ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 5 (End)


"Dari mana dinding air ini!"


Subu seketika terdiam saat keanehan yang muncul di depannya itu. Namun sama dengannya, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.


Mereka seperti melihat sesuatu yang bahkan di dalam mimpi paling liar mereka sekalipun belum pernah ada.


Mata semua orang begitu terpana saat kemunculan tiba-tiba dinding air yang sangat tinggi dan tebal itu. hingga tak ada dari mereka yang menyadari bahwa, ada sosok yang bergerak begitu cepat, sudah melintas melewati pendekar-pendekar dari tiga sekte yang mengelilingi dinding itu.


Sosok yang bergerak sangat cepat itu, menyentuh wajah masing-masing yang di lewatinya. Beberapa detik setelah itu, mereka langsung menyadari ada yang aneh dengan diri mereka.


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


Puluhan pendekar tiba-tiba merasakan kesulitan untuk bernafas. Teriakan tertahan mereka mulai disadari oleh yang lainnya. Namun, dalam waktu sekejap saja mereka ikut kesulitan untuk bernafas.


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


Kepanikan seketika muncul saat melihat orang-orang di dekat mereka mulai berjatuhan, karena berusaha melepas sesuatu yang sepertinya sedang menempel di wajah yang lainnya.


"Air?!"


"Bagaimana bis—?"


Belum sempat mereka bertanya, kini di wajah mereka menempel air yang sama. Bagaimanapun mereka mencoba menghapusnya, air itu tetap muncul untuk menutupi hidung dan mulut mereka.


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


"Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!" "Hmp!"


Subu, Gayatri, Tungka, dan juga anggota serikat Oldenbar yang memegang senjata sihir sudah menyadari bahwa ada sosok yang terus bergerak sangat cepat, yang menyebabkan semua itu.


"Di sana!"


"Boommmmm!"


Orang-orang itu mulai menembak ke arah yang mereka rasa di sana sosok itu berada.


"Aku melihatnya!... "


"Boommmmm!"


"Boommmmm!"


Sekarang mereka berfokus untuk mengincar sosok itu. Namun, kecepatannya tidak bisa di ikuti mata mereka. Saat tembakan di lepaskan, sosok itu sudah menghilang dan muncul di sisi lainnya.


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


Tembakan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka tidak sadar bahwa itu juga mencelakai teman-teman mereka sendiri. Kepanikan itu mulai menghampiri petinggi Serikat Oldenbar. Karena, anggota-anggota dari tiga sekte yang ada di dekat mereka sudah banyak bertumbangan.


"Sial! Makhluk apalagi kali ini?!"


Belum bisa mereka memikirkan Rewanda dan Krama, kini sosok bayangan itu menjadi pertanyaan baru lagi bagi mereka.


"Jangan lengah! Terus perhatikan sekitarmu!"


Mereka saling memperingatkan agar rekan-rekan mereka tidak terkecoh lagi.


"Dia di sini!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


Teriakan itu di respon dengan tembakan yang membabi buta oleh yang lainnya. Bersamaan dengan itu, korban diantara mereka semakin banyak.


Dalam tempo waktu yang singkat, sudah lebih dari separuh anggota dari tiga sekte yang tersisa, tergeletak di tanah.


"Di sana!"


Subu melihat sosok itu muncul sebentar di sisi yang tidak jauh dari mereka. Tak lengah, dia dan yang lainnya menembakkan senjata sihir yang ada di tangan mereka ke arah itu.


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


Beberapa tembakan itu melukai beberapa petinggi dari serikat Oldenbar.


"Apa kalian, Bodoh?! Mengapa kalian menembaki kami?"


"Di belakang mereka!" Tunjuknya pada arah Subu.


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


Seketika, Subu dan yang lainnya bernasib sama. Luka tembakan dari senjata yang lebih juat dari yang mereka pegang, berdampak cukup serius bagi ketiganya.


Sementara, anggota-anggota mereka yang ada di belakang, sudah tidak bernyawa.


"Kalian juga, sama Bodohnya!?


Subu berteriak menggeram karena mendapat luka di dadanya. Kesal, dia berbalik hendak menembak anggota Serikat Oldenbar yang barusaja melukainya.


Gayatri yang cepat menyadari maksud dari sosok itu langsung menghentikan Subu. "Hei! Apa yang akan kau lakukan?!"


"Kita sedang di buat terpecah belah, jangan saling menyerang!" Teriak salah seorang dari Serikat Oldenbar.


Kedua pihak yang tiba-tiba bersitegang di saat berperang itu, kini sudah sama-sama mengerti. Hanya saja kini mereka tetap tidak punya cara menghadapi apa yang sedang menyerang mereka itu.


Berbeda dengan para pemimpin. Anggota-anggota dari tiga sekte, mulai ketakutan. Bagi mereka, jika tetap di sana maka mereka akan segera mati.


"Mau kemana kalian?!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


"Boom!" "Boom!" "Boom!"


"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"


Subu menjadi kalap. Kini, Dia bahkan menembaki anggotanya sendiri yang mencoba lari dari medan pertempuran.


Sementara di dalam dinding air itu, meski terlihat sedikit samar, tapi semua orang bisa melihat kejadian yang sedang berlangsung di luar dengan mulut ternganga.


Beberapa detik yang lalu, mereka sudah merasa dekat dengan kematian. Sekarang, seolah keajaiban yang entah bagaimana datangnya membalikkan keadaan dan menyelamatkan mereka semua.


Dua lobang besar tiba-tiba terbuka di depan Rewanda dan Krama. Keduanya langsung mengerti dan berlari keluar dari dinding itu.


"Rewanda! Krama! Jangan biarkan satupun dari mereka lolos!"


Kedua iblis langit itu langsung melesat cepat mengejar semua anggota-anggota dari tiga sekte yang mencoba melarikan diri dari pertempuran.


Saat dua lobang yang tiba-tiba muncul itu kembali tertutup, Lamo menoleh pada Bai Fan yang berjalan hendak memeriksa keadaan Luna.


"Tuan Bai ... Apa itu?"


Bai Fan berhenti sejenak dan menoleh pada dua orang ketua Sekte yang kini dalam keadaan terluka tersebut. Senyum miring langsung terukir di wajah Patriark keluarga Bai itu.


"Sesuatu yang telah kalian remehkan keberadaannya!"


Setelah mengatakan itu, Bai Fan kembali berjalan ketempat Luna yang sedang kesulitan untuk menghentikan pendarahan lukanya. Tenaga dalam gadis itu benar-benar sudah sangat tipis.


"Luna, aku akan membantumu!"


Bai Fan langsung mendudukan tubuh Luna, kemudian dirinya juga duduk bersila di belakang gadis itu. Dengan teknik penyembuhan dari negerinya, dia mengalirkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit dan menghentikan pendarahan dari luka yang di derita Luna.


Lamo dan Salu hanya terdiam saat mendengar kata-kata Bai Fan. Mereka tidak mengerti apa maksud tatapan Kultivator dari Kekasisaran Yang, itu pada mereka.


Akan tetapi, dari senyum merendahkan yang diberikan oleh Bai Fan, keduanya sadar bahwa mereka sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.


Saat keduanya coba mengingat-ingat dimana kesalahan yang telah mereka lakukan itu, Tiba-tiba dinding air yang sejak tadi melindungi mereka secara perlahan mulai menjadi rendah.


Tak lama, air yang sangat banyak itu hilang kembali kedalam tanah. Itu seharusnya sudah mengejutkan mereka yang berada di dalam. Tapi, apa yang mereka lihat di luar lebih mengejutkan lagi.


Mata mereka semua seketika terbelalak saat melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi. di luar sana. Lebih dari seribu orang yang tadi mengepung mereka, kini sudah tergeletak di tanah.


Hanya Subu dan dua ketua sekte juga petinggi-petinggi Oldenbar masih berdiri. Namun saat ini, mereka sama sekali sudah tidak bisa bergerak lagi.


Senjata yang mereka pegang serta tubuh mereka sudah diselimuti oleh air. Sekarang, Hanya menyisakan kepala mereka saja.


"Siapa kau sebenarnya?!"


Teriak Subu putus asa pada sosok yang akhirnya menunjukkan dirinya itu, di depan semua orang.


"Aku Arya! Orang yang akan menghancurkan kalian, yang telah tega mengkhianati bangsa kalian sendiri!"


"BOOOOOMMM!"


Ledakan terakhir Langsung mengakhiri pertempuran yang terjadi. Seluruh tubuh dari Tiga ketua Sekte pengkhianat dan petinggi Oldenbar, hancur saat Arya menggenggamkan tangannya dengan kuat.


Tidak ada keraguan di mata Arya saat menghancurkan tubuh-tubuh itu. Hanya tatapan dingin penuh dengan kebencian yang mengantarkan semuanya ke neraka.


Lamo dan Salu akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Bai Fan sebelumnya. Kini, mereka sadar bahwa keduanya, telah meremehkan orang yang sangat berbahaya.


***


Hello,


Maaf karena telat untuk Update buat hari ini.


Tapi, aku akan menggantinya dengan beberapa Chapter hingga esok hari.


Ikutin terus Cerita Arya Mahesa, Ya!


Chapter berikutnya menyusul segera!


M.M