ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kemanusiaan


" Huek! Huk! Huk! Huek! "


Pemuda itu berlutut dan terbatu-batuk sambil memegangi perutnya. Tampaknya tendangan tersebut benar-benar membuat dirinya merasakan sakit yang luar biasa.


" Hei!? Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak tau siapa dia? "Seseorang meneriaki si penendang perut pemuda itu. " Dia adalah Tuan Muda Hattala. Keponakan dari Walikota! " Sambungnya memperingatkan.


Kejadian itu menarik perhatian banyak orang di sana. Belum lama itu terjadi sudah banyak yang mengerumuni mereka.


Dua orang  yang menolong anak laki-laki itu sempat terkejut saat mendengar nama Walikota disebut.


Sempat sedikit menyesal dengan sikapnya yang berlebihan. Namun, saat melihat kembali pada pemuda yang memegang perutnya itu, rasa sesalnya menghilang.


" Yah! Seperti biasanya. Kalian hanya bisa berlindung di belakang nama itu. Jika tidak, kalian hanya cecunguk tak berguna! " ejeknya.


Mendengar ejekan itu membuatnya tersulut emosi " Apa kau bilang?! "


" Ups! Maafkan kata-kataku! Aku tidak tau kau tuli "


Perhatian mereka teralihkan saat mendengar seseorang menerobos kerumunan.


" Permisi! Aku mau lewat "


Orang yang mengejar anak itu tiba di tempat kejadian. Melihat anak yang mencuri singkongnya yang sudah terluka, membuat dia sedikit terkejut. Namun, dia lebih terkejut lagi saat melihat Hattala sedang berjongkok memegang perutnya tampak kesakitan.


Karena tidak mengetahui kejadiannya dengan jelas, membuatnya bingung harus berbuat apa.


" Minggir! Beri jalan! " suara  prajurit memecah suasana di sana.


" Ada apa ini?! " Tanya salah satu prajurit.


" Aku hanya ingin menolong orang ini " Kata Hattala sambil menunjuk orang yang mengejar anak laki-laki itu sambil meringis kesakitan.


Mata para prajurit itu melebar saat melihat orang yang sedang meringis kesakitan itu.


" Tuan Muda Hattala! " teriak mereka hampir bersamaan lalu mendekat pada pemuda itu.


" Siapa yang membuat anda jadi seperti ini?! "


" Gadis ini! " Jawab orang yang berseteru dengan penendang perut Hattala itu cepat.


Arya tertegun melihat kejadian itu. Bukan karna hanya ada orang yang membantu anak itu. Tapi juga karna siapa yang membantunya.


Dua kakak adik yang dia temui di hutan itu langsung bereaksi saat pemuda itu mencelakai anak laki-laki yang sedang berlari.


" Dia mencuri singkongku. Tuan muda Hattala hanya ingin membantuku, aku tak tau kenapa gadis ini memukulnya " kesaksian si penjual singkong pada prajurit disana.


" Ya! Aku saksinya. Dua gadis ini langsung menyerang Tuan Muda Hattala " Teriak orang yang berada di dekat Hattala itu sedikit menambah.


" Kau! " Luna menatap tajam pemuda itu "  Mulutmu! "


" Ya. Seperti itulah kejadiannya. Kalian bisa bertanya dengan orang-orang di sini jika tidak percaya! " tambahnya lagi tanpa memperdulikan tatapan kesal Luna.


Yakin tidak ada yang berani ikut campur dengan masalah mereka, pemuda yang bersama Hattala itu semakin berani mengarang cerita.


" Baiklah jika itu masalahnya. Aku akan mengantinya " Luna menatap pada penjual singkong itu " Katakan. Berapa harga singkong itu? "


" 1000 Arta! "


Luna membesarkan matanya " Kau gila?! Dua singkong itu kau bilang 1000 Arta? Kau ingin memerasku? "


Tau bahwa dia berada di pihak yang kuat, si pedagang singkong itu memanfaatkan keadaan ini untuk keuntungannya " Anak itu sudah sering mencuri daganganku. Tidak hanya singkong saja. Cabe, tomat, jagung dan beberapa yang lainnya " jawab penjual singkong.


Luna menatap anak laki-laki yang sedang bersama Ciel. Anak itu sepertinya sudah sangat ketakutan. Ciel sekarang membersih bekas-bekas tanah di tubuhnya.


Tidak tega memperpanjang masalah ini, Luna mengalah " Baiklah! " Luna mengeluarkan 10 lembar uang kertas senilai 100 Arta " Ini ambil dan segera menjauh dari sini! "


" Baiklah! Kalau begitu, aku anggap ini sudah selesai " kata si penjual singkong lantas pergi begitu saja.


" Ciel! Ayo bawa anak itu. Kita harus mengobati lukanya "


Luna sudah tidak ingin melanjutkan masalah ini lebih jauh. Namun, sepertinya ada hal yang di lupakannya.


" Jadi kau pikir ini sudah selesai? Bagaimana denganku? " Hattala berdiri dibantu prajurit yang ada di dekatnya.


Luna berbalik " Ada apa denganmu? " Luna mendekat pada Hattala, membuat nyali pemuda itu menciut " Anak ini juga mencuri milikmu? " tanya Luna sambil menatapnya tajam.


Sambil memegang lengan prajurit di sebelahnya, Hattala menjawab " Kau telah memukulku. Kau harus ganti rugi biaya pengobatanku " katanya sedikit gugup.


Ciel yang geram mendengar pemuda pengecut itu langsung protes " Kau juga mencelakai anak ini. Seharusnya kau yang mengobatinya! "


" Bagaimana bisa kalian menyamakanku dengan pencuri kecil busuk itu! " teriak pemuda itu tak terima.


" Baiklah! Aku akan mengobati luka-luka mu. Tapi sebelum itu, biar kutambah dulu sedikit agar aku puas " Luna mengepalkan tinjunya.


" Prajurit! Apa yang kalian lakukan! Wanita gila ini ingin membunuhku. Tangkap dia! " teriak Hattala pada prajurit di dekatnya itu.


Prajurit itu terkesiap " Nona Luna. Walaupun aku mengenalmu. Tapi, kau tidak boleh melukai orang semaumu. Apalagi, Tuan Muda Hattala ini, keponakan dari orang nomor satu di kota ini. Kau harus ikut kami ke balai kota "


" Aku akan ikut kalian! Tapi kalian juga harus menangkapnya " tunjuk Luna di wajah Hattala " Dia juga mencelakai anak itu. "


Para prajurit itu terdiam saat Luna meminta mereka juga menangkap Hattala.


Melihat prajurit yang tampak kebingungan, pemuda di sebelah Hattala kembali angkat bicara" Prajurit! Anak itu tersandung kemudian terjatuh dengan sendirinya. Tidak ada yang melihat Tuan Muda yang mencelakainya. Itu hanya tuduhan gadis gila ini "


Prajurit-prajurit itu menatap orang-orang yang berkumpul mengelilingi mereka. Tidak ada satupun yang berani bicara.


Luna dan Ciel juga menatap mereka dan merasa kecewa. Bagaimana bisa mereka tidak berani membela anak kecil ini. Kota ini benar-benar sudah bermasalah.


" Nona Luna. Jika tidak ada saksi yang melihat Tuan Muda Hattala melakukan seperti apa yang kau bilang, maka aku tidak bisa menangkapnya " terang prajurit itu " Tapi, kau tetap harus ikut kami. Karena ada saksi yang melihatmu memukul Tuan Muda " tambah prajurit itu.


" Aku melihatnya! "


Semua orang yang ada di sana menoleh pada seorang pemuda yang barusaja bicara.


" Aku melihat orang ini menjulurkan kakinya untuk mencelakai anak yang di sana! "


Luna dan ciel terkejut saat Arya tiba-tiba muncul dan langsung membela mereka.


Saat Ciel ingin menyapanya, dia dahului oleh salah seorang prajurit yang ada di sana.


" Tuan Muda! "


Prajurit itu lalu berlari mendekat pada Arya. " Maaf Tuan Muda, sebaiknya anda tidak ikut campur dengan masalah ini " saran prajurit itu.


Arya tampak heran dengan saran prajurit ini " Kenapa?  Aku benar-benar melihat orang ini mencelakai anak itu! " kata Arya tak sadar sedikit membesarkan suaranya.


" Hei kau!  Jangan ikut campur. Urus saja urusanmu sendiri! " pemuda yang di sebelah Hattala tampak tak senang dengan kehadiran Arya.


" Jika aku tak ikut campur, orang ini akan bebas begitu saja! " protes Arya.


Prajurit itu tampak sedikit panik. Jika orang-orang ini bertengkar, semua rencana bisa gagal.


Prajurit itu langsung mendekat pada Hattala dan langsung berbisik di telingannya. Saat prajurit itu bicara mata Hattala langsung melebar dan melirik pada Arya.


Setelah prajurit itu selesai, Hattala tampak mempertimbangkan sesuatu lalu mengangguk.


" Baiklah, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Aku memiliki urusan yang lebih penting. Sebaiknya kita melupakan ini dan menganggapnya selesai sampai di sini. " putus Hattala tiba-tiba.


" Tuan Muda, kenapa anda— "


" Diam! Dia pemuda yang di sebut Ki Bajra tadi. " Hattala memotong pemuda di sebelahnya setengah berbisik membuat pemuda itu langsung bungkam.


" Bagaimana Nona Luna, apakah kau setuju? " tanya prajurit tadi pada Luna.


" Yah ... Aku juga tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi " jawab Luna.


Setelah sempat melirik sekali lagi pada Arya, Hattala dan pemuda itu pergi di ikuti prajurit-prajurit yang ada di sana.


" Arya!  Sejak kapan kau di sana? " Sapa Ciel.


" Aku melihat semuanya " jawab Arya sedikit menyesal dengan keraguannya.


" Arya! Jika kau ada waktu ikutlah ke toko kami. Anak ini harus di obati " Tawar Luna.


" Baiklah. "


Saat Ciel ingin membawa anak itu, dia menolaknya. " Aku harus ketempat adikku, dia sedang sakit. Kami sudah tiga hari tidak makan. " kata anak itu.


Arya ingat bahwa anak itu pernah mengatakan bahwa adiknya sedang sakit " Adik, di mana adikmu? "


Anak laki-laki itu membawa ketiganya ketempat adiknya di pinggir kota. Mereka berdua hanya tinggal di bawah pohon yang beratapkan beberapa daun pisang tanpa dinding sama sekali.


Saat sampai di sana, ketiganya terkejut dengan kondisi anak gadis kecil berumur sekitar 7 tahun yang ada di sana.


" Kita harus melakukan sesuatu. Jika tidak, anak ini bisa mati. " Ciel langsung panik saat melihat kondisi adik dari anak laki-laki itu sudah sekarat.


Melihat kondisinya yang sudah sangat lemah, mereka ragu hanya untuk sekedar mengangkatnya. Takut itu malah akan memperburuk keadaan anak itu.


Luna langsung kembali berdiri " Kalian tunggu di sini. Aku akan mencari Tabib dan membawanya ke sini "


Namun langkahnya terhenti saat ada yang menahan tangannya.


" Sebentar " Arya menahan Luna " Aku bisa menyembuhkannya. "