ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Di Luar Sadar


"Raja ... !"


"Krama! Rewanda! Tenanglah."


Sejak menjadikan Arya Raja, belum pernah dua Iblis langit meragukan keputusan Arya. Tapi, saat melihat tiga gadis yang saat ini sedang bertarung, keduanya menjadi sangat gelisah.


"Kalian sudah tau tujuanku dan kalian juga sudah tau apa yang akan kita hadapi ke depan. Mereka ingin mengikutiku menurut kalian, apa kita akan selalu bisa melindungi mereka setiap waktu?"


Saat Arya menanyakan itu, keduanya langsung terdiam. Apa yang dikatakan Arya memang benar. Selama ini, mereka hanya menghadapi musuh yang lemah. Tapi ke depan saat musuh yang kuat muncul apalagi dalam jumlah banyak, saat itu mungkin saja salah satu atau ketiganya bisa mati.


Arya menyadari kekuatan pendekar ranah bumi sangat kuat, Moro misalanya. Jika saat itu Arya belum mengetahui cara kerja Bahuraksa, maka bisa dipastikan ketiganya sudah mati.


Saat perang terjadi, Luna dan Ciel yang mendapatkan pasokan energi terus menerus dari Arya, juga bisa mati karena sampai pada batas kekuatan tubuh mereka.


Bai Hua juga sama. Gadis itu memaksa jurus-jurus dan teknik berpedang yang dimilikinya hingga sampai pada kecepatan yang tak bisa di tahan tubuhnya. Beruntung saat itu Arya bisa mengurangi jumlah musuh dalam waktu singkat.


Hal berbeda akan terjadi jika mereka bertarung lebih lama lagi, atau yang terburuk mereka bertarung di tempat terpisah. Itu akan menjadi sangat berbahaya.


Arya sendiri juga sudah memahami struktur tubuh ketiga gadis itu dan sudah memperkirakan batas kekuatannya. Bahuraksa tidak hanya membuat tubuh mereka jauh lebih kuat tapi juga membuat mereka lebih cepat.


Tapi kekuatan dan kecepatan itu ada batasnya. Saat ini, Luna dan Ciel memiliki daya tahan yang masih rendah yang belum bisa mengimbangi kekuatan serta kecepatan tubuh mereka.


Di sisi lain, Bai Hua sedikit berbeda. Perkembangan kekuatan, kecepatan dan ketahanannya naik dengan seimbang. Tapi, pengendalian Prana Bai Hua masih sangat buruk. Itu sangat wajar karena tubuh Bai Hua sudah memiliki struktur *****-titik cakra yang berbeda.


Tidak ada cara lain bagi ketiganya untuk mengetahui batas mereka jika tidak berhadapan langsung dengan kematian. Dengan banyaknya musuh yang kuat, luka yang banyak serta sedikit keputusasaan, maka ketiganya akan mulai merasakan setiap inci bagian tubuh mereka.


Bagi Bai Hua sendiri, tentu saja setiap luka yang dia terima akan membuatnya terbiasa. Nalurinya akan terasah, untuk merasakan seluruh titik-titik cakra ditubuhnya.


Arya sangat yakin jika Bai Hua sudah bisa mengendalikan Prana di setiap titik Cakranya dengan sempurna, Elemen petirnya akan menjadi elemen yang sangat kuat dan berbahaya.


Bai Hua akan mampu bergerak dalam kecepatan yang belum pernah di capai oleh sepanjang sejarah umat manusia.


Saat itu, cucu Bai Fan itu bahkan tidak membutuhkan senjata. Karena tubuhnya sendirilah yang akan menjadi salah satu senjata terkuat di dunia.


"Makluk apa kalian sebenarnya?! Kenapa kalian menyerang kami?"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


Para pendekar suci itu telah melakukan banyak cara untuk melumpuhkan ketiga musuhnya. Tapi, ketiganya selalu menyerang dan terus menyerang.


Pukulan, terjangan, hingga tebasan pedang sudah membuat ketiganya tumbang berkali-kali. Namun, berkali-kali itu pula ketiganya kembali berdiri dan menyerang lagi dan lagi.


Tiga puluh ...


Enam puluh ...


Sembilan puluh ...


Jumlah musuh terus berkurang. Luna, Ciel, dan bai Hua belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melemah.


Malah, setiap mereka kembali berdiri solah mereka semakin menikmati pertarungan yang membuat mereka berdiri di jurang kematian ini.


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


Setiap elemen yang di gunakan untuk menyerang dan bertahan, hancur di hantam dan terjang Luna. Setelah itu, Bai Hua akan muncul dengan pedangnya.


Saat mereka lengah, Ciel akan melemparkan Pisau dan apapun yang dia temukan di sana untuk melumpuhkan musuh-musuh mereka.


Kombinasi ketiganya menjadikan mereka semakin berbahaya. Saat musuh mencoba memisahkan, ternyata tidak memberi dampak yang jauh berbeda.


Setiap waktu berjalan, musuh-musuh semakin banyak bertumbangan. Sekarang, sudah tidak sampai separuh musuh yang masih bertahan.


Pendekar-pendekar suci itu, mulai ragu untuk menyerang atau bertahan. Alih-alih menyerang, sebagian mereka sudah mulai berfikir untuk lari dari lawan.


"Rentangjala, katakan padaku. Sebenarnya sudah berapa lama aku menghilang."


Di sisi bukit, Rangkupala dan Rentangjala sedang berdiri menyaksikan pembantaian yang sedang di lakukan ketiganya.


Dia menyangka bahwa dunia kependekaran sudah jauh berubah. Apa yang sedang terhampar di depan matanya, ada pemandangan yang sangat janggal dan tak wajar.


Rangkupala tidak menyangka akan menyaksikan tiga wanita dengan level pendekar ahli dan raja, memporak-porandakan pasukan pendekar suci yang berjumlah ratusan secara terbuka.


"Tuanku, maaf, aku tak bisa menjawab itu. Bahkan, aku juga tidak tau bahwa dunia kependekaran sudah tak sama."


Sama dengan keduanya, Surma dan Durma, juga sekuruh pendekar-pendekar di Kota juga sudah sampai di sana.


Berfikir akan terjadi pertempuran, mereka semua sudah bersiap-siap untuk terjun dan bertarung bersama. Namun, langkah mereka langsung terhenti begitu sampai di sana.


Alih-alih melihat pertempuran, semua pendekar itu kini sedang melihat pembantaian yang mengerikan.


Saat ini, mereka melihat dimana Level pendekar, tenaga dalam, jurus dan senjata,  tidak lagi menjadi tolak ukur kemenangan.


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


...


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


...


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!"


...


...


...


Padang rumput kecil itu, tiba-tiba menjadi hening. Pagi menjelang siang, Tiga ratus pendekar suci tumbang. Tiga gadis masih berdiri dengan tubuh bersimbah darah.


Tak ada suara karena tidak ada yang sanggup berkata-kata. Mereka hanya melihat tiga pendekar wanita itu, tetap berdiri diam dan tak lagi bergerak.


Setelah sedikit lama, hanya ada satu dari mereka yang masih sanggup berkata. Meski terdengar sedikit terbata.


"Rentangjala, ... mereka ... bertarung ... dalam keadaan, tidak sadarkan diri." Seru, Rangkupala.


Patih Negeri Ambang di sebelahnya itu, hanya mengangguk dan menelan ludah.


"Citra Ayu! Ikut Aku."


Putri Karpatandanu yang sedang ternganga karena benar-benar terpana itu, hanya ikut berjalan tanpa sadar dengan Arya, yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatnya.


Semua pendekar muda dari Kota tetap berdiri dan tak bereaksi sangat lama. Otak mereka tidak bisa mencerna apa yang terjadi karena kesadaran menolak untuk percaya.


Musuh yang masih bisa bertarung dengan kekuatan penuh, meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, bukanlah musuh yang ingin di hadapi siapapun bahkan di dalam mimpi terburuk sekalipun.


Mereka tetap berdiri mematung di sana saat Citra Ayu membangun Rumah tanah, dan menutup ketiganya.