
Setelah tiga hari menempuh perjalanan dan hanya berhenti beberapa kali untuk beristirahat serta memberi makan kuda, Akhirnya untuk pertama kalinya Arya melihat kota Basaka. Atau, setidaknya itulah yang Arya ketahui.
Arya sudah pernah mendengar dari Darsapati bahwa Arya tidaklah lahir di desa teluk barula seperti yang dia fikir selama ini. Hanya saja dimana tepatnya, bahkan Darsapati pun tidak mengetahuinya. Natungga tidak pernah membahas hal tersebut lebih jauh.
Arya tidak bisa menutupi kekagumannya saat melihat betapa besarnya kota Basaka. Ini pertama kalinya Arya melihat manusia dalam jumlah yang sangat banyak seumur hidupnya.
Arya tidak pernah berfikir bahwa sebuah kota bisa menjadi besar dan sepadat ini. Ia kembali mengingat saat Tarim Saka mengatakan betapa kecilnya sekte itu. Sebenarnya Arya sudah bisa merasakannya saat bertemu dengan Lamo dan sekte-sekte yang terlibat dalam pertempuran di bukit tengkorak.
Baginya, Basaka sungguh jauh berbeda. Kota ini benar-benar besar dan sangat hidup.
Saat kedatangan Arya, Ada kejadian yang sangat mengejutkan bahkan bagi tiga gadis lainnya yang datang bersamanya.
Awalnya, Rantoba meminta mereka menunggu di sebuah bangunan di area istana Basaka. Bahkan area istana itu sangat besar. Berbeda sekali dengan istana Singa Emas.
Luna dan Ciel yang juga baru pertama kali diundang masuk ke dalam wilayah istana ini, juga merasa takjub. Jelas bahwa istana ini sudah berumur ribuan tahun.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya rombongan mereka di panggil untuk menghadap sang Raja Basaka.
Luna, Ciel dan Bai Hua saat itu mengagumi bentuk bangunan Istana itu. Di luar saja patung-patung Singa serta ukiran-ukiran relief kuno bertebaran di hampir di seluruh dinding istana. Ukiran itu seperti sedang menceritakan sebuah sejarah panjang kehidupan di sana.
Di dalam tidak kalah megahnya. Setidaknya ada dua puluh tiga pilar besar dan tinggi penyanaga atap aula yang berbaris sejajar menyerupai gang. Di unung sana, setidaknya memikiki jarak lima puluh meter, singga sana sang Raja berdiri megah. Dan seseorang terlihat sedang duduk bertakhta. Darmuraji, Raja Basaka.
Ratusan orang berdiri membentuk sebuah gang. Saat mereka berjalan mendekat. Hingga akhirnya mereka berada cukup dekat, Rantoba menghentikan langkahnya.
Pendekar itu langsung membungkuk memberi hormat pada Raja Basaka, hal tersebut langsung di ikuti seluruh Rombongan.
"Paduka!" Ucap Rantoba penuh Hormat.
Di sinilah hal mengejutkan itu terjadi. Edward yang sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat juga ikut terkejut.
Arya sama sekali tidak membungkuk seperti rakyat kerajaan Swarna lainnya. Bahkan menundukkan kepala sedikitpun, tidak.
Tiga gadis yang bersamanya yang sudah kadung hendak membungkuk, langsung cepat berdiri. Dan hanya sedikit menundukkan kepala seperti apa yang dilakukan Edward.
"Lancang...!!"
Sebuah suara teriakan penuh amarah menggelegar di aula itu. Mata orang tersebut tertuju pada Arya. Namun, pemuda itu memandangnya acuh.
Setelah menatap Darmuraji yang tampak juga sedang terperangah, Arya menoleh sedikit dan melihat Bai Fan sedang berdiri di antara beberapa orang yang ada di barisan tengah.
Setelah itu, Arya kembali menatap Darmuraji.
"Aku ... Arya! Arya Mahesa!" Ucapnya, dingin.
Darmuraji adalah mantan putra mahkota kerajaan besar Swarna. Bahkan dirinya hampir didapuk sebagai Maharaja kerajaan yang mencakup tiga daratan besar dan ribuan pulau ini, jika dia tidak menolaknya. Seumur hidupnya, pria tua itu telah bertemu dengan banyak orang serta bangsawan. Bahkan dia telah melakukan kunjungan kenegaraan dan bertemu dengan banyak penguasa sebelumnya.
Tidak pernah sekalipun dia temui seseorang yang seperti pemuda yang sekarang berdiri di depannya ini. Bahkan orang bodoh serta orang gila sekalipun akan membungkuk di depan sang Raja.
"Hei, Kau! Bungkukkan diri dan tunjukkan rasa hormatmu pada sang Raja!"
Sekali lagi suara itu berteriak mengingatkan. Namun Arya tetap tak memperdulikannya dan tetap menatap Darmuraji, seolah menunggu bagaimana Raja itu bereaksi.
"Prajurit...! Tangkap orang itu...!"
Para prajurit istana yang berada di baris kedua dan ketiga di belakang orang-orang yang berbaris di sana, langsung maju hendak menangkap Arya.
"Hentikan!"
Tidak memperdulikan tatapan semua orang, Darmuraji kembali bersuara.
"Arya! ... Jadi itu namamu? Beri aku alasan Kenapa kau bersikap, bahwa kau tidak perlu mematuhi hukum negara ini!?"
Arya menggenggam sebelah lengan di belakang seolah meremehkan kata-kata Darmuraji, lalu menjawab.
"Aku tak memiliki alasan untuk membungkuk pada seorang manusia!"
Rantoba bahkan Edward sekalipun, benar-benar tidak menduga dengan sikap Arya. Di negara manapun di dunia ini, jika seseorang tidak menunjukkan sikap hormat pada seorang Raja, sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah pemberontak.
Hukuman yang paling tepat untuk seorang pemberontak tentu saja hukuman mati. Dan jawaban yang baru saja diutarakan Arya adalah ungkapan bahwa Darmuraji yang merupakan Raja Basaka tidak memiliki alasan untuk di hormati olehnya. Dengan kata lain jika tidak setara, maka Arya merasa memiliki kedudukan lebih tinggi darinya.
Berbeda dengan seluruh orang di ruangan ini. Darmuraji mengerti benar sejarah panjang Daratan Timur dan kerajaan Swarna. Lebih dari itu semua, Darmuraji mungkin segelintir orang yang mengetahui tentang kerajaan kuno dari Daratan ini, kerajaan satu benua. SwarnaDwipa.
Tidak mau bertindak gegabah. Darmuraji memutar otaknya cepat.
"Jika begitu, aku rasa apa yang dikatakan Drey berarti benar. Kau adalah seseorang yang memiliki ilmu pengobatan tingkat tinggi. Dunia biasa memanggilmu sebagai seorang Alchemist."
Setelah mengatakan hal tersebut, Darmuraji langsung menoleh pada pemimpin serikat Oldenbar yang datang bersama pemuda yang mengaku bernama Arya itu.
"Bukankah begitu, Tuan Edward?"
Edward yang sempat tercenung karena situasi yang sangat aneh ini, langsung terkesiap. Alasan Edward memanggil Arya sebagai Master, tentu saja karena hal yang baru saja dikatakan Darmuraji.
"Ya ... Ya.! Benar ... Menurutku juga begitu! Itu kenapa aku memanggilnya Master!"
"Hahahaha!"
Tiba-tiba Darmuraji tertawa. Raja Basaka itu mengedarkan pandangannya pada semua orang di sana, yang menatapnya dengan wajah keheranan saat ini.
"Kalian yang di Daratan ini, mungkin belum pernah mendengar seseorang yang memiliki gelar seperti itu sebelumnya. Tapi, hari ini orang itu ada di depan kita."
Meski tidak begitu mengerti, semua petinggi istana Basaka sedikit memahami. Jika Darmuraji yang dikenal memiliki wawasan luas tidak mempermasalah sikap pemuda di tengah Aula ini, itu menunjukkan bahwa gelarnya bukanlah gelar sembarangan.
"Dengar! Hanya satu gelar yang memiliki tempat tersendiri untuk dihormati di dunia ini, bahkan bagi seorang raja sekalipun. Gelar itu adalah gelar untuk seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan keajaiban berkat ilmu yang dimilikinya. Sang Alchemist."
Darmuraji berjalan turun dari singgasananya dan melanjutkan kata-katanya.
"Namun, sekarang kalian bisa melihat, Bahkan petinggi Oldenbar sekalipun memanggilnya dengan gelar tertinggi yang bisa di berikan pada orang yang memiliki ilmu tersebut."
Saat ini Darmuraji sudah berdiri berhadapan dengan Arya. Dengan tangan bertangkup di dada dan tubuh sedikit membungkuk, Darmuraji berkata.
"Master Arya, maaf untuk kesalah-fahaman kecil ini."
Arya juga membungkuk dengan cara yang sama. Untuk memberi Darmuraji muka.
"Silahkan, sebaiknya kita berbicara di tempat yang lebih baik daripada Aula ini." Tawarnya pada Arya dengan senyum yang sangat ramah.
Arya mengangguk. "Baiklah, aku akan mengikuti anda."
Keduanya langsung berjalan meninggalkan semua orang yang ada di ruangan tersebut dengan jutaan tanda tanya yang berenang-renang di kepala mereka.
"Master ... Alchemist? Gelar apa itu?!"