
Seperti sebuah kebetulan yang ajaib, Lamo merasa pertemuan Sekte mereka dengan orang-orang ini seperti sudah ditakdirkan."Tuan Bai, aku rasa kau mengetahuinya. Maukah kau menjelaskannya?"
"Ya. Pil itu, awalnya memang digunakan untuk perang. " Jawab Bai han, kemudian dia menjelaskan "Ada sebuah Negara di benua Tengah yang terkenal karena berhasil menemukan dan mengembangkannya. Mereka memberikan Pil tersebut pada prajurit-prajurit mereka. Hasilnya, mereka memenangkan semua peperangan yang mereka hadapi."
"Jadi, Serikat Oldenbar berasal dari negara itu?" Tanya ketua Sekte Lembah Hantu.
"Aku rasa tidak!" Jawab Ciel. "Setahuku, Serikat Oldenbar berasal dari salah satu Kerajaan di Benua Barat"
Bai Fan mengangguk menyetujui "Ya! Aku berfikir sama. Karena, sama dengan negaraku, Negara itu kini juga sudah melarang pembuatan Pil tersebut"
"Kenapa?" Semua orang memikirkan hal yang sama dengan apa yang barusaja di tanyakan Lamo pada Bai Fan.
"Itu karena, siapa saja yang sudah menggunakan Pil Zulu, titik cakranya akan menjadi tidak stabi dan tidak akan bisa mengumpulkan tenaga dalam dari Alam seperti sebelumnya. Dengan kata lain, orang itu harus memakan pil itu terus menerus. Jika tidak... "
Mereka semua terdiam manatap dan menunggu Bai Fan melanjutkan kata-katanya yang menggantung.
Lalu Bai Fan kembali menjelaskan apa yang dia ketahui tentang Pil Zulu itu. Bai Fan tidak tau pastinya. Dari buku yang dia baca, ada yang mengatakan orang itu akan mati mengering ada pula yang mengatakan orang yang menggunakan Pil Zulu akan menyerap tenaga dari alam seperti cara Siluman menyerapnya.
Yang pasti, efek penggunaan Pil Zulu itu sangat berbahaya. Oleh karena itu, beberapa negara di tiga benua melarang pembuatan atau peredaran Pil Zulu di negara mereka.
Bai Fan juga ingin mengatakan beberapa teori lain atas efek penggunaan Pil Zulu. Tapi, karena belum terbukti kebenarannya, maka dia mengurungkan niatnya dan menyudahi penjelasannya hanya sampai di situ.
"Kakek Bai. Apakah nama negara yang menemukan pil itu bernama Arbaran?" tiba-tiba Arya yang sejak tadi hanya menyimak langsung menanyakan nama negara penemu Pil terlarang tersebut.
Mata Bai Fan langsung melebar saat Arya menanyakan nama negara yang menemukan Pil itu.
"Pendekar Muda. Bagaimana kau bisa mengetahui nama negara itu?" Baihan menoleh pada Luna lalu kembali pada Arya. "Bukankah kau belum pernah keluar dari daratan ini sebelumnya?"
Mereka kembali meragukan pengakuan Arya bahwa dia tidak pernah keluar dari Daratan Timur. Jika tidak begitu, Bagaimana bisa pemuda ini mengetahui banyak hal penting di Dunia, tapi tidak mengetahui banyak hal-hal dasar lainnya?.
Arya merasa sedikit aneh saat semua mata kini tertuju padanya "Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Arya heran.
"Senior. Sekali lagi aku bertanya." Bai Hua menatap Arya dengan wajah seperti orang menyelidik "Sebenarnya, siapa dirimu?"
"Aku Arya! Sudah aku katakan, bukan?" pertanyaan seperti itu mulai membuat Arya sedikit kesal.
Bai Hua menyadari kesalahannya. "Maaf, maksudku, bagaimana kau mengetahuinya, sedangkan kau bilang, kau tidak pernah keluar dari Daratan ini. Dan itu tentu saja membuat kami menjadi bingung" Jelas Bai Hua panjang lebar.
"Oh, tentang itu." Arya mengangguk mengerti. "Aku membacanya dalam sebuah Kitab" jawabnya.
"Kitab..."
Semua orang serentak histeris menanyakan hal yang sama.
"Sebentar!" Bai Fan ingin memastikan, "Di kitab itu, Apakah kau membaca cara pembuatan Pil Zulu atau kau membaca sejarah darimana Pil itu berasal?"
Mereka semua mengangguk, setuju dengan pertanyaan Bai Fan. Jika sudah menyangkut hal-hal seperti ini, sebaiknya mereka menanyakan lebih jelas agar tidak lagi menduga-duga.
Mereka telah banyak belajar sejak pertama kali bertemu dengan Arya. Pemuda ini memang penuh mistery dan memiliki banyak hal mengejutkan.
"Ya. Aku pernah membaca Pil seperti itu saat menyalin sebuah Kitab" Jelas Arya.
Jauh dari perkiraan semua orang di sana. Sebelumnya, mereka merasa Arya seperti orang yang tidak mengerti apapun. Karena sejak pembicaraan ini di mulai, pemuda itu hanya diam saja. Sekarang, sepertinya Arya-lah yang paling mengerti segala hal.
Lamo, tidak terlalu menanggapi Arya sejak berada di dalam tenda. Karena dia merasa Arya tidak punya tenaga dalam, Lamo berpendapat Arya bukanlah seorang pendekar. Tapi, hanya pekerja yang di sewa Bai Fan dan yang lainnya.
Lagipula, pemuda ini seperti penduduk Daratan Timur lainnya, selain memiliki tubuh yang memang gagah dan wajah yang cukup rupawan, meskipun seorang bangsawan, Tidak ada alasan bagi Lamo untuk menaruh rasa hormat padanya.
Hal itu pula yang membuat Lamo juga menyimpulkan bahwa Arya tidak mengerti apapun tentang hal yang sedang mereka bahas.
"Oh soal itu, tidak perlu bertanya pada kakek Bai. " Arya tersenyum canggung "Satu bulan ini, Aku mulai mempelajari beberapa jurus dari sekteku untuk bertarung, agar aku bisa disebut seorang pendekar "Jelas Arya dengan jujur pada Lamo, ketua Sekte Lembah Hantu itu.
Luna dan Ciel memegang kening mereka dan tertunduk saat Arya masih belum percaya diri untuk menyebut dirinya sendiri seorang pendekar.
Sedangkan Bai Fan dan cucunya Bai Hua, melongo saat mendengar Arya mengatakan bahwa dia baru belajar beberapa jurus dan itu baru satu bulan.
"Benarkah? Sekte mana yang kau maksud? Aku mengenal hampir seluruh Sekte di Daratan ini."
Lamo, sedikit tertarik saat Arya menyebut dirinya berasal dari sebuah Sekte.
Sebagai ketua Sekte, tentu saja dia penasaran dengan sekte yang mau menerima pemuda lemah yang tidak memiliki tenaga dalam seperti Arya sebagai muridnya.
"Mungkin kau pernah mendengarnya. Aku berasal dari Sekte yang sebelumnya bernama Awan Senja dan sekarang sudah berganti nama menjadi Sekte Delapan Mata Angin"
Arya sengaja mengatakan nama Awan Senja, karena berfikir Lamo tidak akan mengenali nama Delapan Mata Angin.
"Hahahahaha!"
Lamo, tidak bisa menahan tawanya saat Arya mengatakan dari Sekte mana dia berasal. Jelas Lamo mengetahui nama Awan Senja sebelumnya.
"Maafkan, aku!" Sadar dia merasa sedikit tidak sopan, Lamo berusaha menahan tawanya. "Ya. Aku tahu tentang Sekte Awan Senja dan Aku juga mengenal Ketuanya. Tarim Saka, Bukan?"
Saat nama Tarim Saka di sebut, Wajah Arya berubah sedikit cerah. "Jadi, Tuan Lamo mengenal Kakek? "
"Ya. Aku mengenalnya" Jawab Lamo.
"Sukurlah! Aku fikir Sekte kami terlalu kecil untuk di kenali" Ucap Arya, lega.
Lamo hanya mengangguk. Sekarang dia faham kenapa ada sekte yang mau menerima pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam sebagai murid.
Tentu saja sekte yang tidak perlu memikirkan reputasi mereka dalam menyaring murid-muridnya saja, yang mau melakukannya. Dalam hal ini, Lamo memahami itu. Di Daratan Timur ini, Awan Senja dikenal sebagai sekte terkecil dan terlemah.
Sadar bahwa Lamo telah meremehkan Arya, Luna langsung mengalihkan pembahasan kembali."Ketua Lamo, apakah kau masih ingin tetap berperang?"
Lamo langsung terdiam. Dia tidak menyangka bahwa peperangan yang akan mereka hadapi, tidak sesederhana sebelumnya. Jika apa yang dikatan Luna benar, maka semua akan semakin kacau.
"Sepertinya ini... " Lamo, tampak ragu untuk menjawabnya.
"Tentu saja Oldenbar harus dihancurkan." Tiba-tiba Arya buka suara lagi dan kini menatap Lamo dengan serius. "Tenang saja, Tuan lamo. Aku akan membantumu menghancurkannya." Ucap Arya mencoba meyakinkan Ketua Sekte Lembah Hantu itu.
Kemudian, Arya menoleh pada empat orang lainnya yang kini juga menatapnya heran.
"Maafkan aku, mungkin kalian bisa ke kota Basaka lebih dulu. Sementara itu, Aku akan di sini membantu Tuan Lamo" ucapnya.