
"Ayahanda, begitulah apa yang Tuan Rangku ingin sampaikan."
Tengku Arif, Sultan Negeri Serambar yang terletak di ujung Barat Daratan itu, sangat terkejut dengan kabar yang di bawa putrinya.
Dia tidak menyangka bahwa pendekar tua yang sangat dihormatinya itu, memutuskan untuk kembali ke dunia kependekaran. .
Tapi yang paling mengejutkan adalah, Sri Ratna Sari putrinya juga mengatakan bahwa Rangkupala kalah hanya dengan satu pukulan saja, dari salah satu pendekar wanita.
Tidak hanya itu saja, bahkan saat kejadian itu Rangkupala terpental dengan dua Sultan dan satu patih di saat bersamaan.
Difikirkan darimana saja, kejadian itu sangat tidak masuk akal bagi tengku Arif. Di benar-benar tau kehebatan Rangkupala. Karena, pendekar yang berjuluk si kebojalang itu, adalah gurunya.
"Sri Ratna Sari, tidakkah kau salah melihat? Apa mungkin salah satunya adalah pendekar wanita bernama Lindu Ara?"
Sri Ratna menggeleng cepat. "Ayahanda tentu tidak akan percaya. Tapi, tiga wanita itu memanglah berbahaya."
"Apa kau benar-benar melihat mereka yang mengalahkan Tuan Rangkupala?"
Sri Ratna kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tak melihatnya."
"Jika saja itu Lindu Ara, maka mungkin aku akan percaya. Tapi, empat pendekar bumi dalam sekali serang, itu tidak mungkin bahkan jika itu Lindu Ara."
"Ayahanda, apakah engkau pernah mendengar aku berbohong, barang sekali saja?"
Tengku Arif menarik Nafasnya dan menggelengkan kepala. "Engkau putriku, ku didik dengan baik. Kau tak akan berkata jika itu memang tak ada."
"Tiga pendekar wanita itu, mengalahkan tiga ratus pendekar suci dari kota Barus, Daratan Utara. Tidak hanya itu saja, saat pertarungan hampir selesai saat itu ketiganya sudah kehilangan kesadaran mereka."
"Jadi pada akhirnya, mereka tetap kalah?"
"Tidak, mereka membantai semuanya."
Tengku Arif tidak bisa untuk menyembunyikan keheranannya, karena cerita ini semakin tidak masuk akal saja baginya. "Bukankah, kau bilang mereka telah kehilangan kesadaran mereka?"
"Ya, kami semua melihatnya tuan Rangkupala juga di sana. itu kenapa aku mengatakan ketiganya benar-benar berbahaya."
Merasa Putrinya bercerita sesuatu yang sangat tidak masuk akal, Tengku Arif menjadi sedikit tidak sabar. "Sri Ratna Sari, jelaskan apa maksudnya?"
"Ketiganya tetap bertarung meski sudah tak sadarkan diri dan terus begitu sampai semua musuh hancur berkecai berai, saat semua benar-benar sudah mati terbantai, mereka masih berdiri tak sadarkan diri, dengan tubuh mereka merah bersimbah darah."
Sri Ratna Ayu menceritakannya dengan nada yang menggebu-gebu.
Tengku Arif menelan ludah. Tapi, surat yang kini dia pegang, memang dari gurunya.
Sekali lagi dia melihat putrinya itu. Jika difikirkan kembali, untuk apa anaknya itu berbohong padanya. Karena, dia benar-benar mengenal watak anaknya.
Mengesampingkan cerita anaknya yang lebih terdengar seperti dongeng itu, tetap saja surat yang dikirim Rangkupala padanya tersebut, berisi pesan yang sangat penting.
Lama dia berfikir, jika Rangkupala benar-benar menginginkan perang, kenapa tidak dari dahulu. Akan tetapi, di suratnya lebih menekankan satu hal dan itu sangat mendesak.
Tak lama, dia mengangguk tanda memantapkan keputusannya.
"Patih Leman, siapkan pasukan. Kita akan ke Litapa?"
Patih yang dari tadi menunggu titah, langsung terkejut mendengarnya.
"Tabik, Sultan ... Kita akan menyerang Litapa?"
Tengku Arif menggelengkan kepala. "Tidak, ... Kita akan membantu Gonggo di Litapa, setelah itu ... Kita akan ke Malka. Guruku akan di sana."
Mata patih Leman melebar. "Kenapa kita ke Malka?"
"Di sanalah, kita akan berperang!"
****
Sesuai dengan apa yang dijanjikan Bujang paju Putra Gonggo Sultan Litapa, sebuah surat sampai dengan cara yang membuat Rangkupala terkejut.
Beberapa anak kecil yang datang membawanya. Hal itu, tentu saja mengisyaratkan bahwa betapa gentingnya situasi di Litapa, sehingga untuk mengirim surat saja, Gonggo harus mengutus anak kecil untuk melakukannya.
"Aku tak menyangka Litapa bukan lagi Litapa. Kemana suara lantang Gonggo yang kukenal di saat kami masih muda dulu."
Karpatandanu merasa sedikit kecewa dengan keputusan Gonggo melakukan itu.
Namun, begitu mereka membaca isi suratnya. Saat itu juga Karpatandanu merubah pikirannya.
"Bedebah ... ! Tuan Rangkupala, setelah ini kita langsung saja ke Litapa. Mereka semua pasti membutuhkan kita di sana."
"Kau tau kita juga sudah mengirim pesan pada Tengku Arif. Dia pasti akan angkat senjata. Bagaimanapun Negeri mereka bertetangga. Seperti kau dan Harupanrama."
"Tapi, bagaimana jika Tangku Arif tidak kesana?"
Rangkupala langsung menjawab. "Dia akan ke sana, karena aku sangat mengenal watak muridku sendiri."
Semua orang tau bahwa Tengku Arif memiliki masa lalu dengan Rangkupala. Cuma, baru hari ini dia mengakui Sultan negeri Serambar itu, muridnya.
"Apa yang dikatakan Jemba, benar adanya. Kita harus bertempur sesuai rencana. Gonggo yang kau kenal, biar Tengku Arif yang membantunya."
"Baiklah, jika begitu. Kita hanya perlu menunggu kabar dari Harupanrama. Dan semua akan terang. Setelah ini, kita akan ke Malka dan menyelesaikan apa yang mereka mulai."
"Karpatandanu, tidakkah kalian merasa heran? Sepertinya, kita melupakan sesuatu di sini."
Saat itu Karpatandanu merasa tidak ada yang mereka lewatkan. Meski banyak yang terjadi, semua berjalan hampir sesuai dengan rencana kecuali fakta bahwa Putrinya kini sedang terbaring berjuang demi nyawanya.
"Tuan Rangku, apa yang membuatmu merasa heran? Bukankah semua sesuai dengan apa yang kita rencanakan?"
Rangkupala menggelengkan kepala. "Tidak, ini tidak sesuai. Aku baru saja menyadarinya."
"Jemba, apa itu? Aku juga tidak merasakan sesuatu yang salah dan tampak mencurigakan."
"Kita membahas senjata sihir dan senjata pelontar. Namun, kemana serikat serikat Oldenbar. Bukankah mereka juga di Daratan ini?"
Saat itu juga mata keduanya melebar. Mereka benar-benar melupakan satu lagi kekuatan asing di Daratan Barat ini. Dan hal ini benar-benar mengejutkan keduanya.
Semua orang juga tau. Berbeda dengan Nippokure yang memang merupakan pasukan perang, Serikat Oldenbar bertopeng serikat dagang.
Berbicara tentang kekuatan, keduanya bisa di katakan sebanding. Akan tetapi, serikat Oldenbar sangat Licik dan Licin.
Tidak mungkin mereka tidak tau apa yang terjadi di Daratan Ini. Apalagi, jika Nippokure memakai senjata mereka, maka bisa dipastikan serikat itu tau benar apa yang sedang terjadi.
"Jemba, kenapa kau baru mengatakannya?"
"Salendra, aku berbeda dengan kalian. Dua puluh tahun aku di palas dan tidak pernah keluar, Nippokure tak pernah datang apatah lagi Oldenbar. Tentu kalian yang seharusnya sadar."
"Seperti yang kita ketahui, Inilah kehebatan Oldenbar. Diam bagai air yang tenang, saat semua orang bergerak bagaikan riak. Tentu saja diam bukan sembarang diam. Mereka pasti diam-diam."
Seketika mereka bertiga berdiri. Saat mereka merencanakan perang ini, pasti Oldenbar merencanakan bagaimana memanfaatkan situasi dan dampaknya pada mereka.
"Salendra, seberapa jauh pusat Oldenbar negeri Jampa, dari benteng ini?"
"Jika, kita berkuda, maka akan memakan waktu dua hari lamanya."
Rangkupala menggelengkan kepala. Dan menoleh pada Karapatandanu.
"Kirim masing-masing satu orang ke negerimu dan Negeri Ambang. Katakan pada siapapun yang di sana, agar memperkuat penjagaan."
Mereka akhirnya sadar dan yakin bahwa, Satu lagi pihak asing sudah mengambil peran, jauh sebelum mereka sadar.
"Sial, inilah yang aku takutkan!"