ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Terulang Lagi!


Kata-kata Ciel membuat ketiganya langsung terdiam. Kaungsaji yang mendengar Ciel mengatakan hal tersebut, langsung berbalik.


"Ada apa?!"


"Tuan Kaungsaji, ketahuilah. Mereka membawa banyak senjata sihir. Pertempuran ini akan menjadi sangat berbahaya! Sebaiknya, perintahkan semua anggotamu untuk lebih memperhatikan kelompok ketiga!"


Mata Kausaji melebar. "Sial! Ternyata mereka akan menggunakan benda terkutuk itu, untuk melawan semua orang. Pantas saja tidak ada ketakutan dimata mereka saat melihat kelompok. lainnya."


"Berarti, kau sudah pernah melawan kelompok yang menggunakan senjata sihir?" tanya Luna.


Kaungsaji mangangguk. "Ya! Pertempuran beberapa waktu yang lalu, memaksa kami untuk meninggalkan Kota Basaka. Pihak musuh menggunakan senjata itu, untuk menyudutkan kami!"


"Jika begitu, mungkinkah, kalian pernah melawan Serikat Oldenbar?!" setelah menayakan hal tersebut, Bai Hua menutup mulutnya.


Kaungsaji terkejut. Dia menatap keempatnya bergantian. "Kalian tau serikat itu?"


Bai Fan mengangguk. "Ya! Kami pernah melawan mereka. Dan itu baru terjadi sekitar satu bulan yang lalu" jelasnya.


Mata Kaungsaji melebar seperti tidak percaya. "Benarkah? Berapa orang yang kalian lawan?"


"Dua Ribu lebih!" Jawab Luna.


"Benarkah?!" lagi-lagi Kaungsaji bertanya, dan kembali menatap semuanya seolah tak percaya. "Dan kalian masih bisa hidup?"


Bai Fan mengangguk. "Ya! Itu kenapa kami menyarankan untuk mengulur waktu sebanyak mungkin, dan menunggu!"


"Memang, hanya sekitar seratus atau lebih saja yang menggunakan Senjata sihir. Tapi, itu benar-benar merepotkan!" Luna menambahkan.


"Seratus?!" Kali ini Kaungsaji benar-benar terkejut. "Bagaimana cara kalian bertahan melawan seratus senjata sihir dan kenapa, kalian ingin menunggu? Menunggu siapa?!"


Keempatnya menatap Kaungsaji. Mereka tidak tau harus menjelaskannya mulai darimana. Saat ini, mengatakan tentang Rewanda dan Krama mungkin saja akan menyebabkan kesalahfahaman lainnya.


"Kami membangun semacam benteng Pertahanan. Lalu, melawan sekuat yang kami bisa, sebelum Akhirnya Arya datang, dan memusnahkan mereka semua!" Bai Fan coba menjelaskan.


Kata-kata mereka sulit dicerna oleh Kaungsaji. Tapi, pendekar suci itu juga tidak berani meremehkan keempatnya.


"Baiklah, jika sesuatu yang buruk terjadi, benteng seperti apa yang harus di bangun?" Tanya-nya bijak.


"Adakah dari kalian yang memiliki kemampuan pengendalian elemen tanah dan kayu?!" tanya Bai Fan.


Kaungsaji mengangguk. "Beberapa pendekar raja dan ahli dari sekte kami, memiliki kemamuan tersebut."


"Baiklah, jika begitu panggilah beberapa orang dan dengarlah saranku... "


Saat beberapa orang telah berkumpul didekat mereka, Mulailah Bai Fan menjelaskan bagaimana cara membangun benteng yang kuat menggunakan elemen tanah dan kayu saat kelompok ketiga mulai bergerak.


Mereka memiliki keuntungan bahwa, disini tidak hanya mereka yang akan menjadi sasaran kelompok tersebut. Kelompok lainnya pasti juga akan tersudut jika tidak melawan. Lain cerita jika ketiga kelompok besar bersatu, dan menyerang mereka.


Bai Fan juga menjelaskan bahwa, jika hanya bertahan di dalam benteng, maka mereka akan mudah dikalahkan. Jadi, sebaiknya pendekar-pendekar yang meliki kemampuan di atas pendekar ahli bertahan diluar sementara sisanya berada di dalam benteng.


Dari dalam, mereka akan membuat lobang agar bisa menyerang dengan teknik pengendalian api atau yang lainnya.


Penjelasan Bai Fan sangat mudah di mengerti beberapa pendekar Raja dari Sekte Singa Emas langsung bisa membayangkan bentuk benteng yang dimaksud oleh Bai Fan.


Menunggu ketiga kelompok saling menghancurkan juga adalah strategi yang sangat masuk akal. Saat ketiga kelompok tersebut sudah mulai kehabisan tenaga dalam, maka kesempatan mereka semakin besar.


Hanya saja, ada yang sedikit mengganjal di kepala Kaungsaji. "Aku tidak mengerti, bagaimana Arya bisa memusnahkan mereka semua. Sedangkan aku bahka pempimpin kami, Darsapati saja, tidak bisa merasakan tenaga dalam miliknya sama sekali. Apakah dia sengaja menyembunyikannya?!"


Kaungsaji sedikit ragu menanyakan hal tersebut. Karena menurutnya, seseorang bisa menekan tenaga dalamnya pada level terendah untuk mengelabui musuh. Namun, mustahil untuk menghilangkan jejak keberadaan tenaga dalam sama sekali.


"Senior tidak menyembunyikan tenaga dalamnya, karena sejak awal, dia memang tidak memiliki tenaga dalam!" Jawab Bai Hua.


Kaungsaji hendak berkata lagi, Namun, Luna langsung memotongnya. Karena, menjelaskan sesuatu yang mereka tidak mengerti akan sangat sulit. Satu-satunya cara adalah membuat orang itu melihat langsung.


"Tuan Pendekar. Bukankah kalian mengatakan sebelumnya Bahwa, Arya adalah calon pemimpin Sekte Kalian?!"


Kaungsaji mangangguk. "Ya! Aku yakin itu. Karena, kami memiliki alasan untuk meyakininya... "


Bai Fan mengerti, bahwa ada sesuatu yang sangat Rahasia tentang Arya dan bangunan ini yang di jaga oleh Sekte Singa Emas, hingga Kaungsaji sendiri tampak hati-hati berbicara tentang Arya dan bangunan ini, sebelumnya.


"Kami mengerti. Tapi, tidakkah kau melihat bahwa Arya barusaja menghilang setelah sebelumnya membangunkan Bahuraksa. Apakah kau tidak menyadari bahwa energi yang Arya miliki, berbeda?!"


Kaungsaji langsung terdiam. Dia dan yang lainnya tidak sempat bereaksi dan memikirkan semua itu sebelumnya. Itu karena saat semua barusaja terjadi, mereka langsung menghadapi masalah seperti saat sekarang ini.


"Tuan, jika kau tidak percaya pada kami. Maka, percayalah pada pemimpin masa depan kalian. Arya bukan sesuatu yang bisa kami jelaskan. Kalian seharusnya juga tau hal itu!"


"Ya! Percayalah pada senior!" Tambah Bai Hua, sedikit menuntut.


Meski tidak terlalu mengerti, melihat kepercayaan mereka pada Arya, Kaungsaji tidak melihat sedikitpun keraguan di mata mereka. Kaungsaji hanya menganggukkan kepala.


"Ya! Sebaiknya kami memang mempercayainya.!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Kaungsaji kembali mengalihkan perhatiannya pada sekitar.


"Huh! Kami bilang seharusnya, bukan sebaiknya!" Gumam Bai Hua.


Pertarungan Antara Darsapati dan tiga pendekar Suci tersebut semakin sengit. Kini, ketiganya sudah menggunakan senjata mereka.


Dua pendekar suci yang membantu Dantagu menggunakan senjata serupa kapak yang memiliki dua mata. sedangkan Dantagu sendiri menggunakan pedang yang sejak tadi tersampir di pinggangnya.


"Ternyata mereka adalah pendekar kapak kembar yang terkenal itu!" salah seorang berseru.


"Siapa itu, kapak kembar?"


"Kau tidak, tau?"


Temannya menggeleng.


"Mereka berdua sangat terkenal di kota Sarusa sebelumnya, tidak aku sangka mereka berdua juga akan berada di sini! Jika begitu, ini akan segera berakhir!"


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


"Buk!" "Arrgh!"


"Buk!" "Arrgh!"


"Buk!" "Arrgh!"


Baru saja mereka memuji dua pendekar suci itu, tiba-tiba keduanya bahkan satu pendekar yang dibantunya, langsung Mengelinding di tanah.


"Apa itu?!"


"Apa yang terjadi?!"


Darsapati baru saja mengeluarkan pedangnya. Dan membalas serangan ketiganya dengan sangat cepat dan memberi pukulan serta tendangan telak, pada ketiganya.


"Bukankah barusaja, kau bilang mereka berdua sangat, hebat?!"


Pendekar yang baru saja memuji pendekar kapak kembar itu terngaga. Dia tidak tau harus berkata apa lagi. Tentu saja dia tidak berbohong prihal keduanya.


Masalahnya ada pada lawannya. Pendekar yang mereka lawan itu sangat kuat dan sangat... Cepat.


"Kau benar, Gurat. Pria tua itu benar-benar bukan pendekar biasa. Kita tidak mungki bisa melawannya dengan cara biasa. Kau mengerti maksudku?"


"Ck!" Gurat berdecah. "Yah! Kita akan melakukannya."jawabnya sedikit kesal.


"Oh, tidak! Jangan, lagi!" Ciel tiba-tiba sedikit histeris.


"Ciel, ada apa?" mereka bertanya lagi.


Dengan terbata Ciel berkata. "Mereka ... membawa ... Pil Zulu... !"