ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Guru dan Murid


"MATRA...!"


Hampir saja semua orang yang ada di sana mati karena gelombang kejut dan dentuman yang besar akibat meteor tersebut. Beruntung dengan waktu yang sangat singkat itu, Arya masih sempat memasang segel untuk melindungi semuanya.


Akan tetapi, kekuatan segel tersebut tidak mampu bertahan lama. Segel yang di bangun Arya langsung retak begitu badai akibat ledakan itu menerjangnya.


Dengan seluruh kekuatannya, sebelum segel itu benar-banar hancur, Arya segera membangun dinding air untuk mengurangi dampak terjangan ledakan tersebut.


"Aaaarrrrrgggghhhhhh...!"


Badai yang membawa puing-puing batu serta pohon-pohon itu, menerjang dinding air yang dibuat Arya cukup lama. Ditambah dengan suhu yang sangat panas, mengikis dinding setebal sepuluh meter itu dengan sangat cepat.


Arya mengangkat tinggi tangannya, baru kali ini keempat orang yang selalu bersamanya melihat langsung kuda-kuda dari jurus dinding air tersebut.


Dengan ukuran yang sangat tebal dan tinggi itu, jelas formasi dinding air kali ini berpotensi menguras seluruh energi yang di miliki Arya untuk melindungi semua orang yang ada di sana.


Darsapati dan Kaungsaji yang sudah berada di level pendekar suci saja, sudah tidak bisa membayangkan apalagi mengukur seberapa besar sebenarnya kekuatan yang di butuhkan Arya untuk melindungi mereka semua, saat ini.


Mereka hanya bisa terdiam dengan mata melebar saat melihat Arya begitu kewalahan mengeluarkan air dari tanah untuk mengganti ketebalan dinding yang memuai akibat hawa yang sangat panas itu.


Meski tidak bisa merasakan jumlah energi milik Arya, mereka yang ada di sana, tau, bahwa pemuda itu sebentar lagi akan mencapai batasnya.


"Arrrggghhh..!"


"Arrrrrrrgggggghhhhhh...!"


Teriakan parau Arya menyayat hati semuanya. Meski gelombang kejut yang berpotensi membunuh mereka sudah berlalu beberapa detik yang lalu, namun badai ledakan yang membawa material yang bisa melukai semua orang itu, belum juga terlihat akan mereda.


"Aryaa...!"


"Arya...!"


"Senior..."


Meski kaungsaji dan beberapa pendekar di sana memiliki teknik pengendalian elemen tanah ditambah dengan pendekar-pendekar lainnya yang memiliki pengendalian elemen kayu, mereka menyadari itu sama sekali tidak akan membantu. Area tempat mereka berbijak saat ini, tidak memungkinkan mereka melakukan itu meski hanya untuk sekedar membuat benteng kecil saja.


Tidak ada satupun teknik ataupun jurus dari orang-orang di sana yang bisa membantu Arya dalam kondisi seperti ini.


Beberapa Saat kemudian, dinding air yang dibangun Arya terlihat semakin lemah dan menipis. Beruntung itu juga di sertai dengan badai yang juga semakin mereda.


Arya langsung jatuh terlentang tak sadarkan diri di tanah, saat semuanya benar-benar telah berakhir. Mereka cepat berlari ketempat dimana Arya berada.


Tau bahwa Arya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Darsapati langsung berusaha mengalirkan tenaga dalamnya untuk menolongnya. Akan tetapi, saat dia mencoba itu, pendekar suci tingkat dua itu langsung menyadari bahwa tenaga dalamnya pun, tidak bisa membantu.


"Ini, Aneh... "


"Ada apa?!"


Dengan wajah keheranan, Darsapati bergumam. "Tubuhnya, menolak tenaga dalamku."


"Jangan... !" Ciel berseru sedikit histeris. "Biarkan saja Arya seperti itu!"


Mata Ciel menajam. Gadis itu melihat aura eleman air yang selalu memenuhi tubuh Arya, kini seperti sedang bereaksi. Meski tidak teralu mengerti, Ciel yakin Aura itu sedang berusaha memulihkan Arya.


"Nona, apa maksudmu?!"


Sama dengan Kaungsaji, semua orang disana memiliki tanya yang sama di kepalanya.


"Aku tidak bisa menjelaskan. Tapi sepertinya, Arya akan baik-baik saja!"


"Ketua! ... Lihatlah...!"


Saat salah satu anggota Sekte Singa Emas berteriak seolah ingin memberi tahu sesuatu. Saat semua orang yang ada di sana, menoleh pada keadaan di sekitar mereka. Saat itu juga mata mereka terbelalak.


Bukit tempat reruntuhan bangunan kuno sebelumnya tidak hanya rata, tapi benar-benar musnah. Tidak hanya itu saja, bahkan bukit-bukit dan hutan yang mengelilinginya, juga sudah sirna.


Daratan di sekeliling mereka berubah menjadi lembah kering yang sangat luas, dengan beberapa titik lelehan batu yang telah menjadi lahar dengan api yang menyala.


Sedangkan tempat mereka berada saat ini sudah menjadi bukit tanah yang berdiri tegak yang setidaknya memiliki ketinggian tiga puluh meter.


Saat itu mereka langsung menyadari bahwa, pelindung yang di bangun Arya tidak hanya tinggi ke udara, namun juga sangat dalam kebawah tanah.


"Errhmm... Tuan Darsapati! Kita harus segera pergi dari tempat ini.!"


"Ya! Tempat ini akan segera hancur!"


Benar saja, baru saat semuanya berhasil turun, tempat mereka berada tadi langsung ambruk menjadi gundukan bukit tanah kecil di tengah lembah yang sepenuhnya baru. Dampak dari meteor yang menabrak wilayah tersebut, benar-benar mengerikan.


****


Di langit, tempat yang manusia kenal sebagai dunia para dewa. Anhur terbang dengan wajah merah menuju sebuah istana.


"Obskuraaa...!"


Pemimpin para dewa itu berteriak lantang begitu kakinya menginjak lantai istana tersebut. Amarahnya begitu membuncah.


"Hahahaha! Anhur... Tidak seperti biasanya. Kenapa kau berkunjung?"


Tidak memperdulikan pertanyaan sambutan Obskura tersebut, Anhur bergegas menghampirinya. saat jarak mereka begitu dekat, Anhur langsung mengacungkan sebuah tombak bermata tiga ke leher dewa tersebut.


"Katakan! Apakah itu yang Arangga yang, terakhir?!"


Obskura mengernyit heran. "Apa maksudmu? Terakhir? Terakhir apa?"


Anhur menarik tombak yang tadi berada di leher Obskura dan menghentakannya ke lantai istana.


"Bom!"


Wajahnya benar-benar menunjukkan kemarahan yang sangat teramat dalam.


"Obskura! Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Apakah kau memang sudah sebegitu bencinya dengan bangsamu sendiri?!"


Obskura menghela nafas panjang dan melepaskannya. senyum miring tersungging di sudut bibirnya.


"Aku tidak membenci bangsaku sendiri. Tapi, aku tidak menyukai apa yang kita lakukan pada bangsa manusia. Kau juga menyadarinya, bukan?!"


"Huh! Apa yang kau fikirkan? Itu sudah takdir mereka. Dan tugas kita sebagai dewa, adalah mengendalikannya!"


"Jika memang begitu, kenapa kau begitu takut dengan kemunculan, Arangga?!"


"Bom!"


Lagi-lagi Anhur menghentakkan tongkat ditangannya ke lantai. Suara yang menggelegar tersebut, sama sekali tidak membuat Obskura bergeming.


Dewa tersebut berbalik memunggungi Obskura. "Semua ini akan berbeda jika kau menerima takdirmu, dan menjadi kaisar langit!"


"Hahahahaha! Kau dan semua dewa lainnya, selalu bicara tentang takdir. Tapi, kalian sendiri sangat takut dengan apa yang bisa takdir lakukan pada kalian!"


"Obskura! Aku mengurungmu di istanamu sendiri, karena kau adalah guruku, dan aku masih menghormatimu! "


Anhur berbalik dan menatap Obkura tajam


"Akan tetapi, jika aku mendapati, kau masih ikut campur dengan urusanku dan manusia, maka kami terpaksa mengirimmu ke alam ketiadaan!"


Setelah mengatakan itu, Anhur berbalik dan hendak segera pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Obskura berteriak memanggilnya.


"Anhur...! "


"Aku tahu apa yang baru saja kau lakukan dan itu adalah kesalahan yang sangat Fatal!"


Obskura menatap punggung pemimpin dewa manusia itu, Tajam.


"Ketahuilah, kau telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan.!"


Obskura menjeda kata-katanya. Setelah itu dia memberi peringatan lantang.


"Percayalah! Akan tiba hari di mana saat seorang anak manusia yang menentang takdir Dunia, datang menginjakkan kakinya di dunia para dewa dan menuntut pertanggung jawaban kalian. ... jika saat itu tiba. Tidak! ... aku yakin, Saat itu pasti akan tiba. ... Hari di mana, Kau dan seluruh dewa bahkan Kaisar Langit sekalipun, akan berlutut di bawah kakinya!"


Sempat bergeming sebentar, Namun Anhur memilih untuk tidak mengindahkan peringatan tersebut. Dia kembali terbang meninggalkan Obskura yang duduk di sebuah Singgasana dengan tubuh terikat rantai yang menyerap seluruh Prananya.