ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kekuatan Musuh


"Krama, kau tau bagaimana cara agar aku bisa menjadikan ini serbuk?"


Sebagai Iblis langit yang hampir seluruh elemen yang dikandung tubuhnya adalah elemen logam, tentu saja Arya merasa Krama mengetahui hal itu.


"Raja, aku bisa Mengurainya akan tetapi, anda pasti sudah tau dari guru kita bahwa kekuatan kami berdua di segel dengan kutukan dan hanya bisa terbuka saat bulan purnama merah."


Tentu saja Arya mengetahuinya. Bahkan Arya telah melihat kekuatan sesungguhnya kedua iblis langit yang hampir saja membunuhnya itu.


"Seharusnya, ini sangat mudah bagiku. Maafkan aku."


Arya tidak bisa berkata apa-apa. Meski tau khasiatnya, di catatan Obskura sama sekali tidak ada petunjuk tentang bagaimana cara mengurai Bayam Tiga Jari ini dengan benar.


Rewanda dan Krama, tidak pernah melihat Arya seperti ini. Hal itu membuat Rewanda yang jarang sekali menggunakan otaknya untuk berfikir keras, saat ini sedang melakukannya.


"Hei, Anjing bodoh. Jika aku meleburnya dengan suhu tertinggi yang aku bisa, apa mau memiliki kekuatan untuk mengurainya?"


Saat itu juga Arya mendongakkan kepalanya dan langsung menatap Rewanda dan Krama bergantian.


"Sepertinya itu bisa di lakukan. Tapi untuk menjadikannya serbuk halus, hal itu harus di lakukan ratusan atau bisa saja ribuan kali."


"Krama, jelaskan padaku bagaimana cara kerjanya."


"Baiklah, aku akan menunjukkan sifat logam ini ... "


Krama menjelaskan, untuk menguraikan dengan cara memanaskan seperti yang dikatakan Rewanda, maka Daun Bayam Tiga Jari itu, harus dipanaskan dengan suhu yang tinggi hingga benat-benar panas.


Setelah itu, dia bisa merasakan jika tingkat kepanasannya sudah cukup untuk yang akan dilakukan selanjutnya.


Hal itu adalah, mendinginkannya dengan sangat cepat hingga daun itu berubah menjadi sangat getas. Dan bisa di pecahkan hingga hancur.


Setiap prosesnya untuk menjadi serbuk harus dilakukan beberapa kali hingga benar-benar bisa menjadi halus.


Teknik ini, pernah Arya baca di kitab keluarga Smith milik Luna dan Ciel, jadi dia segera memahami cara kerjanya.


"Baiklah, aku mengerti. Lalu, apa lagi?"


Rewanda kembali menjelaskan, resiko melakukan dengan cara itu adalah jika Rewanda kehabisan tenaga atau selama memanaskannya prosesnya terputus, maka daun itu akan semakin keras dan kan semakin keras setiap kali itu terjadi hingga tidak akan mampu lagi di urai.


Kesimpulannya, setiap kali gagal, maka proses berikutnya, akan tambah sulit hingga menyebabkan daun itu rusak karena setiap berhenti secara tiba-tiba daun itu akan membakar udara dan menempel padanya.


Sampai di sana, Arya langsung mengerti. Udara yang terbakar akan mengandung racun. Jika kemurniannya tidak lagi ada, maka alih-alih menjadi obat penyembuh daun itu akan berubah jadi racun pembunuh.


"Rewanda, seberapa kuat kau mempertahankan api terpanasmu saat ini?"


"Aku bisa mempertahankannya selama satu bulan  ... "


"Raja, bukan itu masalahnya. Tapi bisakah kera jelek ini mempertahankan apinya pada suhu yang tepat sampai seluruh daun itu berpijar sempurna."


Arya menyadari poin penting di sini. Sekarang bukan lagi tentang meleburnya,  akan tetapi membuat daun Bayam Tiga Jari sampai pada titik kekerasan yang hanya diketahui krama, secara sempurna.


Rewanda tampak akan bicara, tapi kembali terdiam. Arya juga baru kali ini melihat Iblis kera itu ragu. Tak berbeda dengan Krama. Saat ini, dia begitu gugupnya.


"Rewanda, Krama. Kita semua adalah keluarga. Bahkan, kalianlah keluarga terdekatku. Aku percaya pada kemampuan kalian berdua. Jadi, jangan jadikan ini beban. Jika kita gagal, kita hanya harus mencari jalan keluar lainnya."


Setelah Arya mengatakan itu, mata kedua Iblis tersebut berubah.


"Maaf, Raja. Aku tidak akan ragu lagi."


"Baiklah, mari kita lakukan."


Diluar sana, Karpatandanu menunggu cemas. Tidak tau apa yang membuatnya begitu gelisah. Padahal, dengan kerang Darah Batu, Citra Ayu sudah pasti selamat.


"Tidak usah terlalu memikirkannya. Bukankah kau percaya padanya?"


Sultan negeri Pasir Putih itu kembali tertegun saat Rangkupala kembali mengingatkannya. Namun, saat itu dia menggelengkan kepala.


"Aku berharap saat ini, Ibunya ada di sini. Agar dia bisa melihat sekuat apa anaknya berjuang untuk hidup."


Rangkupala hanya bisa menarik nafas pasrah. Karpatandanu memang tidak berniat menutupi siapa ibu dari Citra Ayu lagi.


Akan tetapi, dengan kekuatan yang telah di lihat sendiri oleh pendekar yang bergelar si kebojalang itu, tentu saja dia memang bisa menebak Citra Ayu adalah anak siapa. Bahkan, Karpatandanu juga terkejut saat menyadari bahwa Rangkupala mengetahui keberadaan Nilam Sari istrinya.


Satu Hari berlalu, sesuai dengan apa yang di ajarkan Luna sebelumnya, para pemuda yang sebelumnya menjadi tawanan di benteng Nippokure ini, sudah bersiaga di atas tembok yang mengelilingi benteng dengan busur-busur panah.


Sementara itu, di dalam mereka telah bersiap membuat rintang yang akan membuat pasukan musuh akan sulit menembus walaupun mereka berhasil masuk.


Dan di sinilah perbedaan Luna, gadis itu meminta mereka bertempur di luar alih-alih di dalam benteng. Itu akan memudahkan mereka.


Sebelum masuk keruangan dan berdiam di sana, Ciel sudah menemukan beberapa lorong rahasia di benteng ini. Luna meminta para pendekar memanfaatkan itu sebagai pancingan dan mengubur pasukan Nippokure di sana begitu mereka memasukinya.


Saat sore hari, beberapa orang pengintai telah kembali. Sebuah berita yang mengejutkan langsung mereka sampaikan.


Sempat mengira apa yang mereka lihat adalah Pasukan Serikat Oldenbar sebekumnya, ternyata tidak. Akan tetapi, itu tidak mengurangi apa yang membuat mereka cemas.


Tidak hanya pedang. Pasukan Nippokure yang sedang berjalan ke tempat mereka, datang dengan senjata lainnya.


Sudah bisa ditebak kenapa awalnya mereka mengira di sana juga ada Oldenbar. Pasukan Nippokure datang dengan puluhan senjata pelontar.


"Terimakasih, meski ini kabar buruk, tapi ini cukup bagus. Setidaknya, kita mengetahui seberapa kuat lawan yang akan kita hadapi."


Senjata sihir adalah alat uang membuat level kependekaran tidak berarti. Seorang anak kecil, bahkan mampu membunuh beberapa orang pendekar suci dengan senjata itu.


Kabar baiknya adalah, Pasukan itu pasti akan tiba lebih lama. Hal itu, memberi mereka setidaknya waktu lebih lama dari yang mereka perkirakan.


"Jemba. Kenapa Tuan Muda memaksa kita bertarung di lapangan terbuka. Bukankah kita bisa menahan mereka di benteng?"


Rangkupala menggeleng. "Dia mengingatkan. Beberapa pendekar dari pasukan itu, mampu berjalan di dinding bahkan langit-langit ruangan."


Karpatandanu dan Salendra tentubsaja terkejut mendengar itu. Akan tetapi, itu tidak mengubah fakta bahwa bertempur dari benteng tetap akan memudahkan mereka.


"Nona Luna juga mengingatkan bahwa, jika kita, mungkin tetap bisa melawan mereka. Akan tetapi jika beberapa orang dari kita begitu terkejutnya melihat kemampuan itu, maka mental pasukan kita akan melemah. Karena, melihat sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Hal itu, bisa membuat mereka berfikir bahwa kita tidak akan mampu mengalahkan musuh-musuh kita."


Salendra dan Karpatandanu mengangguk dan tersenyum.


"Meski Nippokure sangat kuat, Aku benar-benar bersukur bukan Tuan Muda dan yang lainnya yang menjadi musuh kita."


"Ya, kita hanya akan menjadi bulan-bulanan mereka jika keempat orang itu berseberangan dan berperang melawan kita."