ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pemberantasan


Dua hari setelahnya, beberapa pendekar yang di utus Rangkupala ke dua kota lainnya datang.


Hal itu karena sebelum berangkat, Rangkupala mengatakan lada Genta untuk menyuruh para pendekar-pendekar itu menyusul mereka kesini.


Namun, laporan yang di sampaikan beberapa pendekar itu, cukup mengejutkan.


Pasukan Nippokure masih memaksa banyak pemuda dan Wanita di sekitar kota itu, untuk ikut bersama mereka.


Sambil mengumpulkan, mereka akan bermukim di sebuah desa atau membuat kemah-kemah di sekitarnya.


Saat mengetahui hal itu, Arya dan yang kainnya ingin langsung bergerak. Namun, Salendra dan Rangkupala menahannya.


Menurut keduanya, cukup mereka dan pendekar-pendekar lainnya saja yang pergi. Lagipula, setelah melihat bagaimana cara Arya dan lainnya. Mereka juga sudah mengerti maksud dan tujuannya.


Dan mereka akan berusaha menyelamatkan semua korban dengan cara yang setidaknya hampir sama.


Lagipula, menurut informasi dari pendekar-pendekar itu, para pasukan yang ada di sana tidak terlalu kuat. Mereka hanya mengandalkan nama istana Malka dan Barus untuk memuluskan kegiatan mereka.


Tentu saja hal tersebut membuat para penduduk takut dan jika ingin melawan sekalipun, mereka tidak berdaya.


Sekarang, dengan niat memang akan berperang, tidak ada lagi alasan untuk menutup-nutupi pergerakan mereka.


Rangkupala dan Salendra terbagi menjadi dua kelompok dan berniat menyisir seluruh daerah guna memberantas pasukan-pasukan yang membawa penderitaan itu.


Sebelum mereka berangkat, Arya kembali mengingatkan bahwa, keselamatan satu nyawa penduduk lebih penting dari sebuah kemenangan.


Luna juga mengingatkan agar jangan menyerang membabi-buta. Saat itu juga kedua pendekar terperangah. Masalahnya, yang membabi buta siapa?


Akan tetapi, mereka sudah sangat mengerti maksud keduanya. Mereka berangkat dengan tekad menyelamatkan.


Mereka juga membawa Pil dalam jumlah besar. Itu guna mengantisipasi korban terluka. Dan Bai Hua juga memberikan pada masing-masing pendekar itu Pil tenaga dalam untuk membantu mereka memulihkan tenaga.


Karena, mereka akan terus melakukan pergerakan sampai seluruh desa-desa di sana sudah di pastikan aman.


"Arya, aku rasa sudah tidak ada lagi tersisa."


Ciel terus mengumpulkan semua gulungan kertas yang ada di bekas reruntuhan. Perlu dua hari untuk Arya memahaminya.


Akan tetapi saat hari ketiga, Arya sudah mengerti apa maksud yang terkandung di coretan-coretan berpola di kertas-kertas itu.


"Ini adalah cara mereka berkomunikasi."


Di sana Akhirnya Arya mengetahui maksud pasukan Nippokure melatih para pemuda. Mereka akan di gunakan sebagai pasukan lapis pertama pada perang.


Meski tidak tau kapan dan di mana, yang jelas di sana Arya dapat memahami bahwa, kekaisaran Nippokure sedang bersiap untuk memulai pertempuran berskala besar.


Para pemuda sudah membaik. Kuna dan Ciel juga menggunakan tempat di sana guna mempersenjatai mereka.


Setidaknya, saat ini mereka sudah memiliki sedikit pemahaman tentang ilmu beladiri. Itu cukup untuk bertahan menyelamatkan diri mereka sendiri.


Sementara itu, Di luar sana masih terus terjadi pembunuhan setiap harinya. Rewanda dan Krama berjaga di hutan.


Setiap hari pasti akan datang satu atau beberapa utusan pasukan Nippokure dari segala penjuru negeri Jampa untuk menyampaikan pesan.


Dua hari setelah pembebasan itu, atau sehari setelah Citra Ayu berbicara dengan Bai Hua, gadis itu tiba-tiba jatuh pingsan.


Itu sudah diperkirakan Arya sebelumnya. Meski sudah mengetahui bahwa pusat energi Citra Ayu yang tersegel mengandung unsur Logam, sesaat sebelum mulai bertarung, Arya tidak menyangka bahwa Citra Ayu memiliki pengetahuan tentang pengendalian elemen tersebut.


Namun karena penasaran, Arya tidak langsung memberi tahu dampak penggunaan elemen tersebut pada gadis itu. Arya ingin melihat sejauh Apa tubuh gadis itu mampu menahannya.


Ciel sudah ingin memberi tahu gadis itu sebelumnya, Namun Arya melarang. Karena saat Arya menjelaskan pada Ciel, gadis itu langsung memahaminya.


Semua orang tau Logam adalah elemen terkutuk. Perlu tenaga dalam yang besar untuk mengendalikannya. Masalah, tenaga dalam yang di gunakan itu bukan pada elemennya saja. Akan tetapi, tenaga dalam itu juga akan membebani otak penggunanya.


Arya perlu mengetahui bagaimana cara kerja teknik pengendalian Logam yang sudah diketahui Citra Ayu dan membandingkannya dengan teknik pengendalian elemen yang telah dipelajarinya dari catatan-catatan yang ditinggalkan Obskura padanya.


Hasilnya, Arya mengerti cara kerjanya. Namun, saat ini Arya belum mengerti bagaimana cara membuat tubuh dan otak gadis itu, mampu menahan beban tersebut.


Meski sudah sadar sehari setelahnya, namun gadis itu belum bisa bergerak. Jika Arya tidak membiarkan berkah Air di tubuh gadis itu untuk mendinginkannya, mungkin saja saat ini Citra Ayu sudah mati karena otaknya menggelegak.


"Senior, aku tidak tau bahwa logam bisa membuat tubuh pengendalinya sangat menderita. Apakah tidak ada cara untuk membuatnya kembali seperti sediakala?"


Diluar Ciel sedang melatih beberapa pemuda yang menurutnya memiliki bakat, teknik memanah.


Jika pertempuran memang akan terjadi, akan sangat menguntungkan jika benteng ini memiliki regu pemanah di atas tembok yang mengelilinginya.


Sementara itu, Luna masih mempelajari bentuk pedang milik pemimpin pasukan Nippokure itu. Dari bagaimana lengkungan yang ada pada bilah pedang itu, akhirnya Luna mengerti kenapa pedang itu mengeluarkan suara yang berbeda dari pedang yang biasa dia buat.


Lengkungan itu membuat bilah pedang mampu memotong udara dan membuat jalur lintas alih-alih memecahnya.


Hal itu, membuat penggunanya mampu mengayunkannya jauh lebih cepat dan tidak memerlukan tenaga dalam yang besar saat menggunakannya.


Tepat seperti yang Arya katakan sebelumnya. Arya menduga kekaisaran Nippokure memiliki sedikit pengetahuan lebih maju dari yang wilayah lainnya di dunia, tentang teknik dan bentuk senjata tangan.


Hal itu di perkuat saat Luna juga mempelajari Shuriken, senjata tanganĀ  yang cara penggunaan dengan cara di lemparkan itu.


Saat di gunakan, senjata itu nyaris tidak bersuara. Tidak salah lagi, Ciel adiknya akan sangat cocok dengan senjata itu. Namun, dengan pengetahuannya tentang cara tempa, Luna membuatkan Ciel Shuriken yang sedikit berbeda, namun jelas lebih berbahaya.


Sementara Arya dan yang lainnya terus melakukan dan mempelajari banyak hal, dalam waktu bersamaan, tidak terasa waktu terus berlalu.


Dua minggu sejak kepergian Rangkupala dan Salendra dengan misi mereka. Beberapa pendekar terus berdatangan.


Ada yang datang dengan niat bergabung dan sebagian lagi datang dengan membawa korban dengan luka yang sangat berat yang menurut mereka, hanya bisa di obati oleh Arya.


Beruntung, sebelumnya Bai Hua memberikan mereka banyak Pil. Para korban itu mampu bertahan, sebelum akhirnya sampai di benteng untuk di sembuhkan.


"Senior, kita sudah kehabisan bahan untuk pembuatan Pil ... "


Saat Bai Hua mengatakan itu, Arya kembali melihat Citra Ayu yang kini terbaring di sana. "Aku akan mencari dan mengumpulkanya. Bai Hua ... "


Taku Citra Ayu mendengarnya, Saat itu, Arya mengatakan sesuatu dengan sedikit berbisik pada gadis itu.


Saat menyimak apa yang Arya katakan, mata Bai Hua sedikit melebar karena terkejut dan langsung menatap Citra Ayu. Namun, saat itu dia mengangguk.


"Baiklah, aku mengerti ... Aku yang akan melakukannya."