
Setelah cahaya yang menyelimutinya menghilang. Arya mendapati dirinya masih berada di tempat yang sama. Namun, dia menyadari semua orang yangbtadi bersamanya, sudah tidak di sana.
"Kita tidak sedang berada di waktu yang sama!"
Arya sedikit terkejut dengan kemunculan seseorang yang mirip dengannya, Kulkan. Arya sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya.
"Maksudmu?!"
"Perhatikan sekelilingmu!"
Arya mengedarkan pandangannya. Dahinya mengernyit, heran. Ada yang berbeda dengan tempat itu dari beberapa saat yang lalu. Seluruh Aula tersebut tampak terawat tidak seperti sebuah bangunan yang sudah lama di tinggalkan.
Meski masih tetap sama kosongnya, namum seluruh tempat itu tampak cukup bersih.
Baru saja Arya menyadari hal lainnya, Namun segera dia mendengar suara lainnya.
"Kau, membangunkanku!"
Kulkan dan Arya yang tidak menyadari kehadiran mahkluk itu segera berbalik. Mata keduanya sama terbelalaknya. Sekarang ada tiga Arya. Karena, munculnya suara itu di sertai dengan kehadiran seseorang dengan penampilan yang sama persis dengan keduanya.
"Siapa ... Kau?!"
"Kau...?!"
Tidak menjawab keduanya, sosok ketiga yang tadi menatap Arya, memalingkan wajah dan menoleh pada Kulkan. Matanya menatap dalam pada Kulkan.
Jelas dia tidak melihat pada wujud yang mirip Arya itu. Tapi dia melihat jauh kedalam dan seolah sedang memastikan sesuatu. Senyum sinis muncul di wajahnya.
"Putra Tza-Mamna ... Sang petaka. Zalkoa!" Ucapnya.
Kulkan benar-benar terkejut. Sudah tidak terhitung lagi tahunnya, ada yang memanggilnya seperti itu.
"Siapa kau, Sebenarnya?!"
Arya bisa merasakan bahwa sosok ketiga yang menyerupai dirinya itu, memiliki Aura yang sama dengan Aura energi yang ada ditubuhnya.
"Bahuraksa!" Arya menggumamkan apa yang ada di kepalanya.
Kulkan juga mengetahui hal tersebut. Tapi, dia tidak bisa mencerna bagaimana Bahuraksa memiliki kesadaran yang sama dengannya. Bukankah sebelumnya, Bahuraksa hanya sebuah pedang.
Tak mengindahkan keduanya. Bahuraksa yang berwujud Arya, tiba-tiba berkata.
"Aku tidak menyangka bahwa pemilikku sebelumnya, menggunakanku untuk mengurung kakakku, sendiri!"
Kulkan hendak kembali mengutarakan apa yang ada di fikirannya. Namun Bahuraksa kembali berbicara.
"Ya. Aku, Kosha. Jiwa yang di berikan Tza-mamna pada manusia untuk melawan dewa-dewa yang seharusnya menjaga penjaramu!"
Arya menyimak keduanya dengan penuh tanda tanya. Kulkan memiliki nama lain yaitu Zalkoa, putra dari Tza-Mamna. Lalu, Siapa Tza-Mamna?
Kitab yang memuat nama enam Orang sebelumnya dan hanya memiliki satu kata didalamnya tersebut, yaitu, Bahuraksa. Namun, saat Arya melihat namanya muncul di kitab itu, Kata Kosha juga muncul di atas nama yang lainnya.
Arya aekarang mengerti jadi Kitab tersebut, bernama Kosha. dan Kosha adalah jiwa yang bersemayam di dalam Bahuraksa, jiwa yang di berikan Tza-Mamna pada manusia. Lalu, siapa Tza-Mamna?
Sekarang, Arya merasa hanya dia saja di sana yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, saat dia ingin bertanya, Kulkan lebih dahulu bertanya padanya.
"Arya! Sebenarnya, siapa dirimu?!"
Memang, Kulkan yang bertanya, namun keduanya memiliki ekspresi yang sama pada wajahnya saat menatap Arya.
"Jika dia bisa membangunkanku. Sudah bisa dipastikan bahwa dia adalah pemilik ku! Tapi ... "
Tidak bisa meneruskan kalimatnya, Kosha kembali menatap Arya lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Siapa sebenarnya dirimu, dan... bagaimana kau bisa membangunkanku?!"
Enam pemilik Bahuraksa sebelumnya adalah manusia-manusia yang sangat kuat dan memiliki tenaga dalam serta Prana dengan jumlah yang sangat besar.
Kosha tidak bisa mengerti bagaimana Arya bisa membangunkannya. Sementara Arya sendiri tidak memiliki Tenaga dalam, apalagi sesuatu yang di sebut sebagai, Prana.
Baik Kosha dan Kulkan menatap Arya dengan heran sebaliknya, Arya membalas tatapan keduanya dengan wajah yang jauh lebih keheranan lagi.
"Kalian sepertinya hidup sudah sangat lama. Jika kalian saja tidak mengerti, bagaimana aku yang baru berumur delapan belas tahun ini, bisa mengerti!" Jawab Arya sedikit kesal, pada keduanya.
Benar, keduanya bisa merasakan bahwa Arya masih sangat muda dan keduanya juga mengetahui Arya juga manusia biasa dan sangat lemah. ketiganya seketika terdiam sesaat setelah Arya mengatakan itu.
Saat mereka berkutat dengan fikiran mereka masing-masing, tembok di antara dua tangga besar yang menghubungkan lantai atas Aula dengan lantai berikutnya itu, bergetar.
Ketiganya melihat setiap batu yang tersusun di sana mulai bergerak. Tak lama, pintu dengan sebuah terowongan lainnya, sudah terbentuk.
Apapun yang yang menjadi pertanyaan mereka saat ini, mungkin saja jawabannya ada di dalam sana. Ketiganya langsung berjalan masuk dan melewati terowongan tersebut.
Tampaknya, hal tersebut tidak mengejutkan ketiganya. Atau, sejak awal mereka sama sekali tidak merasa sesuatu yang berbahaya akan menimpa mereka di sana. Setidaknya, itulah yang dirasakan Arya. Ketiganya terus melangkah tanpa menoleh kebelakang barang sekali pun.
Saat berjalan melewati terowongan yang panjang itu, Arya menanyakan hal yang sejak tadi sedikit mengganjal di kepalanya. "Tidak bisakah kalian berubah kebentuk lain? Kenapa kalian memakai, wujudku?"
Keduanya langsung saling bertatapan dengan wajah heran. Baik Kulkandan Kosha, juga tidak tau kenapa mereka bisa menggunakan wujud Arya.
"Soal itu, Aku ... Tidak tau!"
Kulkan memang memiliki kemampuan untuk memanipulasi ukurannya menjadi sangat kecil dari ukuran tubuh aslinya, Namun, saat masuk ke tubuh Arya, atau setidaknya itulah yang dia tau saat ini, Kulkan bisa berubah dengan wujud manusia. Tapi hanya wujud Arya saja.
Hal itu sangat berbeda dengan apa yang di rasakan oleh Kosha. Dia sama sekali tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.
"Mungkin, karena sekarang kau adalah tuanku. Sebelumnya, Aku hanya bersemayam di bahuraksa dan aku tidak pernah sekalipun memiliki wujud!"
Arya mengangguk mengerti. Lorong itu sangat panjang. Butuh satu jam lebih bagi ketiganya berjalan, hingga Akhirnya mereka sampai pada sebuah Aula besar lainnya.
"Ini?! ... "
Berbeda dengan Aula sebelumnya, di sini, di depan ketiganya, ada sebuah Gerbang yang berukuran sangat besar. Ketiganya, sudah tidak merasa asing lagi dengan bentuk gerbang ini.
Arya menatap gerbang itu dengan takjub. Sempat melihat kebawah sebentar untuk merasakan kakinya.
Hal itu karena, setiap Arya melihat gerbang seperti itu, dia dalam keadaan melayang. Namun kali ini, ternyata kakinya masih berada di atas lantai dan semuanya tidak terasa layaknya mimpi seperti sebelum-sebelumnya.
"Kalian tau cara membukanya?" Tanya Arya pada keduanya.
"Bukankah seharusnya kau tau?!"
Arya sempat berfikir bahwa kehadiran keduanya akan sangat membantu. Tetapi semua itu jauh dari harapannya. Bahkan jiwa Bahuraksa yang dia fikir tau tentang pintu tersebut, tidak jauh berbeda dengannya.
Tidak memiliki petunjuk apapun, Arya mencoba memikirkan cara. Dia memerika kitab Kosha. Namun, tudak ada petunjuk tambahan apapun di sana.
Arya mencoba mencari sesuatu di ingatan Berkah Air. Namun, itu tidak memberikannya bantuan apapun.
"Hmm... Jadi, kalian sama-sama berasal dari Tza-Mamna. dan ... Siapa itu, Tza-Mamna?!"
Di selah pemikirannya, Arya teringat tentang asal Kulkan dan Kosha.
"Kau tidak tau?!" keduanya balik bertanya dengan sedikit histeris.
Arya berbalik dan menatap keduanya. "Apakah menurut kalian berdua, aku akan bertanya, jika aku tahu?!"
Keduanya ingin mengatakan sesuatu, Namun langsung berhenti. Karena, saat Arya berbalik, tiba-tiba di bawah kaki ketiganya, muncul sebuah lingkaran menyala.
Entah ini kebetulan yang lainnya atau memang benar-benar sebuah takdir. Sekarang, ketiganya menyadari bahwa mereka berdiri tepat di sebuah mozaik dengan tiga titik yang membentuk trigram di tengahnya.
Dari ketiganya, cahaya bermuatan energi mengalir mengikuti garis-gari yang ada di bawah tersebut. Dengan cepat seluruh ruangan tersebut di penuhi dengan mozaik-mozaik yang memiliki pola dengan bentuk yang sama. Hingga akhirnya, energi yang melewati Garis-garis tersebut mengalir menuju gerbang besar yang ada di sana.
"BUM...!"
Sebuah suara ledakan teredam dari gerbang itu menggema di Aula yang besar tersebut. Tak lama setelah suara itu mereda, gerbang besar itu pun mulai terbuka.
Saat gerbang terbuka seutuhnya, Arya mengernyit heran saat melihat apa yang ada di sebalik gerbang tersebut.
Sempat berfikir olehnya akan melihat sebuah dunia lain seperti lembah lahar atau padang rumput yang sangat luas dialiri banyak sungai dengan air yang sangat jernih, apa yang ada di hadapannya benar-benar berbeda.
Sebuah ruangan besar yang di penuhi pilar-pilar raksasa. Terhampar di depannya. Namun, hal yang mengejutkan adalah, di ujung ruangan tersebut, terdapat sebuah singgasana besar dan cukup tinggi.
Arya menyipitkan mata untuk menajamkan pandangannya. Saat menyadari sesuatu, Matanya sedikit melebar. Arya merasa di atas sana, singgasana tersebut sedang diduduki oleh seseorang.
Arya urung menggumamkan pertanyaan tentang siapa yang sedang duduk di sana. Karena saat itu juga, dia di kejutkan oleh suara Kulkan dan Kosha yang berteriak dengan sangat lantang memanggil sebuah nama.
"ARANGGA...!!"
****
HELLO, MOONMARVEL di sini.
Sebelumnya, aku minta maaf karena dua hari belakangan aku tidak bisa memenuhi target Update Harianku. Ini karena, Aku sedang melakukan beberapa penyesuaian. sebab, Arya Mahesa akan memasuki Final Arch pertamanya.
Jadi aku ingin menyelesaikan ini dengan sangat baik sebelum memasuki Arch berikutnya.
Tapi, setelah ini aku akan menggantinya. selanjutnya, aku akan update 6 chapter untuk menutupi dua hari yang lalu.
Tunggu Update selanjutnya, Ya!
M.M