mengerti apa yang kalian maksud. Tapi, jika benar Gurat dan kelompoknya ingin melakukan pergerakan, maka sudah bisa dipastikan bahwa, Sekte Singa Emas lah yang menjadi target mereka."
Bai Fan menghela nafas panjang lalu melepaskannya. "Tuan Kaungsaji, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi, dengan keadaan seperti ini, apakah kalian punya masalah dengan pihak kerajaan?"
Sebelumnya, Bai Fan sempat berfikir untuk menyatakan siapa dirinya pada Gurat dan Monka. Bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang sepertinya memiliki keterikatan dengan pihak kerajaan. Sedangkan Bai Fan sendiri, bisa berada di negeri ini dan dalam situasi seperti ini, juga karena pihak kerajaan.
Bai Fan berniat menggunakan itu untuk membuat Gurat dan kelompoknya beraliansi dengan mereka. Setidaknya untuk saat seperti ini saja.
Namun, sepertinya posisi Bai Fan sudah tidak mungkin lagi untuk mengatakan itu semua. Karena dari gelagatnya saja, baik Darsapati ataupun Gurat seperti sudah memiliki masalah, jauh sebelum mereka memasuki bangunan kuno ini.
Kaungsaji sedikit terkejut saat Bai Fan menanyakan hal tersebut. Tapi, karena situasi dan pertarungan Darsapati juga sudah pasti memicu pertarungan lainnya. Sebelum semuanya bergerak, Kaungsaji akhirnya mengakui.
"Ya, kami memiliki masalah yang besar dengan kerajaan. Jika tidak karena sejarah, mungkin saja Sekte Singa Emas sudah hanya tinggal nama saja, sekarang ini"
Sekte singa emas adalah salah satu sekte terbesar di Daratan Timur. Bahkan karena kontribusinya bisa dikatakan Sekte itu adalah yang paling terkenal di Daratan ini.
Luna dan Ciel sudah pernah mendengar nama Sekte itu sebelumnya, saat keduanya masih berada di kota Basaka, untuk beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanan mereka dan berakhir di kita Arsa.
"Bukankah, kalian seharusnya menjadi Sekte pelindung Kota Basaka?!"
"Banyak hal sudah terjadi, dan terlalu sulit untuk menjelaskannya saat ini. Tapi, apapun yang dituduhkan pada kami, aku berani bersumpah, bukan Sekte Singa Emas yang melakukannya!"
Mendengar perkataan Kaungsaji tersebut, Ciel dan Bai Fan mengangguk mengerti. Tidak ada alasan untuk saling mencurigai saat ini. Semua hal yang di luar masalah ini, bisa di bicarakan nanti.
"Tuan Kaungsaji. Mereka tidak kurang dari tiga ribu orang, sementara kau dan anggota sektemu, hanya berjumlah seratus orang. Melihat bagaimana Tuan Darsapati bertarung, aku rasa pendekar-pendekar Raja bukan lagi masalah.. "
Bai Fan menjelaskan jika memang dua pendekar suci dan menggunakan Pil Zulu, maka mereka berdua akan bisa mengimbangi Darsapati. Namun, sepertinya tidak akan mudah bagi keduanya untuk mengalahkannya.
Sementara itu, masalahnya ada pada pendekar Raja. Kelompok ketiga sepertinya tidak memiliki niat bertarung secara langsung. Jadi Bai Fan meminta agar mereka fokus untuk menghadapi dua kelompok lainnya.
Karena niat mereka hanya untuk bertahan, Bai Fan menyarankan hanya bertarung untuk mengalihkan perhatian saja. Dan jangan terlalu banyak menggunakan tenaga dalam.
Mereka dapat memanfaatkan kelomook yang memiliki senajat sihir untuk membantu mereka secarabtidak langsung. Tentu saja saat ini kelomook ketiga juga menargetkan Sekte Singa Emas. Namun, mereka pasti merasa tudak akan mendapatkan apapun dari bangunan kuno ini, jika mereka semua mati.
Tapi, itu tidak mengurangi resiko kemungkinan mereka tetap akan di serang. Jadi saat kelompok ke tiga mengeluarkan senjata sihir. Maka, arahkan agar kelompok tersebut menyerang kelompok lainnya.
Bai Fan sengaja tidak mengatakan tentang Rewanda dan Krama, karena kemunculam keduanya pasti akan memberi dampak yang bagus. Namun membahasnya, akan membuang-buang waktu saja.
"Arrrrrggghhhh...!"
Sebuah teriakan penuh kesakitan menggelegar di udara. Pembiacaran semua orang terputus saat melihat satu pendekar suci, diangkat ke udara dengan pedang yang masih bersarang di tubuhnya.
Dantagu lengah. Pedang Darsapati sudah menembus dadanya. Seketika dua pendekar suci lainnya langsung mundur serempak saat Darsapati, tak terlihat akan mengampuni nyawa Dantagu.
"Pendekar sepertimu hanya membuat malu leluhur Daratan ini. Bagaimana bisa kalian bertarung hanya karena harta. Cih! Memalukan sekali!"
"Buk!"
Darsapati menendang tubuh Dantagu yang tadi masih tersangkut di pedangnya. Saat mendarat di tanah, pendekar suci tingkat pertama itu, tak lagi bernyawa.
Semua mata tertuju pada suara yang barusaja memuji Darsapati. Mereka semua mendapati bahwa yang baru saja bersuara adalah Gurat. Bedanya, sekarang Gurat tampak penuh percaya diri.
Darsapati menoleh. Saat tatapan mereka beradu, pemimpin sekte Singa Emas itu sedikit mengernyit keheranan.
"Kau?! ... Bagaimana bisa?"
Darsapati merasakan perubahan energi yang sangat besar pada kelompok Gurat. Terlebih lagi bagi dia dan pendekar suci lainnya yang berdiri di sebelahnya.
"Ah sial! Akhirnya mereka melakukannya!" Umpat Ciel sedikit putus asa.
"Darsapati, ada alasan kenapa Sekte Singa Emas tidak lagi sekte terkuat di Daratan Timur ini. Kalian yang hanya mengandalkan latihan dan sedikit teknik peningkatan kekuatan masa otot dan tulang, tentu saja sudah tidak bisa bersaing dengan yang lainnya. Hahahahaha!"
Perubahan sikap Gurat tersebut mengundang banyak tanya. Akan tetapi, Darsapati sepertinya tidak memperdulikan semua itu. Baginya, tidak ada yang boleh meremehkan Sekte Singa Emas. Jangankan pendekar bahkan kerajaan sekalipun.
Baginya, seluruh Kerajaan Swarna ini tidak lebih hebat dari Sektenya sendiri. Alih-alih melanjutkan pertanyaannya. Darsapati kembali menantang.
"Aku bukan pendekar yang bertarung dengan mulut. Jika kalian merasa kuat, maka majulah!
"Cih! Benar-benar Sombong!" Monka sudah tidak sabar ingin mengalahkan Darsapati untuk menunjukkan perbedaan kekuatan mereka saat ini. "Aku pastikan, kau akan menarik kata-katamu!"
Darsapati menggelengkan kepala. "Gurat! Apakah dia suamimu? Kenapa mulutnya melebihi dirimu?! Tidak bisakah kalian hanya datang kesini dan bertarung denganku?! Atau, majulah kalian semua!!"
Darsapati benar-benar membuat keduanya tersulut emosi. Meski telah menelan Pil Zulu, keduanya benar-benar berniat menghancurkan Darsapati dan Sektenya saat ini juga. Terlihat seluruh anggota kelompoknya juga sudah bersiap-siap.
Ciel datang menghampiri Kaungsaji, dia tidak menyangka bahwa Darsapati akan membuat keadaan menjadi sangat buruk.
"Tuan Kaungsaji, apakah pemimpin Sekte kalian memang seperti itu?"
"Tidak ada satupun, yang boleh menghina Sekte yang didirikan oleh Pahlawan Terbesar Umat manusia ini!"
Setelah mengatakan hal tersebut, saat Gurat dan Monka berniat menghambur untuk menyerang Darsapati secara bersamaan, Kaungsaji juga berniat menghadapi mereka.
"Bersiaplah!" Bai Fan mengingatkan semuanya "Pertempuran ini tidak bjsa di hindari lagi!?"
"KLEN... TANG...!!"
Semua pergerakan mereka tiba-tiba terhenti. sebuah suara berbunyi tepat sesaat sebelum semua orang memulai apapun yang sudah direncanakannya.
Sebuah benda berwarna terang, terbang entah dari mana yang tiba-tiba terjatuh tepat di tengah Aula, tepat dimana Bahuraksa tertancap dan tidak jauh dari dimana Darsapati berdiri.
Suara nyaring dari benda yang berwarna terang menyilaukan karena terkena cahaya tersebut, menarik perhatian semua orang. Saat benda itu berhenti, semua mata di sana langsung terbelalak.
"Aku menemukannya!"
Seseorang berjalan ketempat dimana sebuah mangkok yang terbuat dari emas tersebut berada.
"Aku menemukan gunung Harta di sebuah ruangan Rahasia, di dalam bangunan ini!"
Entah sejak kapan dia sudah berada di antara semua orang itu. Tapi jelas, apa yang baru saja di katakannya itu mengejutkan semua orang.
"Arya?!"
"Senior?!"
Arya tersenyum pada teman-temannya lalu mengedarkan pandangannya pada seluruh pendekar yang ada di Aula tersebut.
"Bukankah, seharusnya kalian datang kesini untuk mencari harta?!"