
"Sekarang ... !!"
Salah satu pemimpin itu berteriak, sesaat kemudian mereka menyerang Arya bersamaan.
"Pernafasan Beruang."
"Tinju Beruang ... "
"BOOOOOMMM ... "
Dengan jurus pukulan yang dia pelajari dari kitab Pernafasan Beruang Tanah. Arya meninju lantai tempat dimana dia berdiri. Seketika itu jaga, seluruh bangunan itu rubuh.
Mereka semua yang ada di sana, ikut Ambruk bersama puing-puing bangunan tersebut.
"MATRA ... !"
"Omi ... Obi!"
"Bussssst ... "
Belum sempat tujuh orang itu menjejak tanah. Air dengan tekan besar langsung menghantam mereka dan melempar semuanya tunggi ke udara.
Rangkupala dan Salendra yang tengah duduk di teras bangunan itu, langsung terperanjat. Beruntung mereka segera melompat menjauh.
Mata mereka melebar saat melihat air dalam jumlah besar baru saja menyeruak dari bangunan itu.
"Jemba ... Apa itu?"
Kedua mata mereka benar-benar terbelalak saat melihat tujuh orang terpental sangat tinggi di udara.
Belum lagi sebelumnya mereka mendapati bangunan rubuh yang tiba-tiba saja menembakkan air yang sangat besar dari bawah tanah.
"Jangan bertanya ... Menghindarlah ...."
Saat ini, Tembakan air itu juga menyebabkan Puing-puing bangunan tersebut beterbangan kemana-mana.
Arya tidak memberi jeda. Saat itu juga, dia melompat sangat tinggi menyusul tujuh orang tersebut ke udara.
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
Arya langsung memberikan pukulan sangat kerasa pada ketujuhnya, hingga membuat momentum kejatuhan mereka bertambah.
Tujuh orang itu benar-benar melesat seperti anak panah, sebelum akhirnya mendarat di tanah.
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
"Boooom ... "
Sekali lagi sisa puing-puing bangunan itu beterbangan. Saat menyadarinya. Dua pendekar tua segera menjauh dari sana.
"Salendra ... Ini benar-benar bukan panggung kita."
"Ya, anak-anak muda ini, memiliki cara bertarung yang aneh. Beruntung kita tidak bertemu salah satunya saat masih muda."
"Ya, sebaiknya kita menunggu di gerbang saja."
Saat mendarat di tanah, Arya melihat sudah ada cekungan di sana. Di dalamnya sudah ada tujuh perwira pasukan Nippokure yang terbaring.
Tidak salah jika mengebut mereka petinggi. Bahkan setelah Arya memukul mereka dengan sangat kuat dan berakhir menghantam tanah dengan sangat kuat pula, Namun, hal itu tidak cukup untuk membunuh mereka semua.
"Sial, dia bukan manusia ... "
Teriak salah satu dari mereka, saat mencoba berdiri. Namun, tidak ada satupun dari mereka mencoba untuk lari setelah mengatakan hal tersebut.
"Hehe ... Hehe ... Tidak ku sangka akan bertemu musuh sekuat ini, di Daratan ini."
"Ya, ini sangat menarik."
Meski dua pemimpin mereka tersenyum, namun tidak lima lainnya. Ini benar-benar musuh terkuat yang pernah mereka lihat. Bahkan, mereka harus menerima kenyataan bahwa sekarang mereka sedang menghadapinya.
"Kita sudah melihat yang terkuat. Jadi, ini tidak terlalu menakutkan."
Saat itu, Arya hanya diam dan memperhatikan mereka semua. Dia sudah tau bahwa musuh-musuh nya saat ini, sama sekali tidak gemetar saat melihatnya.
Itu jelas menandakan bahwa dua orang yang memimpin pasukan Nippokure di negeri Jampa ini, telah melihat seseorang yang lebih kuat dari Arya.
"Kau, siapa kau dan apa maumu sebenarnya?"
Arya tidak menjawab. Dia hanya melihat sekitarnya. Saat itu, dia mengetahui musuh-musuhnya ini, sedang merencanakan sesuatu.
Arya menyeringai dan berbicara "Aku, Arya ... Arya Mahesa."
"Kami tak bertanya namamu, tapi di kerajaan ini, dari mana kau berasal dan apa tujuanmu?"
Berfikir bahwa Arya akan terus menjawabnya, mata salah satu pemimpin itu melirik pada kelima anggota nya.
"Jika kalian berfikir racun dari senjata-senjata yang kalian lemparkan itu mampu membunuhku, maka kalian sudah melakukan kesalahan."
Kata-kata Arya, sontak membuat mata mereka melebar. Memang inilah rencana mereka sebelumnya, melumpuhkan Arya dengan racun dari senjata itu.
Akan tetapi, siapa yang menyangka bahwa pemuda tersebut sudah menyadarinya.
"Kalian bertanya padaku darimana aku berasal, bukan?"
Saat itu, dahi pemimpin pasukan Nippokure itu berkerut. Sebenarnya, ini benar-benar tidak mereka duga.
Sebagai pasukan militer, mereka sudah menyelidiki semua kekuatan yang ada di Daratan Barat ini. Tidak ada informasi yang menyebutkan bahwa adanya pendekar dengan kemampuan seperti yang saat ini mereka hadapi.
"Baiklah. Aku berasal dari tempat di mana seekor serangga, bisa membunuh seorang pendekar suci dan ... Ini tidak pernah aku ucapkan sebelumnya. tapi, ketahuilah, saat ini, kalian sedang berhadapan dengan Raja tempat itu."
Sempat terperangah saat mendengar kata-kata Arya tersebut, detik berikutnya mereka merasakan waktu seolah berhenti.
Karena, pemuda yang baru saja mengaku Raja dari sebuah tempat yang sepertinya sangat berbahaya itu, menghilang dari hadapan mereka.
Berbicara tentang kecepatan, tentu saja tadi Arya sudah sangat cepat sekali. Namun saat ini Arya bergerak jauh lebih cepat lagi.
Yang tidak mereka sadari adalah, Arya sangat cepat belajar. Melihat bagaimana mereka mengkontrol tenaga dalam, Arya langsung mencobanya pada dirinya. Hasilnya, Arya bisa meningkatkan kecepatannya hingga dua atau tiga kali lipat karenanya.
"Sial ... Kemana ... Emmppphhh!"
Pemimpin itu, tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Karena saat itu Arya sudah berada di sampingnya. Tentu saja tidak hanya berdiri saja, Air sudah menempel menutupi mulut dan hidungnya.
Enam lainnya sangat terkejut melihat itu, Namun, saat mereka berkedip sekali saja, Arya kembali menghilang dan audah berdiri di dekat pemimpin yang lainnya.
"Laaaaariiiiiii ... ".
Tentu saja itu sudah sangat terlambat. Saat ini Arya sudah melesat mengejar mereka. Satu persatu mereka di lewati Arya. Bahkan, yang terakhir di dekati, hanya mampu menjauh sebanyak lima langkah saja.
Mereka semuanya langsung jatuh berlutut berusaha melepaskan air yang menempel di wajah mereka terebut. Namun, mereka tidak berhasil.
Ini cukup mengherankan. Karena dua pemimpin pasukan Nippokure itu juga pengendali elemen Air. Namun saat itu, mereka merasa air yang ada di wajah mereka menolak untuk di kendalikan.
Salah satunya bahkan berfikir bahwa air itu memiliki kesadaran sendiri, dan menolak untuk di kendalikan.
Kedua pemimpin itu, sudah menyadari bahwa kemungkinan untuk selamat sudah menghilang. Ternyata lawan yang mereka hadapi memang sangat kuat dan terlebih lagi, cerdas.
Berfikir akan mati dalam keadaan seperti ini, mereka tidak terima. Karena menurut mereka, akan sangat memalukan jika pengendali air mati karena air seperti ini.
Saat itu, mereka langsung berfikir untuk mengakhiri hidup dan mati dengan cara lebih terhormat. Setidaknya, menurut tradisi mereka.
Namun sial bagi mereka. Arya tidak berniat membunuh dengan cara itu. Saat itu, di mulailah kengerian sebenarnya.
Arya dengan cepat mendatangi mereka satu persatu. Dia langsung mengubah paksa setiap arah aliran cakra petinggi pasukan Nippokure tersebut
"AAARRRRRGGGGGHHH ... "
Satu lolongan pertama itu saja, sudah membuat semua orang sadar betapa luar biasanya sakit yang kini di rasakan orang itu.
"AAARRRRRGGGGGHHH ... "
"AAARRRRRGGGGGHHH ... "
"AAARRRRRGGGGGHHH ... "
"AAARRRRRGGGGGHHH ... "
Saat ini, tersisa dua orang lagi. Arya menghampiri keduanya dan menatap mereka dingin.
"Kalian berdua, akan merasakan rasa sakit yang sesungguhnya ... "