ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Harga Sebuah Informasi


" Kakak. Aku pikir kota ini semakin lama sudah semakin tidak aman saja! "


" Sepertinya memang begitu. Aku tidak tau yang terjadi. Saat kita datang kesini semuanya terlihat cukup menjanjikan. Tapi, akhir-akhir ini semakin banyak saja orang-orang aneh yang berkumpul di sini "


" Aku hanya tidak tahan perlakuan semena-mena pendekar-pendekar itu. Sepertinya mereka tidak takut dengan aturan kota ini "


Luna dan ciel sedang berada di toko mereka saat membicarakan itu. Mereka baru saja sampai di kota beberapa jam setelah Arya menginjakkan kakinya di kota Arsa ini.


" Ya, bagaimanapun mereka adalah orang-orang di bawah penegak hukum di kota ini " Luna menatap tajam adiknya " Ciel, aku ingatkan sekali lagi. Jangan terlibat masalah apapun dengan mereka. Oke? "


" Ya! Ya! Ya, baiklah! Seperti katamu, mereka orang-orang seperti itu " Jawab Ciel sambil mengeluarkan isi yang ada di tas nya. " Lalu bagaimana pendapatmu tentang pemuda yang meninggalkan semua ini? "


Keduanya melihat barang-barang yang ditinggalkan Arya saat mereka terbangun di hutan pagi ini. Benda-benda itu sekarang memenuhi meja.


" Entahlah! Pemuda itu sedikit, Aneh " Luna mencoba mengingat kembali Arya saat berbicara pada mereka " Aku rasa dia tidak berbohong bahwa tidak ada orang lain selain dirinya di sana. Tapi dengan semua ini ... " Luna menunjuk ke atas meja " hah, aku juga tidak tau bagaimana semua ini bisa dia dapatkan "


" Ya! Orang yang cukup aneh. "


Sementara itu di penginapan Bulan Fajar, Arya sedang duduk di sebuah meja yang berada di lantai tiga bangunan itu. Di tengah meja tersebut sudah terhidang banyak jenis makanan.


Sekar menempatkan Arya di ruangan yang biasanya hanya di isi oleh tamu-tamu penting dari luar kota. Atau para saudagar yang sangat kaya. Menurut Sekar, Arya bisa jadi memenuhi kriteria keduanya. Namun,  demi membuat Arya nyaman, Sekar tidak banyak bertanya.


Saat selesai makan, Sekar menghampiri Arya dengan membawa seseorang bersamanya " Tuan Muda, ini Bajra. Orang yang memiliki informasi paling banyak di kota ini. Dengan harga yang sesuai, dia akan menjawab informasi yang anda butuhkan jika dia mengetahuinya "


" Oh begitu, baiklah! Terimakasih " Arya menatap Bajra dan tersenyum " Paman, Silahkan duduk ! "


Bajra sedikit menunduk menunjukkan rasa hormatnya " Baik, Terimakasih " dan dia pun duduk di salah satu kursi di depan Arya.


Sekar sedikit heran dengan keramahan yang Arya tunjukkan pada Bajra. Tidak biasanya orang kaya memiliki sopan santun yang sangat tinggi seperti yang di tunjukkan oleh Arya. " Tuan Muda, jika masih ada yan anda butuhkan. Anda bisa mencariku kapanpun. Aku harus turun dan melakukan pekerjaanku "


" Ya, Nona Sekar. Sekali lagi. Terima Kasih " jawab Arya.


Saat sekar meninggalkan mereka berdua, Arya langsung bertanya pada Bajra " Paman Bajra. Bisakah aku mendapatkan informasi bagaimana agar aku bisa masuk ke tempat ledakan? "


Bajra sedikit terkejut dengan pertanyaan Arya yang langsung itu. meski mendengarnya dengan jelas, Bajra tidak lantas menjawab.


" Ehem ... " Bajra berdehem memberi tanda. Setelah itu, dia kembali diam.


Hal itu menyebabkan Arya heran, " Paman, Bajra? " panggilnya memastikan bahwa Bajra tidak tuli.


Bajra yang menyadari bahwa Arya tidak mengerti tentang kode yang dia berikan, langsung berpikir cepat  " Maaf Tuan Muda. Seperti kata Nona Sekar tadi, setiap informasi ada harga nya " jawab Bajra dengan senyum licik.


" Oh iya! Maafkan aku " Arya mengeluarkan satu siling emas dan menaruhnya di atas meja " Apakah ini cukup? "


Mata Bajra melotot melihat siling emas yang unik itu. Dengan gesit dia mengambil dan menggigit siling itu lalu memasukkan ke balik bajunya " Ya, ini cukup " jawabnya.


" Sekarang, katakan padaku. Bagaimana cara agar aku bisa masuk ketempat yang aku sebutkan tadi! "


Bajra berpikir sejenak, lalu mendesah " Hanya orang yang memiliki izin dari walikota saja yang bisa masuk ke sana " jawab Bajra.


Mata arya mengernyit tajam. Kalau soal itu dia sudah tau " Paman Bajra, soal itu aku sudah tau. Aku bertanya, bagaimana cara aku masuk kesana? Atau bisakah kau mempertemukan aku dengan walikota itu? "


" Sepertinya sekarang cukup sulit untuk bertemu dengannya. Mengingat situasi sekarang sedang tidak aman. " Bajra masih tampak memikirkan beberapa cara, lalu " Tuan Muda. Maukah anda mengeluarkan sedikit bayaran lagi? Saya akan mengatur dengan beberapa orang dan penjaga di sana, agar anda bisa memasuki tempat itu. Bagaimana? " Tawar Bajra.


Arya meletakkan satu siling lagi di atas meja. " Tolong bantu aku agar bisa masuk kesana " kata Arya setelahnya.


" Baik! Baik! " Bajra langsung memasukkan siling kedua ke bajunya tanpa menggigit nya lagi. " Besok aku akan memberi kabar pada anda " jawab Bajra.


Arya mengangguk. " Baiklah, terimakasih karena mau membantuku "


" Baik. jika begitu, saya pergi dulu "


Saat Bajra berdiri hendak pergi, Arya menghentikannya. " Sebentar! " Arya menaruh satu siling lagi di atas meja " Berikan aku informasi tentang gadis yang di tangkap siang tadi "


Bajra terkejut saat Arya menanyakan itu. Masalahnya adalah, itu hal paling sensitif di kota ini. Bajra akan mendapat celaka jika ketahuan menyebarkan informasi seperti ini. Bisa saja dia mati karena itu.


" Tuan Muda, jika anda tidak benar-bemar memiliki kepentingan dengan gadis itu, sebaiknya anda tidak mencari informasi tentangnya " Bajra mengingatkan.


Emas itu memang sangat menggoda. Tapi, dia masih sangat menghargai hidupnya. Namun, peringatan Bajra tidak diindahkan Arya. Satu siling lagi sudah berada di atas meja.


Bajra menelan ludah. Pendiriannya goyah. " Tuan Muda, saya ... saya ... " Bajra menelan ludahnya sekali lagi. Mencoba memutuskan pilihan terbaik.


Tiga siling berada di atas meja. Bajra langsung kembali duduk " Tuan Muda. Berjanjilah, jika ada yang bertanya, jangan mengatakan kau mengetahui semua ini dari saya " pintanya langsung.


" Ceritanya sedikit panjang "


" Aku punya banyak waktu "


" Baiklah, " Bajra mulai mengingat bagaimana semua ini dimulai  " Tuan Muda. Ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Saat gadis itu dan kakeknya pertama kali datang ke kota ini ... "


Bajra menceritakan semua yang dia ketahui tentang gadis dan kakeknya itu. Mulai saat kedatangannya hingga kejadian tadi pagi.


Arya mendengarkan semuanya dengan seksama. Arya berusaha tidak bereaksi apapun di depan Bajra. Seperti dugaannya. Hal besar apapun yang ada di kota ini, berkaitan dengan dirinya dan keluarganya.


Persis seperti apa yang pernah dikatakan Obskura. Bagaimana Daratan Timur telah berubah sejak ledakan terjadi.


Ke esokan harinya, Sambil menunggu kabar dari Bajra, Arya keluar dari penginapan Bulan Fajar untuk melihat-lihat kota. Rewanda dan Krama memgikutinya.


Arya sudah menyadari bahwa, dirinya terlalu lama di hutan. Sehingga membuatnya kesulitan untuk berkomunikasi dengan baik atau membaca situasi orang-orang di sekitarnya.


Arya benar-benar hampir kehilangan sifat kemanusiaannya karena kondisi kehidupan di hutan sangat keras. Jadi saat melihat suatu kejadian, Arya menjadi sedikit lambat untuk mengambil keputusan antara yang mana yang baik dan mana yang tidak.


Untuk itu, Arya memanfaatkan waktu ini untuk lebih mengenal perkembangan masyarakat saat ini.


Dari sekian banyak hal yang terlihat baru bagi Arya, satu hal yang menurutnya terasa sangat asing di sana. Arya melihat beberapa orang dengan warna kulit, rambut, bahkan warna mata berbeda. Mengingatkan Arya pada dua gadis yang pernah ditemuinya di hutan dua hari yang lalu.


" Dari mana orang-orang ini berasal? " gumamnya.


" Seseorang, hentikan dia! " sebuah teriakan memecah keramaian.


Arya melihat ke arah orang baru saja berteriak jauh di depannya. Namun, saat dia melihat kesana, tidak jauh seorang anak kecil mencoba berlari sekuat tenaga.


" Hentikan bocah itu. Dia telah mencuri dari tokoku! " teriak orang itu lagi.


Anak kecil itu berlari ketakutan sambil memeluk dua buah singkong bersamanya. Namun, sebuah kejadian yang tak di sangka Arya terjadi.


Seseorang menjulurkan kakinya di jalur lari anak itu. Anak yang berlari itu tidak sempat mengelak. Setelah tersandung tubuhnya sempat melayang sebelum terguling-guling di jalanan.


Lelaki yang menyandung anak itu menertawakannya. " Hahaha! Rasakan kau bocah " tidak ada rasa kasihan dari laki-laki itu walaupun luka gores memenuhi tubuh anak yang malang itu.


Seseorang menghampiri anak itu " Adik. Kau tidak apa-apa? "


Anak itu tidak menjawab, wajah kini tampak sangat pucat.


" Hei! Jangan perdulikan pencuri kecil itu! " Kata laki-laki yang tadi menyebabkan anak itu terjatuh.


Buuukk!


Sebuah tendangan mendarat tepat di perutnya. Membuat Lelaki itu langsung memuntahkan isi perutnya itu.


" Huh! Rasakan kau bajingan! "


*****


Hello, Terimakasih sudah membaca sampai pada bab 50 ini.


Jujur saja ini bertepatan dengan pencapaian +5000 Viewers dari ceritaku ini.


Karena ini membuatku senang, Setelah update 3 bab seperti biasa, aku akan update 5 bab berturut-turut selama dua hari setelahnya sebagai rasa terimakasihku pada kalian yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. aku sangat bersemangat.


Aku tidak bisa promosi untuk agar cerita ini banyak pembacanya. aku hanya mengandalkan rekomendasi yang di sediakan NT dan MT.


Untuk itu, Jika kalian berkenan dan tetap ingin membaca cerita ini, aku berharap support dari kalian. Sesering apapun aku update, ternyata Performa cerita juga sangat dipengaruhi oleh Like dan Vote dari pembaca.


Sampai saat ini aku tidak tau sampai kapan cerita ini bertahan di Platform ini. Aku rasa tidak ada cara lain selain meminta kalian untuk memberikan Like dan Vote pada cerita ini agar terus bisa lanjut sampai tuntas. aku berharap kalian tidak keberatan jika ceritaku pantas mendapatkan itu.


Satu lagi, Jika ada banyak Typo pada tulisanku, jangan sungkan untuk berkomentar. demi kenyamanan pembaca aku akan segera merevisinya. harus kalian maklumi. karena aku menulis menggunakan HP yang layarnya retak seribu setelah terkena Jurus Pukulan Peremuk Sukma-nya Ki Sugal.


Semoga Cerita yang aku rencanakan sangat panjang ini bisa selesai di sini. sementara itu mari nikmati selama cerita ini masih berlangsung.


Lebih dari itu semua, sampai saat ini Aku cukup senang dan puas karena cerita ini dibaca oleh kalian. Sekali lagi aku ucapkan TerimaKasih.


M.M