
"Nona, aku akan membayar jasamu berapapun bayaran yang kau inginkan. Aku cukup kaya."
Saat mendapatkan kembali kesadarannya, Citra Ayu langsung mengejar mereka.
Gadis itu terus mengikuti keempatnya kemanapun mereka pergi. Anehnya, Citra Ayu tanpa segan-segan meminta Bai Hua untuk bekerja sebagai pengawalnya.
"Nona, kami sudah tidak ada urusan denganmu. Sebaiknya kau pergi saja. Ada banyak hal yang kami ingin kerjakan dan kami juga dalam perjalanan."
Meski membawa masalah pada mereka, Bai Hua tidak bisa bersikap kasar pada Citra Ayu. Semua tau bahwa saat detik-detik sebelum Bai Hua bergerak, Citra Ayu sedang bersiap untuk melindungi Arya.
Entah apa penyebabnya, mereka bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sedang di cari banyak pendekar. Citra Ayu selalu menutupi wajahnya. Bahkan saat berbicara dengan mereka.
"Satu juta Arta. Ya, aku akan membayar satu juta Arta jika kau bisa mengawalku ke tempat tujuanku." Citra Ayu tak putus asa.
Bai Hua menggelengkan kepala."Nona, kau baru saja mencuri kantung uang kami, dan kau sedang berusaha menawar jasaku? Bukankah itu terdengar sangat lucu?"
Citra Ayu terdiam. Sebenarnya, dia hanya melihat kantung itu terjatuh saat dia menabrak tubuh Arya. Saat itu dia melihat kesempatan untuk mengambilnya.
Citra Ayu tidak begitu tertarik dengan uang. Hanya saja, melihat seorang pemuda lemah di kelilingi tiga wanita, membuatnya sangat kesal.
Saat itu, dia berfikir bahwa pemuda itu, di kelilingi gadis-gadis asing karena kedudukan serta hartanya yang banyak. Tanpa pikir panjang, Citra Ayu berniat mengerjainya.
Namun, siapa yang menyangka bahwa gadis terlemah diantara tiga gadis lainnya saja, bisa membunuh para pendekar yang memiliki level kependekaran yang sangat jauh di atasnya.
Citra Ayu menyimpulkan, bahwa ketiga gadis ini bukanlah wanita yang seperti dia bayangkan sebelumnya. Menurutnya, gadis-gadis ini pasti pendekar-pendekar yang sangat hebat, yang di bayar pemuda lemah itu, untuk mengawalnya.
"Maafkan aku tentang perkara itu. Jika kalian mau duduk berbicara. Aku akan menjelaskannya."
Kesal karena sudah sejak tadi gadis ini merongrongi mereka. Luna berhenti dan memegang tangan Citra Ayu.
"Kami tidak berbicara dengan seseorang yang tidak mempercayai kami. Nona, kau menutupi wajahmu itu tanda banyak orang mengincarmu. Kami tak takut masalah, tapi dimana sopan santunmu?"
Citra Ayu tertegun. Sebenarnya apa yang dikatakan Luna padanya itu, memang sangat masuk akal. Sejak dia membawa keempatnya dalam masalah, dengan kekuatan mereka cukup beruntung saat ini gadis itu masih hidup.
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menunjukkan wajahku di sini. Sudikah kalian menyisihkan waktu untuk duduk di tempat lain dimana orang tidak bisa melihat dan mendengarnya?"
"Arya, bagaimana menurutmu? Kita tidak bisa terus berjalan jika gadis ini terus membuntuti kita."
Sebelum Arya menjawab, Citra Ayu mendahuluinya. "Tuan Muda. Meski kau bukan pendekar tapi kau lelaki, di sini seorang wanita minta membantu. Tolong tunjukkan wibawamu."
Arya mengernyit heran. Begitu juga yang lainnya. Gadis ini sepertinya memang sedang benar-benar sedang butuh pertolongan. Namun, caranya meminta membuat Arya penasaran.
Bagaimanapun ini pertama kalinya dia berurusan dengan seseorang di Daratan ini. Mungkin saja dia bisa mendapatkan informasi berguna dari gadis ini, sebagai gantinya.
"Kau jalan lah lebih dahulu, kami di belakangmu."
"Baiklah, terimakasih. Tuan Muda bijak memandang. Aku terhutang."
Setelah itu, mereka mengikuti Citra Ayu dari belakang. Arya berjalan di deoan dan tiga lainnya sedikit di belakang.
"Kalian lihat, Senior begitu cepat belajar. Aku sangat sulit mencerna perkataan penduduk daratan ini."
"Ya. Arya memang begitu. Itu cuma cara bicara, bahkan Arya mampu membaca tulisan apapun bahkan jika tulisan itu hanya berbentuk simbol."
"Ya. Dia jenius, ... Jenius gila yang berbahaya. Gadis itu pasti menyangka dia berjalan dengan pemuda yang lemah."
Ketiga nya melihat Citra Ayu berjalan penuh percaya diri membawa Arya masuk ke dalam hutan.
"Hahahaha. Jika Arya memiliki sifat seperti laki-laki lainnya. Gadis itu benar-benar dalam bahaya." Ucap Ciel.
"Apa maksudmu? Apa menurutmu, Senior bukan laki-laki? Maksudku ... Ya ... Kalian pasti mengerti maksudku!"
"Sebentar! Bai Hua, kau pernah membayangkannya?" Seru Ciel menuduh.
Wajah Bai Hua memerah. "Kalian, kenapa kalian menatapku seperti itu?"
Kakak adik itu memandang Bai Hua dan tersenyum penuh arti. Membuat cucu Bai Fan itu semakin memerah.
"Oh, kau sudah membayangkannya." Tambah Luna.
"Hei, jika kalian berdua tidak pernah membayangkannya. Aku rasa kalian tidak normal. Bukankah, senior juga pernah melihat kalian berdua. Apa yang kalian pikirkan saat itu?"
Mata Luna dan Ciel segera melebar. Ingatan mereka kembali dimana saat Arya menyusun ulang titik-titik cakra mereka. Meski saat itu dalam keadaan sakit tak terkira, saat itu terjadi, memang ada terlintas fikiran lain di kepala mereka.
"Hahah ... Jangan hanya menuduhku. Jika kalian juga memikirkannya."
Bai Hua meninggalkan dua gadis bersaudara itu dalam keadaan nanar. Sementara dia melenggang menyusul Arya dan Citra Ayu.
Saat keduanya bertatapan. Segera mereka menggeleng.
"Sebaiknya, kita menyusul mereka."
"Ya, aku rasa juga begitu."
Mereka terus berjalan menelusuri hutan. Namun, Citra Ayu merasa ada sedikit yang aneh. Sejak tadi dia ingin menanyakan itu tapi tidak memiliki waktu yang tepat.
"Tuan Muda. Apakah, memelihara anjing dan kera adalah hal yang kau suka. Tunjuk ajar apa yang kau berikan pada keduanya? Dua binatang ini terus mengikuti kemanapun kau melangkah."
"Oh, ini Rewanda dan itu Krama. Keduanya adalah pengawalku." Jawab Arya.
Citra Ayu hanya bisa menggelengkan kelala. 'Tak kukira dunia punya banyak cerita. Lelaki apa yang berpengawal anjing dan kera.' Batinya.
Sampailah mereka Di tepian sebuah bukit. Merasa sudah cukup aman, Citra Ayu segera berhenti.
"Aku rasa di sini saja."
Tiga gadis lainnya ikut berhenti. Namun, Ciel segera merasakan sesuatu yang berubah dari Citra Ayu. Saat di hendak bereaksi, tanah yang mereka injak, segera bergetar.
"Buft ... !"
"Buft ... !"
"Buft!" "Buft!" "Buft!" "Buft!" "Buft!"
"Buft!" "Buft!" "Buft!" "Buft!" "Buft!"
Awalnya diding, lalu menjadi atap. Dan beberapa elemen tanah, muncul membentuk meja di sekitar mereka.
Ciel sudah merasakan pergerakan energi elemen tanah dari Citra Ayu. Namun, dia tidak menyangka bahwa gadis itu menggunakannya untuk ini.
Baru saja, gadis itu membuat sebuah rumah sederhana. Dan di depan mereka kini ada meja dan beberapa tempat duduk dari tanah, yang sudah mengeras.
Arya tersenyum. Menurutnya, ide ini sangat hebat.
"Nona, kau hebat. Aku tidak berfikir elemen tanah bisa digunakan seperti ini."
"Tuan Muda. Bibir mu bergula. Pandai menyanjung, Manis berkata."
Keempatnya melihat betapa kokohnya bangunan yang hanya di buat dalam waktu yang sangat singkat ini.
"Tuan dan Nona, duduklah. Kita bicara."