ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Baju Yang Kotor


Arya menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. " Aish! Ini baju pemberian kakek yang paling aku sukai " ujarnya ketus.


Semua yang berada di sana tidak percaya apa yang sedang mereka saksikan. Gandala si Cakar Setan yang sudah berada di level pendekar Mahir tingkat tiga atau mungkin sudah berada di level Ahli tingkat pertama, mati konyol di depan pemuda yang sama sekali tidak mengeluarkan tenaga dalam itu.


Jabo sendiri kini benar-benar membeku di tempat nya berdiri. Tatapan Arya kini seolah mengunci setiap sendi di tubuhnya.


" Sebagian dari kalian pasti tau apa yang akan terjadi jika ada salah satu dari kalian mencoba melarikan diri bukan? " Arya kini berjalan mendekat pada ratusan Anggota Kelabang Hitam. " Kalian boleh mencobanya jika mau " tawar Arya.


Jabo dan beberapa anggota yang mengetahui hal tersebut menjadi panik. " Semuanya! Jangan ada yang bergerak dari tempat kalian! " perintahnya.


Tentu saja sebagian besar dari mereka tidak mengerti kenapa Jabo memerintahkan semua orang untuk tidak bergerak dari tempat mereka. Termasuk beberapa orang yang berdiri tidak jauh darinya saat ini.


Lelaki yang terlihat seumuran dengan Jabo menatapnya heran " Jabo! Siapa kaunfikir dirimu yang berani-beraninya memerintahku? "


Jabo melirik pada orang yang protes tersebut dengan wajah kesal " Ah! Baya, ikuti saja kata-kataku! Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat! "


" Aku tidak ingin berdebat denganmu. Tapi aku tak mengerti apa yang kau takutkan dari pemuda ini? " katanya sambil menatap Arya.


" Apa maksudmu? Kau lihat sendiri bagaimana Ki Gandala dikalahkan begitu mudah oleh tuan pendekar ini bukan? " jawab Jabo, seolah membela Arya bisa membuatnya selamat dari apapun hal bodoh yang sebentar lagi akan dilakukan oleh temannya yang bernama Baya ini.


" Hahahaha! Aku tidak sama sepertimu, dilihat dari manapun. Anak ingusan ini tidak memiliki tenaga dalam sama sekali. Dan soal Gandala itu ... CK ... Julukan Cakar Setan tersebut sepertinya hanya untuk menakuti-nakuti saja! "


" Baya! ... Apapun yang ada di kepalamu sekarang, jangan kau lakukan,  Atau— "


Terlambat sudah, Baya dengan cepat mencabut pedangnya dan langsung menghunuskannya pada Arya. Pergerakannya yang cepat tersebut berhasil membuat pedangnya menancap pada perut Arya dan dengan cepat pula dia menarik pedang tersebut kembali lalu menyarungkannya.


" Hahahaha! Seperti dugaanku. Anak ini tidak melakukan apapun untuk membunuh Gandala itu. Bahkan dia tidak berhasil menghindari pedangku ini! "


Baya merasa puas saat melihat tusukannya berhasil membuat luka yang dalam pada perut Arya. Menurutnya tubuh Arya bukanlah tubuh seorang pendekar. Dia bisa merasakan bagaimana mudahnya bagi pedangnya menembus kulit Arya.


Arya memegang perut nya yang kini mengeluarkan darah. " Kau ... " Arya menatap Baya dengan tatapan kesal.


" Aku? ... Knapa? Kau merasa dicurangi karena aku menyerangmu tiba-tiba? Hahahahaha! Aku bukan pendekar seperti laki-laki bodoh itu! Hahahahaha! " kata Baya sambil menunjuk ke arah mayat Gandala.


" Kau, membuat baju ini semakin kotor! " kata Arya kesal.


Tawa baya langsung terhenti dan matanya seketika melebar. Dia menduga serangannya berhasil membuat luka yang cukup parah hingga tak lama lagi pemuda didepannya ini akan segera tersungkur ketanah. Namun, hal itu tak terjadi. Sangat jauh dari dugaannya.


Pemuda itu malah mengatakan sesuatu yang terdengar tidak masuk akal sama sekali baginya.


" Baju? ... Kotor? " Baya bergumam kecil.


Baju yang Arya gunakan adalah pemberian dari Obskura. Meski ada beberapa baju lainnya, Namun ini yang paling dia suka. Sekarang, belum sehari memakainya, baju ini sudah kotor berlumuran darah.


Hal tersebut mengejutkan semua orang disana. Luka tusukan yang diberikan Baya pada pemuda tersebut sama sekali bukan masalah baginya. Namun, bajunya yang kotorlah yang sepertinya membuat pemuda itu sekarang sangat murka.


Kesal, Arya langsung menangkap tubuh Baya dan melemparnya tinggi ke udara. Kejadianya jauh lebih cepat. Tapi tubuh baya yang melambung ke atas tersebut disaksikan oleh semua pasang mata di sana.


Baya yang tidak menyangka itu akan terjadi, kini hanya bisa berteriak saat tubuhnya melayang di udara hampir setinggi pohon kelapa. Saat tubuh nya hendak kembali menjejak tanah, Arya menambah momentum jatuhnya dengan memukul tepat di punggung Baya.


Tubuh Baya menghantam tanah dengan sangat keras menimbulkan suara dentuman disertai suara tulang-belulang yang remuk. Semua lobang yang ada ditubuhnya mengeluarkan darah segar. Tubuh Baya nyaris pecah bagai telur atau bahkan sekarang memang sudah pecah. Tidak ada yang berfikir untuk membuka baju baya memastikannya.


Bagi semua penjahat disana sekalipun, cara Arya membunuh Baya terlihat sangat bar-bar. Meski mereka sama sekali belum pernah mendengar kata bar-bar seumur hidup mereka.


Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di Udara, Baya tak pernah menyangka dia akan berakhir seperti ini. Sungguh menyedihkan menerima bahwa dia akan mati hanya karena mengotori baju seorang pemuda. Kematian yang sangat konyol sekali. Merusak harga dirinya sebagai salah satu petinggi Kelabang Hitam.


Kejadian itu menyebabkan keheningan yang cukup lama. Sugal dan Anggitabsekte Awan Senja jugankeluarga Barda disana. Benar-benar bersukur bahwa Arya bukan musuh mereka.


Setidaknya, Sugal merasa melawan Gandala masih jauh lebih memungkinkan untyk bertahan hidup daripada menghadapi pemuda itu. Sugal benar-benar melupakan rasa sakit yang ada ditangannya saat ini.


" Aish! Ini semakin parah saja! "


Keterbengongan seluruh anggota Organisasi Kelabang Hitam langsung buyar saat mendengar suara ketus dari Arya. Mata mereka langsung melebar saat melihat baju Arya kini terlihat lebih kotor dari sebelumnya. Cipratan darah dari tubuh Baya hampir mengotori seluruh bagian depan bajunya.


Entah kenapa melihat baju Arya yang sangat kotor tersebut, naluri bertahan hidup mereka meneriakkan tanda bahaya. Apalagi saat ini Arya sedang menatap mereka semua.


Jabo langsung terduduk di tanah karena lututnya sudah tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Dia pernah bertemu dengan banyak orang yang kejam di dunia sebelumnya, tapi pemuda yang sekarang berdiri tepat didepannya ini, sama sekali berada dalam level berbeda.


Gerakan Jabo sontak diikuti oleh seluruh anggota Kelabang Hitam. Mereka mengira Jabo berlutut tanda menyerah. Hal yang sudah beberapa waktu yang lalu sempat mereka fikirkan. Tepatnya saat Gandala tersungkur meregang nyawa. Tapi si bodoh Baya malah makin memperburuk keadaanya.


" Hmm ... Kenapa kalian tidak melakukannya sejak dari tadi? " kata Arya kesal.


Arya melihat beberapa orang di sebekah Jabo masih berdiri. Emoat orang itu menatap Arya dengan tatapan tak bisa di artikan. " Bagaimana dengan kalian? Sepertinya kalian cukup kuat "


keempat orang itu yang sebelumnya terpaku disana, itu karena mereka sedang menyaksikan bagaimana luka di perut Arya tertutup dengan sendirinya.


Ketika mereka menyadari bahwa Arya sedang berbicara pada mereka, sontak membuat mereka terkejut.


Mereka langsung menekuk lutut mereka. Tidak cukup sampai disana mereka kini bahkan bersujud pada Arya.


" Ampuni kami, Dewa! " ratap mereka terendap saat membenamkan wajah ke tanah.