
Kejadian sangat mengejutkan itu, benar-benar membuat semua orang di sana membeku.
Tidak ada satupun dari mereka yang menduga bahwa ada seseorang yang tidak memiliki tenaga dalam, bisa membunuh seseorang dengan level kependekaran yang sangat tinggi dengan sangat mudah.
Mungkin, di Daratan ini, tidak banyak yang memiliki kekuatan seperti Wu Guo yang kini sudah mati dalam keadaan berdiri itu.
Dari semua orang yang ada di sana, mungkin Ki Jabara lah yang paling terkejut.
Meski waktu sudah lama berlalu, dia mengingatnya. Ki Jabara pernah melihat teknik pukulan yang digunakan oleh Arya untuk mencabut jantung Wu Guo itu.
Terakhir kali dia melihat seseorang menggunakan jurus yang sama, adalah saat dia masih muda. Puluhan tahun yang lalu.
Pemuda yang mengaku berasal dari sebuah sekte kecil di Daratan ini. Ki Jabara bertemu dengannya saat berperang menghadapi penjahat dari sekte beraliran hitam.
Meski berasal dari sekte yang kecil dan lemah, orang itu sangat gigih. Tekadnya untuk bertarung sangat kuat.
Walaupun menghadapi orang yang lebih kuat darinya, pemuda itu tidak pernah mundur. Sebanyak apapun lawan menjatuhkannya, maka sebanyak itu pula dia akan berdiri dan kembali melawan.
Luka-luka tidak akan menyebabkan pemuda itu berhenti. Seperti yang di ingat Ki Jabara, pemuda itu hanya akan berhenti saat dia menang atau saat dia mati.
Beruntung saat itu pendekar-pendekar dari sekte aliran putih sangat kuat dan berhasil memenangkan peperangan.
Saat perang berakhir, pemuda itu masih hidup yang berarti dia memenangkan semua pertarunganya.
Ki Jabara mengingat nama kenalannya itu sebagai Tarim Saka atau Si Gila Tarim. Begitulah pendekar-pendekar aliran putih memanggilnya.
Tarim Saka. Yang kini lebih dikenali sebagai Ketua sekte paling kecil dan paling lemah di Daratan Timur kerajaan Swarna, Sekte Awan Senja.
"Jurus itu! ... Tidak salah lagi! Itu adalah jurus yang sama yang di gunakan Si Gila Tarim. Pemuda ini Dia benar-benar cucunya!" Ucap Ki Jabara sedikit histeris seolah tak percaya.
Tentu saja dia tidak bisa mempercayainya. Tarim Saka tidak pernah menunjukkan bahwa jurus pukulannya bisa menjadi semengerikan itu.
"Apa aku terlalu meremehkan Saka? Atau Sekte Awan Senja selama ini tidak seperti yang kami kira?"
Begitu banyak pertanyaan yang kini berenang-renang di kepala Ki Jabara. Apalagi selama ini dia merasa Arya sangat lemah.
Namun, apa yang barusaja dilakukan Arya tentu saja sudah mematahkan semua anggapannya.
"Bruk!"
Semua orang terkejut saat mendengar suara tubuh Wu Guo terjatuh dan tergeletak di tanah, setelah Arya mendorongnya.
Tidak ada satupun lawan yang di hadapan Arya, yang berani bergerak dari tempat mereka.
"Tuan Arya!" Ki Jabara mendekat diikuti para pendekar lainnya.
Arya menoleh saat Ki Jabara menghampirinya. "Ya. Ki?"
"Apakah itu adalah salah satu pukulan dari Jurus Tinju Beruang Tanah?" Ki Jabara masih berniat memastikannya.
Mendengar pertanyaan Ki Jabara itu, Mata Arya melebar seketika. Kemudian dia menggeleng dan mendesah "Ah! Sial! ... Aku melupakannya, lagi!"
Jawab Arya sontak membuat Ki Jabara dan semua orang di belakangnya menjadi bingung.
"Kau melupakan, apa?"
"Aku lupa untuk menyebut nama jurusnya sebelum memukul orang itu!" Jawab Arya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Ki Jabara dan semua pendekar di dekatnya sempat ternganga mendengar apa yang dikatakan Arya.
Apalagi Arya mengatakan itu dengan ekspresi penuh penyesalan, seolah hal itu sangat penting sekarang ini.
Ki Jabara cepat mendapatkan kesadarannya dan berusaha memberi Arya semangat. "Sudahlah! Itu akan terlatih saat kau sering menggunakannya" Ucap Ki Jabara sambil memukul-mukul pelan bahu Arya.
Tidak ada satu orangpun di sana yang mengerti apa yang ada di pikiran Arya. Kenapa menyebut nama jurus jadi begitu penting baginya.
Arya mengangguk mengerti. Wajar saja jika dia lupa menyebut nama jurus itu. Karena belum satu bulan dia mempelajarinya. Mungkin niatnya untuk menjadi pendekar harus ditunda dahulu.
"Yah. Kau benar! Aku bahkan belum satu bulan mempelajarinya" Jawab Arya mantap.
Sejak kedatangannya, Arya sudah menarik perhatian. Tapi, kata-kata terakhirnya ini sungguh sulit untuk bisa di percaya.
Sejenius apapun orang itu, Tidak mungkin ada yang bisa menguasai pukulan mengerikan seperti itu, hanya dalam kurun waktu yang tidak sampai satu bulan.
Mereka mulai mempertanyakan keseriusan Arya dalam situasi ini. Sungguh aneh jika ada yang punya kebiasaan bercanda dalam kondisi seperti ini.
"Kalian!"
"Seperti Kata Ki Jabara. Tadi itu adalah jurus Tinju Beruang Tanah dari Sekte Awan Senja yang kini sudah berganti nama menjadi Sekte Delapan Mata Angin" Ucap Arya panjang lebar dan sedikit keras agar semua orang di sana mendengarnya.
"Kalian bisa mencobanya!"
Arya dapat merasakan bahwa pendekar-pendekar itu memang terkejut. Akan tetapi, Arya juga merasakan bahwa pendekar-pendekar asing itu tetap ingin mencoba menyerangnya.
"Kau mungkin bisa mengalahkan Wu Guo. Tapi, itu karena dia lengah!"
Berkata salah satu dari mereka. Tak tampak rasa takut dari sorot matanya saat menatap Arya.
"Seperti kata Bai Hua. Kalian memang bukan pendekar biasa!"
Arya mengingat setiap perkataan Bai Hua dalam menjelaskan kekuatan pendekar dari negaranya. Arya yang hanya mengandalkan nalurinya, bisa saja salah menilai kekuatan pendekar-pendekar itu.
Untuk berjaga-jaga Arya sengaja memancing mereka. Dan dugaan Arya ternyata benar. Sekarang puluhan pendekar itu bersiap untuk menyerangnya.
"Ki Jabara" Arya berkata pada Ki Jabara di sebelahnya "Mereka sangat kuat. Sebaiknya suruh yang lain menjauh dari sini!" Bisik Arya pada Ki Jabara untuk menyuruh semua pendekar menjauhinya.
Sebenarnya, tanpa Arya mengatakannya pun, baik Ki Jabara dan semua pendekar ini sudah mengetahui bahwa pendekar-pendekar dari negeri asing itu memang sangat berbahaya.
Apalagi saat mereka telah melihat kekuatan Wu Guo sebelumnya. Saat itu mereka mencoba mengukur kekuatan orang-orang di belakangnya. Meski tidak sekuat Wu Guo, pendekar-pendekar itu tetap jauh lebih kuat dari mereka.
"Hahahha! Bai Hua itu masih hidup?" Pendekar dari negeri asing lainnya tertawa saat Arya menyebut nama Bai Hua.
"Keluarga Bai memang sulit untuk disingkirkan" Tambah yang lainnya.
Arya mengernyitkan keningnya. "Jadi kalian yang membuat Bai Hua seperti itu?"
"Ya! Tentu saja kami yang melakukannya! " Salah seorang dari mereka maju ke depan. "Dan kami juga menikmati tubuhnya" tambah pendekar itu.
"Baiklah!" Arya mengangguk "Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan pada kalian."
"Kau terlalu percaya diri." Pendekar dari Negeri asing itu sudah mulai kesal "Mungkin kau bisa membunuh Wu Guo dengan mudah. Tapi, kali ini akan berbeda. Kau dan semua orang-orang itu, akan mati di sini"
Setelah mengatakan itu, semua pendekar dari negeri asing itu langsung mengeluarkan senjata mereka.
Tidak hanya itu. Saat senjata mereka terhunus, tiba-tiba api menjalar ke senjata-senjata itu.
Ini sedikit mengejutkan bagi pendekar-pendekar yang ada di kerajaan Swarna. Mereka tidak tau bahwa elemen api bisa di alirkan ke senjata.
Arya tidak terlalu memperdulikan hal itu. Karena sesungguhnya, Arya memang tidak mengetahuinya. Baginya semua sama saja.
"Jadi kalian pengendali elemen, Api?"
"Hahahaha!" Jangan salahkan kami. Pendekar dari Negeri kami memang jauh lebih maju daripada kalian. Pendekar itu salah mengira pertanyaan Arya.
"Kalian Semua! ... Menunduk!"
Arya berteriak memperingatkan semua orang di sana termasuk pendekar dan prajurit yang menjadi lawan mereka.
"Woouuuuff..."
Para pendekar asing itu berniat menyerang semua orang. Tanpa memperdulikan mereka teman atau lawan.
Mereka melakukan serangan gabungan yang menimbulkan tembakan api yang menyerupai gelombang besar yang menyapu wilayah yang luas pula.
"Buuuuuusssssstt..."
Tepat saat gelombang api yang besar itu hampir melewati Arya dan mengenai Ki Jabara dan semua pendekar yang bersamanya, Sebuah Dinding air tebal baru saja terbentuk menjadi perisai.
Lagi-lagi semua orang dikejutkan oleh Arya. Belum pernah mereka melihat ada seseorang bisa mengendalikan elemen air sebanyak itu. Apalagi sampai membuat dinding tebal dan luas dalam waktu secepat yang Arya lakukan.
Selain itu, Hampir semua orang melupakan hal terpenting dalam pengendalian elemen air. Dimana si pengendali elemen harus membawa air atau berada di dekat sumbar air agar bisa mengendalikannya.
Namun, kemunculan air yang sangat banyak itu adalah hal mengejutkan lainnya.
Para Pendekar dari negeri asing itu, tentu saja langsung menyadari keanehan dari jurus pengendalian air Arya.
Di negeri mereka, memang banyak yang bisa mengendalikan elemen air dalam jumlah yang bahkan lebih besar. Tapi, mereka tetap harus memiliki sumber air yang banyak pula.
"Dari mana air itu?!"
Mereka mempertanyakan hal yang sama.
"Heh! Bukankah tadi kau barusaja mengatakan bahwa pendekar dari negerimu, jauh lebih maju?" Arya membalas perkataan mereka.