
"Hiya ... Hiya ... Hiya ... !"
"Buk!" Buk!" Buk!"
"Argh!"
Buk!" Buk!" Buk!"
"Argh!"
Di tengah Daratan Barat. Kota Malka. Di Sebuah lapangan terbuka, di area istana. Seorang pria berumur sekitar empat puluhan sedang berlatih.
Di depannya ada ratusan pendekar ahli dan beberapa pendekar ranah bumi tingkat pertama yang beradu jurus dan tenaga dalam dengannya.
Semua dari mereka telah mendapat setidaknya satu atau dua pukulan darinya selama latih tanding itu.
Bahkan saat ini, dia sama sekali belum mengeluarkan sedikitpun tenaga dalamnya untuk melawan mereka.
"Paduka ... !"
Para pendekar yang berlatih dengannya langsung merasa lega, saat seseorang menyela latihan mereka.
Orang itu adalah Raja istana Malka, Adiaksa. Seorang pendekar Ranah Bumi tingkat tiga. Tegas dan keras kepala seperti ayahnya. Namun, pendiam, pendendam dan juga kejam.
Seorang jenius beladiri yang begitu diberkahi, yang Lahir dari keluarga kerajaan Swarna.
Dengan dukungan sumber daya yang sangat melimpah. Adiaksa sudah berada di level pendekar ranah bumi tingkat pertama di usia yang sangat muda.
Selain pamannya Rangkupala atau jemba si Kebojalang, Adiaksa di yakini satu-satunya pendekar yang bisa mencapai level kependekaran ranah bumi tingkat tiga sepanjang sejarah kerajaan Swarna.
Namun, sebentar lagi dia akan membuat sejarah baru. Karena saat ini Adiaksa sudah berada di tahap akhir. Hanya butuh sedikit dorongan lagi agar pria itu menembus level pendekar Ranah bumi tingkat empat, dan menjadi legenda baru di Kerajaan Swarna ini.
Berbeda dengan pendekar suci. Ranah Bumi memiliki rentang jarak kekuatan yang sangat jauh untuk satu tingkat saja.
Sumber daya melimpah saja tidak cukup untuk mencapai level ini, apalagi untuk naik setiap tingkatnya.
Selain latihan yang sangat keras, Perlu beberapa Pil khusus yang terbuat dari bahan yang sangat langka, untuk bisa menembus tingkatan pendekar Ranah Bumi. Jika tidak, untuk menaikkan satu tingkat saja, bisa memakan waktu lima sampai lima puluh tahun lamanya.
Hal ini juga tergantung bakat serta keberuntungan. Hal itu Karena tidak banyaknya metode untuk menaikkan tingkat yang sudah ditemukan.
Setiap pendekar yang berusaha menaikkan levelnya berkemungkinan menghadapi kematian saat mencobanya.
Beruntung, saat ini, beberapa cabang ilmu sudah menemukan berbagai jenis Pil yang bisa mendorong dan memaksa kekuatan seseorang. Hingga dengan metode yang tepat, kenaikan tingkat bisa di percepat.
Di sinilah Adiaksa sekarang. Berlatih secara gila-gilaan setiap harinya. Berusaha melebihi sang legenda dan menjadi legenda baru di kerajaannya.
Tujuannya hanya satu. Diakui dan dinobatkan menjadi Maharaja kerajaan Swarna. Tahta yang memang sudah sepantasnya menjadi miliknya. Setidaknya, itulah yang semua orang dekatnya pikirkan saat ini.
"Banjanang ... Ada apa? Apa kau tidak melihat bahwa aku sedang berlatih?"
Banjanang, salah satu orang setianya itu, Hanya bisa menggelengkan kepala. "Paduka, jika kau terus berlatih dengan mereka, kau hanya akan membuat mereka cedera. Sementara kekuatanmu tidak akan bertambah."
"Jika begitu, bagaimana denganmu.?"
"Hahahaha. Kalau saat ini sepuluh tahun yang lalu, aku tidak akan menolak. Tapi sekarang, lebih baik aku menyerang Barus seorang diri." Jawab Banjanang, enteng.
Adiaksa menarik nafas panjang untuk menenangkan diri dan kembali mengendorkan otot-ototnya.
Setelah empat hari berlatih tanding tanpa jeda sedikitpun, tidak mungkin Banjanang datang menghentikannya tanpa membawa berita yang tidak penting.
"Katakan, ada apa?"
"Perlu sedikit waktu, tapi Aku sudah menemukannya."
Kata-kata Banjanang membuat wajah Adiaksa menjadi cerah. "Benarkah? Apa kau membawanya?"
"Belum, tapi mereka dalam perjalanan kemari."
"Banjanang, apa maksudmu, mereka?"
Adiaksa selalu bersemangat bagitu mendengar kata kuat dan hebat. Saat itu juga, darahnya memanas seolah ingin menantang orang itu.
"Apakah dia memang kuat?"
Banjanang mengangguk. "Tiga dari mereka, juga memiliki tingkat yang sama dengan mu. Tapi, satu orang ini, benar-benar berbeda."
"Berbeda? Katakan. Apa perbedaanya? Apakah dia sudah di tingkat empat?"
"Hahahaha. Jika empat aku tidak akan sesenang ini untukmu. Orang ini, berada di tingkat lima akhir. Dan orang ini juga akan membantumu untuk menaikkan tingkatmu."
Adiaksa benar-benar bersemangat. "Banjanang, kali ini kau bekerja dengan sangat hebat. Katakan, apa yang kau inginkan. Aku akan segera mengabulkannya."
"Hahahahaha. Paduka, apakah aku pernah meminta hal lain dari mu?"
Adiaksa menggeleng. "Tidak. Kau bahkan tak pernah meminta apapun selain satu hal."
"Ya. Aku hanya minta itu. Jadilah Maharaja Swarna. Itu saja permintaanku."
Adiaksa langsung berlutut di depan Banjanang. "Guru, aku akan mewujudkan keinginanmu ini. Aku bersumpah demi ibuku."
"Hahahahaha. Bagus ... Bagus. Aku hanya meminta itu. Setelah itu, aku akan hidup dengan penuh kebanggan. Hahahahaha!"
Adiaksa mengangguk. "Terimakasih."
"Paduka. Ada satu hal lagi." kata Banjanang tiba-tiba.
"Katakan, apa itu?"
Banjanang berjalan sedikit ke depan dan membelakangi Adiaksa. Sebuah sikap yang seharusnya tidak pantas ditunjukkan di depan seorang raja. Tapi karena Banjanang adalah gurunya, Adiaksa sama sekali tidak merasa direndahkan.
"Lindu Ara. Pemimpin Sekte Lubuk Bebuai. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkan pendekar wanita terkuat itu saat ini."
"Aku rasa, bukankah sebaiknya kita menghancurkan Sekte itu secepatnya?"
Banjanang menggeleng cepat." Adiaksa, Inti Tanah bukanlah nama sebenarnya. Itu adalah sebuah kunci. Sudah aku katakan sebelumnya, Ada alasan kenapa kita membiarkan Lubuk Bebuai mencurinya, bukan?"
"Ya, Kau bilang itu untuk memancing mereka dan sampai sekarang, aku tidak tau apa yang sedang kau pancing."
"Lubuk Bebuai tidak hanya Sekte biasa ada alasan kenapa mereka bisa begitu kuat padahal, mereka adalah wanita. Di Daratan Timur ada Singa Emas. Dan di sini ada mereka. Kedua sekte ini punya sejarah panjang."
"Guru, apakah maksudmu dengan Inti Tanah, kita akan mengungkap Rahasia mereka?"
Banjanang berbalik dan menatap tajam pada Adiaksa.
"Adiaksa, dengar! Swarna ini bukan kerajaan yang bisa di remehkan dunia. Serikat Oldenbar dan pasukan Toshi Mamura dari kekaisaran Nippokure menancapkan bendera mereka di sini bukan tanpa alasan."
Tidak seperti kakaknya Aditya, Adiaksa tidak cukup pintar dalam urusan kerajaan apalagi sejarah.
Dia memimpin Malka itu karena Ayahnya merasa hanya dia yang mampu menekan para sultan di Daratan Barat ini, dengan kekuatannya.
Sebenarnya, alih-alih memimpin, Raja Malka ini hanya sibuk latihan dan terus membangun kekuatan. Sementara itu, urusan kerajaan dia serahkan pada Banjanang.
"Guru, kau tau bagaimana diriku. Katakan saja langsung maka aku akan mengerti."
"Adiaksa. Jika kau menjadi maharaja tanoa memegang dua benda ini, maka kau hanya akan di akui di Swarna. Tapi, jika kau memegang dua benda pusaka ini, tidak hanya Swarna. Bahkan, seluruh Dunia akan mengakuimu dan mencoba bersekutu denganmu."
Mata Adiaksa melebar. Baru kali ini Banjanang mengungkitnya. "Guru, katakan apa dua benda itu?"
"Pedang Bahuraksa dan—"
Kata-kata Banjanang teroitongbsaat seorang prajurit istana masuk dan melapor.
"Ampun beribu Ampun. Tabik Paduka. Sembah patik harap terima. " Ucap prajurit itu, sambil berlutut.
"Katakan, ada apa?"
"Burung terbang menentang angin. Membawa pesan dari pesisir. Dua kabar sekali datang. Pasir Putih dan negeri Ambang."