ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tiga Cara


Empat hari kembali berlalu. Sehari sebelumnya, Rangkupala telah kembali. Dan hari ini, Salendra juga sudah tiba.


Saat baru saja tiba, Rangkupala sangat terkejut dengan keadaan Citra Ayu yang terbaring lemah. Hal ini sangat tidak diduganya.


Sempat berfikir Citra Ayu benar-benar memiliki kemampuan seorang legenda, namun keadaan sekarang menyatakan sebaliknya.


Menurutnya, saat Ini Citra Ayu benar-benar terkena dampak dari kutukan pemiliki pusat energi elemen logam.


Saking cemasnya, Rangkupala berniat membawa Citra Ayu, langsung bertemu dengan Lindu Ara gurunya ke Sekte Lubuk Bebuai, untuk menemukan penawarnya.


Akan tetapi, setelah Luna mengatakan bahwa Arya sedang keluar untuk mencari tanaman yang bisa menyembuhkan gadis itu, barulah Rangkupala bisa tenang dan sedikit lega.


"Salendra, kenapa selama ini kau tidak memberi tahuku?"


"Huh, apa selama ini kau pernah berniat memberi tahuku bahwa kau pangeran ke tiga kerajaan Swarna ini?"


Tidak sampai sehari saja bertemu, kedua pendekar tua itu sepertinya akan kembali berdebat.


"Huh, Mereka mulai lagi."


Luna hanya bisa menggelengkan kepala melihat adiknya itu. "Bukankah, kau dan Bai Hua juga sama."


"Kami berbeda. Aku dan Bai Hua tidak pernah bertengkar."


Memang ada persaingan kecil di antara dua gadis tersebut. Tanpa mereka sadari, keduanya telah bersaing dalam kecepatan meningkatkan kekuatan.


Namun, mereka sama sekali tidak pernah bertengkar. Itu hanya karena umur keduanya hampir sama.


Seperti kata Ciel, keduanya tidak bisa dibilang bersaing. Tapi tidak ada yang mau tertinggal dalam segi perkembangan. Karena dilihat dari segi manapun, keduanya memiliki teknik dan cara pertarungan yang jelas berbeda. Itu saja.


Rangkupala terkejut dengan pengakuan Salendra bahwa dia adalah saudara dari Jakasona. Namun demikian, dia juga merahasiakan jati dirinya sendiri dari temannya itu, puluhan tahun lamanya.


Saat mereka terus berbicara, saat itu Arya baru saja kembali dari mengumpulkan ramuan obat dan Pil. Meski mendapatkan sangat banyak, akan tetapi wajah Arya menunjukkan ketidakpuasan.


"Senior, ini banyak sekali."


"Ya, aku rasa kita akan membutuhkan banyak. Lagipula, aku tidak tau kapan akan bisa mencarinya lagi."


Mereka semua mengerti. Dalam waktu dekat, mereka pasti akan disibukkan dengan pergerakan ini.


"Arya, sepertinya ada yang salah. Ada apa?"


"Aku tidak bisa menemukan tanaman yang bisa aku olah untuk membuat obat agar tubuh Citra Ayu sedikit membaik."


Saking kecewanya, Arya tidak menghiraukan bahkan tidak menyapa Salendra dan Rangkupala. Padahal, keduanya tengah menunggu kepulangannya.


"Tuan Muda, tanaman jenis apa yang kau ingin temukan. Salendra adalah penduduk tempatan. Mungkin dia bisa membantu untuk menemukannya."


"Ya, Katakan. Mungkin aku mengetahui tentang satu dua tanaman di negeri ini, yang sedang kau cari"


"Tanaman ini, adalah jenis bayam. Jika tumbuh di tempat yang tepat, maka dia bisa berumur sangat panjang. Namun jika tidak, tanaman ini sangat mudah mati."


"Tuan Muda, Bayam jenis apa itu. Kebetulan sekali negeri Jampa ini, terkenal dengan petani sayurnya. Mungkin saja tumbuhan itu ada di suatu tempat di negeri ini?"


"Bayam Tiga jari ... Dinamakan seperti itu, karena bentuk daunnya, seperti tiga jari yang di rapatkan."


Saat itu, Arya merapatkan tiga jarinya, memberi contoh pada Salendra dan semua orang di sana.


Saat itu, Salendra langsung menggeleng, Namun tampak sedang berfikir, keras


Arya menarik nafas. "Aku rasa akan sulit. Sebab, tanaman ini harus berumur lebih dari lima ribu tahun. Sedangkan kita semua tau apa yang terjadi dengan daratan ini sebelumnya."


Semuanya lalu terdiam. Jika apa yang Arya katakan benar, maka tanaman itu tidak akan bisa di temukan. Jika ditemukan, umur nya tidak akan sampai empat ribu tahun.


"Namun, begitu. Jika ada yang memilikinya, saat daun bayam jenis ini di petik dengan benar, maka dia akan berubah jadi lempengan yang sangat keras. Itu karena kandungan elemen besi yang sangat banyak. Sebab tumbuhan ini hanya menyerap satu energi saja untuk hidup."


Tambahan penjelasan dari Arya, sama sekali tidak semakin memudahkan malah semakin terdengar sulit.


Hal itu karena perlunya orang yang mengenal jenis tanaman ini yang hidup lebih dari tiga ribu tahun yang lalu, dimana dia menemukan bayam tiga jari yang sudah berumur lebih dari lima ribu tahun dan memetiknya dengan cara yang benar, lalu menyimpan untuk lebih dari tiga ribu tahun lamanya.


Semua orang mengangguk saat Bai Hua menggumamkan kalimat itu.


"Arya, tidak adakah cara lain? Maksudku sesuatu yang bisa digunakan untuk menyembuhkan Citra Ayu, tanpa menggunakan Bayam Tiga Jari itu?"


"Sebenarnya ada cara lain. Tapi itu akan sangat sulit. Karena tempatnya ada di dalam laut. Sementara, aku tidak punya banyak pengetahuan tentang laut."


Meski Arya mengatakan itu, wajah semua orang berubah. Saat ini, mereka merasa seperti memiliki harapan.


"Arya, apa itu?"


"Kerang Darah Batu."


Saat itu semua orang saling berhadapan dan menggelengkan kepala. Tidak ada satupun yang pernah mendengar kerang jenis itu sebelumnya.


"Ya, itu adalah Siluman laut yang sangat besar. Aku tidak pernah melihatnya, hanya membaca dari catatan yang ditinggalkan guruku."


"Apakah hanya itu? ... Bukan, maksudku tidak ada cara lain lagi?"


"Ada, tapi ini sedikit ... "


Arya langsung menggeleng dan tidak melanjutkan kata-katanya. "Ah, ini bahkan lebih sulit."


"Arya katakan saja. Mungkin kami bisa membantu memikirkannya." Desak Luna.


Arya tampak berfikir sejenak. Lalu mengangguk. "Baiklah, aku akan mengatakannya pada kalian. Tapi hanya kalian bertiga. Wanita saja."


Mendengar itu, Salendra dan Rangkupala saling berhadapan dan mengangguk bersamaan, sebelum akhirnya Rangkupala bersuara.


"Baiklah, kami mengerti. Sebaiknya kalian lanjutkan. Aku dan Salendra akan coba bertanya pada para pendekar tentang kerang darah batu. Mungkin saja ada salah satu dari mereka yang pernah mendengarnya."


Setelah itu, keduanya langsung pergi meninggalkan Arya dan yang lainnya untuk meneruskan pembahasan mereka.


"Arya, apa itu? Kenapa kau mengatakan jauh lebih sulit?"


Saat itu, Arya langsung menoleh pada Bai Hua. "Bai Hua, ini adalah salah satu teknik kultivasi yang ditemukan oleh pendekar dari Benua Timur, apa kau pernah mendengar tentang teknik Kultivasi ganda?"


"Hah?! ... Apa?! ... Teknik itu? ... Benarkah?!"


Ciel dan Luna sedikit terkejut dengan reaksi Bai Hua yang tidak mereka sangka. Gadis itu terlihat begitu terkejutnya.


"Bai Hua, kau tau teknik itu?"


Bai Hua menggeleng. "Tidak, hanya saja aku pernah mendengarnya. Itu sering kali dibicarakan. Namun, aku kira itu hanya bahan lelucon untuk bercanda saja."


"Bai Hua, Seperti apa teknik itu?"


Saat Luna menanyakannya, Wajah Bai Hua langsung memerah.


"Teknik itu ... Hmmm ... Itu ... "


Bai Hua benar-benar gugup saat ingin mengatakannya. Saat itu, Matanya sekali-sekali menatap ketiganya bergantian.


"Bai Hua, kenapa tiba-tiba kau menjadi gugup? Apakah teknik itu berbahaya?"


"Bukan, yang kudengar, teknik itu tidak berbahaya sama sekali, hanya saja ... "


"Bai Hua katakan saja. Jangan bikin kami penasaran." Desak Luna, lagi.


"Jika Senior ingin menyembuhkan Citra Ayu dengan tekni itu, maka ... "


"Maka Apa?! ... " Seru Ciel sedikit frustasi.


"Senior harus menikahi Citra Ayu terlebih dahulu ... "


"HAAAAHHHH ... ?!"