
Akan selalu ada pihak yang memanfaatkan situasi walau kondisinya sedang terjepit. Serikat Oldenbar di bawah pimpinan Edward, adalah contoh nyata hal tersebut.
Dia tidak meragukan perkataan Luna dan kedua gadis yang bertemu dengannya di Pusat kota. Edward menyadari kesalahannya saat terlalu cepat mengambil keputusan dan mengirim pasukan di bawah komando Kenneth dan beberapa petinggi lainnya, ke Lembah Haru dan bergabung dengan Sekte-sekte aliran hitam di sana.
Sementara itu, Edward tidak memikirkan kemungkinan bahwa pegunungan Singa Emas yang telah mereka rebut dari Darsapati, sedang dalam keadaan rentan.
Hanya saja, ada beberapa hal yang membuat Edward mengambil keputusan itu sebelumnya.
Pertama, dia tidak memperhitungkan bahwa Arya adalah ancaman. Sebab, dia tidak menyangka pemuda yang telah menyembuhkannya dari racun dan mengembalikan kekuatan uniknya itu, akan berbalik menyerangnya.
Kedua, jika Arya memang memiliki kelompok tertentu di belakangnya, pastilah kelompok itu sangat kuat. Jika Arya ingin menaklukkan Basaka, tentu akan sangat mudah baginya.
Namun, saat gadis-gadis itu mengungkit nama Darsapati, Edward langsung berpikir cepat. Jika Darsapati memang berada di belakang Arya, berarti semuanya memang sudah direncanakan, jauh sebelum siapapun menyadarinya.
Edward menyimpulkan, apapun tindak tanduk yang dilakukan Arya, pastilah sebuah pengalihan dan itu berjalan dengan sangat lancar.
"Sial! Apa di meremehkan kekuatanku?!"
Mengambil resiko dengan mengembalikan kekuatan seseorang, demi sebuah pengalihan dan membuat orang itu lengah adalah hal biasa dalam pertempuran.
Akan tetapi, Edward adalah pemimpin serikat Oldenbar. Jika Arya melakukan hal tersebut, tentu saja Edward merasa bahwa Arya menganggap kekuatannya bukan apa-apa.
"Pemimpin! Tuan Fyn mengirim seseorang lagi."
Salah satu bawahannya menyela saat Edward sedang memikirkan berbagai kemungkinan dan tindakan tepat apa yang akan dia lakukan jika apa yang fikirkannya itu, terjadi.
"Suruh dia masuk. Sekecil apapun informasi, akan sangat berguna sekali. Semoga Kenneth tau apa yang harus dilakukan saat ini."
"Baiklah!"
Tak lama, seseorang masuk ke ruangannya. Saat Edward melihatnya, ternyata itu bukan anggota Oldenbar. Hal itu membuat pemimpin serikat Oldenbar itu, sedikit terkejut.
"Tuan Edward, aku di utus Tuan Fyn untuk menyampaikan sebuah informasi."
"Ya. Katakan!"
"Baik! Begini ... "
Mulailah utusan itu menjelaskan situasi di lembah Haru, hampir sama dengan apa yang dilaporkan oleh anggota Oldenbar yang lebih dahulu datang sebelumnya, kini berita yang di bawa utusan tersebut, di tambah tentang Arya sedang bernegosiasi dengan Kelang dan beberapa wakil sekte aliran hitam di Lembah Tonda.
Itu kenapa, penyerangan pada Basaka diputuskan untuk di tunda.
Namun, ada angin segar bagi Edward saat itu. Ternyata orang yang kali ini di utus, adalah perwakilan dari beberapa sekte yang telah bekerja sama dengan serikat Oldenbar terlebih dahulu.
Mereka siap bergerak sesuai dengan pergerakan Oldenbar. Meski, itu berarti mereka harus berperang dengan Sekte aliran hitam atau kerajaan sekalipun.
Mereka tidak perduli asalkan Oldenbar memberikan mereka sumber daya yang cukup, serta hadiah yang besar.
Tentu saja tambahan kekuatan itu, kembali membuat Edward memiliki pilihan dan daya tawar.
Mungkin saat ini kubu Sekte aliran hitam merasa di atas angin, tapi jika tiba-tiba serikat Oldenbar beralih dan berpihak pada kerajaan, itu akan sangat berbeda.
"Baiklah. Katakan pada pemimpin kalian, Aku menyetujui semua persyaratannya. Kirim beberapa perwakilan kemari untuk langsung bergerak di bawah perintahku!"
Kembali pada rencananya, Edward tidak akan membuang-buang waktu untuk mendatangi pusat serikat Oldenbar.
Akan sangat terlambat baginya untuk bertindak, jika ada perubahan besar di Basaka atau Daratan Timur secara keseluruhan, jika saat ini dia mengerahkan pasukannya untuk merebut kembali pegunungan itu.
"Haha ... Akan selalu ada tikus-tikus bodoh yang bisa dimanfaatkan. Itu kenapa aku sangat senang saat ditugaskan di Daratan ini. Mereka belum mengerti apa itu pertempuran yang sesungguhnya."
Di dalam ruangan itu, Ludwig yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan semuanya, kini angkat suara.
"Pemimpin. Menurutmu, apakah Pemuda yang bernama Arya ini benar-benar punya pasukan yang sanggup memerangi seluruh kelompok di waktu bersamaan?" Ludwid berdiri dan berjalan memdekat.
"Menurutku, mereka hanya pandai berbicara dan memiliki banyak trik untuk menyudutkan dan membuat kita lengaj. Hingga saat ini, tidak ada yang bisa membuktikan hal tersebut. Bisa saja sebenarnya, di pegunungan Singa Emas, tidak terjadi hal apapun."
Selama kemunculan Arya, meski memiliki perjanjian dagang sekalipun, Oldenbar tetap mengirim beberapa orang untuk mencari kebenaran tentang asal usul pemuda itu. Namun, tidak ada hasil yang memuaskan.
Selain Fakta bahwa Cabang serikat Oldenbar di bukit tengkorak, benar-benar hancur tak bersisa. Namun, tidak ada bukti nyata bahwa Arya terlibat di sana.
Karena serikat Oldenbar memiliki daftar sekte-sekte yang ada di sana. Laporan orang yang dikirim mereka hanya mengatakan bahwa Lamo dan Salu, memenangkan pertempuran melawan tiga sekte lainnya meski dibantu serikat mereka. Sekarang keeduanya sibuk menggabungkan semua kekuatan mereka dan membangun ulang Sekte memjadi lebih besar. Itu saja.
Sementara, sebelumnya Oldenbar tau benar kekuatan sekte-sekte di sana. meski di tambah tiga pendekar wanita yang hanya memiliki level pendekar raja, tentu tidak akan berpengaruh sama sekali. Kemenangan itu, sepertinya murni keberuntungan perang saja.
Di lain sisi, Tidak ada yang cukup kaya, apalagi sekaya Arya. Mereka tidak akan tergoda dengan Pil Zulu jika sejak awal, mereka telah memiliki seorang Master Alchemist di pihak mereka.
Sekarang, Edward mempertimbangkan kembali pendapat Ludwig. Lama dia berfikir sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Ludwig, tentang senjata-senjata yang hilang tersebut, menurutmu, siapa yang mengambilnya?"
"Pemimpin. Darmuraji sudah mendatangkan ratusan pendekar Suci. Ini pergerakan yang sangat tidak biasa. Mungkin salah satu atau beberapa dari mereka Ikut terlibat dan menyimpan senjata itu, untuk berjaga-jaga." Jawab Ludwig, dan kembali berfikir.
"Jika membandingkan kekuatan antara kerajaan dan Sekte aliran hitam sekarang, Kelang dan Daga hanya menang jumlah. Sementara itu, Darmuraji memiliki kekuatan yang berpengalaman."
Kening Edward seketika berkerut. Mendadak kepalanya terasa sakit. "Jika Darmuraji sudah sekuat itu, mereka sama sekali tidak punya daya tawar yang bagus pada pihak kerajaan.
Lalu, saat itu bayangan Arya muncul lagi dalam kepalanya yang terasa ingin meledak itu.
"Kita benar-benar telah dipermainkan. Sampai sekarang, Terlepas kebenaran tentang kelompok di belakangnya, Ternyata pemuda itulah yang mengendalikan semuanya. Kemana dia berpihak, itu akan menentukan kemenangan. Jelas alasan Darmuraji bertidak sejauh ini, karena sesuatu yang pemuda itu miliki."
Edward kembali pada jalan buntu. Akan tetapi, setidaknya sekarang serikat Oldenbar memiliki dukungan dari kekuatan lain.
"Pemimpin. Sebaiknya, Kita tunggu saja perkembangannya. Kita tidak bisa bertindak gegabah. Jika mereka berperang, kita bisa menjadi penonton terlebih dahulu, dan bertindak setelahnya."
Edward langsung mengangguk." Ya. Kau benar. Jika begitu, perintahkan semuanya untuk bersiaga. Tempat ini akan menjadi markas sementara kita!"
Saat ini Oldenbar berada di salah satu kota kecil bernama Sembak. Sebuah kota kecil yang sudah menjadi daerah yang dikuasainya beberapa waktu yang lalu. Lokasi kota itu, tidak beberapa jauh dari Basaka, maupun Lembah Haru.
Sementara itu, sedikit jauh di luar, tepatnya di jalan di tengah hutan, Saat berniat merusak ketengangan Edward dan Oldenbar, Luna dan yang lainnya sempat melihat beberapa pendekar masuk ke kota itu.
Beruntung di sana saat itu ada Ciel yang cepat menyadarinya, sehingga Rewanda mengikuti mereka dan berhasil mendapatkan informasi penting.
Mereka langsung mengurungkan niat dan memikirkan cara lain untuk melemahkan Oldenbar saat itu juga.
Sekarang, saat pendekar-pendekar itu keluar, mereka berhasil menyergapnya. Tidak perlu usaha Keras bagi mereka untuk melumpuhkan pendekar-pendekar tersebut.
Mereka telah kehilangan separuh nyawa saat Rewanda menunjukkan wujud iblisnya. Dan ketiga gadis itu, hanya menyelesaikan sisanya.
Luna merasa sangat puas dengan usaha mereka malam itu.
"Kita tidak perlu lagi melakukan apapun. Jika berita ini tidak sampai pada Kenneth. Oldenbar dengan sendirinya akan terpecah saat perang di mulai."
"Jadi, Bagaimana cara kita membuat mereka saling menyerang, jika tidak ada yang memulainya?"