
"Di belakang ada lima puluh tiga orang. Di pintu penjara ini ada delapan orang. "Ciel menoleh pada jalan di kanan mereka hingga ke bangunan yang tatap Arya. " Di jalan hingga gerbang itu ada empat puluh tujuh orang." Ucap Ciel pada Aryabsaat menggunakan kekuatan matanya.
Bai Hua langsung mengerti maksud yang di katakan Ciel. Dia langsung mengukur kekuatan musuh. "Aku dan Ciel bisa menghadapi yang di depan penjara."
"Baiklah! Sisanya akan aku bereskan."
"Senior. Jika tidak merepotkan. Serang lebih dahulu dua orang yang memegang pedang itu" Pinta Bai Hua sambil menatap Ciel.
"Hahaha!"
Saat Mereka berbicara pelan itu, Suara tawa dari salah seorang pendekar bertopeng merah terdengar. Sambil merentangkan tangan, dengan bangga mengatakan. "Untuk sementara, kalian akan dikurung disini"
Ketiganya mengabaikan peringatan pendekar itu dan terus berbicara di saat bersamaan.
Ciel mengangguk. "Ya. Berikan pedangnya pada kami, lalu orangnya... " Ciel tampak berfikir," Ah, terserah. Hancurkan saja tengkorak pengkhianat-pengkhianat itu." putusnya.
Seperti belum berjeda setelah Ciel mengatakan itu, Arya langsung memutus tali yang mengikatnya.
"Di mana dia?!" Topeng merah yang berdiri tepat di hadapan mereka terkejut. Arya tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.
Ciel dan Bai Hua tidak mengerti kenapa si topeng merah menjadi sangat histeris. Saat mereka menoleh pada topeng merah itu, mereka merasa ada yang aneh.
Tanpa sadar Ciel menanyakan hal itu. "Kenapa tanganmu?"
Pertanya Ciel itu membuat topeng merah langsung menoleh pada kedua tangannya. Dia mencari-cari kemana perginya tangannya yang terentang di udara tadi.
Bai Hua juga bergumam menanyakan ke anehan itu. "Kenapa kedua tanganmu ada di bawah?"
"Ini!"
Mata keduanya melotot saat melihat apa yang ada di depan mereka. Dua buah pedang yang tadi dipegang oleh dua pendekar yang dimaksud oleh Bai Hua tadi, sudah berada di tangan Arya dan kini ada di hadapan mereka.
"Hah?!" Ciel tercenung.
Bai Hua Tidak kalah terkejutnya, "Bagaimana bis..."
"Tanganku... " Gumam pendekar bertopeng tak percaya saat melihat tangannya sudah memisahkan diri dari tubuhnya. Namun, ketiga orang yangbadabdi depan mengabaikannya.
Bai Hua tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat dia menoleh kebelakang dan melihat kedua pendekar tadi berdiri sudah tanpa kepala.
Pedang itu mereka raih tanpa sadar. Setelah itu Arya menghilang dari hadapan mereka.
"Wuussshhh!"
Kepala topeng merah menyusul kedua tangannya ke tanah setelah Ciel memenggalnya.
"Bruk!" Tubuhnya segera menyusul.
"Bai Hua! Biasakan dirimu. Pemuda ini tidak memberi ampun sedikit pun pada orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai musuh."
Mata Bai Hua tetap melebar saat memperhatikan kemana arah langkah Arya terakhir kali. "Itu..."
Ciel yang melihat Bai Hua terpana hanya bisa tersenyum. "Ya, apapun itu, kau bisa memikirkannya nanti. Sekarang, ayo kita selesaikan yang di depan!"
"Hei! ... Apa yang terjadi!"
Teriak salah satu pendekar bertopeng yang berdiri di depan mereka yang baru menyadari teman mereka sudah tumbang dengan anggota tubuhnya terpisah menjadi empat bagian.
Sayang sekali, pertanyaan itu menjadi kata-kata terakhirnya. Saat pedang yang ada di tangan Bai Hua, dengan cepat melintas melewati lehernya.
Bai Hua melihat kepala pendekar itu menggelinding setelah jatuh tanah. "Itu yang terjadi!" Ucapnya.
"Arrrrgh!"
"Arrrrgh!"
"Arrrrgh!"
"Kenapa ini jadi mudah sekali?" Tanya Ciel heran saat baru menumbangkan pendekar bertopeng lain untuk ketiga kalinya.
Bai Hua juga sudah menyelesaikan sisanya dengan sama mudahnya.
"Ciel ... Lihatlah!" Bai Hua memanggilnya untuk melihat apa yang membuat lawan mereka bahkan semua orang yang dikurung didalam kandang besi tadi, terdiam mematung.
Saat Ciel menoleh, matanya langsung melebar. Gadis itu melihat sebuah bayangan bergerak sangat cepat.
Bayangan itu melewati setiap pendekar-pendekar yang tadi berdiri di belakang mereka. Setiap kepala pendekar itu meledak sesaat setelah bayangan itu melewatinya.
"Jurus meringankan tubuh tingkat tinggi ... " Gumam Bai Hua.
Keduanya melihat Arya berhenti tepat saat kepala pendekar terakhir yang baru saja dia lewati, meledak.
Pemuda itu kemudian berbalik untuk memastikan keduannya. Saat Arya menyadari bahwa Bai Hua dan Ciel berhasil melakukan tugasnya, Arya mengernyit sedikit heran pada gadis yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Arya mengangguk sekali, sebelum akhirnya melesat menuju jalan yang mengarah pada bangunan, yang dia yakini di sanalah para petinggi Serikat Oldenbar berada.
Ciel mengangguk pelan. "Yah. Aku sangat mengenalnya. Itu jurus yang membuat kakekku menjadi salah satu kultivator yang ditakuti di kekaisaran Yang. Teknik meringankan tubuh tertinggi keluargaku... Langkah Seribu Bintang!"
"Hah? kau tidak salah? " Ciel meragukan kata-kata Bai Hua. "Bagaimana dia menguasainya?!"
Bai Hua hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tau benar bahwa jurus itu menjadi rahasia keluarganya. Bai Hua juga memiliki pertanyaan yang sama. Bagaimana Arya bisa menguasai jurus itu?
Keduanya termenung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kehebohan menyadarkan mereka.
Kehebohan itu datang dari orang-orang yang terkurung di belakang mereka. Keduanya menyadari bahwa tugas mereka sama sekali masih jauh dari kata selesai.
"Sebaiknya kita membebaskan mereka dahulu."
Bai Hua mengangguk menyetujui saran Ciel. "Ya! Kita akan menyusul senior setelah memastikan mereka semua berada di tempat yang aman."
Ciel dan Bai Hua membuka paksa pintu-pintu yang mengurung orang-orang itu. Mereka memerintahkan agar yang masih memiliki tenaga, membantu mereka yang sudah sangat lemah untuk keluar dari kandang yang memenjarakan mereka tersebut.
Bai Hua dan Ciel sangat menyayangkan harus meninggalkan beberapa mayat dari orang-orang yang tidak berhasil bertahan hidup di sana.
Setelah sampai di lembah sebuah bukit yang tak jauh dari sana dan memastikan bahwa semuanya sudah aman, Kedua gadis itu meminta orang-orang itu untuk berhenti.
"Kami harus membantu teman kami. Jika kami belum kembali saat sore hari, maka kalian sebaiknya menjauh dari sini." Ucap Ciel pada mereka.
Salah seorang pemuda yang terlihat masih memiliki tenaga berdiri di depan keduanya. "Nona. Biarkan kami membantu, kalian! "
Tak lama, beberapa orang lainnya juga melakukan hal yang sama. Sekarang ada puluhan lelaki yang berniat membantu mereka.
Ciel menggelengkan kepala tidak menyetujuinya. "Aku tau apa yang kalian cemaskan. Tapi, pemuda yang kalian lihat tadi, bisa mengatasinya"
"Tapi Nona, Oldenbar dan pendekar— "
Pemuda itu hendak protes, Namun kata-katanya dipotong oleh Bai Hua. "Jika kau ingin membantu, maka sebaiknya kalian yang masih memiliki tenaga, mencari makanan saja di dalam hutan."
"Ya! Kalian bisa melakukan itu, bukan?" Tambah Ciel.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Bai Hua dan Luna segera berbalik dan kemudian berlari kencang ke bukit di mana tadi terakhir kali mereka melihat Arya.
Tak lama mereka sudah sampai pada jalan menuju bangunan itu. Di sepanjang jalan, mereka melihat banyak tubuh yang sudah tak bernyawa.
Keduanya yakin bahwa Arya-lah yang menyebabkan kematian orang-orang itu. Namun, ada yang aneh. Mayat-mayat itu terlihat utuh dan, membiru.
Bai Hua mendekati salah satu jasad yang ada di jalan itu. "Bukankah, ini seperti mayat orang yang mati tenggelam?"
"Yah, kau ingat? Ki Jabara dan Kakekmu mengatakan bahwa Arya seorang pengendali Air, sebelumnya"
"Boom!"
"Boom!"
"Boom!"
Suara ledakan dan teriakan semakin jelas terdengar saat mereka semakin dekat pada bagunan besar yang ternyata memiliki pagar yang sangat tinggi itu.
Sampai di sana, mereka mendapati pintu gerbang sudah hancur. Tidak perlu lagi dipertanyakan siapa yang menghancurkannya. Mereka melihat di halaman, sudah banyak orang-orang bertumbangan.
"Boom!"
Mereka terkejut dengan suara ledakan yang baru saja terjadi. Keduanya langsung masuk untuk memastikan asal suara itu.
Teras bangunan itu barusaja roboh. Menyisakan puing yang sudah rata dengan tanah.
"Jangan biarkan dia bergerak. Orang itu sangat berbahaya."
"Terus Serang!"
"Boom!"
"Boom!"
"Serang bersamaan!"
"BOOOOOMMM...!!"
Tak beberapa lama, keduanya melihat seseorang baru saja terpental keluar dan mendarat ke atas puing-puing itu.
"Braaak...!"
Kedua mata mereka melebar dan sontak berteriak bersamaan saat mengetahui siapa orang itu.
"Senior!"
"Arya!"