
"Sial!" Umpat Kulkan baru menyadari bahwa tubuh Arya bisa menyerap kekuatannya.
Dua ledakan yang mengenai pemuda terakhir itu, membuat semua petinggi Oldenbar terkejut. Tidak ada yang berubah dengan kekuatan serangan mereka. Namun, dampaknya sekarang tidak lagi sama.
"Kalian! ... Hentikan serangan kalian!" Ucap pendekar yang pertama kali menyadarinya.
Semua mata menoleh padanya. "Apa maksudmu?"
"Lihatlah ... " Tunjuknya sekali lagi pada Arya. "Serangan kita bahkan tidak meninggalkan luka gores sedikitpun!" Ucapnya.
"Tidak Mungkin... "
Semua pendekar dari petinggi Oldenbar itu menatap Arya lekat. Tak lama, mereka memberikan reaksi yang sama dengan rekan mereka saat mengetahui kondisi lawannya.
"Bocah! Kau harus menjelaskannya pada ku... "
Arya tidak lagi mendengarkan Kulkan. Kini, dia berbalik menatap seluruh pendekar Oldenbar yang ada di depannya.
"Baiklah! Saatnya mengakhiri ini!" Gumamnya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan kekuatanku?!"
Arya memejamkan mata dan mulai mengontrol energi Kulkan yang berpusat di antara perut dan dadanya.
Energi itu dialirkannya keseluruh titik cakra yang memenuhi tubuhnya. Dalam waktu sekejap, seluruh titik cakranya dipenuhi dengan energi dari kesadaran Kulkan tersebut.
Arya mendengus dan tersenyum miring. "Akhirnya, datang waktu dimana aku terpaksa menggunakannya." Gumamnya.
"Buffft..."
Seketika atmosfir di seluruh bangunan itu berubah. Para pendekar itu tiba-tiba merasakan udara di sekitar mereka seolah menipis.
"Aura Apa ini!?"
Sebelumnya, mereka sempat melihat tubuh Arya melepas semacam energi. Namun saat itu mereka tidak mengerti. Tapi, saat mereka melihat ke arah Arya sekali lagi, mulut mereka ternganga.
"Ada apa dengannya?"
"Kenapa matanya menyala?!"
Ketakutan langsung menggerogoti setiap inci tubuh mereka. Petinggi Oldenbar sudah menginjak banyak daratan dan sudah bertemu banyak pendekar dengan kekuatan yang sangat tinggi. Tapi, orang yang mereka hadapi kali ini benar-benar berbeda.
Bola mata Arya kini berubah menjadi berwarna biru menyala. Tidak hanya matanya, tubuhnya sepenuhnya mengeluarkan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan.
Untuk pertama kalinya, Arya menemukan waktu yang tepat untuk mencoba menggunakan teknik yang ada dalam ingatan Berkah Air yang ada di tubuhnya. Salah Satu teknik yang dia latih bersama Amia di dunia roh selama satu tahun lamanya.
"Bom!"
"Bom!"
"Dia Bukan Manusia!?"
Mereka kembali menyerang Arya. Namun, serangan itu berbelok beberapa meter sebelum mengenai Arya dan meledak di udara.
Sadar bahwa serangan mereka tidak bisa mengenai lawannya, Naluri bertahan hidup mereka langsung meneriakkan tanda bahaya.
Tidak ada hal lain yang ada di kepala mereka selain menjauh dari sana secepat yang mereka bisa. Namun, semua tidak semudah itu. saat mereka semua mencoba untuk melarikan diri, ternyata mereka sudah tidak bisa melangkah.
"Kenapa kakiku tidak bisa bergerak?!"
"Ada apa ini?!"
Beberapa dari mereka menyadari bahwa kaki mereka tidak bisa bergerak sesuai perintah mereka. Tidak hanya itu, mereka mulai merasakan keanehan yang lainnya.
"Tubuhku terasa sangat berat!"
"Apa yang terjadi? ... "
"Apa ini?! ... " Teriak salah satu dari petinggi Oldenbar.
Mereka baru menyadari bahwa dari tanah yang mereka injak, keluar air berpendar cahaya. Entah sejak kapan Air itu sudah mengikat dan terus menahan mereka agar tidak bisa beranjak dari tempat mereka berdiri.
Tentu saja sekarang sudah sangat terlambat saat mereka menyadarinya. Kini, air itu mulai menjalar dengan cepat ke atas, kemudian mulai menyelubungi seluruh tubuh mereka hingga sebatas leher.
Tidak hanya sampai di sana. Air itu seperti meresap kedalam tubuh melewati pori-pori mereka, hingga mereka merasakan bahwa pembuluh darah mereka bekerja tidak seperti sebagaimana mana seharusnya.
Semakin lama, mereka merasakan tubuh mereka semakin berat saja. Setiap mereka mengeluarkan tenaga dalam untuk mencoba berdiri, setiap itu pula beban makin tubuh mereka terasa makin berat.
Sekitar seratus meter dari sana, Ciel bisa melihat yang terjadi. "Dia benar-benar mengerikan!" Gumamnya.
"Jurus ... Apa ... Itu?!"
Walaupun saat itu siang hari yang cerah, Bai Hua melihat tubuh Arya kini memancarkan cahaya kebiruan.
Wajah para petinggi Oldenbar itu tampak memerah seperti orang tercekik. Darah mulai mengalir dari mata, hidung, mulut hingga telinga mereka.
Tubuh mereka membengkak dipenuhi air yang terus mengalir dan meresap kedalam tubuh. Mereka benar-benar berharap mati saat itu juga.
Namun sayang, Arya sengaja menyisakan bagian kepala, agar mereka bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa itu.
Arya mulai melangkah mendekat. Matanya menyapu semua petinggi Oldenbar. Tatapannya tampak kosong. Namun, kekosongan itu terasa sangat mengintimidasi bagi siapapun yang melihatnya.
Tidak ada tampak rasa iba sedikitpun saat Arya melihat dan mendengar teriakan kesakitan dari mereka.
'Ini balasan bagi kalian yang dengan sengaja datang ke Daratan ini dan mengambil sumber daya energi, bahkan dari manusianya.' Batin Arya.
Arya mengetahui rahasia pembuatan Pil Zulu, setelah kembali membuka Kitab Al-khimiya peninggalan keluarga Tarim Saka yang dia simpan di dalam lingkar ruang penyimpanannya.
Di sana dia menemukan berbagai macam Pil untuk meningkatkan level kekuatan seorang pendekar. Arya juga melihat banyak penemuan-penemuan lainnya di sana.
Akan tetapi, Pil Zulu ditulis dengan tinta berwarna merah. Itu kenapa Arya bisa dengan mudah mengingatnya. Saat Bai Fan mengungkit ciri-cirinya beberapa hari yang lalu.
Salah satu penemuan terbesar di negara Arbaran. Hingga akhirnya, Raja Arbaran memutuskan untuk melarang pembuatan dan peredaran pil tersebut. Karena dianggap sudah melewati batas kemanusiaan.
Awalnya, Pil Zulu menggunakan Siluman sebagai Bahan utamanya. Namun, seseorang menemukan Pil yang lebih kuat daripada itu. Hanya saja pembuatannya menggunakan manusia sebagai pengganti bahan utamanya.
Tentu saja pembuatan itu langsung dilarang oleh Raja Arbaran. Apalagi setelah mengetahui apa dampaknya setelah seseorang menelan pil tersebut.
Menurut yang Arya baca, orang yang pernah menelan Pil Zulu seperti itu tidak lagi bisa menyerap tenaga dalam dari alam. Persis seperti apa yang Bai Fan katakan.
Akan tetapi, mereka bisa mendapatkan tenaga dalam apabila mengkonsumsi daging manusia. Hal yang benar-benar mengerikan.
kerajaan Arbarannberusaha membuat penawarnya. Namun, sepertinya belum berhasil.
Satu hal lainnya yang membuat Arya heran adalah, apa alasan pihak kerajaan memperbolehkan Serikat Oldenbar masuk dan beroperasi di Kerajaan Swarna. Jika, kerajaan tau Oldenbar memiliki Pil Zulu.
Hal ini juga menyebabkan Arya bibit-bibit benci Arya mulai tumbuh semakin kuat pada kerajaan Swarna. Padahal, Arya belum mengenal siapa Raja di Basaka maupun Maharaja yang bertahta di kota Barus, ibukota kerajaan Swarna itu sendiri.
Yang dia ketahui keberadaan kerajaan Swarna hanya memberikan penderitaan pada rakyatnya. Terutama penduduk yang ada di Daratan Timur ini.
"Bai Hua... Sepertinya, kita telah mengikuti seseorang yang benar-benar berbahaya... "
"hu'umm"
Bai Hua mengangguk. Bai Hua melihat tidak ada harapan bagi lawan Arya untuk hidup setelah semua ini berakhir. Bahkan, sekarang Bai Hua meragukan apakah lawan-lawan Arya itu masih ingin hidup.
"Di mulai dari Kalian! ... Setelah ini, aku akan menghancurkan seluruh Serikat Oldenbar yang ada di Dunia!"
Saat ini, Tubuh seluruh petinggi Serikat Oldenbar benar-benar sudah menggembung dipenuhi Air. Urat-urat nadi mereka yang mulai terputus terlihat jelas.
"Sekarang! Pergilah ke neraka yang paling dalam!"
Setelah mengatakan itu, Arya langsung menggenggam dan mengepalkan kedua tangannya, keras.
"Boom!"
"Arrggh!" "Arrggh!" "Arrggh!..."
"Arrggh!" "Arrggh!" "Arrggh!..."
"Arrggh!" "Arrggh!" "Arrggh!..."
Berbeda dari korban-korban sebelumnya yang kehilangan kepala mereka, kali ini seluruh Petinggi Oldenbar di bukit itu, mati dalam keadaan kepala yang masih utuh. Akan tetapi, seluruh tubuh mereka hancur meledak dalam waktu bersamaan.
Setelah menatap seluruh kepala-kepala yang bertebangan itu terjatuh ketanah, Arya berbalik dan mulai berjalan.
"Aku juga akan menghancurkan kerajaan ini!" Gumamnya, geram.
"Ha ha ha ha ha!"
"Kau bukan Arangga. Kau benar-benar Berbeda!"
"Arya! Ketahuilah... Aku, sangat menyukaimu!"
" Bahkan, Jika kau ingin menghancurkan dunia, Maka aku mengizinkanmu menggunakan seluruh kekuatanku!
"Ha ha ha hha ha!"
Kulkan tertawa sangat lantang di dalam kepala Arya yang dalam keadaan murka itu.