
Aula Istana sangat luas. Tempat itu sanggup di isi puluhan meja yang sangat besar dan bisa di isi dengan puluhan orang pula.
Malam itu memang di rencanakan sebagai malam pertemuan seluruh pihak yang akan bertanggung jawab dengan aturan hukum yang akan mengatur perkembangan dan kesejahteraan seluruh penghuni Daratan Timur di masa depan.
Meja-meja tidak hanya di susun di dalam tapi juga memenuhi seluruh halaman istana. Siapapun boleh datang dan menikmati jamuan. Tidak ada pengaman yang begitu berarti, hanya ada mata para orang tua yang mengawasi anak-anak mereka yang berlarian bebas di istana.
Bangsawan-bangsawan kecil adik-adik sang Raja. Itulah gelar yang di sematkan pada mereka saat ini. Sebagai bentuk penitipan harapan jauh ke masa depan.
Siang ini, Arya mendeklarasikan bahwa seluruh anak-anak di Daratan Timur adalah saudaranya. Dengan begitu, mereka semua memiliki gelar tertinggi di Daratan itu.
Kumara dan belasan bangsawan lainnya cukup beruntung. Saat itu, Arya sangat marah. Namun, karena di sana banyak anak-anak Arya menyerahkan hukuman untuk mereka pada Wisanggeni.
Wisanggeni sendiri berniat menghancurkan kesombongan para bangsawan. Sebelum kesombongan itu berkembang dan menjadi duri dalam daging yang akan memecah persatuan Daratan Timur yang telah susah payah untuk di wujudkan ini.
Dimiskinkan. Itulah hukuman pada para bangsawan itu. Harta mereka tidak di sita, hanya saja istana melarang dengan keras siapapun melakukan perdagangan dengan mereka.
Akan tetapi para bangsawan itu diperbolehkan membeli apapun untuk kebutuhan mereka tapi tidak boleh menjual apapun sampai harta mereka habis.
Arya cukup puas dengan bagaimana cara Wisanggeni mengambil keputusan tersebut. Bagaimanapun, membunuh bukanlah hal yang selalu bisa menyelesaikan masalah.
Kumara dan para bangsawan yang bersamanya, akan menjadi contoh agar yang lain tidak melakukan hal yang sama di masa depan.
"Ki Darsa. Sepertinya meja tidak cukup."
Lapor salah satu anggita serikat pada Darsapati. Karena begitu banyaknya orang yang hadir.
"Jika begitu, berikan mereka duduk dan kita semua akan berdiri." putus Darsapati saat itu juga.
Para ketua sekte dan petinggi lainnya juga langsung mengangguk. Mereka benar-benar hanyut dengan kebahagiaan ini.
"Jika begitu, kami juga akan berdiri. Dahulukan yang tua-tua. Mereka tidak akan sanggup berdiri lama."
Akhirnya, semua anggota sekte berdiri di ikuti para undangan lain. Dan bangsawan lain juga melakukan hal yang sama. Mereka melepas semua keangkuhan dan mulai berdiri dengan kebanggan baru.
Malam ini benar-benar malam yang sangat bersejarah. Dinsaat semua masyarakat Daratan Timur benar-benar merasa di hargai. Mungkin lebih daripada itu, saat ini mereka merasa hidup mereka benar-benar memiliki arti.
"Aku akan berjuang demi Raja kita di sama depan."
"Ya. Aku juga. Bahkan aku akan mendidik anak-anak ku aggar mencontoh Raja."
"Eh, bukankah mereka sekarang adalah adik-adik Raja?"
"Oh ya. Bagaimana aku bisa melupakannya."
"Bukankah Raja kita sangat hebat?"
"Hah? Kau masih menanyakan itu?"
"Bukan. Aku masih merasa bahwa ini sebuah mimpi."
"Ya. Jika ini mimpi, aku sama sekali tidak ingin bangun lagi."
"sebaiknya kita mati didalam mimpi ini saja. Hahaha!"
"Hahahhaha!"
Berbagai macam pujian silih berganti di segala penjuru. Orang-orang tertawa begitu lepasnya di depan banyak makanan dan minuman yang bisa dengan bebas mereka nikmati.
Waktu terus berjalan. Perut mereka sudah kekenyangan. Namun, Arya dan yang lainnya belum juga muncul.
Memang hampir dari mereka semua sudah pernah melihat Arya. Tapi, saat ini setiap satu dari mereka sekali-sekali melirik ke singgasana.
Mereka ingin sekali melihat Raja muda mereka duduk dan bertahta di sana. Membayangkannya saja, orang-orang itu bisa menjadi sangat bahagianya.
"Tuan Angus, bagaimana? Bukankah tadi kau berbicara dengan Nona Bai Hua? Kenapa mereka belum muncul juga?"
"Iya. Tapi, bukankah kau juga berbicara dengan Nona Luna dan adiknya?"
Darius dan Angus yang berada di dalam Istana, mengedarkan pandangan mereka. Sejak pagi, Arya dan yang lainnya sudah turun ke jalanan dan muncul hampir di setiap sudut kota menyapa semua orang.
Pada awal malam, beberapa dari mereka masih berbicara dengan salah satunya. Namun, bahkan saat dia melihat pada Darsapati yang berdiri tidak jauh darinya, juga seperti sedang mencari-cari Arya dan ketiga gadis itu.
"Kaungsaji. Bagaimana?"
Kaungsaji yang baru saja menghampiri Darsapati, menggeleng. "Aku rasa, merela sedang membahas sesuatu dengan Ki Wisanggeni di suatu tempat."
Darsapati juga mencari Wisanggeni, tapi dia juga tidak menemukan sang penasehat Raja itu. "Ya. Aku Rasa begitu. Sebaiknya kita tunggu saja. Lagipula, semua orang tampak menikmati jamuan ini."
Waktu terus berlalu, Namun Arya dan yang lainnya juga tidak menunjukkan batang hidung mereka. Semakin lama semakin banyak orang-orang berbisik, menanyakan keberadaan Raja mereka itu.
Tiba-tiba Wisanggeni muncul dari pintu di belakang Aula istana. Wajahnya menunjukkan tampang yang tak bisa di artikan. Hampir Semua orang kini menatapnya.
Lelaki tua yang dulu terlihat renta itu, langsung menghampiri Darsapati dan langsung membisikkan sesuatu padanya.
Rasa penasaran mereka, tidak harus menunggu lama. Tanpa aba-aba saat Darsapati mengedarkan pandangan seolah menatap semua orang, Aula dan halaman istana langsung senyap. Mereka seolah menunggu pa yang akan di sampaikan Pemimpin serikat Singa Emas itu.
"Kalian, semua ... Dengarkan aku."
Mereka semua benar-benar terdiam dan memasang kuping lebar-lebar.
"Seperti yang kita ketahui. Raja kita, memiliki rencana perjalanan panjang ke ujung Dunia. Saat ini, dia dan parah pahlawan lainnya, telah berangkat ... "
Semua orang menghela nafas karena terkejut. Mereka tidak menyangka akan mendengar kabar itu. Sebenarnya, besok akan di adakan acara untuk melepas Raja mereka.
"Ki Darsa, jika Raja pergi, siapa yang memimpin?"
"Ya, bagaimana dengan Tahtanya. Kenapa dia meninggalkan kita?"
"Ki Wisanggeni, kenapa anda tidak memintanya untuk tinggal?"
"Buk! Apa kakak Raja tidak suka tinggal dengan kita?"
"Ayah. Kakak Raja kemana?"
Ribuan pertanyaan langsung menyeruak dari mulut orang-orang di sana. Mereka benar-benar merasa tidak siap drngan kepergian Raja mereka itu.
"TENANG ... !!"
Wisanggeni tiba-tiba berteriak. Dan orang-orang langsung kembali terdiam.
"Raja tidak meninggalkan tahtanya. Bagaimana bisa, kalian mempertanyakan itu? Dan siapa bilang dia meninggalkan kita?"
Wisanggeni berseru dengan suara serak penuh penekanan.
"Tapi, bukankah—"
Darsapati menajamkan matanya, pada salah seorang bangsawan yang hendak menyela. Orang itu oun langsung terdiam.
Semua orang melihat Wisanggeni menunjuk singgasana dimana, seharusnya saat ini seseorang duduk dan bertahta.
"Itu ... Tempat itu hanya bangku biasa. Siapapun dari kalian, bisa duduk di sana." Ucapnya sambil menatap semua orang. "Di Daratan Ini Raja tidak bertahta di kursi tua itu." Tambahnya.
"Raja Daratan Timur ini, tidak bertahta di sana. Dan bagaimana bisa kalian bilang dia meninggalkan kita. Sementara dia bertahta disini."
Wisanggeni meletakkan kepalan tangannya di dada. Dan berseru.
"Raja Arya ... Arya Mahesa!..., akan selalu bertahta, di sini... Di hati kita.!"
Darsapati langsung ikut menangkupkan kepalan tangan di iringi berdirinya seluruh penduduk Daratan Timur dan melakukan Hal yang sama.
Darsapati berseru lantang.
"Daulat ... Raja!"
"DAULAT ... RAJA ... !"
Singgasana Raja Daratan Timur bukanlah Kursi tua berukir dan berlapis emas. Di Daratan Timur, Raja mereka bertahta di hati seluruh penduduknya.
Tak ada kekuatan apapun di dunia ini, yang akan sanggup mengkudeta kekuasaan serta kedaulatannya.
****
Tiga hari setelah itu di tengah laut, Beberapa waktu setelah sebuah kapal penumpang menarik jangkar dan berlayar.
Kapten kapal itu berteriak. "Lihat lah untuk terakhir kalinya. Mungkin kalian tidak akan pernah lagi melihat sebuah negeri yang sangat di berkahi seperti ini."
Para penumpang yang baru saja berlayar itu, melihat Daratan Timur untuk terakhir kalinya.
Di ujung haluan, ada seorang pemuda yang melihatnya hingga Daratan itu benar-benar hilang di telan lautan.
"Arya. Perjalanan ini setidaknya memakan waktu dua hari. Apakah kau tidak memiliki masalah dengan itu?"
Ciel tau bahwa ini pertama kalinya Arya meninggalkan Daratan Timur. Itu berarti, ini juga pertama kalinya pemuda tersebut menaiki sebuah kapal. Menurutnya, mungkin saja pemuda itu akan memiliki masalah mabuk laut dalam perjalanan ini.
Arya berbalik dan menatap tiga gadis yang kini juga menatapnya. "Ya. Aku tidak apa-apa."
Hari ini, setelah memastikan masa depan tanah leluhurnya, di mulai lah perjalanan Arya yang sesungguhnya.
Arya menatap ke ujung Barat kemana kapal menuju. Pandangan jauh ke ujung renjana bahkan mungkin lebih jauh lagi.
'Dunia, bersiaplah! ... Aku datang!' Batinnya.
( Arch pertama, Daratan Timur, Berakhir)